Alex

Alex
bab 98



Benar kata Mbak Efa, Mini juga perlu keberanian mental untuk menghadapi perubahannya sendiri, karena itu penting sebab kalu tidak maka dia kan berakhir seperti ini. Ngumpet di kamar sepanjang hari!


Dan udah dari tadi cuma mondar-mandir gak tau mau ngapain padahal dia sendiri juga sudah bosan di dalam kamar.


Mini kembali menengok jam di dinding di kamarnya, sebentar lagi adalah jam makan malam. Bagaimanapun dia harus turun atau kalau tidak pasti Tante Marrisa akan mengutus orang untuk memanggilnya.


Apa boleh Mini pura-pura demam saja, biar gak di suruh turun buat makan malam, tapi kalau terus malah Bang Evan nya yang datang buat bikinin teh panas lagi gimana?


Apa gak tambah bahaya !


Mini mulai merasa otaknyan ikut gak bener, apa mungkin keracunan cat pewarna rambut bisa sampai meresap ke otak,dan bikin dia jadi bodoh kayak gini? 


Trus dia ngecek lagi rambut di kepalanya yang udah bener-bener persis banget sama rambut jagung.


Mini sedih karena Mbak Efa udah bener-bener ngejadiin dia orang asing yang aneh.


Sedari pulang sama Bang Evan tadi Mini memang belum keluar kamar sama sekali, dia benar-benar sedang tidak percaya diri dengan warna rambutnya. Bahkan Mini merasa aneh tiap kali memandang dirinya sendiri di  cermin. Walau dia sudah mencoba memakai pakaian yang biasanya dia pakai ternyata Mini yang dulu tetap tidak mau balik lagi, dan malah justru membuatnya terlihat aneh.


Akhirnya Mini menyerah, setelah berulang kali menganti pakaiannya, akhirnya dia pasrah karena capek. Dia mengambil salah satu pakaian yang di belikan oleh Tante Marrisa. Karena Mini pikir, jikapun dia tidak menyukainya, paling tidak akan ada orang yang ikut senang karena dia sudah memakai pemberiannya. Tiba-tiba dia ingat lagi dengan perkataan Brandon tentang peduli untuk membahagia kan orang lain yang juga peduli dengan kita.


Selain itu baju pilihan Tante Marrisa sepertinya juga jauh lebih masuk akal untuk Mini pakai dibanding dengan semua baju pilihan Mbak Efa tadi yang tamutnya malah bikin Mini masuk angin.


Setelah selasai mengganti pakaiannya berulang kali sekarang Mini coba balik lagi nguncir rambutnya dengan ekor kuda, tapi ternyata tetap aja dia gak kelihatan seperti asalnya. Mini cuma bisa pasrah karena sepertinya Mini yang dulu memang sudah musnah.


Sekarang tinggal dirinya cukup percaya diri apa tidak intuk tetap keluar dengan wujud seperti itu. Mini bahkan sampai memperagakan cara berjalan yang di ajarkan Mbak Efa dan malah justru membuatnya merasa aneh.


Sudah cukup!  batin Mini saat menyerah dan akhirnya keluar begitu saja.


Pas Mini turun dan hendak gabung di meja makan ternyata di sana malah sudah ada Bang Brandon yang Juga terlihat berbeda dengan gaya rambut barunya.


Belum selesai Tante Marisa syok ngelihat perubahan putranya, dan sekarang dia tambah Syok lagi  pas ngelihatin si Mini.


"Jangan-jangan kalian juga janjian buat ganti warna rambut kalian!" Tuduh si Tante, heran tapi seneng ngelihat perubahan luar biasa pada anak gadisnya.


Tante Marrisa memang sudah menganggap Mini seperti anak gadisnya sendiri walaupun dulu mereka tidak diperbolehkan untuk mengadopsinya sejak bayi.


"Pa, lihat anak gadismu, " bisik Tante Marisa sama Tuan Serkan yang kemudian ikut tersenyum.


"Sebenarnya Mbak Efa yang ngejadiin kayak gini," Mini berusaha tersenyum tapi nampak di pakasakan dan aneh.


"Wah, "_____" pantes saja... " kagum sang Tante.


"Jangan-janga Brandon yang nyuruh,Ya? " Tante Marrisa langsung berpaling untuk ngelihatin putranya yang juga baru saja mengejutkan semua orang dengan rambut hitam cepaknya.


"Bang Brandon juga ganteng, " kata Mini pas akhirnya tersenyum beneran.


"Kau benar, kayaknya putra Mama memang lebih ganteng kalau seperti ini," senyum Tante Marrisa jelas diperuntukkan buat putranya yang malah jadi agak kesal karena sikap berlebihan mereka semua.


"Jangan terlau senang dulu, karena aku harus membayar Lima puluh ribu dolar untuk ini!"  ketus Brandon sambil nunjuk kepalanya sendiri.


"Kau pergi kesalon mana sampai semahal itu? "  acuh Tante Marisa menganggap hal itu lelucon, padahal memang beneran Brandon harus bayar kekalahan taruhannya. Demi siapa kalau bukan demi janjinya untuk si Mini. Gadis itu sudah mau mengikuti sarannya untuk berubah, benar-benar berubah. Walau jujur saja sepertinya Brando juga bakal segera merindukan Mini yang dulu.


Setelah makan malam Mini sempat ngobrol sebentar dengan Tante Marrisa yang ingin mendengar ceritanya sepanjang hari ini bersama Efa. Berulang kali Tante marisa tertawa oleh keluguan cerita Mini ketika membicarakan kebaikan si Efa, yang kadang juga bisa luarbiasa ngeselin.


"Mbak Efa ternyata sangat baik, " kata Mini.


Dan sepertinya tante marisa juga setuju, karena biar bagaimanapun Tante Marrisa juga sudah menganggap Efa seperti putrinya juga.


"Jadi benar tadi Mini pulang sama Bang Evan? " tanya Tante Marrisa kayak sengaja banget padahal Bang Evannya juga masih duduk di samping mereka, trus di suruh pura-pura gak ikut denger.


Karena ngerasa gak enak jadinya Mini cuma berani ngelirik Bang Evan dikit.


"Bang Brandon yang ninggalin Aku di kantor Bang Evan. "


"Dasar brandon. " Tante Marisa hanya geleng-geleng dan tersenyum saja mendapati kejahilan putranya yang satu itu.


Tante Marisa tau Brandon pasti sengaja melakukan semua itu. Putra ketiganya itu kadang memang susah di tebak prilakunya, tapi Tante Marisa senang saat mengetahui Brandon ternyata masih sangat peduli dengan kebahagiaan saudaranya. Bahkan dia berhasil melakukan apa yang selama ini  tidak berhasil mereka semua lakukan. Merubah Mini sampai bisa jadi seperti ini seharusnya memang tidak mudah karena Tante Marisa sendiri juga sudah berulang kali mencobanya dan menyerah.


Jika bukan karena Bang Evan yang menyela agar mamanya berhenti mengganggu Mini dan memberinya waktu untuk tidur pasti mama Bang Evan itu juga gak bakal ingat jika ini sudah hampir tengah malam.


Meskipun Mini juga masih belum bosan ngobrol sama Tante Marisa tapi Mini mang sebenarnya sudah ngantuk dan cuma ingin buru-Buru tidur karena dia juga tidak mau bangun kesiangan.


like ya.......