
"Brandon dimana saja kau ini ?" triak Efa dari ujung telfon.
"Aku sedang di apartment Bang Harris. "
"Hampir seribu kali aku menelfomu,"____"apa kau tau Mini Hilang! "
"Dia ada di sini, " jawab Brandon dengan begitu entengnya.
"Apa kau gila! " triak Efa mungkin sambil melempar hpnya, karena setelah itu langsung mati.
Efa tau di mana apartment Bang Harris, yang dia tidak tau, bagaiman Brandon bisa begitu sinting sampai membawa kabur calon istri kakak laki-lakinya, pakai di bawa ke apartment pula.
Memang apa saja yang sudah mereka lakukan, rasanya Efa sudah tidak sabar untuk mendobrak pintu apartemen Bang Harris dan memukul kepala Brandon yang keras kepala itu.
Efa tidak buta untuk mengetahui jika Brandon sejatinya juga menaruh hati terhadap Mini, tapi sampai sejauh ini dia benar-benar tidak menyangka jika Brandon bakal sampai senekat ini.
Saat mendengar suara bel pintu yang tidak mau diam itu, Brando tau jika orang yang sedang berdiri di depan pintu itu adalah Efa.
Brandon berjalan untuk membuka pintu dan membiarkannya masuk untuk ikut melihat wajah sembam Mini yang masih duduk di sofa.
Sebenarnya tadi Efa ingin marah tapi gak tau kenapa saat melihat tampilan Mini seperti itu tiba-tiba dia tidak tega dan langsung duduk untuk memeluknya.
"Apa yang kau lakukan padanya! " jelas Efa terdengar marah.
"Antar dia pulang," dan hanya itu yang dikatakan Brandon.
"Kau memang Berengs*k! " maki Efa kesal bahkan dia sampai bangkit untuk mendorong tubuh Brandon yang tak bergeming.
"Antarkan dia pulang, karena aku tidak bisa melakukannya!" tegasnya sekali lagi.
Dan Efa benar-benar kesal sampai akhirnya benar-benar menamparnya.
Eva sendiri juga terkejut bagaimana dirinya bisa menampar Brandon.
Efa masih melihat telapak tangannya sendiri yang terasa panas, kemudian kembali menatap Brandon.
"Kau memang pantas mendapatkannya! "
Efa pun segera membawa Mini pergi.
****
"Bang Evan akan membunuhku jika aku memulangkan dalam kondisi seperti ini, " kata Efa setelah mereka sudah berada di mobil.
"Maaf Mbak seharusnya aku tidak merepotkan kalian."
Entahlah, sebenarnya Efa juga masih ingin marah tapi sepertinya dia juga gak bakal bisa marah dengan gadis seperti Mini.
Kemudian Efa tidak bicara apa-apa lagi setelah itu. Mini tau jika Mbak Efa juga marah padanya. Bagaimanapun Mini juga merasa pantas untuk mendapat kemarahannya.
Efa baru mengantarkan Mini pulang setelah gadis itu cukup layak untuk dilihat mata.
"Apa benar kau akan tetap menikah dengan bang Evan? " tanya Efa tiba-tiba setelah kebisuannya yang lama.
"Ya. "
"Bagaimana jika dia mengetahui semua ini? "
"Sepertinya dia sudah tau. "
"Dia tau kau bersama Brandon? " heran Efa merasa luar biasa, karena ternyata Mini juga mengangguk.
"Mungkin dia sudah sinting! " umpat Efa.
Mini memilih diam saja setelah itu bahkan sampai mereka sampai kembali di Rumah Tuan Serkan.
"Aku tidak turun, sampaikan saja salamku sama Tante Marrisa"
"Iya, Mbak," Mini mengangguk sambil merunduk menutup pintu mobilnya.
"Mini, kau belanja lagi?" sambut si Bibi begitu melihat Mini masuk dengan menenteng berberapa tas karton.
"Mbak Efa yang belanja sebanyak ini, dan akau tidak tau harus kuapakan. " jujur Mini memang tidak berselera dengan semua pakaian dan aksesoris seperti itu.
"Sini-sini biar Bibi bantu bawa."
"Kok lama banget jalannya, itu tadi Bang Evan udah bolak-balik nanya. Dia udah pulang dari tadi dan nyariin kamu terus sampai Bibi capek jawabnya."
"Di mana dia, Bi?"
"Sepertinya masih di atas."
"Bawa semua ya, Bi,"____" aku mau menemuin Bang Evan dulu." Mini menyerahkan semua tas kartonnya kepada si Bibi. "Ambil aja jika Bibi ada yang mau," tawar Mini sebelum pergi menyusul Bang Evan ke atas. Tapi si Bibi kayaknya malah merinding ngebayangin pakai belanjaannya Non Efa.
Karena Minibtidak mendapati Bang Evan di balkon samping, dia pikir Babg Evan pasti masih di kamarnya. Mini pun buru-buru nyariin si abang yang ternyata memang benar masib ada di kamarnya.
"Boleh aku masuk, Bang?" tanya Mini meski pintu kamar Bang Evan masih setengah terbuka.
"