Alex

Alex
bab 94



"Kenapa sih, Bang," tanya Mini pas mereka sudah keluar dari ruang terapi dan Brandon masih narik dia buat duduk di gazebo di dekat kolam remang yang ada pancurannya.


Efa tadi sudah setuju untuk membantu Brandon, sekarang tinggal giliran Brandon untuk membujuk si Mini yang sepertinya juga akan butuh sedikit perjuangan jika mengingat bertapa keras gadis itu menolak siapapun merubah penampilannya. Bahkan Alex dan mamanya pun sudah menyerah.


Tapi dasar Brandon,  biarpun niatnya membujuk tetap aja caranya maksa.


"Bagaimana kalau Abang beli semua pakaian Mini buat Abang sumbangin ke panti asuhan? "


"Kok agak aneh ya Bang? " Mini mulai garuk-garuk bingung, trus dia buru-buru mikir pas sambil ngelihatin Brandon yang masih serius nungguin jawaban dia.


"Jangan-jangan Abang malu juga ya sama anak kampung kayak aku ini?" slidik Mini udah curiga," trus Abang mau nyuruh aku buat dandan juga kayak yang di bilang Tante Marrisa sama Mbak Chacha? "


"Ya udah, kamu benar," ternyata Brandon nyerah begitu aja, kemudian bilang,"Tapi aku sama sekali gak ada niat buat ngeremehin kamu hanya karena dari kampung," katanya sungguh-sungguh pas natap Mini yang jadi  bengong.


"Kok Abang ngomong gitu? " jujur Mini agak terkejut karena gak nyangka jika putra Tuan Serkan yang terkenal paling acuh itu ternyata mau peduli dengan perasaannya.


"Karena aku tidak mau Mini di remehin orang lain," tegas Brandon yang sudah berpaling membuang muka karena tidak suka jika Mini menyadari simpatinya.


"Tidak apa-apa, Bang, toh aku tidak pernah merasa kecil hati karena hal seperti itu, " kilah Mini masih cukup tenang dan percaya diri.


"Aku tau, dan aku paham kenapa kamu merasa tidak perlu berubah untuk orang lain. "____"Karena aku juga berpendapat bahwa sangat tidak adil menilai seseorang dari penampilannya, dan harusnya orang yang benar-benar peduli akan menerimamu apa adanya. Tapi aku mengenal Bang Evan dan jika benar kau juga peduli padanya seharusnya kau mengikuti saranku!"


Mini terdiam begitu mendengar nasehat panjang Brandon yang tiba-tiba agak ketus. Tapi sepertinya Mini juga baru sadar jika mungkin kata-kata Brandon itu ada benarnya. Mungkin selama ini dirinya terlalu asik sendiri dan merasa cukup dengan apa yang dia miliki tanpa ingin berharap sesuatu yang lebih lagi. Mini tidak pernah berpikir jika bisa ada orang-orang yang peduli padanya dan akan ikut sedih jika dirinya di rendahkan, walau dirinya sendiri tidak apa-apa tapi mungkin orang-orang seperti istri Bang Harris dan Tante Marisa  sebenarnya hanya tulus peduli padanya.


"Terimakasih, Bang, aku benar-benar tidak tau kalian semua peduli padaku. " jujur saja sebenarnya Mini masih terharubkarena orang seperti Brandon mau peduli padanya.


"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? " Brandon sempat agak tersinggung karena dia pikir seharusnya Mini tau jika leluarganya juga sudah menerimanya dengan baik.


"Aku hanya tidak pernah berharap Bang Evan akan menyukaiku, karena jikapun dia tidak mau menikah denganku aku juga tidak apa-apa. Aku bisa kembali pulang ke kampung, karena sebenarnya aku juga sudah sangat rindu sama simbah." terang Mini malah bikin Brandon ikut sedih ngedengarnya.


Selama ini Mini memang hanya peduli sama kakek dan neneknya karena merekalah yang sudah membesarkan Rutmini selama ini. Mini sudah menjadi yatim-piatu sejak kecil, karena itu Tuan Serkan dan istrinya langsung ingin mengadopsi Rutmini begitu mendengar ibu anak itu meninggal. Kebetulan Tuan Serkan juga tidak memiliki anak perempuan, tapi sayang kakek dan nenenk Rutmini merasa keberatan karena mereka sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain cucunya itu.


"Bagimana jika nati Abang ajak kamu mengunjungin nenek dan kakekmu di kampung?" tawar Barandon dan Mini langsung terkesiap.


"Abang becanda?"  Mata mini langsung berbinar kayak anak kucing berbulu kuning yang kemarin mereka adopsi.


"Kemonas juga Abang antar asal mini besok mau ikut sama Efa. "


"Mbak Afa yang tadi pagi kemari ?" Tanya Mini heran.


Brandon mengangguk.


"Yang teriak-teriak itu?" Mini masih kayak gak percaya bakal di suruh pergi sama ceweknya Bang Brandon yang menyeramkan itu.


"Ya karena gak mungkin aku yang ngebawa kamu ke salon! "


"Ya, tapi kenapa harus Mbak Efa sih Bang? " karena Mini tiba-tiba jadi tambah ngeri ngebayanginnya.


"Efa aslinya baik, percayalah."___" lagi pula dia yang paling tau urusan wanita."


"Memang apa yang sebenarnya harus kulakukan,Bang?"


