
Sejak memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan keluarganya, Bang Harris memang sudah bertekat untuk mulai merintis bisnisnya sendiri yang kali ini sudah mulai berjalan. Dia merasa yakin bisa mengembangkan bisnis tersebut karena peluang kedepannya yang masih sangat terbuka. Sayangnya dia masih harus mengikuti keinginan orang tuanya untuk tetap melanjutkan pendidikan. Sebagai putra tertua yang selalu menjadi tumpuan harapan orang tuanya, sebenarnya Bang Harris sudah memiliki kemampuan yang cukup matang untuk bisa menjadi seorang pemimpin, dia juga sudah melibatkan diri dalam perusahaan keluarganya sejak tiga tahun terakhir ini. Karena itu orangtuanya pasti akan merasa sangat kecewa dan kehilangan dengan keputusan mendadak putranya tersebut.
"Tolong pikirkan sekali lagi," Bujuk sang Ibu agar putranya juga bisa mempertimbangan kondisi kesehatan ayahnya.
"Aku akan tetap mendukung kalian tapi beri aku kesempatan untuk membuktikan kemampuanku sendiri dulu, Mama tidak perlu cemas." Sejak dulu Bang Haris memang ingin di beri kesempatan untuk bisa berkembang sendiri tanpa pengaruh keluarganya, karena kadang dia lelah selalu di anggap beruntung karena terlahir di keluarga kaya.
"Aku tidak akan lupa dengan tanggung jawabku, tapi untuk sekarang ini sepertinya aku belum bisa menjalankan semuanya, kupikir Papa juga masih mampu untuk menanganinya dan Evan juga akan segera bisa membantunya."
Sebagai putra tertua kadang tanggung jawab itu memang bisa menjadi terlalu besar untuk dilimpahkan seluruhnya padanya. Walapun nantinya Bang Harris tetap harus mengambil tanggung jawab tersebut tapi dia ingin untuk kali ini dia diberi kesempatan untuk membuktikan dirinya sendiri dulu, karena baginya pripadi hal itu memang penting. Dia harus bisa menguji mampuanya sekaligus membuka peluang baru untuk dirinya berkembang di bidang yang lain, karena dia bukan orang yang akan berhenti sampai disitu. Dia ingin menciptakan peluang baru bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk bisa membuat kemajuan yang lebih bermanfaat kedepannya, dan dia sadar semua itu mebutuhkan pengalaman yang lebih beragam di banding dirinya hanya berada di sebuah perusahaan yang dia sudah sangat menguasai selukbeluknya.
"Mama akan selalu mendukungmu, tapi Mama tetap ingin kau temui dulu papamu, dan bicaralah lagi padanya."
Bang Harris mengangguk dan coba meyakinkan mamanya bahwa sebenarnya mereka bisa membicarakan semua itu baik-baik tanpa harus melalui perang dingin lagi seperti ini. Karena sejak putranya memutuskan untuk keluar mereka sempat mengalami miskomunikasi yang sebenarnya sampai saat ini pun belum sepenuhnya usai.
"Akan kuselesaikan semua tanggung jawabku sebelum aku benar-benar pergi nanti, kalian tidak perlu khawatir."
Sepertinya Bang Harris lupa jika tadi sudah menbuat janji dengan beberpa temanya untuk bertemu siang ini. Belakangan ini memang rasanya terlalu banyak yang harus dia pikiran secara bersamaan, hingga kadang dia sering lupa untuk sedikit saja meluangkan waktu bagi dirinya sendiri. Karena itu Bang Harris tau dirinya tidak akan mampu jika harus terus menangani semuanya secara bersamaa , dia harus melepas salah satunya dulu untuk sementara. Meski dia tau, keputusan sepihaknya kali ini akan mengecewakan orang-orang terdekatnya. Bahkan Bang Harris tidak pernah menyangka jika mamanya akan sampai rela memohon seperti tadi pada putranya. Jujur tetap akan ada rasa bersalah dalam dirinya, karena merasa sudah mengecewakan satu-satunya wanita dalam hidupnya itu. Meski sang Mama pasti akan selalu mendukung tapi Bang Harris tau apa sebenarnya diinginkannya. Sama seperti seluruh keluarganya yang ingin dirinya tetap bersama mereka, untuk bersama-sama memajukan apa yang sudak nyata mereka miliki sekarang, bukannya malah membuang-buang waktu dan bertaruh untuk hal baru yang belum pasti. Memang tidak mudah meyakinkan semua orang tentang sesuatu yang baru kita mulai, bahkan kadang sebagian dari kita justru cenderung kurang percaya diri untuk menunjukkannya. Tapi Bang Harris memiliki kepercayaan diri dan yakin dirinya akan mampu, dengan belajar dari pengalam dan terus membenahi dengan disiplin.
