
"Alex, kamu di mana?"(chat dari Bang Nugie)
"Kerja, Bang."
"Bisa pulang cepet?"
"Gak tau, Bang, kepala divisinya
galak!"
"Abang mau ketemuan sama Bang Harris, mau ikut gak?"
"Ah, Abang bohong!"
"Serius, kalau mau bolos Abang samperin, mumpung Abang lagi baik?"
"Jangankan bolos, suruh resign juga Chacha mau kalau beneran ada Bang Harris." Candaku karena masih gak percaya dengan yang di omongin Bang Nugie.
"Dia gak percaya!"
"Siapa?" tanyaku.
"Bang Harris."
"Udah, deh Bang Chacha banyak kerjaan, kalau mau bikin prank tunggu tiga minggu lagi aja pas Chacah ulangtahun." Sengaja langsung kumatiin HP ku biar gak berisik. Chacha juga heran kenapa Bang Nugie bikin becandaan garing kayak gitu, pasti pengaruh selara humornya si Mira yang udah bikin otak abangku mundur beberapa centi.
Karena Dony dan teman-teman tim ngajak makan bareng setelah jam kerja, jadinya hari itu aku pulang agak malam dan lupa ngidupin HP ku lagi. Jadi pas Chacha baru sampai depan rumah Bang Nugie udah berdiri di depan pintu kayak satpam sekolah.
"Kemana aja sih lo? HP pakai di matiin ! "
"Sorry, Bang, Chacha lupa."
Serius, kayaknya Bang Nugie marahnya beneran. Chacha tau memang salah, sudah pulang telat plus gak ngasih kabar, wajar kalau abangku khawatir.
Si Mira yang ternyata juga lagi ada di rumah ikutan keluar buat narik Bang Nugie yang masih berdiri di depan pintu.
"Udah, yuk, Cha, cepet masuk, " kata Mira sambil nyeret lengan Bang Nugie.
Yang Chacha kaget ternyata di ruang tengah ada Bang Harris yang lagi ngobrol bareng Papa.
Benar-benar Bang Haris! Chacha yakin gak salah lihat.
"Hampir aja Papa lapor polisi kalau anaknya hilang, " kata Mama yang baru ikut gabung sambil bawa kue kering.
Padahal saat itu Chacha bener-bener lagi gak bisa nyimak apapun yang mereka semua omongin karena tiba-tiba fokusku memang hanya pada Bang Harris. Serius, itu Bang Harris beneran? apa Chacha gak lagi mimpi?
Setelah sekian lama, kenapa tiba-tiba dia kembali?
"Mau sampai kapan, lo berdiri di situ?" tegur bang nugie.
Apa, iya, Chacha kelihatan bodoh dan gak ngerasa. Buru-buru aku segera ikut duduk di dekat Bang Nugi, gak terlalu jauh juga dari Bang Harris.
"Maaf, Bang, tadi Chacha kira Bang Nugie cuma bercanda," kataku buat Bang Harris.
Beneran Chacha nyesel dan malu, udah bikin semua orang khawatir juga.
"Gimana, magangnya?"
"Lumayan, Bang, walau sebenarnya basic Chacha bukan di inteior."
"Apa kerjanya berat? "
"Gak, Bang, paling Chacha di suruh ngecek belanjaan cat. "
"Asal jangan bikin puisi kaleng cat lagi aja, lo ya!" sela bang Nugie dan Mira sampai ikut tersedak kue kering sangking gak tahan lagi kepingin ketawa tiap kali ingat kisah itu.
"Ada apa dengan kaleng cat? " tanya Bang Harris penasaran.
"Nanti Mira share, Bang, masih Mirra simpan di insta story. "
Sumpah aku makin ilfill aja sama calon kakak iparku itu, mungkin mereka kira Chacha udah gak punya urat malu, sampai Bang Harris juga di tawarin untuk lihat video penuh aib itu. Itulah kejamnya dunia digital, sampai rasanya pingin Chacha bom itu pusat datanya GOOGLE biar ikut musnah sekalian itu video terkutuk.
