
Alex sempat syok pas ngelihat Mira ikut jemputin mereka ke bandara.
"Oh, Bang apa perut Chacha nanti akan sebesar itu? " bisik Alex pas tiba-tiba mencengkram lengan Bang Harris.
Mira memang dari dulu kelebiha hormon sampai kehamilannya bisa membuat dada dan perutnya membengkak seperti itu meskipun ukuran badannya sepertinya tidak banyak berubah.
"Seperti apapun nanti Bang Harris akan tetap senang melihatnya, " bisik Bang Haris sambil megecup pipi Alex denag jahil.
Alex memang sempat merinding ngebayanginnya.
Alek buru-buru berjalan menghampiri Mirra dan berharap bisa memeluknya, tapi ternyata merepotkan dengan perut sebesar itu sampai akhirnya Bang Nugie yang menarik Alex kedalam pelukannya.
Bang Nugie juga menyentuh perutnya dan tersenyum menatap Bang Harris.
"Kenapa kalian tidak pernah bercerita? " heran Bang Nugie, karena selama ini Alex ataupun Bang Harris juga tidak penah mengatakan tentang kehamilannya.
"Ini kejutan yang lain, Bang, " kelit Alex, selain nama anak Abang nanti
"Pintar sekali kau anak kecil! "
"Abang boleh memberinya nama jika anak kami nanti laki-laki, " Alex masih tersenyum kemudian memeluk abangnya sekali lagi.
"Apa dia laki-laki? " bang Nugie langsung terlihat antusias.
"Kami belum tau, " jawab Alex.
"Pasti dia akan tanpan seperti ayahnya," tambah Mira ketika ikut menyentuh perut Alex.
"Dia anak perempuan," sela Bang Harris yang kelihatan sekali gak terima jika mereka buru-buru memutuskan anaknya laki-laki.
"Kupikir kita sudah bisa melihatnya," saran bang Nugie.
"Alex bersikeras melakukan USG di Indo. "
"Aku akan segera mengantarkanmu Besok! "
Gak tau kenapa sepertinya antusiasme Bang Nugie sedikit membuat Bang Harris kesal. Bagaimanapun dia kan Bapak dari bayi itu kenapa kayaknya justru mereka yang merasa paling memiliki.
Lagi pula Alex bukan anak SMU lagi yang masih harus di antar kemana-mana sma abangnya. Kadang Bang Harris juga cemburunya macam-macam, masak dia cemburu sama Bang Nugie ???
Apa lagi kayaknya Mira dan Bang Nugie udah kayak langsung main serobot aja mengambil Alex darinya. Selama ini biasanya mereka memang hanya biasa berdua, apa-apa hanya berdua, Alex hanya akan bergantung pada dirinya. Dan pas tiba-tiba dia ada di tengah semua keluarga yang mencintainya kayaknya Bang Harris kok agak jealous juga, aneh tapi nyata atau jangan-jangan itu ada hubungannya dengan sindrom calon bapak muda.
Sebenarnya Bang Harris ingin membawa Alex pulang kerumahnya dulu tapi Bang Nugie gak maun galah dan membawa Alex pulang ke rumah mereka.
"Kau pikur untuk apa kami sampai repot berdua datang ke bandara! " kilah Bang Nugie pas Bang Harris protes mau bawa pulang istrinya.
Terpaksa lagi Bang Harris harus nurut, dan ikut pulang ke rumah orang tua Alex.
Tentu Alex senang saat akhirnya bisa berkumpul lagi dengan keluarganya setelah hampir setenag tahun mereka tidak bertemu. semua orang terkejut dengan kehamilan Chacha termasuk mbok supi yang udah sengaja membuat semua masakan kesukaan Chacha dan sempat khawatir pas bang Harris bilang Alex belum bisa makan sembarangan.
"padahal Bi Supi sudah masak semua menu kesukaan non Chacha, loh."
"Nanti Chacha coba, Bi."
Bang Harris sudah menarik Alex untuk duduk di sofa, belakangan Bang Harris memang agak cerewet. mungkin maksudnya biar Alex gak kecapean tapi dia suka sedikit berlebihan juga.
"Mama sudah menyiapkan kamar Bang Nugie yang lebih luas untuk kalian berdua," kata Mama Chacha pas bawain jus buah buat putrinya.
