
Bukannya Bang Harris tidak sadar jika dirinya sudah menyepakati perjanjian yang tidak masuk akal, tapi dia benar-benar tidak memiliki pilihan sedangkan waktu kepulangannya juga tinggal beberapa hari lagi dan sahabatnya itu sudah membuatnya berjanji untuk tidak menemui adik perempuannya lagi.
Rasanya sangat tidak adil, karena untuk bertemu sekali lagi saja Bang Nugie tidak memberikannya ijin. Sempat terpikir bagi Bang Harris untuk menemui Alex secara diam-diam tapi dia takut jika Alex yang tidak tau apa-apa itu akan bercerita pada kakaknya. Sementara jika semisal saat ini dia mengungkapkan yang sebenarnya pada Alex dia juga tidak yakin gadis muda itu bisa menerimanya. Menurut Bang Harris Alex masih terlalu muda untuk bisa mengerti maksud dan keinginannya dengan benar.
Bagaimana pun dirinya adalah pria dewasa yang pastinya sudah memiliki pandangan berbeda tentang keinginannya terhadap wanita yang jelas sudah tidak sesederhana apa yang mampu di bayangkan gadis seusia Alex. Kadang jika menilik dari hal itu, Bang Harris juga bisa ikut memahami kecemasan sahabatnya.
Tentu dia paham jika kepercayaan tidak bisa di minta, tapi harus di dapatkan! Masalahnya Bang Harris tidak punya cukup waktu untuk dapat membuktikan jika memang dirinya layak untuk mendapatkan kepercayaan Bang Nugie lagi.
Apa lagi belakangan ini Bang Nugie sepertinya juga tidak hanya membatasinya dengan Alex, tapi Bang Nugie sendiri juga ikut mengambil jarak dengannya. Meski kemarin dia sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan seperi ini namun ternyata tetap tidak mudah.
Sebagai seorang Ibu sepertinya tante Marisa juga sangat peka untuk ikut merasakan kegelisahan putranya beberapa hari ini.
"Kau bisa menunda ke pulanganmu jika masih belum mau pergi, " tiap kali Tante Marisa berusaha mendekati putranya.
"Mama tidak mendengar ada masalah yang cukup mendesak."
"Aku akan pulang lusa, "meski demikian Bang Harris masih berusaha tersenyum saat menatap ibunya.
"Bagaimana dengan adiknya Bang Nugie? " sepertinya Tante Marisa tidak mau terus pura-pura mengabaikannya, dia tau jika putranya sedang berusaha menutupi sesuatu darinya.
"Mungkin Mama memang perlu tau," kata Bang Harris setelah cukup mempertimbangkan nya, " Bang Harris akan serius denga Alex."
"Sunggu, Mama ikut senang mendengarnya, " jujur Tante Marisa sempat memiliki harapan besar jika hal itu bisa menahan putranya untuk tetap bersama mereka.
"Bahkan aku ingin membawanya bersamaku sekarang juga andai Nugie mengijinkannya. "
"Nugie belum bisa mengijinkannya sekarang. "
"Apa Mama bisa membantu? "
Bang Harris menggeleng.
"Mama percaya dengan semua yang telah kau capai, kau adalah pria yang sudah sangat mampu menjaga seorang wanita."
"Bagaimanapun Alex masih terlalu muda dan aku bisa jadi manusia paling egois jika tetap mengnginkanya sekarang juga."
"Oh... " bagaimana Tante Marisa juga hampir lupa tentang hal itu, mungkin karena tadi terlalu bersemangat karena putranya akhirnya memilih wanitanya, sampai-sampai si tante lupa kalu Alex masih anak SMA. Rasanya memang wajar jika Bang Nugie akan menentang keras keinginan putranya.
Besok Bang Haris harus benar-benar pergi dan hari ini dia berulang kali tergoda untuk menemui Alex diam-diam, hanya sekali saja karena bagaimanapun dia tidak ingin meninggalkan kesan buruk seperti orang yang pergi begitu saja.
Dan saat itu lah terdengar nada pengingat pesan masuk di HPnya dari nomor asing yang isinya sebuah pesan dari Mira.
[Anggap ini sebagai permintaan maaf Mira karena kemarin gak bisa batuin apa-apa.] Tulis Mira dalam pesan singkat sebelum dia mengirimkan file suara.
Sungguh konyol, bahkan Bang Harris sudah memutarnya berulang kali dan masih tertawa. Sadar betapa jujur dan sederhana cara berpikir Alex yang berulangkali membuatnya bahagia.
Jika perpisahan adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkannya maka Bang Harris rela jika harus melaluinya.