
Genap satu bulan usia putri mereka, Bang Harris membawa Alex dan putrinya pindah kerumah barunya. Sebenar rumah mereka juga tidak jauh dari tempat tinggal ibunya, jadi Tante Marisa tetap bisa datang sewaktu-waktu untuk mengunjungi cucunya. Bang Harris membayar tiga babysitter untuk membantu Alex mengurus putrinya. Padahal menurut Alex tidak perlu harus sampai Tiga asisten, tapi Bang Harris bersikeras jika tiga penjaga akan lebih aman untuk putri mereka. Karena jujur saja Bang Harris masih tidak mudah percaya dengan orang apalagi untuk menjaga anaknya, karena itu menurutnya jika ada dua atau tiga orang yang mengawasinya jadi lebih aman. Di samping itu sepertinya Bang Harris juga tidak mau Alex ikut repot meski dasarnya Alex sendiri tetap suka repot.
Yang terpenting bagi Bang Harris, Alex tidak akan terlalu capek dan memastikan dia masih punya cukup energi ketika harus bersamanya. Bang Harris sendiri juga sudah semakin sibuk belakang ini karenanya tiap ada kesempatan untuk kabur mendatangi istrinya dia pasti juga ingin Alex selalu siap untuknya. Tak jarang Alex menuduhnya curang karena sering memanfaatkan kelengahannya . Seperti siang ini, Alex sedang menyusui di kamar anaknya dan tak sengaja ketiduran di sana saat bang haris tiba-tiba pulang. Alex tidak bisa membayangkan bagaimana Bang Harris bisa menyuruh para babysitter anaknya untuk menyingkir sementara dia mengunci kamar bayi untuk mereka berdua.
Alex benar-benar tidak bisa membayangkan betapa malu dirinya, karena pas akhirnya mereka berdua keluar dari kamar putrinya, bayi kecilnya yang belum genap dua bulan itu sedang berada di pangkuan ibu mertuannya yang kemudian hanya tersentum mendapati penampilan putra dan menantunya.
Sebenarnya Tante Marrisa cukup maklum bagaimanapun mereka masih sama-sama muda, walau sadar kadang putranya itu memang agak keterlaluan. Bagai mana bisa dia mengunci istrinya siang bolong di kamar bayi mereka pula. Tentu para babysitter cucunya tadi juga sempat bercerita bagaimana tadi Bang Harris mengusir mereka untuk menyingkir bahkan saat Alex masih tertidur.
"Maaf kami tidak tau Mama datang," kata Bang Harris lebih dulu dan Alex rasanya justru kepingin balik masuk ke kamar bayi trus mengunci dirinya sendiri di dalam sana sangking malunya.
"Sepertinya mama akan segera punya cuculagi jika kalian segiat ini."
Wajar gak sih kalau tiba-tiba lutut Alex terasa lemas karena malu. tapi sepertinya Bang Haris nya malah tetap nyantai aja trus ngedekatin ibunya.
"Sini Alex! " udah gitu pakai ikut ngajakin Alex gabjng sama mereka di sofa.
"Aduh bang, Alex mandi dulu aja, ya?" kayaknya dia cuma pingin buru-buru kabur atau ngilang aja.
"Sudah, gak papa sini dulu," Bang Harris kayaknya agak sedikit maksa sambil nepuk tempat duduk di sebelahnya.
Terpaksa Alex ngikut dan duduk di samping Bang Harris yang kemudian merai tangannya.
"Lihat apa yang abang bawa! "
Bang Harris mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya yang ternyata adalah sebuah cincin dan segera dia pasangkan di jari manis Alex, sebuah cincin bermata berlian dan cukup besar jelas bukan barang murah yang bisa di berikan di sembarang hari.
"Alex belum ulang tahun, Bang," koreksi Alex kayaknya masih binggung karena gak ngerasa ada hari besar yang layak di rayakan.
"Itu cuma untuk menggantikan cincin Abang yang gegedean dulu. "
Sebenrnya Alex juga gak ngerasa perlu di belikan cincin lagi, karena beberapa cincinnya juga jarang dia pakai karena agak merepotkan untuk beraktivitas apalagi saat harus mengurus bayi.
