Alex

Alex
bab 19 and



Samar-samar kurasakan ada yang bergerak mengusik tidurku, entah kapan aku mulai tertidur karena saat aku sadar tubuh Bang Harris seperti sudah bergetar  mulai bergerak reflek dan  mengejang seperti kesulitan bernafas,  aku segera panik memencet tombol darurat dan berteriak-teriak pada Evan yang langsung ikut melompat dari sofa dan segera membantuku menahan tubuh Bang Harris yang sepertinya mengalami komplikasi. Tubuhnya masih mengejang hingga membuat beberpa alat medis yang menempel di tubuhnya ikut terlepas.


"Aku takut!" kataku saat coba menenangkan tubuh Bang Harris yang terus menggelinjang tapi usahaku sia-sia, sampai tim medis datang dan Evan memaksa menarikku keluar meski aku berusaha berontak dan tidak mau meninggalkan Bang Harris.


Aku takut, sangat takut jika itu adalah kali terakhir aku bisa melihatnya.....


Di luar aku mulai menangis hingga berjongkok di lantai ketika Evan coba menenangkanku. Entah  apa yang coba dia bisikkan di telingaku tapi aku sama sekali tidak bisa menyerap apapaun kecuali  ketakutanku. Seperti berpegang pada seutas benang tipis yang sewaktu-waktu bisa putus dan aku kehilangannya, pikiranku sudah mengambang dan masih belum siap jika harus kehilangan Bang Harris dengan cara seperti ini.


Tidak ada siapapun saat itu, dan hanya Evan yang berulang kali coba menenangkanku meski aku tau dia sendiri juga tidak pernah lebih baik dariku. Beberapa saat kemudian saat aku berusaha untuk lebih tenang, kulihat Evan justrunmasih berdiri  menyadarkan punggungnya di dinding sampai kemudian dia mulai menyerah hingga ikut berjongkok di lantai sambil meremas kepalanya.


Aku samasekali tidak memiliki kata-kata yang bisa kukatakan kepadanya.  Didalam tim dokter masih coba menangani Bang Harris, beberapa perawat masih berlarian keluar masuk dengan kepanikan mereka masing-masing.


Aku tidak sanggup berpikir apa-apa lagi, jika akhirnya memang harus pasrah dan mengalah untuk merelakannya pergi. Mungkin rasa sakit itu memang sangat mustahil untuk di tanggung lagi, aku menyaksikan bagaimana tubuh Bang Harris masih menggelinjang di antara para dokter terbaik yang sedang menanganinya.


Apa aku memang harus merelakannya, karena rasanya aku juga tidak bisa menyaksikannya kesakitan seperti itu. entah bagai mana tiba-tiba Evan sudah kembali menarikku untuk duduk.


"Janga di lihat," katanya dengan nafasnya sendiri yang masih bergetar ketika menatapku dengan yakin.


Setelah itu kami coba menunggu dalam keheningan dan sudah tidak terdengar lagi keributan dari dalam ruangan Bang Harris.


"Dia mengalami komplikasi yang berat saat syarf-syrafa otaknya mulai kembali merespon fungsi organnya," terang dokter yang baru bicara kepada Evan yang masih menggenggam erat tanganku.


"Berdoalah, jika nanti tidak terjadi komplikasi lagi mungkin kondisinya bisa membaik."


Dari situ aku tau jika aku masih belum kehilangannya ...masih belum....


walaupun aku tau selama ini alat pemompa jantung itulah yang menjadi satu-satunya penopang kehidupannya, hanya alat itu yang membuat jantungnya tetap berdetak meskipun respon otaknya sebenarnya kosong. Itulah kenapa Manusia yang sedang koma pasca trauma otak yang berat pun masih  bisa bertahan hidup hingga bertahun-tahun asal jantungnya masih berdenyut meski syaraf otaknya sudah dinyatakan mati, yang artinya tinggal kepasrahan keluargalah yang akhirnya bisa melepaskannya.


Aku segera  menghampiri ranjang Bang Harris ketika dokter mengijinkan kami untuk menjaganya lagi.


"Bangun bang, Chacha gak mau naik motor lagi, Abang bangun dulu karena Chacha mau ngomong." kataku sambil mengusap sisa keringat dingin di wajahnya yang masih terasa hangat.


"Maafin Alex, Bang, Abang boleh manggil Alex lagi kalu bangun nanti... " kemudia kuletakkan lagi kepalaku di samping tubuhnya yang masih tak bergeming tapi aku bisa merasakan nafasnya yang sudah kembali normal. Kuperhatikan bibirnya yang pucat dan mengecupnya pelan, bahkan aku tak peduli saat Evan ikut menyaksikan keputus asaanku saat berulang kali menciumi punggung tangannya yang dingin dan berdoa berulang kali.


"Istirahatlah, akan ku carikan makanan untukmu," kata Evan sebelum berniat untuk keluar, mungkin karena tidak tahan harus ikut menyaksikannya atau dia memng sengaja memberiku kesempatan untuk berdua bersama Bang Haris jika mungkin ini adalah kali terakhir yang diberikan nya untuk kami, meski Evan tidak akan pernah mengatakanya tapi aku tau dia juga ingin aku merelakannya. Karena mungkin memang hanya tinggal ketidak relaanku lah yang masih menahan Bang Harris di sini. Aku tau bagaimana keluarga besar Bang Harris sudah berusaha untuk menghargaiku, aku juga tau bagaimana Bang Haris sudah berjuang keras untuk bisa bersamaku, dan aku akan memaafkanya jika memang dia  harus pergi. Kuletakkan kembali kepalaku di sebelahnya untuk mengenang semua yang kelak bisa kuningat, irama nafasnya, aroma tubuhnya, dan kehangatan jari-jari tangannya yang sepertinya sudah mulai kembali ikut menghangat di dalam genggamanku.


