Alex

Alex
bab 18



Rasanya Chacha masih dalam mode bahagia yang tombolnya lupa di normalin lagi, sangking kayak gak masuk akalnya kejutan kebahagiaan yang menimpaku bertubi-tubi sejak kemarin. Bang Harris yang sempat kupikir hanya mimpi, tiba-tiba benar-benar kembali, dengan membawa semua hadiah yang kayaknya lebih manis dari ribuan kotak coklat dan pemen gula-gula 😁😁


Walaupun Bang Harris tidak pernah datang dengan tuksedo dan bunga, untuk melamarku. Tapi dia seolah sudah meletakkan seluruh dunianya dengan sukarela untuk kugenggam. Kedengarannya memang seperti tidak masuk akal tapi aku percaya jika keyakinanku selama ini pasti juga bukan hanya karena sesuatu yang takberdasar. Begitu banyak hal yang tidak bisa sepenuhnya kita ketahui tapi kadang kita tetap bisa merasakannya dengan keyakinan.


Aku percaya jika dimanapun dia berada selama ini dia tetap menjadi milikku tanpa perlu lagi aku bertanya karena demikian pula sebaliknya. Itulah kenapa aku tetap tidak akan bisa mengusir atau menolaknya, tak peduli berapa kali dia datang dan pergi sesuka hatinya.


Sore itu kami sedang berkumpul, aku, Bang Harris, Mira dan Bang Nugie. Papa lagi nganter Mama pulang ke Sukabumi untuk jengukin Paman yang lagi sakit, karena itu di rumah jadi makin sepi, Bi Supi juga seperti biasa libur weekend. Karena Chacha juga sedang malas kemana-mana akhirnya kami cuma ngumpul-ngumpul di gazebo belakang.


Kami semua sudah sepakat untuk tidak ada yang menggunakan gadget jika sedang berkumpul, tapi lama-lama gak ada juga yang bisa kami omongin. Tadinya Aku dan Mira kayak bengong nungguin Bang Nugi sama Bang Harris yang malah main catur. Sampai akhirnya Chacha ngambil gitar bang Nugie di kamar buat maksa Mira nyanyi biar gak sepi-sepi amat.


Setelah kupaksa Mira untuk menyanyikan dua lagu untuk bang Nugi, yang jadinya senyam-senyum baper gara-gara di nyanyiin lagu sama istrinya.


"Sudah deh, Bang, jangan kode-kode gitu, awas ya kalian kabur duluan!" tunjukku buat Mira dan abangku, yang sepertinya sudah janjian entah mau ngapai aja malam ini.


Alih-alih gak mau ketangkap basah, Bang Nugi gantian maksa bang Harris untuk ikutan pegang gitar meskipun dia sempat menolak tapi akhirnya dia setuju ngambil gitar Chacha dan mulai bawain lagunya Marron 5 yang judulnya Memories, duet bareng Bang Nugi yang sebenarnya suaranya lumayan meski tak se indah Mira yang udah kualitas penyanyi kontes. Trus di beberapa lirik terakhir Bang Nugi ngebiarin Bang Harris yang nyanyi sendiri dengan mengulangi beberapa bait lirik awal meski gak banyak tapi Chacha tau bang Harris samasekali gak buruk karena ternyata Cahcah suka, dan jadi yang pertama ngasih tepuk tangan pas dia baru berhenti metik gitarnya.


"Awas, kalau  kalian berdua sampai janjian di belakang Abang! " kali ini gantian Bang Nugie yang pura-pura ngancam Chacha dan Bang Harris.


Karena biarpun sering jahil sama Chacha sebenarnya kalau di depan Bang Nugi Bang Harris itu lumayan anteng, kayak yang udah takut bangat gak dapat restu dari abang tengilku.


"Besok Abang mau nemanin Evan lihat lokasi proyek baru kami di Kaltim,  mungkin malam langsung pulang dan senin Abang bisa jemputin Alex, " kata Bang Harris pas sudah mau pulang.


"Jangan Bang, entar capek Chacha bisa nebeng Bang Nugi, " lagipula selama Mama dan Papa masih di Sukabumi si abang masih tidur di rumah buat nemenin Chacha. Tapi entah kenapa rasanya aku kayak gak rela ngelepas Bang Harris pergi malam itu. Dia hanya akan pergi bersama adik laki-lakinya dan akan segera kembali, memangnya apa yang ku cemaskan?