****
Bang Harris kembali menghubungi sahabatnya, untuk membuat janji lagi sore ini meski sebenarnya waktunya juga tidak banyak. Dia sudah janji akan menemui Papanyan malam ini, dan satu minggu ini dia harap akan cukup untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya. Bagaimanapun dia tidak ingin meninggalkan tanggungjawabnya terbengkalai seblum benar-benar pergi nanti. Lusa dia masih pergi untuk interview dengan pihak kampus, karena Papanya masih bersikeras agar dirinya tetap melanjutkan pendidikan bisnisnya di kampus tersebut tanpa pengecualian yang bisa ditawar lagi. Dan itu adalah ujung darin perdebatan terakhir mereka kemarin yang menemui jalan buntu.
Akhirnya Bang Harris membuat janji untuk bertemu Bang Nugi di cofe shop dekat kampus karena sekalian ada beberapa berkas yang harus dia ambil untuk keperluan interviewnya lusa. Dia sempat menunggu beberpa saat karena mungkin datang terlalu awal. Untung tak lama Bang Nugie datang, dia berjalan cepat menyebrangin lapangan parkir.
"Sorry, gue tadi harus jemput Alex dulu."
"Di mana Nolan?" tanya Bang Harris.
"Mungkin masih di jalan, " jawab Bang Nugie sambil menyerahkan beberpa berkas yang tadi dititipkan Siska.
Bang Harris segera memeriksa berkas tersebut untuk sekedar memastikan semua lampiran yang di sertakan Siska sudah lengkap.
"Bagaimana dengan dirimu? "
"Aku sudah mendapat tawaran dari beberapa perusahaan BUMN mungkin aku akan memilih salah satunya."
Sebagai salah satu lulusan terbaik, Bang Nugie sepertinya memang tidak perlu terlalu repot lagi untuk mencari lowongan pekerjaan bagi dirinya, bahkan dia juga mendapatkan tawaran posisi yang cukup bagus untuk perkembangan karirnya nanti. Kali ini dia hanya ingin membantu Siska dan Nolan untuk bisa masuk ke perusahaan keluarganya Bang Harris.
"Coba lo hubungi Nolan lagi, " saran Bang Harris karena sudah cukup lama mereka menunggu dan anak itu belum muncul-muncul juga.
"Telfonya tidak di angkat, mungkin sedang di jalan, " Bang Nugie kembali memasukkan hp-nya kedalam kantong kemudia kembali ngomongin rencananya mendadak Bang Harris mengenai interviewnya.
"Kupikir kau tidak akan mengambilnya? " heran Bang Nugi yang selama ini tau jika sahabatnyan itu lebih suka merintis usahanya sendiri dibanding harus mengikuti keinginan orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan.
"Kau tau, akan selalu ada konsekuensi yang harus kubayar. "
"Aku yakin, kau tetap akan bisa mengatasinya."
Bang Harris berusaha tersenyum menanggapi dukungan dari sahabatnya, "Kadang aku juga ingin sekedar sibuk seperti dirimu. "
"Maksudmu menjadi supir gratis buat adik gue sendiri, " cada Bang Nugi tapi benar.