Dari semua obrolan kami malam itu, aku bisa melihat jelas perubahan yang kurasakan terhadap sikap Bang Harris yang sudah tidak lagi seperti dulu. Jujur malam itu sebenarnya banyak sekali yang pingin Chacha tanyain, tapi jika melihat bagaimana dia sangat menjaga sikap malam itu, rasanya sangat tidak tepat jika aku masih terlalu banyak ingin tau. Padahal aku memang sangat ingin menanyakannya, keman saja dia selama ini? kenapa tidak pernah pulang? kenapa tidak pernah memberi kabar?
Bahkan Kenapa dia harus ninggalin cincin dan mau ngasih buku buat Chacha, yang hanya membuat hatiku berbunga-bunga sebentar kemudian kecewa.
Namun semua pertanyaan itu seolah menguap di otakku, seperti sesuatu yang sangat tidak layak lagi untuk kutanyakan, dengan sikapnya yang sudah begitu jelas, jika semua itu memang sama sekali tak berarti baginya.
Bang Harris memang hanya pulang untuk beberapa hari, dan Chacha juga sudah tidak bertemu dengannya lagi setelah malam itu. Meskipun tidak ada yang spesial, tapi Chacha tetap seneng bisa bertemu lagi dengan si abang yang tetap sesempurna ingatanku, dan seharusnya otakku semakin waras untuk tidak menghayalkan nya lagi.
Malam itu aku sudah berusaha untuk tidak berpikir macam-macam tapi nyatanya aku tetap tidak bisa menghentikan pikiranku.
Sikap Bang Harris memang sudah berubah, lagi pula sudah sangat lama sejak kami pertama bertemu dulu. Semua orang pasti akan berubah, karena kita juga tidak pernah tau apa yang sudah di lalui setiap orang. Mungkin aku saja yang terlau naif selama ini, hingga berpikir dia akan tetap sama. Padahal aku sendiri pastinya juga suda tidak lagi seperti dulu, atau aku hanya kecewa setelah harapan yang sudah begitu lama mengendap diam-diam di hatiku. Karena walau pura-pura kuabaikan, kenyataannya dia memang tetap ada di sana, tersimpan rapi di dalam hatiku yang seperti tidak ingin di usik oleh siapapu. selama ini aku selalu lantang mengakui diriku tidak pernah jatuh cinta, lalu yang kurasakan terhadap Bang Harris ini apa?
Kenapa rasanya seperti ini, sesuatu yang begitu mudah membuatku bahagia tapi juga sangat riskan menghancurkanku dengan cara yang paling sederhana, bahkan hanya dengan keacuhannya saja rasanya sudah cukup untuk mengubur seluruh duniaku. Lantas di mana Chacha yang pemberani selam ini? di mana Chacha yang selama ini paling anti di sakiti? Chacha yang tidak akan pernah menggantungkan kebahagiaannya hanya untuk seorang pria! Entah sejak kapan dan bagaimana kehadiran Bang Haris beberapa tahun lalu itu ternyat diam-diam sudah mencemari hatiku separah ini, ibarat virus yang tak terasa ketika dia meninggalkan nya dan sekarang sudah menjalar ibarat kangker parah yang mustahilku tahan lagi.
Kembali kuperhatikan cincin perak yang sampai saat ini pun cuma pas di jari jempolku. Kenapa kemarin tidak ku kembalikan saja kepada pemiliknya, karena mungkin hatiku bisa lega. Tapi bodohnya aku tetap ingin memiliki benda sepele itu sebagai bagian dari dirinya yang mungkin sudah melupakanku sejak lama. Menyimpan sesuatu yang sadar tidak akan ku miliki rasanya juga bukan gayaku tapi kenapa sepertinya aku juga mulai tidak peduli.
Oh Tuhan aku tidak suka perasaan seperti ini....
Tapi bagaimana aku bisa mencegahnya....
Karena biarpun ku usir berulang-ulang ternyata tetap tidak bisa....