Tiba -tiba Alex ingat jika mungkin sebentar lagi putrinya akan haus lagi dan dia harus mandi dulu.
Alex buru-buru mencari alasan untuk bisa menyingkir dan meninggalkan Bang Harris bersama ibunya.
"Mama akan membawa putrimu jika sampai kau membuat istrimu hamil lagi! " kata Tante Marisa kepada putranya sesaat setelah Alex pergi.
Bang Harris cuma tersenyum kemudian mencium putri kecilnya, sepertinya dia memang sama sekali tidak khawatir jika Alex sampai beneran hamil lagi. Apa lagi dengan intensitas hubungan mereka yang cukup aktif, Bang Harris pasti tau dengan resiko kehamilan istrinya.
*****
Hari ini Mirra dan Bang Nugie akan berangkat ke Kalimantan. Karena kemarin Alex dan Bang Harris tidak sempat datang ke rumah abangnya, jadilah hari ini mereka berdua ngebut ke bandara buat nyusul Mirra dan Bang Nugie. Alex cuma bisa berdoa semoga mereka belum terlambat, atau kalau tidak abangnya itu pasti akan murka. Kemarin Alex mengeluh pusing seharian jadi dia tidak bisa datang juga pas bang Nugie ngadain acara makan malam buat perpisahan, dan kalau sampai hari ini juga Alex gak sempat ketemu abangnya juga, wajar kalau bang Nugie boleh dendam sama mereka berdua.
Tadi di kantor Bang Harris masih ada rapat jadi agak telat jemputin Alex akhirnya mereka buru-buru pergi tanpa sempat bawa putrinya, pas sampai bandara untung Mira dan bang Nugie masih mau nungguin mereka berdua. Cuma Bang Nugie agak heran aja pas ngelihatin Alex agak pucat trus gak banyak ngomong cuma meluk Mira sama bang Nugie betar aja kemudian kembali sibuk mijit -mijit keningnya udah kayak orang yang tidak sempat tidur beberapa malam. Padahal setau Mira bahkan Chacha memiliki tiga babysiter untuk ngejagain putrinya.
Kamu sakit, Cha? tanya Mira malah cuma bikin Alex bengong, karena kayaknya dia lagi susah konsentrasi gara-gara rasa pusing dan mual yang bergumul-gumul di perutnya.
"Lo gak hamil lagi kan, Cha!" kayaknya Mira juga gak bodo-bodo amat buat ngelihat ciri-ciri Chacha yang udah kayak orang hamil muda.
Karena syok sama tebakan Mira, Alex buru-buru lari ke tempat sampah dan muntah di sana.
"Keterlaluan, apa-apaan kalian ini!" kali ini kayaknya Bang Nugie yang kembali murka, "baru juga genap dua bulan anak kalian dan lo sudah bikin adik gue hamil lagi! "
Kalau gak inget-inget mereka sedang di depan pintu bandara pasti Bang Nugie sudah mukul Bang Harris beneran.
"Sudah Bang, Alex gak papa," kata alex yang baru ngedongak dari tempat sampah dan Bang Harris bantj mijitin tengkuknya.
"Kalian memang keterlaluan!"
Sudah Bang, yuk, cek-in nya hampir di tutup," kali ini Mira yang buru-buru narik suaminya karena takut beneran kalau Bang Nugie bakal mukul Bang Harris lagi.
Alex memang belum pernah mendapatkan tamu bulannya lagi sejak melhirkan kemarin, tapi dia sama sekali tidak menyangka jika dirinya bakal hamil lagi secepat itu. Baru satu minggu terakhir ini dia mulai mengeluh pusing dan mual dia sendiri sudah curiga kalu bakal hamil lagi meski sebenarnya mereka belum sempat pergi ke dokter untuk memastikan tapi hasil tes urin yang di bawakan Bang Harris kemarin memang sudah menunjukkan kalau Alex positif hamil lagi.
Alex sempat ngomel-ngomel, tapi apa kata bang harris ??
Dia bilang mereka tinggal menambah beberapa babysitter lagi.