Kadang Bang haris memang sering iri sama bang Nugie yang kayaknya sayang banget sama adiknya. Pokoknya kalau urusan jemputin adiknya dia udah kayak rela ninggalin urusan kenegaraan apa aja. Gak kayak si Evan yang kayaknya apa-apa udah gak butuh bantuan lagi. Jadi sebenarnya bukannya Bang Harris cuek sama adiknya, tapi memang si Evannya yang gak mau lagi di urusin sama Abangnya. Itulah kenapa kadang Mamanya Bang Haris juga sering ngebandingin dirinya dengan sahabatnya itu, karena biarpun sudah pada gede tapi Bang Nugie memang kelihatan kalau sayang banget sama saudaranya. Bahkan Mamanya Bang Harris pernah bilang, andai dia punya anak perempuan, dia mau di jodohin sama Bang Nugie. Trus Bang Haris nya yang langsung protes, dia gak bakal mau ngasih adik perempuannya buat Bang Nugi. Karena dari dulu Bang Harris memang kepingin banget punya adik cewek sama halnya kayak bang Nugie yang dulu maunya juga cuma punya adik cowok.
Karena Bang Haris terlanjur pesanin kopi buat Bang Nugi, jadinya si abang juga gak bisa pergi gitu aja walaupun dia ingat pasti adeknya bakal ngomel-ngomel karena kelamaan nunggunya.
Baru aja di pikirin, beneran tiba-tiba lakson mobilnya udah teriak-teriak di parkiran.
"Si Alex," acuh Bang Nugi yang memang cuma noleh bentar, trus Bang Haris asal ngelambai aja buat adiknya Bang Nugie yang dia tau pasti sedang kesal nungguin abangnya.
"Nah, tu, dia datang!" mereka sama-sama lihat mobil si Nolan memasuki parkiran.
"Ngapain itu Nolan mala pakai nyamperin adik gue! "
"Biar gue yang tlf," kali ini Bang Harris yang lebih cepet nyari nama Nolan di kontak hp-nya.
"Jadi, gak? " katanya singkat trus langsung dia tutup lagi.
Kelihatannya si Nolan juga langsung buru-buru nyamperin mereka.
"Bang adek lo ngamuk, tuh! " katanya pas baru gabung sambil sedikit ngos-ngosan.
"Ya udah cepet buruan! " perintah Bang Nugi gak kalah kesal sama Chacha yang udah nunggu kelamaan.
"Habisin kopi gue! " kata Bang Nugi pas nabok bahu bang Nolan.
"Gue, cabut dulu ya, " pamitnya sama Bang Harris trus buru-buru lari ke parkiran.
"Siska gak datang? " tanya Bang Nolan.
"Nugie yang bawain berkasnya," terang Bang Harris sambil ngasih tunjuk berkas yang baru selesai dia periksa.
Pas mereka ketemuan siang tadi trus bang Harris gak datang kayaknya si Siska memang sempat bersitegang sama Bang Nugie.
"Padahal gue sempat ngarep, mereka bakal beneran jadian."
Bang Harris cuma geleng, "Dia bukan tipenya Nugie, gak bakal jodoh, " komenya enteng masih sambil meriksa kelengkapan berkas Bang Nolan.
Siska dulu memang sempat dekat juga sama Bang Harris makanya dia yakin cewek model seperti itu gak bakal cocok juga sama sahabatnya, paling mereka cuma sama-sama iseng aja.
"Sorry kemarin gue gak bisa datang ke acara tunangan lo. "
"Lain kali aja, kalau pas nikahnya harus datang! "
"Semoga pas lagi di Indo, " sesal Bang Harris.
"Jadi bener lo mau lanjut kuliah lagi?"
Bang Nolan juga baru tau informasi itu tadi siang dari bang Nugie.
Dengan sangat menyesal Bang Harris cuma mengangguk buat membenarkan.
"Aku yakin, orang sepertimu tetap akan sukses di manapun! "
Sama seperti Bang Nugie, Bang Nolan sepertinya juga cuma bisa ngasih semangat.
Sore itu Bang Harris cuma pulang ke apartemennya sebentar buat mandi dan ganti baju kemudian pergi lagi kerumah orang tuanya karena dia sudah janji untuk nemuin papanya malam ini. Walaupun sebenarnya dia sendiri masih malas untuk bertemu karena mengingat perdebatan mereka kemarin, tapi seperti Bang Harris memang sudah tidak punya cukup waktu lagi jika harus menunda-nunda persoalan pribadi ini.