Jujur malam itu Chacha pingin balik megang wajah tampan Bang Harris bentar aja pas dia abis berpaling  buat ngecup bibir Chacha bentar karean takut ketahuan Bang Nugie. Tapi yang mungkin akan kusesali selamanya adalah karena aku tidak memiliki keberanian untuk melakukannya dan kubiarkan dia pergi setelah dengan berat tapi terpaksa melepas jari-jarikami yang masih saling bertaut dan enggan untuk berpisah. Entah kenapa aku takut tidak akan bisa menggenggamnya lagi seperti ini dan melihat senyumnya, sungguh aku tidak ingin mempercayai feeling seperti itu. Tapi sepertinya ketakutan itu semakin nyata ku rasakan.


Kembalilah, Bang, kembalilah buat Chacha.....doaku dalam hati.


Si abang sudah melambai untuk masuk ke dalam mobilnya, paling tidak aku lega malam itu Bang Harris tidak membawa motornya.


*****


Walau ini hari minggu dan hampir semalaman tidak tidur tapi ternyata aku sudah kembali bangun pagi-pagi buat buka pesa, dan langsung lega ngedapetin pesan dari Bang Harris yang ngasih tau  dia baru saja landing dan sudah dalam perjalanan ke hotel.


Aku hanya tidak tau ada penerbangan sepagi itu kesana, kecuali mereka menaiki pesawat carter, atau mungkin jet pribadi, kenapa aku tidak pernah terpikir bukan hal yang aneh sebenarnya jika keluarga seperti mereka memiliki pesawat jet sendiri, karena itu si abang bisa begitu yakin bakal langsung pulang sore harinya.


Seharian sampai lewat jam makan siang bang Harris baru bisa ngehubungin Chacha lagi, mungkin dia juga cukup sibuk bertemu dengan beberpa klien seperti yang sempat dia ceritakan sekilas sebelum lebih banyak menanyakan kegiatanku hari ini yang sebenarnya gak banyak. Biasanya juga kalau hari libur gini Chacha cuman malas-malasan di stas kasur, biar pun Bang Nugi mau nyeret Chacha turun tangga buat ikut muterin komplek, Chacha juga gak bakal mau. Biarpun si abang juga bilang mau gendongin segala macam kalu chacha sampai kecapean, Chacha juga tetap ogah di kibulin. Tapi pagi tadi beneran Chacha ikutan Bang Nugie larin gelilingin komplek, mungkin sangking penganggurannya dan takut di kamar sendiri karena pasti  akan kepikiran Bang Harris terus.


"Lihat tu, anjing-anjing komplek aja pada heran ngelihatin lo mau ikut lari pagi, " kata Bang Nugie ngeselin banget, sambil nujukin kepala angin  tetangga ku yang  pada keluar pagar minta sarapan.


"Bisa gak abang itu suportnya bagusan dikit, biar adeknya dapat hidayah."


Si abang malah ketawa sambil Noleh anjing tetanngaku yang namanya Noah, pokoknya udah kayak ganteng banget itu si anjing sampai tuanya kasih nama dia Noah.


"Noah, kenalin ini adik gue namanya Alex, doain dia biar dapat hidayah buat keliling komplek tiap pagi."


Si abang memang tengil, capek chacha ngerasainya, bahkan capeknya lebih dari ngelilingin komplek tiga kali.


Kami masih lari beriringan, Chacha tau si abang yang biasanya lari lebih Cepet sengaja ngimbangin tenagaku.


Bang Harris benar-benar ketawa pasdi bagian Chacha cerita Bang Nugie minta anjing tetangga buat doain Cahacah biar dapat hidayah.


"Beneran, Alex percaya itu anjing namanya Noah? " tanya Bang Harris masih setengah ketawa. "Bang Nugie juga ngasih nama Noah buat kucing mantannya dan buruang beo peliharaan adek Bang Harris."


"Si abang memang ngeselin," omelku.


"Dulu Bang Harris juga pingin punya adek cewek yang bisa di jahilin, karena Evan kalau ngamek gak lucu."


