BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 49. Tidak Ada Yang Lain.



Pikiran William menjadi tidak tenang, ia pun mengurungkan niatnya untuk mandi. Dan memutuskan untuk kembali ke apartemen.


Mendadak, ia merasa enggan untuk bertemu kedua orang tuanya. Apalagi setelah mendengar rencana perjodohan dirinya dengan anak pak Regan.


William kembali teringat akan masa kecilnya. Dimana saat ia ikut kedua orang tuanya pulang kampung, ada seorang gadis kecil yang usianya mungkin lebih muda dari William, suka sekali mengejarnya. Jika ada istilah nenek sudah tua, giginya tinggal dua. Berbeda dengan gadis kecil putri pak Regan, masih kecil tetapi giginya hilang dua. Karena gadis itu suka sekali makan permen dan gula, sehingga merusak giginya.


William bergidik ngeri, kala teringat gadis kecil yang suka berkepang dua itu, tersenyum dengan gigi ompongnya. Apalagi di tambah ingus yang selalu meler.


“Kak iam.. tunggu aku.” Gadis itu berlari mengejar William yang sedang berjalan bersama kedua orang tuanya. Mata William kecil membola. Ia pun berlari meninggalkan kedua orang tuanya, demi menghindari gadis itu.


“Kak iam… ihh.. tunggu aku.” Gadis itu terus berlari mengejar William. Sementara para orang tua hanya terkekeh melihat tingkah anak-anak mereka. Namun, malang tak dapat di hindari, William kecil yang berlari sembari sesekali melihat kebelakang, tak menyadari jika ada selokan di depannya, bocah tampan itu jatuh terjungkal. Ia yang tadinya tampan dengan setelan baju baru, kini berubah lepek, seperti tikus yang baru terkena air.


Dan semenjak saat itu, William tidak mau lagi ikut orang tuanya pulang kampung. Ia akan memilih tinggal dirumah bersama asisten rumah, daripada harus bertemu lagi dengan gadis kecil yang menyebalkan itu.


Setelah berkutat dengan pikirannya yang kembali melanglang buana ke masalalu, William akhirnya memutuskan untuk mandi. Setelah mandi dan berganti pakaian, William keluar dari kamar.


“Bang, mau kemana? Meja makan letaknya di sebelah kiri.” Celetuk Willona saat melihat sang kakak berjalan ke arah pintu utama.


William membuang nafasnya kasar. Pria itu pun memutar langkahnya, menuju meja makan.


“Ada apa?” Tanya sang adik ketika melihat William yang berubah pendiam.


“Tidak apa-apa. Hanya sedikit masalah pekerjaan.”


“Apa masalah kantor? Kenapa tidak diskusi dengan papa saja?”


Kepala William menggeleng.


“Hanya masalah di klub. Masalah kecil. Jangan khawatir.”


“Wah.. anak-anak mama sudah ada di meja makan rupanya.” Nyonya Aurel dan pak Antony datang bergabung.


William kemudian memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.


“Apa kamu sakit?” Tanya pak Antony yang merasa putranya berubah pendiam. Nyonya Aurel pun meneliti putranya seksama.


“Tidak, pa. Ada sedikit masalah di klub. Aku hanya sedang memikirkannya saja.” William berdusta. Ia tidak mungkin mengatakan tentang dirinya dan Regina sekarang. Mamanya pasti sudah bercerita kepada sang papa tentang kandasnya hubungan Regina dan Alvino. William tidak mau, jika mama dan papanya mengetahui, maka mereka akan menganggap Regina wanita yang tidak baik.


“Apa perlu papa bantu?”


Dan William menggeleng sebagai jawaban. Entah kenapa, rasanya ia enggan berbicara terlalu banyak dengan kedua orang tuanya.


“Oh ya, Will. Kamu masih ingat om Regan kan?” Tanya sang mama di sela acara makan malamnya.


Pertanyaan sang mama membuat William menghentikan kunyahannya.


“Memangnya kenapa, ma?” Pria itu meletakan alat makannya di atas piring.


“Kamu ingat putrinya? Dia sekarang sudah dewasa lho, dia—


“Aku tidak tertarik ma.” Jawab William dengan cepat. Pria itu kemudian meneguk air putih dari dalam gelas.


Nyonya Aurel terkekeh. Ia juga ikut meletakan alat makannya. Kemudian meminum sedikit air.