Tidak, Ma ,Chacha mau tidur di kamar Cahcah aja kangen juga sudah lama. Chacha pikir bang haris juga bukan tipe orang yang akan keberatan di manapun mereka kan tidur. Chacha tau Bang Haris sudah biasa hidup mandiri bahkan dia sudah tinggal di apartemennya sendiri sejak usia tujuhbbelas tahun. Sepertinya tidur di kamar sempit Chacha juga tidak akan masalah baginya, lagi pula kamar itu juga tidak kecil-kecil betul untuk mereka berdua. hanya saja mungkin masih terlalu banyak pernak- pernik anak perempuan di sana.
"Mandi dan ganti pakaian kalian dengan yang lebih nyaman kami akan menunggu saat makan malam, " kata sang mama untuk Alex dan Bang Harris.
Sebenarnya ini bukan kali pertama Bang Harris masuk kekamar Alex tapi waktu itu mungkin dia belum pernah ter pikir akan ikut tidur di tempat ini juga.
"Apa Bang Haris keberatan?"
"Tidak, tentu tidak, ini cukup untuk kita berdua."
Rumah Alex memang tidak semewah rumah keluarga Bang Harris tapi Alex senang karena sepertinya Bang Harris juga tidak pernah keberatan tinggal di rumahnya yang lebih sederhana.
"Di mana kamar mandinya?"
"Kamar mandinya kecil, Bang, Abang mandi dulu aja," Alex menunjukkan bilik kecil di sudut kamarnya di mana hanya ada shower dengan skat kaca yang memang hanya muat untuk satu orang. tapi sepertinya bang Harris juga tidak keberatan dia mengambil handuk dan sempat mencium Alex sebentar sebelum masuk ke kamar mandi.
Sementara Bang Harris masih mandi Alex membongkar kopernya yang tadi sudah di bawa naik sama Bang Nugie, dia mengeluarkan baju bang Harris dan menyiapkan nya di atas kasur , Alex juga mengeluarkan beberapa baju untuk dirinya sendiri walau tidak berniat untuk membongkarsemua isi kopernya. karena Alex khawatir bang Harris masih ingin membawanya tinggal di apartemennya seperti rencana mereka kemarin.
Tak lama bang Harris selesai dan langsung menghampiri Alex, masih memakai handuk dengan tubuhnya yang setengah basah, Alex pura-pura merinding ketika bang Harris menarik pinggangnya.
"Alex mandi dulu bang, " kelit Alex.
"Sebentar," sepertinya Bang Harris justru semakin menariknya.
Alex suka dengan aroma sabun yang di pakai bang Harris tapi dia agak tergelitik dengan rambut basahnya, ketika mulai menuruni perutnya. Dengan setengah berjongkok bang Harris menciumperut istrinya kemudian meraih pinggannya dan mengangkatnya ke atas tempat tidur.
"Alex, belum mandi, Bang, "protes alex coba menghentikannya tapi sepertinya percuma.
"Oh..tolong jangan terlalu berisik,aku khawatir ranjang ini tidak kuat untuk kita berdua," alex coba mengingatkan.
¥Kita perlu mencobanya untuk memastikan," kata bang Harris kemudian.
Semua keluarga sudah berkumpul ketika mereka turun untuk makanmalam
mereka sempat ngobrol dan becanda sebentar sembari menunggu bi Supi menyiapkan makan malam untuk mereka.
Bi Supi benar-benar menyiapkan semua menu kesukaan Chacha, sampai agak berlebihan rasanya.
"Sepertinya perutku akan segera sebesar Mira jika harus menghabiskannya."
"Benar tidak apa-apa?% tanya bang Harris agak khawatir mengingat Alex sedang tidak bisa sembarangan memasukkan makanan ke mulutnya.
"Sepertinya tidak, Bang, biar Alex coba."
Semua orang ikut memperhatikan bagaimana Bang Harris cukup perhatian dan membantu Alex mengambil beberapa makannan yang biasanya dia suka dan cukup pias saat ternyata Alex memang bisa memakannya dan tidak muntah.
Sejujurnya bang Harris juga sempat merasa agak ajaib saat menyaksikan Alex bisa makan dengan cukup lahap, dan ada kelegaan luar biasa bagi bang Harris jika akhirnya Alex mau makan lagi. karena belakanga ini selera makannya memang sangat menghawatirkan.