Ternyata mereka sama aja....batinku sambil bersyukur Chacha cuman punya satu kakak laki-laki, bayangin aja kalau sampai dua dan kayak mereka semua. Pantes aja mereka cocok banget temenannya...


"Beneran bang Harris pulang sore ini? " tanyaku pas di sela obrolan kami.


"Ya ini sudah di ruang tunggu, bentar lagi pesawatnya siap. Nanti abang kabari lagi kalau udah nyampek."


Gak taunya Chacha cuma ngangguk,padahal dia kan gak bisa lihat, dan itulah yang menjadi obrolan terakhir kami. Karena sesampainya di Jakarta Bang Harris belum sempat telfon lagi dan cuma ngasih tau lewat chat kalau udah sampai rumah, dan Chacha sudah lega trus bales nyuruh dia cepat istirahat kalau besok masih mau maksa boncengin Chacha.


*****


Pagi itu aku sedang bersiap untuk pergi ke kantor, dan baru selesai memakai sebelah kaus kakiku ketika aku mendapatkan telfon dari nomor tak di kenal yang ternyata dalah Evan, adiknya Bang Haris. Evan berusaha bicara pelan-pelan ketika memberitauku bahwa Bang Harris barusaja mengalami kecelakaan motor dan barusaja di larikan kerumah sakit. Otakku tiba-tiba kosong seperti bergerak dalam mode lambat dengan telingaku yang  berdengung .....  


Aku masih linglung dan berjalan seperti mayat hidup ketika Bang Nugi menarikku di lorong rumah sakit, pemandangan itu sulit ku cerna karena otakku sepertinya masih bergerak dalam mode yang sangat sangat begitu lambat. Aku melihat Evan yang sedang berusaha menenangkan ibunya yang masih belum berhenti menangis, dia juga melihatku tapi tidak bisa mengatakan apa-apa kecuali hanya menggeleng. Aku berbalik untuk memeluk Bang Nugie, mungkin akhirnya kau juga hanya bisa ikut menangis sampai lemas dan Bang Nugie menyandarkanku di bahunya.


"Harris pria yang kuat, Abang percaya dia pasti bertahan," bisik Bang Nugie di dekat telingaku, bahkan aku belum berani membuka mata karena aku sangat takut melihat dunia tanpa Bang Harris.


Menurut dokter kondisinya memang sangat kritis, karena Bang Harris mengalami benturan yang sangat keras di kepalanya. Sudah hampir dua jam tim dokter melakukan oprasi karena selain benturan di kepala Bang Harris juga mengalami patah tulang rusuk yang cukup parah. Seperti hanya meng harab keajaiban, itulah yang bisa kami lakukan sekarang. Mungkin jika saat itu tidak ada Bang Nugie untukku berpegangan mungkin aku juga ingin ikut hilang.


Kenapa setelah sekian lama dan baru kembali, dia sudah ingin pergi lagi. Chacha tidak mau di tinggal sendiri,Chacha tidak mau lagi....nafasku masih bergetar dan tersengal ketika Mira yang baru tiba bersama Papa dan Mama menghampiriku.


"Percayalah dia akan berjuang untukmu, karena kita semua juga kan mendoakannya," kali ini Mira yang bicara untuk membujukku.


Aku minum beberapa teguk kemudian berusaha duduk dengan tegar meskipun Bang Nugi masih belum mau meninggalkanku barang sejengkalpun. Kulihat Evan menatapku, wajahnya sembam meskipun tidak terlihat menangis untuk menegarkan ibunya. Papa Bang Nugie masih berada di luar negri untuk pengobatan jantung dan belum mereka beri tau tentang kecelakaan yang menimpa putra kebanggaannya. Karena pemasangan ring jantungnya beberapa minggu lalu itu masih sangat beresiko untuk menerima berita yang akan sangat mengejutkan.


Setelah hampir tiga jam akhirnya salah satu dari tim dokter memberitau kepada kami bahwa kemungkinanya memang sangat tipis, tapi kami masih memiliki harapan karena jantungnya mamasih berdetak meski respon otaknya masih sangat lemah. kami semua hanya bisa mulai berdoa dan berharap akan sebuaah keajaiban. 