“Kamu memang anak papamu. Belum selesai mama bicara, kamu sudah tau maksud mama.”


Pak Antony mencebikan bibirnya.


“Sudah papa bilang, tidak usah ikut campur urusan asmara anak-anak. Mama terlalu keras kepala.”


William mencebik. Apa itu artinya sang papa tidak mendukung rencana sang mama?


“Tetapi gadis itu sekarang sudah dewasa, cantik, berpendidikan. Menurut mama, tidak ada yang lebih cocok dari gadis itu, yang menjadi menantu di keluarga kita.”


“Bang?” Willona mengusap lengan sang kakak. Berharap pria itu tidak naik darah.


‘Maafkan aku, bang. Aku tak berdaya. Aku sudah terlanjur berjanji kepada mama.’


William membuang nafasnya kasar. Ia kemudian bangkit dari duduknya.


“Aku permisi.” Ucap kakak dari Willona itu tanpa menoleh ke arah sang mama.


“Will, tunggu.” Nyonya Aurel hendak mengejar, namun di tahan oleh pak Antony.


“Sudah, ma biarkan saja. Dia sudah dewasa. Sudah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.


“Tapi, pa?”


“Lanjutkan makan mu, ma. Jangan membuang makanan.”


*****


Bukannya pulang, William justru melajukan mobilnua menuju klub malam miliknya. Pikiran pria itu semakin kalut. Apalagi sang mama sudah mengutarakan niatnya untuk menjadikan putri pak Regan menantunya.


William bukannya ingin menjadi anak durhaka, dengan menolak keinginan sang mama. Namun, ia sudah terikat dengan Regina. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, akan menikahi Regina, karena telah merusak wanita itu. Selain itu, cinta yang teramat dalam kini telah tumbuh di hati William, hanya untuk sekretarisnya seorang.


Dua botol minuman berkadar alkohol sedang, telah habis di tenggaknya. Kepala William mulai berdenyut, meski ia memiliki klub malam, namun, pria iti tak serta merta kuat meminum alkohol.


“Honey.. kita akan menikah. Hanya kamu. Tidak ada yang lain.” Pria itu mulai merancau. Takut kepalanya semakin pusing, William pun memutuskan untuk pulang.


“Aku antar pulang, bos.” Jimmy datang menyanggah tubuh atasannya yang sedikit sempoyongan.


Tangan William terangkat, tanda penolakan. Ia kembali menlanjutkan langkahnya menuju parkiran.


Melihat sang atasan yang tidak baik-baik saja, Jimmy berinisiatif mengikuti pria itu. Setidaknya, jika terjadi sesuatu dengan pria itu, Jimmy menjadi orang pertama yang melihatnya.


Pria berusia 35 tahun itu dapat bernafas lega, kala William sampai di parkiran gedung apartemen dengan selamat, meski atasannya itu memarkir mobil dengan sembarangan. Ia pun meninggalkan William, untuk kembali ke klub.


Regina yang sedang memeriksa beberapa berkas yang ia bawa dari kantor, sembari menunggu William pulang, tiba-tiba tersentak, kala ia mendengar suara gaduh dari arah pintu masuk.


Mata Regina membulat sempurna, ia dengan cepat menyimpan kembali berkas-berkas itu kedalam tas, kemudian menghampiri William yang sempoyongan di ambang pintu.


“Will, ada apa?” Regina menangkap tubuh William yang hampir terjatuh. Dengan susah payah, wanita itu menutup pintu, kemudian menguncinya.


“Honey, kamu belum tidur?” Tanya William dengan pandangan sayu. Sesekali ia menggelengkan kepalanya, agar wajah Regina terlihat jelas.


“Kenapa bisa mabuk begini?” Regina memapah tubuh William menuju sofa ruang tamu.


William menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Ia memijat dahinya yang terasa berdenyut.


“Aku mampir ke klub tadi, kebetulan ada minuman keluaran terbaru di klub. Jadi aku mencobanya.” Dalam keadaannya yang setengah sadar pun, William masih ingat untuk berdusta. Ia tidak ingin Regina tau, apa yang terjadi di rumah orang tuanya.


Pria itu menegakkan tubuhnya, dengan pandangan sayu, ia menangkup kedua pipi Regina.


“Honey.. aku mencintaimu, hanya kamu. Tidak akan ada yang lain.”


Regina mengangguk, ia merasa pasti ada sesuatu yang William sembunyikan darinya.


.


.


.


Bersambung.