
Setelah semua orang pergi akhirnya tinggal Mini dan Brandon di rumah tersebut yang tiba-tiba juga terasa sepi dan sunyi.
Mini sudah mandi dan mengganti pakaiannya, tapi dia masih duduk di sofa dan kembali membuka album lama keluarga mereka. Sepertinya memang hanya sebuah album tua itu yang dia punya untuk mengenang ayah, ibu, bahkan sekarang kakek dan neneknya yang telah tiada. Mini memang hanya tinggal sebatang kara, Brandon pun ikut prihatin melihat nasib gadis itu. Bagaimana gadis seusinya sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, bahkan sanak saudarapun juga tidak.
"Katakan padaku, di mana aku bisa membelikanmu makanan? " tanya Brandon tiba-tiba, karena khawatir melihat Mini yang memang belum makan dari pagi.
"Tidak ada yang jual makanan di sini, Bang," jawab Mini masih lesu karena sudah seharian menangis.
"Kau sudah seharian tidak makan, biarkan aku pergi mencari makanan untukmu, Mini."
"Di kampung seperti ini gak ada yang jual makanan seperti di kota. "
"Mana mungkin sampai gak ada yang jual makanan, sama sekali?" heran Brandon masih gak percaya.
"Ada sih Bang, tapi aku khawatir Abang juga gak bakal bisa makan, " kata Mini saat akhirnya mendongak dari albumnya untuk menatap Bang Brandon yang sepertinya nampak bingung.
"Apa Abang tau, makana apa yang di kasih ibu-ibu pas di rumah sakit kemarin? " tanya Mini buat ngetes aja karena dia yakin Bang Brandon pasti gak bakal tau dengan makanan yang udah dengan terpaksa dia telan itu.
"Itu namanya botok,"___" dan masih ada lagi makanan yang lebih aneh lagi dari itu di tempat ini, dan aku khawatir tidak akan sesuai dengan perut Abang."
"Aku hanya ingin kau mengisi perutmu Mini, karena aku tidak mau kau sampai sakit. "
"Sepertinya abang juga belum makan, bahkan dari kemarin. "
"Jangan cemaskan aku. " tolak Brandon dan Mini hanya menggeleng
"Nanti akan aku masakin buat,Abang."
"Biar aku saja."
"Memang abang bisa masak?" tanya Mini heran.
"Biasanya aku juga masak sendiri, walaupun sebenarnya lebih sering beli"____"tapi saat kita tinggal jauh dari rumah paling tidak kita harus bisa mengurus diri sendiri, karena itu adalah prinsip dasar untuk bertahan hidup. Jadi menurutku setiap orang harus bisa membuat makanannya sendiri."
Tanpa menunggu pendapat Mini Brandon sudah berjalan sendiri ke dapur, dan sempat bingung ketika melihat ke sekeliling. Walau kecil dan sederhana tapi sebenarnya rumah Mini sangat rapi dan bersih, tak heran jika ketika berada di rumah merekapun Mini juga paling hobi bersih-bersih dan mengelap meja berulang-ulang.
"Maaf sebenarnya aku bisa membuat yang lebih baik dari ini tapi tadi aku agak bingung memilih tempat penggorengan."
Mini coba tersenyum maklum karena bagaimanapun dapur di sini tidak seperti di tempat mereka.
Ternyata Brandon hanya bisa membuat telur dadar, bahkan sama sama sekali tidak ditaburin garam.
"Besok biar aku aja yang masak, Bang, "___"jika kita beneran mau tinggal seminggu lagi." jujur Mini tidak bisa membayangkan jika harus satu minggu hanyan makan telur dadar.
"Apa ini tidak enak? " tanya Brandon, khawatir.
Sebenarnya Mini sendiri juga tidak tau bagaimana harus membedakan enaknya telur dadar tanpa garam, mau telurnya itu diceplok di restoran Itali atau di dapur rumahnya pasti rasanya akan sama saja. Tapi Mini tetap coba menghargai usaha putra Tuan Serka itu dan dia segera mengambil potongan besar ke dalam mulutnya.
"Ini bisa untuk bertahan hidup, Bang," katanya kemudian, dan Brandon tertawa meski agak malu untuk mengakui jika kemampuan membuat makananya masih payah.
"Apa kau tau kenapa Bear Grylls mengajari istrinya untuk hidup di alam liar?" kemudian dia bertanya dan Mini menggeleng.
"Agar dia bisa makan apa saja seperti ini, karena dia ingin wanita yang di cintainya itu tetap bisa bertahan hidup semisal di dunia ini tiba-tiba terjadi bencana."
Agak terdengar gombal, tapi Mini memang berhenti mengunyah telurnya ketika Bang Brandon juga tak bergeming menatapnya.
"Sepertinya kita lebih baik segera kembali ke kota, Bang," kata Mini kemudian, karena tiba-tiba dia merasa khawatir jika ternyata salah karena telah membiarkan mereka hanya tinggal berdua dalam satu rumah seperti ini.
Brandon hanya mengangguk,"Kau boleh membawa barang apa saja yang sekiranya ingin kau bawa."
Mini segera tersenyum karena sebenarnya dia kembali tidak menyangka jika Bang Brandon juga memperhatikan hal sepele seperti itu untuk membuatnya senang.
"Itu senyum pertamamu hari ini, " kata Brandon saat kemudian menyentuh dagu Mini, trus pura-pura melihatnya dari samping kanan dan samping kiri dengan teliti sampai akhirnya Mini tertawa lirih karena tidak tahan dengan tingkah Putra Tuan serkan yang suka semaunya sendiri itu.
Sebenarnya dari tadi Mini sudah berusaha tersenyum, tapi pasti Brandon tau jika dia hanya terpaksa untuk terlihat baik-baik saja.
Bagaimanapun Mini baru saja kehilangan dua orang paling berharga dalam hidupnya, dan wajar jika dia masih ingin bergelung dengan kesedihannya. Sayangnya Bang Brandon yang suka semaunya sendiri itu kadang memang luar biasa mengganggu bahkan di saat seperti ini saja dia masih bisa membuat Mini tertawa.
****Jangan lupa Like ya