Chacha sudah tidak ingin menangis lagi karena yang Bang Haris butuhkan kali ini adalah dukungan. Aku berjalan mendekati kaca di mana tirainya  sudah boleh di buka sehingga kami bisa melihatnya dari luar kaca. Aku coba menegarkan diriku sendiri saat harus melihat bagaimana seluruh luka itu sudah menyakiti tubuhnya. Dari banyaknya perban dan alat penopang kehidupan yang menempel di tubuh tak bergerak itu, Chacha tau seberat apa luka yang harus dia tanggung untuk tetap bertahan hidup. Tidak banyak yang sanggup untuk cukup lama berdiri di sana, bahkan Ibu Bang Harris pun tidak sanggup untuk melihat kondisi putranya.


Hanya Chacha yang masih berdiri di sana, dan tetap akan berada di sana, karena Chacha ingin Bang Harris tau  aku ingin dia  bertahan, dan Chacha juga tidak akan lelah mengharap keajaiban. 


Beberapa hari berlalu dan Bang Haris sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman meski aku  sudah  memiliki sedikit harapan dari keterangan dokternya pagi ini yang mengatakan bahwa  respon syaraf otaknya yang sudah berangsur membaik. Aku memang  belum pernah meninggalkannya sejak hari itu, karena itu kemajuan sekecil apapun rasanya sangat luar biasa bagiku. Walaupun Bang Harris  masih belum mengerti saat ku sentuh, tapi aku yakin dia akan bisa merasakan dukunganku. Tiap hari Bang Nugi datang untuk mengantarkan pakaian dan makanan untukku meskipun aku jarang menyentuhnya.


Hari ini ada Ibu Bang Harris yang menemaniku menjaganya. Tiap kali melihat Ibu Bang Haris Chacha selalu merasa bersalah, karena bagaimanapun karena akulah Bang Harris sampai harus mengalami kecelakaan motor.


"Maafin, Chacha, Tante," kataku pas mendekati Tante Marisa yang sedari tadi hanya duduk di sova untuk memandangi putranya. 


 Tante Marisa hanya menggeleng kemudian menyentuh pipi Chacha dengan kedua telapak tangannya yang lembut.


"Tante boleh panggil Alex atau Chacha?"


"Chacha saja, Tante."


"Saat bang Harris mulai sering nyeritain Chacha, Tante kira putra Tante hanya ingin punya adek cewek kayak Bang Nugie. Tapi pas Tante ketemu Chacha, Tante yakin putra tante memang sudah suka sama Chacha sejak saat itu. Sebelum kepulangannya kembali ke  UK dia juga sudah sempat ngomongin niatnya sama Chacha, tapi dia bilang Bang Nugi belum ngijinin."


Chacha sudah berusaha untuk tegar dan tidak menangis lagi, tapi nyatanya saat itu Chacha nangis lagi.


"Maaf, Tante , sepertinya Chacha harus keluar sebentar."


Entah aku akan kemana karena rasanya, Chacha tidak sanggup jika harus menunjukkan air mata lagi di depan seorang ibu yang pasti juga sedang sangat berduka untuk putranya.


Chacha berjalan keluar mendatangi Bang Nugie yang kebetulan juga baru datang untuk mengantaraka baju ganti buat Chacha.


"Bang, Chacha mau bicara."


Sepertinya bang Nugi sudah tau apa yang ingin kukatakan, karena dia sudah lebih dulu meminta maaf.


 "Bang Nugie juga merasa sangat bersalah, karena kejadian ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika sejak awal Abang merestui hubungan kalian. Tapi Abang egois karena tidak ingin kehilangan adik kecil Abang."


Chacha bisa ngerti perasaan Bang Nugi karena Chacha juga pernah ngerasain hal yang sama ketika Bang Nugie diam-diam jadian sama sahabatku sendiri.


Ternyata terakhir sebelum pergi ke UK Bang Harris sudah mengatakan niatnya terhadap Chacah tapi  Bang Nugie jelas seketika murka dan menolaknya. Bahkan sempat memukul Bang Harris karena sudah memiliki pikiran seperti itu terhadap adik perempuannya yang masih begitu muda. Bang Harris yang masih berkeras akhirnya memang berhasil membuat Bang Nugie mengalah, tentunya dengan sebuah syarat. Jangan sekali-kali berani mendekati Chacha sampai kelak aku sudah cukup dewasa, dan jika sampai Bang Harris berani melanggarnya atau diam-diam menghubungi Chacha maka seumur hidup Bang Nugie tidak akan merestuinya.


