
Setelah memikirkan nasehat istri Bang Harris siang tadi, sepertinya Mini memang mulai berani memikirkan keinginannya tapi apakah dirinya juga berani untuk jujur. Tapi sungguh Mini tidak ingin seperti ini. Jika bisa saja diraih, Mini ingin meraihnya, Mini ingin menghentikannya, Mini ingin mencegahnya pergi dan rela menawarka apapun untuk itu, tapi nyatanya dia tidak punya apa-apa.
Mini merasa tidak memiliki apa-apa yang layak untuk dia berikan untuk pria seperti Bang Brandon. Bahkan dia sudah berpikir seharian dan tetap tak menemukan apaun yang tersisa dari dirinya.
Dirinya di bawa kemari untuk Bang Evan dan memang harus menjadi milik Bang Evan. Tuan Serkan dan Tante Marrisa juga sudah sangat baik padanya, mustahil rasanya jika Mini harus mengabaikan mereka semua demi ke egoisannya sendiri yang hanya ingin perasaannya di dengar, hanya di dengar! Karena belum tentu juga orang seperti Bang Brandon akan menginginkannya.
Rasanya memang sangat tidak layak, karena itu Mini terus berpikir berulang-ulang sepanjang hari itu. Dia kembali mempertimbangkan nasehat istri Bang Harris mengenai kejujuran.
Kejujuran, tetaplah kejujuran. Mau di terima apa tidak kejujuran tetap layak untuk di lakukan, tapi bagaimana jika dia tau kejujuran itu justru akan menghancurkan segalanya?
Tapi bukankah memang seperti itu biasanya, toh kita juga tidak bisa menyelamatkan sesuatu dengan kebohongan untuk selamanya.
Walau demikian ternyata kejujuran tetap Memerlukan keberanian, dan apa Mini berani?
Memangnya apa yang akan berubah dari kejujurannya?
Apa dia berharap Bang Brandon lantas seketika akan berubah? sepertinya juga tidak!
Sepertinya Mini masih terus bergelut dengan pikiran-pikiran itu di kepalanya walau dia sendiri sebenarnya sadar jika Bang Brandon kenyataannya memang sudah jauh, jika nanti kejujurannya hanya akan membuatnya semakin menjauh, sepertinya juga tidak akan ada bedanya.
Sudah hampir dua minggu dirinya di abaikan, lantas apa akan ada bedanya jika sebulan lagi, setahaun lagi atau dua tahun lagi. Sepertinya akan sama saja toh dirinya tetap bukan siapa-siapa yang berhak menginginkan apapun darinya.
Sebenarnya bukan meja makannya yang sepi, tapi hati Mini, bahkan Tante Marrisa masih ngobrol bersama Bang Evan beberpa kali meskipun Mini tidak bisa ikut menyimaknya, bahkan dia tidak bisa membedakan asin atau manis makanan yang sedang dikunyahnya. Mini tidak mengerti perasaan apa seperti ini, dan apakah lama-lama dirinya akan terbiasa juga.
Mini sadar seharusnya dirinya tidak boleh merasa seperti ini, bahkan saat Bang Evan menggenggam tangannya di bawah mejapun dia sampai tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Rasanya semakin salah dan menakutkan untuk dinpikirkan. Mini merasa buruk saat sejenak tadi terlintas di pikirannya, kenapa bukan Bang Brandon yang mengenggam tangannya? kenapa bukan Bang Brandon yang menginginkannya?
Karena ternyata Mini baru sadar jika semua yang dia inginkan ternyata ada didalam senyum pria itu, pria yang kali ini bahkan enggan untuk sekedar menolehnya, pria yang kali ini sudah tidak pernah tersenyum lagi seperti dulu. Mungkin karena dia tau jika ini memang tidak boleh dan bukan main-main lagi untuk mereka sepelekan.
Jika kemarin mereka masih bisa tertawa bersama itu karena mereka tidak pernah berpikir jika perasaan mereka bisa jadi begini. Saat mereka berdua masih sangat percaya diri seolah hati mereka bakal kebal dengan perasaan yang ternyata memang sulit di atasi.
"Istirahatlah, " kata Bang Evan setelah mereka makan malam, dan Mini hanya megangguk tanpa mengatakan apa-apa.
Bukannya Bang Evan tidak sadar dengan kemurungan gadisnya itu, tapi Bang Evan percaya jika Mini hanya butuh waktu untuk berpikir, dan mengatasi masalahnya. Masalah memang pasti akan selalu ada dan dari situlah tahap kita belajar.
Mini segera kembali ke kamarnya dan berharap untuk bisa segera tidur seperti saran Bang Evan yang juga sempat khawatir dengan kesehatannya. Mini mengakui jika dirinya masih sulit untuk bisa tidur nyeyak lagi akhir-akhir ini. Biasanya dia baru bisa tidur setelah lewat tengah malam bahkan kadang sampai pagi dirinya belum bisa memejamkan mata sama sekali, rasanya mang terlalu banyak hal yang telah dia pikirkan secara bersamaan. Mungkin jika otak di kepalanya itu bukan ciptaan Tuha, mungkin kapasitasnya tidak akan cukup lagi.
Mini sudah berniat untuk. Langsung naik ke atas tempat tidur ketika dia baru ingat jika tirai kamarnya masih terbuka, dan untuk kesekian kalinya gadis itu tak sengaja melihat Bang Brandon duduk sendiri di Gazebo. Tadi Mini sempat mengira jika si Abang sedang keluar hingga sampai tidak turun untuk makan malam, tapi ternyata Bang Brandon ada di rumah dan malah duduk sendiri di tepi kolam seperti biasanya.
Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu selama ini, dan apakah Mini akan menyesal seumur hidup jika tidak mengetahuinya.
"Kenapa kau kemari?" tegur Brandon ketika gadis itu tiba-tiba sudah ada di depannya.