Karena sejak lulus SMU Bang Harris sudah memilih untuk tinggal di apartemennya sendiri, jadi kadang pulang kerumah justru merasa asing baginya.
Bahkan Mereka juga sudah menyiapkan makam malam yang cukup resmi untuk menyambutnya seperti orang asing. Bang Haris sempat terkejut, karena bisa dibilang jarang sekali semua keluarganya bisa berkumpul seperti ini, bahkan si Evan yang biasanya paling malas ikut serta dalam berbagai acara keluarga pun juga lagi duduk di meja makannya.
Setelah basa-basi yang cukup canggung akhirnya bang Harris memilih bicara lebih dulu, "Aku akan berangkat lusa untuk interview, " katanya kemudian saat mendongak menatap orang tuanya.
Sepertinya papa Bang Haris cukup lega dengan kabar itu, setelah perdebatan mereka kemarin akhirnya putranya itu mau menyetujui interview yang sudah cukup lama dia tunda-tunda.
"Papa juga akan memberimu waktu, gunakan itu sebaik-baiknya untuk bisa membuktikan pada kami bahwa kau layak memilih sendiri nantinya? "
Sebenarnya tawaran itu terdengar cukup adil dan bijak.
"Berapa waktu yang kupunya?" tanya Bang Harris untuk sekedar memastikan jika tawaran ini masih cukup masuk akal baginya.
"Empat tahun kurasa sudah cukup, karena aku tetap tidak ingin putraku menyia-nyiakan waktunya. "
"Terima kasih, " kata Bang Haris yang akhirnya menyentuh punggung tangan Papanya, "terimakasih atas kepercayaan Papa."
Dia juga melihat mamanya sedang tersenyum, Bang Harris tau pasti wanita itu jugalah yang sudah berperan besar di sini, hingga tiba-tiba keteganan mereka kemarin tak terasa sudah mencair begitu saja.
"Apa kau tidak mau menginap? " tanya Mamanya pas putranya itu ingin segera berpamitan setelah makan malam.
Bang Haris hanya mencium punggung tangan Mamanya kemudian memeluknya sebentar,"Mungkin lain kali Ma, " katanya kemudian sebelum benar-benar pergi.
Tentu ada kesedihan di hati seorang ibu ketika melihat putranya semakin dewasa dan mulai meninggalkannya. Rasanya Bang Harris memang semakin menjauh dari keluarganya dari hari ke hari.
"Kadang aku ingin dia segera menemukan wanita yang bisa menahannya untuk tetap bersama kita."
"Apa kau pikir putramu, adalah orang seperti itu! " kata Papa Bang Harris yang masih ikut memperhatikan kepergian putranya. "Dia tidak akan pernah merasa cukup sampai benar-benar dia ingin berhenti dengan sendirinya. " Tentu mereka berdua sudah sangat paham seperti apa sifat putra mereka itu, bang Harris adalah seorang pekerja keras, sampai kadang dia seperti lebih suka menyusahkan dirinya sendiri disaat sebenarnya dia bisa mendapat segala fasilitas dan kemudahan.
"Dia masih muda dan ingin membuktikan diri, terima kasih atas kesempatan yang kau berikan untuk putraku."
"Dia juga putraku."
"Ya, dia memang sangat mirip denganmu."
Itulah kenapa kadang perdebatan sering sulit dihindari di antara mereka. Mungki jika tadi mama Bang Harris gak berulang kali memohon pada papanya untuk sedikit melunak, pasti perang dingin di antara mereka juga tidak akan kunjung usai.
"Kadang aku merasa sangat takut akan benar-benar kehilangannya. "
"Dia tetap putramu dimanapun dia berada nantinya."
"Apa menurutmu kita sudah membesarkannya dengan sanagat keras? "
"Putra kita adalah orang yang cerdas, dia tau apa yang sedang dilakukannya, saat kita mendidiknya dengan disiplin itu semua juga agar dirinya tau apa yang lebih layak untuk menjadi tujuan hidupnya seperti saat ini."
"Sepertinya dia memang belajar banyak darimu."
"Dia memang putraku!"
Begitulah sebenarnya seorang Ayah akan tetap membanggakan putranya.