Dari situ akau semakin sadar jika semua yang menimpa Bang Harris adalah karena diriku juga.


Saat aku balik lagi ke kamar Bang Harris kulihat tinggal ada Evan  di sana.  Dia bilang sama Chacha jika pelaku tabrak lari abangnya sudah ditangkap, dan ternyata dia adalah Dony. Tidak tau lagi apa yang harus ku ucapkan untuk mewakili perasaan bersalahku yang sudah bertumpuk-tumpuk. Karena aku yakin Dony sengaja melakukanya, dia sengaja melukai Bang Harris hanya karena aku. Rasanya aku tak sanggup lagi saat harus menyaksikan pria yang kucintai itu sampai harus menanggung begitu banyak luka. Aku hanya bisa menatap Evan sambil menggeleng pelan sampai akhirnya aku terduduk.


"Bang Harris tidak harus menanggung semua ini jika bukan karena aku. "


"Dia mencintaimu."


Aku mengangguk,"Kenapa harus menjadi begitu berat untuknya?"


"Istirahatlah aku akan menjaganya. "


Evan tau aku sedang tidak setabil tapi aku menggeleng.


"Sudah sangat lama aku ingin melihatnya, hanya untuk sekedar melihatnya walau sudah bertahun-tahun tanpa kabar, aku tetap ingin melihatnya dan jika sekarang aku masih harus menunggunya seumur hidupku pun aku akan melakukannya."


"Apa kau mau mendengarkan aku bercerita?" kata Evan, kemudian, dan aku mengangguk.


Evan mengambil tempat duduk di sebelahku dan memulailah dia bercerita.


"Bang Harris selalu ingin mendengar kabarmu, karena bang Nugie selalu menolak untuk memberitaunya. Menurutnya kau juga tidak pernah aktif di berbagai media sosial, kadang Bang Harris hanya ingin sekedar melihat Chacha. Kadang dia menyuruh ku untuk sekedar mencari tau bagaimana kabarmu. Bang Nugie benar-benar melarang keras abangku untuk menemuimu. Sampai suatu hari Bang Harris benar-benar tidak tahan ketika melihatmu ada di berbagai brosur produk properti kami yang berserakan di meja kerjanya. Bang Harris bersikeras untuk pulang dan menemui Bang Nugie, memohon agar kalian bisa bertemu.  Hari itu Bang Harris sangat panik karena ponselmu tidak bisa di hubungi selama seharian dan kau belum juga pulang sampai malam. Dari siang dia sudah sibuk menyuruhku untuk mencari tau ke kantor cabang tempatmu magang dan mencari informasi keberadaanmu tapi nihil. Baru kali itu aku melihat kakak laki-lakiku bisa begitu hampir gila mencarimu. Dan saat itu aku sadar jika dia benar-benar mencintaimu, karena itu aku yakin dia pasti akan bertahan untuk kembali padamu!" Evan meraih tanganku dan menggenggamnya, Ecan memiliki senyum seperti Bang Harris meski mereka tidak sepenuhnya mirip tetap saja hal itu semakin membuatku merindukannya.


"Terima kasih, Evan..... "


"Kau ingat saat hari pertama kau berkunjung ke rumah kami? saat itu semua orang di rumah heboh mengatakan bahwa adik bang Nugie ternyata cantik."


"Tersenyumlah, dan jangan buat abangku salah mengenali mun saat bangun nanti, hanya karena wajah murung jelekmu itu. "


Entah kenapa semua cerita Evan membuatku damai,  dan sama sekali tidak keberatan lagi jika memang harus menghabiskan seumur hidupku  untuk menjaganya seperti ini.


Kubenahi lagi selimut Bang Haris, yang masih tidur begitu tenang.  Dia masih sangat tampan meskipun dengan bibir pucatnya yang tak bergeming.


Ikut kuletakkan kepalaku di dekat bantal bantal Bang Harris, aku ingin sekedar mendengar hembusan nafasnya yang teratur dan menenangkanku.  Malam itu Evan juga menemaniku, dia tidur di sova sementara aku masih terjaga sampai lewat tengah malam seperti biasa.