Bukannya Alex tidak senang dengan kehamilannya hanya saja jaraknya yang terlalu dekat membuatnya sedikit khawatir.
*****
Sampai di dalam pesawatpun sepertinya Bang Nugie masih ingin ngomel-ngomel untuk mereka berdua, tapi Mira yang harus terpaksa ngedengerinya. Sebenarnya Mira sendiri juga masih syok dan hampir gak percaya, bagaiman bisa Bang Harris begitu tega bahkan putri mereka baru genap dua bulan dan Alex sudah hamil lagi.
"Berdoa saja semoga Nang Nugie akan segera mendapatka keponakan laki-laki," kata Mira sekedar untuk menghidbur diri sendiri.
Bang Harris sepertinya memang agak keterlaluan, Mira juga ikut kesal. Walau mereka punya banyak uang untuk mengurus banyak anak bukan berarti juga istrinya harus beranak setiap tahun. Bang Harris lama-lama memang gejengkelin pantes aja kalau belakangan kayaknya jadi tambah sering berantem sama Bang Nugie.
Padahal pas mereka dulu masih sahabatan kayaknya kemana-mana yang dicari Bang Nugie, berantempun mereka hampir gak pernah. Tapi sekarang tiap ketemu bawaanya udah kayak mau perang aja mereka berdua. Kadang Mira sampai mikir , jika dirinya sedang hamil anak laki-laki bisa jadi ananknya yang lahir nanti bakal mirip Bang Harris, sangking bencinya Bang Nugie sama suami adik perempuannya itu. Sekarang bayangkan aja kalau anak perempuannya sudah mirip Chacha trus anak laki-lakinya harus mirip Bang Harris juga. Rasanya Mira bakal semaking ngerasa gak di akuin sebangai orang tua. Walaupun sebenarnya dia mau juga kalau punya anak laki-laki yang gantengnya kayak Bang Harris trus Bang Nugienya pasti yang bakalan protes.
Kadang Mira juga merasa lucu kalu melihat perkara sepele yang kadang mereka berdua ributkan, Bang Harris nya juga gitu, selain gak mau ngalah sepertinya dia juga sensitif banget kalu Bang Nugie mulai nyinggung mau ngambil lagi adikknya. Lagian mereka kan sudah menikah dan Chacha juga kayak sama sekali gak mau pisah dikit aja dari suaminya, masa iya Bang Nugie mau beneran misahin mereka berdua. Tapi kadang si Abang cuma sering jengkel aja sama ulah mereka yang pada gak pakai kira-kira.
Mungkin memang begitu kalalu jadi saudara, malah sering ribut padahal dulu waktu cuma sahabatan mereka damai-damai aja. Mira cuma berdoa semoga nanti setelah mereka jarang bertemu trus pada kangen rubut-ributnya bisa ikut berkurang juga. Karena kata mamamya juga gitu, kalau saudara yang tiap hari ngumpul biasanya sering ribut benda sama yang jauh, selama ini Mira sendiri kurang percaya karena dia kan cuma anak tunggal.
Mira dan Bang Nugie akan tingal di Kalimantan karena Bang Nugie kembali mendapat kenaikan jabatan. Rencanananya nanti mereka akan tinggal di apartemen yang sudah di siapkan oleh pihak perusahaan. Mungkin nanti saat nanak mereka sudah mulai bisa berjalan dan membutuhkan ruang gerak yang lebih luas mereka akan membeli rumah sendiri yang lebih sesuai untuk membesarkan anak-anak.
Mira sendiri juga belum pernah pergi keluar jawa, dan ini adalah kali pertama dirinya bakal tinggal jauh dari mamamaya. Kebiasaanya sebagai naka tunggal yang sering di manja kadang memang sering membuatnya kerepotan untuk mengurus rumah sendiri. Mira juga paling gak bisa bikin makanan, bahkan dulu aja dia makan masih sering di suapin sama mamamya. Trus pas tinggal di rumah sendiri kemarin biasanya si Mama juga yang masih sering ngirimin makannan karena rumah mereka gak jauh juga. Kalau Bang Nugie biasanya kalau lapar juga lebih suka nyari Mbok Supi dari pada istrinya. Mira masih gak ngerti bagaimana nanti kalau mereka benar-benar tinggal jauh dari keluarga, mungkin memang ada saatnya setiap orang memang pada akhirnya akan belajar. Bukan berarti Mira yang bisanya cuma rebus air itu nanti gak bisa bertahan hidup, paling kalau makanan yang coba dia masak masih belum enak dia bisa aja delivery makana cepat saji. Sejauh ini Mira coba mikir enteng kayak gitu dulu biar gak setres amat ngebayangin tinggal jauh dari keluarga plus bawa anak bayi pula.