Bahkan sepertinya Alex bisa memakan semua makanan yang di buat bi Supi, karena itu sepertinya mereka memang harus tinggal di rumah ini. semua orang setuju jika sepertinya Chacha memang hanya mau memakan makanan yang dibuat sama bi Supi.
Sekali lagi bang Harris harus mengalah dan membiarkan Alex tetap tinggal di rumahnya.
"Apa bang Harris tidak keberatan kita tinggal di sini?" tanya Alex sambil membongkar isi kopernya dan memindahkannya ke lemari.
"Di manapun yang membuatmu nyaman itu jauh lebih penting." Bang Harris mulai ikut membantu Alex mengeluarkan barang-barangnya.
Istirahatlah biar aku saja yang memindahkannya
"Tinggal sedikit bang," protes Alex uang bersikeras tetap tidak mau berhenti.
Di man aku harus menaruh yang ini? tanya bang Harris sambil menunjukkan beberapa pakaian serupa.
"Letakkan di tumpukan paling atas, " tunjuk Alex dan begitu seterusnya. Bang Harris pasti akan bertanya terlebih dulu sebelum meletakkan barang-barangnya karena Alex yang super rapi juga tidak akan suka jika ada barangnya yang salah tempat. seiring waktu bang Harris juga sudah mulai mempelajatri kebiasaan istrinya meletakkan barang.
"Kenapaa kita tidak tidur saja dan lanjutkan itu besok lagi."
Karean bang Harris terlalu banyak bertanya akhirnya pekerjaan sepele itu tidak selesai-selesai juga, tanpa bermaksud ingin menyinggung suaminya, Alex membujuk si Abang untuk istirahan saja dan besok mungkin dia sendiri bisa diam-diam menyelesaiakannya.
Keesoka harrinya bang Harris mengajak Alex mengunjungi rumah keluarganya. Tentu rumah keluarga bang Harris tidak seperti rumahnya yang sederhana, mereka memiliki segala fasilitas di sana tapi sepertinya bang Harris juga tidak terlalu suka tinggal di sana, karena selama ini si abang lebih suka tinggal di apartemennya.
"Kenapa bang Harris lebih suka tinggal diapartemen?" tanya alex tiba-tiba.
"Apa di sana lebih bebas jika abang bawa cewek ya?"
Dari nadanya kayaknya si alex agak cemburu dengan hal sepele yang baru terpikirkan olehnya itu.
"Memangnya dulu Bang Harris pernah bawa Alex ke sana?" si abang malah balik nanya dan Alex bingung cuma geleng.
"Karena jika pun ada cewek yang pingin Abang bawa pulang pasti cuma kamu orangnya!"
"Beneran bang harris tega?" Alex masih ingat berapa umurnya saat itu.
"Aku serius saat mengatakan pernah bebebrapa kali mempertimbangkan untuk menculikmu dri bang Nugie."
"Abang jahat! "
"Ya, aku jahat, kau lihat sendiri buka?' goda bang Harris denga seringai jahilnya. Kemudian meraih tangan Alex dan mengecupnya sembari masih memperhatikan jalanan di depannya.
"Abang masih ingat waktu pertama kali ketemu Alex, dan kamu belum mandi. "
"Ih, dari mana Abang tau aku belum mandi? "
Bang Harris cuma ketawa, karena ingat sama rekaman suara yang dikirimkam Mira.
Kayaknya kok gak adil bangetya, bang Barrisnya udah rapi dan cakep eh chchanya belum mandi.
"Apa sih yang abang lihatin?" protes Alex karena bang Harris masih kayak nahan senyum geli.
Alex percaya apa gak kalau abis itu bang harris masih simpen uang sepuluh ribunya.
"Ah, abang bohong!"
"Serius ini juga masih ada. "
"Alex gak percaya!"
"Ambil di dompet abang"
Bang Harris sedikit mengangkat duduknya agar Alex bisa menganbi dompet di sakunya. Alex pun buru-buru membuka benda tersebut.
"Di mana? "
"Di belakang tempat kartu yang paling belakang."
Alex benar-benar terkejut mendapati uang sepuluh ribuan yang sepertinya sudah berabad-abad terlipat rapi di sana, meski tidak bisa memastikan apa itu uang yang sama tapi sepertinya bang Harris juga gak ada untungnya nyimpen uang sepuluh ribuan segala.