Mini merasa dia sudah mandi dengan bersih setiap hari menyisir rambutnya dengan rapi bahkan tidak ada sehelai rambutnya yang keluar dari kuncir ekor kudanya yang selalu terikat rapi dan kencang.


Brandon coba memperhatikan Mini dengan lebih serius dan sebenarnya memang gak ada yang salah. Mini cuma suka mengunakan rok lipit sebawah lutut dan kaos motif boneka dengan lengan panjang dan rambutnya pun selalu terikat rapi. Cuma Bang Evan mungkin mau calon istrinya gak sekedar bersih dan rapi.


Mini memang terlalu rapi dan agak membosankan untuk di lihat sebagian orang. Kalu untuk Brandon mungkin tidak terlalu masalah, karena dia juga bukan penggemar perempuan yang banyak dandan seperti si Efa. Tapi di sini kan Mini di peruntukkan buat Bang Evan yang notanbennya mang selalu perfectionist terhadap segala hal, termasuk seleranya terhadap wanita.


Kadang Brandon juga tidak mengerti kenapa malah dirinya yang sampai harus bersuah payah seperti ini. Tapi nyatanya dia memang tidak bisa untuk tidak peduli, itulah kenapa meskipun terlihat acuh dan cuek sebenarnya hati Brandon gampang tersentuh. Brandon mudah merasa kasian dan jangan heran jika diam-diam sebenarnya Putra Tuan Serkan yang satu ini juga memliki jiwa  kepedulian tiggi walau dia sendiri jarang menunjukkannya pada orang lain. Diam-diam sebenarnya Brandon gampang bersimpati sama kemalangan orang lain, karena itu dia tidak akan bisa melihat gadis seperti Mini mendapatkan perlakuan tidak adil sama abangnya sendiri.


"Memangnya Mini gak suaka sama rambut, Abang? "


Mini cuma ketawa geli karena kayak ke ingat lagi sama ujung kemoceng.


"Nanti Abang juga ganti gaya rambut kalau Mini udah mau ngikutin saran abang tadi. "


"Ah serius bang ?"


"Iya Abang janji," kata Brandon sambi nunjukin dua jarinya untuk bersumpah,"asal besok Mini beneran mau ikut Efa."


Sebenarnya itu rambut juga hasil isengnya Brandon pas awal libur musim panas kemarin ikutan nonton konser Twenty One Pilots di Miami bareng sobatnya yang ngasih tantangan buat dia ngikutin gaya rambutnya Josh Dun selama musim panas jadi kalau belum sampai akhir musim panas dia udah ganti gaya rambut artinya dia kalah dan harus bayar 50 ribu dolar.


*****


Keesokan harinya pagi-pagi si Brandon udah sibuk nyariin Mini.


"Dimana Mini, Bi? tanya Brandon pas nengok ke pantry karena jam segini biasanya si Mini memang suka ngeributin si Bibi yang lagi masak.


"Kayaknya tadi ikut Nyonya ke rumah Bang Harris."


Udah gak ngomong apa-apa Brandon langsung main pergi aja sampai bikin si Bibi heran. Rumah Bang Harris sebenarnya cuma beda blok aja tapi masih satu komplek tapi tetap aja Brandon agak kesal karena kemarin dia sudah bilang sama Mini kalau si Efa akan jemputin dia.


"Nyonya apa itu Bang Brandon, ya?" tanya Bi Supi heran pas lihat cowok dengan rambut mencolok itu baru turun dari mobilnya.


Sekarang Bi Supi memang lebih sering tinggal di rumah Alex, dan kali ini sedang nemenin Nyonya Marrisa dan cucunya.


"Ngapai dia kesini," heran Taten Marisa.


"Mini ada, Ma?" tanya Brandon pas baru nongol di depan pintu.


"Hay, Bi Supi, sapa Brando buat si Bibi yang langsung bales sama senyum lebar.


"Lamanya Bibi gak lihat, Abang."


Bi Supi memang suka banget sama adiknya Bang Harris yang satu ini, karena di antara ketiga saudaranya yang lain dialah yang paling mirip sama sama Bang Harris. Dari sifat dan postur tubuhnya juga gak beda jauh, yang pasti sama-sama gantengnya. Cuma gayanya si Brandon yang suaka aneh-aneh itu sering bikin si Bibi senyum-senyum sendiri, kayak warna rambutnya kali ini misalnya.


"Wah apa Abang punya tato juga . tanya si bibi pas Brandon dududk di samping mamanya yang lagi gedong Sookie.


"Bibi mau lihat ya?"


"Kan biasanya yang rambutnya warna-warn gitu sering punya tato, Bang," kilah si Bibi.


"Tanyain Mama kalo boleh entar aku bikin tato namanya Bi Supi di sini, trus nama Mama di sini," canda Brandon sambil nujukin lengan kanan dan kirinya.


Sampai Bi Supi langsung ketawa karena ngebayangin namanya kampungan di jadiin tato.


"Tu, si Mini yang kamu cari! " kata Tante Marisa pas si Mini baru balik dari kamar bayi, karena dia tadi ngeyel mau ngeraiin lemarinya baby Sookie, yang sebenarnya juga udahrapi tapi dasar simini memang sering kurang kerjaan.


"Mini ikut Abang, yuk?"


"Keman, Bang? Mini yang baru gabung kelihatan bingung.


Trus Brandon cuma ngedipin mata dan bilang, " Katanya mau lihat monas."


Kayaknya mini langsung paham dan agak ngeri....