Dulu Bang Nugie pernah bilang pas sebelum nikahin Mira, bilang dia Mira gak bisa masak juga gak papa, tapi pas waktu itu kalu lapar kan ada mbok supinya yang dia cariin. Bahkan kemarin bang Nugie juga sempet mau bawa mbok Supi buat ikut sama mereka, tapi kayaknya mbok supi gak bisa juga tinggal jauh dari keluarganya. Akhirnya bang Nugie ngalah dan mungkin memang harus belajar menghargai jerihpayah istrinya. Selama ini bukannya Mira malas dan gak mau belajar sama sekali. Bagai manapun mereka sudah hampir dua tahun menikah, tentu Mira juga kepingin belajar membuat makan buat suaminya tapi selau saja kalah saing sama Mbok Supi dan akhirnya lama-lama Mira males buat belajar lagi, karena bagaimanapun dia sadar kalau levelnya Mbok Supi udah mustahil dia kejar. Bagaimana tidak! Mbok Supi sudah ngurusin Alex dan bang Nugie sejak bayi bahkan yang tiap hari gantiin popok dan nyebokin mereka berdua, pastilah Mbok Supi juga lebih ngerti di banding mama dan papanya Bang Nugie sendiri.
Bahkan pas mau pamitan pergi kemarin kayaknya Bang Nugie juga lebih sedih ninggalim mbok Supi dari pada mikirin mamapapanya. Mbok Supi juga sampai nangis pas Nang Nugie melukin simbok terus. Bilang Mbok Supi, kalau Bang Nugie tinggalnya gak jauh dia juga mau ikut. Karena bagi mbok Supi, baik Chacha atau pun bang Nugie sudah lebih seperti anak kandungnya sendiri. dia sudah ngejagain kedua nak itu dari bayi dan menyayanginya layaknya seorang ibu, meski ibu mereka sendiri sebenarnya justru jarang megang anak-anakanya. Itulah kenapa Mira kadang masih sering ngerasa beruntung karena punya mama yang selalu ada untuknya. Karena itu sekarang meskipun bang Nugie berulang kali menyarankanya untuk memiliki babysitter untuk membantunya, Mira selalu menolak. Dia ingin mengurus nakanya sendiri seperti dulu mamanya juga selalu menyiapkan segala keperluanya. Meski pas di masa-masa remaja Mira mulai merasa risi dan sering ngomel dengan perhatian lebih mamanya. tapi sekarang setelah dirinya juga menjadi seorang ibu dia mulai sangat bersyukur karena diberi masa kecil yang begitu indah dengan sang Mama. Mira juga sering merasa kasiahan sama bang Nugie yang kadang juga bercerita kalau dirinya dulu memang kurang menghabiskan masa kecil bersama orang tuanya tapi dia bisa mengerti karean orang tianya memang harus bekerja untuk mereka berdua. Karena hal itu pula jadinya bang Nugie merasa dirinyalah yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga adiknya, maka jangan heran kalau si abang memang protektif banget sama si Chacha. Makanya Mira juga gak heran kalau sampai sekarangpun bahkan saat adiknya sudah memiliki suami, bang Nugie masih belum bisa mengabaikan adik perempuan nya begitu saja. Seperti kejadian di bandara tadi, Mira tau kenapa Bang Nugie bisa sangat murka. Mungkin jika Mira di beri seorang kakak laki-laki dia pasti juga akan sangat bangga bisa memiliki kakak seperti abangnya Cahacah. Karena itu juga Mira tidak bisa berhenti bersyukur karena telah mendapatka suami seperti Bang Nugie.