Aku tidak ingat kapan Evan kembali karena sepertinya aku justru tertidur dan baru kembali samar-samar terbangun saat sinar matahari sudah mengintip dari selah horden yang sudah sedikit terbuka. Jelas sekali kurasakan bagaimana sentuhan tangan lembut itu membelai kepalaku dan kupikir aku masih bermimpi saat melihatnya sedang tersenyum menyapaku.


"Hay... Alex."


Tidak ada kata-kata yang bisa ku ucapkan kecuali airmata yang meluncur jatuh dari sudut mataku, dan dia kembali menghapusnya saat aku hanya bisa menagis dan masih terus menangis saat memeluk tubuh hangatnya dengan nafasku yang bergetar.


Sungguh aku tidak pernah menyangka akan bisa kembali merasa seutuh ini lagi saat kupikir aku sudah hancur berkeping-keping dan kehilangannya.


Setelah cukup lama aku hanya peduli untuk memeluknya, ternyata aku juga baru sadar jika Bang Harris sudah tidak lagi mengenakan berbagai alat aneh yang menempel ditubuhnya, hanya tersisa selang oksigen kecil yang terpasang di hidungnya.


Bagaimana mungkin? memangnya, "Berapa lama sebenarnya aku tertidur?" Tanyaku, menyuarakan kecemasan yang tiba-tiba menerjang otakku," atau jangan-jangan aku memang belum bangun? " kataku kemudian dengan kengerian yang baru kembali ku sadari.


Dan saat itu juga aku baru sadar jika ternyata kami tidak hanya berdua di ruangan tersebut.


Kulihat Evan hanya mengedikkan alisnya dan masih duduk di sofa, Bang Nugie juga ada di sana duduk di bantalan sofa di sebelah Evan, ada Mira yang sedang menggenggam tangannya dan tersenyum menatapku. Bahkan Ibu Bang Harris sepertinya juga sudah ikut menjadi penonton saat aku hanya peduli untuk menangisi putranya, Tante Marisa hanya tersenyum dan berjalan menghampiriku.


"Harris melarang kami membangunkanmu."


Dan sungguh aku merasa malu.


"Keajaiban ini adalah milikmu, Nak, karena gadismu yang tidak pernah menyerah, bahkan di saat kami semua sudah tidak berani untuk berharap."


Kulihat Bang Harris meraih tangan ibunya dan mengecupnya cukup lama," Doakan aku Ibu, doakan agar gadis ini masih mau menerimaku," kata Bang Harris saat kembali menatapku. Sementara Tante Marisa yang masih terharu hanya bisa menghapus air matanya dan tersenyum kemudian mengangguk berulangkali dengan masih menahan keharuannya sebagai seorang Ibu.


Entah kenapa justru aku yang merasa sangat tidak layak, karena bagaimanapun Bang Harris sampai jadi seperti ini juga karena diriku. Aku tidak tau apa yang harus kuucapkan di depan semua orang seperti ini, merasa bingung aku hanya bisa menatap Bang Nugie yang kemudian juga mengangguk.


Aku kembali menatap Bang Harris yang masih menungguku, aku pun hanya bisa mengangguk pelan tanpa bisa mengucapkan apapun lagi.


Tante Marisa melepas cincin di jari manisnya dan menyerahkan nya pada Bang Harris, "Berikan ini padanya. "


Sepertinya Bang Harris juga sempat  terkejut saat Ibunya menyerahkan cincin pernikahan berharganya itu, tapi Tante Marisa kembali meyakinkannya.


"Gadismu layak mendapatkannya."


 Bang Harris meraih tanganku dan mengenakan cincin pernikahan ibunya itu di jari manisku, kemudian mengecup punggung tanganku untuk beberapa saat.


"Terima kasih, Alex," katanyan kemudian saat menatapku dengan senyumnya yang tenang, sementara aku sudah tidak peduli lagi jikapun harus menjadi tontonan semua orang.


Aku kembali memeluk Bang Harris yang memang hanya bisa berbaring tanpa bisa bergerak.


Bang Harris mendapat banyak jahitan 


Akibat oprasi tulang rusuknya, karena itu sepertinya dia masih tidak bisa leluasa untuk bergerak, selebihnya dia terlihat baik-baik saja. Dari awal memang Bang Harris mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya karena tubuhnya yang sempat terplanting dari motor ketika Dony sengaja menabraknya dari belakang. Mungkin dadanya juga sempat terbentur stang motor besarnya sebelum kemudian akhirnya terhempas cukup keras keaspal. Jika mengingat pendarahan hebat yang sempat di alaminya, aku juga pernah merasa seperti kehilangan harapan, mungkin benar kata Tante Marisa, ini adalah keajaiban.


Bang Harris sepertinya juga mengalami pemulihan yang sangat cepat jika mengingat bagaimana kemarin dia sempat mengalami komplikasi yang cukup hebat, tim dokter juga mengatakan jika gumpalan darah di otaknya sudah mulai kembali diserap oleh metabolisme tubuhnya sehingga kami tidak perlu khawatir lagi. Bagaimanapun aku sempat kembali cemas saat tim dokter sempat menyarankan untuk melakukan oprasi pengangkatan gumpalan darah di bekas benturan di kepalanya. Tapi sekali lagi, hanya Tuhan yang bisa membuat keajaiban,  dan tidak ada hentinya aku bersyukur untuk semua itu.


Tiap kali aku melihat bekas luka melintang di dada Bang Harris maka aku akan selalu ingat betapa bersyukurnya diriku.


**AND**