"Kok bisa sih bang?" Alex bingung karena kayaknya niat banget si Abang nyimpen uang yang cuma sepuluh ribu.
"Apasih yang bang Harris pikirin waktu itu? "
'Tidak ada," Bang Harris menggeleng , "Abang sempat kaget aja pas ternyata adiknya bang Nugie cewek dan cantik. "
"Kan banyak cewek canti, Bang ..."
"Tapi jarang yang belum mandi," dan bang Harris ketawa lagi.
"Alex tetap cantik walaupun belum mandi," tambahnya kemudian.
Padahal saat itu alex sempat nyesel karena belum sempat nyisir rambut segala.
"Abang tau gak abis itu alex nunggui abang sampai sore? "
Dan bang Harris kayaknya memang gak tau.
"Gak tau kenapa alex cuma pingin abang balik lagi buat nyamperin Alex lagi."
Kali ini Bang Harris hanya meraih tangan Alex lagi dan menggenggamnya masih sambil mengemudi.
Mereka berdua munkin awalnya juga tidak akan pernah sadar jika jodoh bisa jatuh cinta dengan cara yang sederhana.
Akhirnya mereka sampai di rumah keluarga Bang Harris dan Tante Marisa sudah langsung menyambut mereka yang baru keluar dari mobil dan memelu Alex dengan kebahagiaan yang luar biasa. Karena sepertinya Tante Marisa juga terkejut dengan kehamilan Alex.
'Bagaimana kalian bisa tidak memberitau kami tentang berita sebesar ini?"
"Oh, Harris jangan bawa istrimu pergi lagi, biarkan dia tinggal bersama kami."
"Mama bisa mengunjungi kami kapanpun. "
"Apa kalian akan tinggal dulu di sisni?' tanya tante Marisa bingung, "di mana koper kalian?"
"Maaf, Ma, sepertinya sememtara ini Alex harus tinggal dulu bersama orang tuanya, jadi sementara aku juga akan tinggal di sana."
Jelas kekecewaan di waja tante Marisa tapi setelah bang Harris cukup menjelaskan kekhawatirannya sepertinya tante Marisa cukup mengerti, kehamilan muda kadang memang merepotkan .
Hari itu tante Marisa juga sudah menyiapkan berbagai makanna untuk mereka tapi sepertinya Alex memang tidak bisa memakannya dan malah menjadi pucat hingga berkeringat dingin sampai terpaksa bang Harris cepat-cepat membawanya pulang lagi.
Maaf, Ma ,mungkin lain kali kami akan berkunjung lagi, pamit bang Harris sebelum membawa Alex pergi.
"Maafkan aku," kata Alex setelah mereka kembali di dalam mobil.
Semua akan segera membaik.
"Kuharap begitu karena aku sudah lelah seperti ini, kupikir kemari kau sudah jauh lebih baik. "
Bang Harris juga sempat berpikir seperti itu ketika melihat Alex sudah bisa makan dengan begitu lahap ketika bi Dupi yang membuatkannya makannan.
Bang Harris mulai agak cemas jika mungkin alex memang harus tinggal, sementara pekerjaannya belum selesai. Bang Harris masih harus kembali untuk menyelesaiakan semua pengalihan perusahaannya.
Mungkin dia juga masih belum bisa membahasnya denag Alex sekarang . bang Harris tidak ingin jauh dari Alex tapi jika kondisinya masih sepeti itu dia juga tidak berani mengambil resiko untuk sebuah perjalannan lagi apa lagi Alex juga bersikeras untuk melahirkan di dekat keluarganya.
Mungkin bang Harris akan mulai memikirkannya lagi nanti sementara ini dia ingin fokus dengan kondisi kesehatan Alex dan kehamilannya.
Mereka juga masih harus membuat janji dengan dokter untuk memastikan kesehatan alex sekaligus untuk melihat jenis kelamin anak mereka nanti. bang Harris memang sudah sagat antusias dengan hal itu dia seperti ingin segera menyiapkan berbagai keperluan bayinya. Sayangnya semua keluarga masih melarang karena menurut mereka kurang baik memper siapkan sesustu ketika kehamilan belum genap tujuh bulan. kadang bang Harris juga masih sulit membayangkan bagaimana nanti jika Alex harus kerepotan dengan perut besarnya yang mungkin akan seperti Mira. sedangkan melihatnya saja bang harris sudah ikut sesak .