
Entah sampai berapa lama akhirnya Bang Nugie bisa mulai tenang, meski sudah memejamkan mata selama beberapa jam sebenaranya dia juga tidak bisa benar-benar lupa. sebenarnya Bang Nugie memang cuma membutuhkan waktu hingga bisa kembali berpikir masuk akal.
Saat Bang Nugie kembali membuka matanya bahkan dia baru ingat jika tadi juga membawa Mira bersamanya. Mira yang bisa begitu membuat si Abang gak pernah nyadar jika dirinya lagi gak sendiri, dan pas balik ngelihatin Mira tiba-tiba Bang Nugie juga kembali merasa prihatin. Bagaimana anak itu tadi asal mau aja dia bawa ke mari, padahal normalnya jika menilai sifat Mira yang dia kenal selama ini wajarnya gadis itu pasti pasti akan merasa sangat ketakutan. Tapi saat melihat Mira justru malah ketiduran seperti itu, Bang Nugie tidak bisa mengingkari perasaan tenangnya karena seperti sudah di beri kepercayaan. Meski sempat tergoda untuk mendekati Mira tapi si abang memilih mengabaikan keinginannya dan coba kembali membenahi akal sehatnya. Karena bagaimanapun mereka sedang berada di sebuah kamar hotel dan hanya berdua, Bang Nugie tetap pria normal apalagi dengan segala hal yang di miliki Mira sebagai gadis muda yang sudah sangat sempurna untuk memenuhi keinginan seorang pria.
Mira sepertinya juga tidak pernah sadar jika dirinya sudah ketiduran, bahkan masih dengan menggenggam ponsel di tanganya, dia mulai samar-samar terbangun ketika mendengar suara gemericik air. Mira sempat linglung sebentar kemudian buru-buru memeriksa ke sekeliling dan terkejut karena mendapati Bang Nugie sudah tidak ada di sofa.
Dia segera ingat dengan suara air yang bergemericik, mungkin dari shower dan buru-buru Mira melihat ke arah kamar mandi yang hanya bersekat kaca block dan segera menyesalinya. Sungguh Mira tidak ingin melihat pria yang sedang mandi, walaupun tidak nanpak jelas dengan kaca blok yang buram tapi tetap saja Mira merasa malu luarbiasa. Buru-buru dia kembali pura-pura tidur meski jantungnya sedang seperti habis dipakai lari maraton naik-turun tangga.
Mira mulai ngomel-ngomel dalam hati, lagian bisa-bisanya Bang Nugie seenaknya mandi seperti itu sementara tau ada Mira juga sedang ada di kamarnya. Mira juga mulai mengutuk pemilik hotel yang sengaja membuat kamar mandi seperti itu, karena kaca Block benar-benar benda tak berguna. Mirra masih berusaha meringkuk untuk memalingkan wajahnya dia benar-benar bakal malu jika sampain Bang Nugie tau kalau dirinya sudah bangun.
Mira berhasil diam masih meringkuk degan jantung yang masih berdentam-dentam gak mau diam, mungkin sampai Bang Nugie selesai dan cukup waktu untuk dia mengenakan pakaiannya lagi. Mira mendengar langkah kaki Bang Nugie mendekatinya dan malah ikut naik ke atas tempat tidur. Mira benar-benar takut karena tidak tau apa yang harus dilakukannya, bagaimanapun dia tau Bang Nugie adalah pria dewasa dan apa daya dirinya untuk bisa menolak jika si abang menginginkannya.
Mira sudah tidak tahan lagi untuk terus berpura-pura, dia sedikit menggeliat agar Bang Nugie segera mengurungkan apapaun niatnya. Dan sialnya pas Mirra membuak mata ternyata Bang Nugie belum memakai bajunya. Dia hanyan memakai jubah mandi dan rambutnya masih basah menetes-metes ke wajah Mira yang akhirnya berkedip-kedip.
Entah apa yang sedang dipikirkan Bang Nugie sampai membiarkan diri mereka sedekat itu, dan Mira menggeleng pelan ketika Bang Nugie menahan wajahnya.
Bohong jika Mira sedang tidak ingin si abang melakukan apa saja pada dirinya tapi Mira masih cukup waras dan tau jika dirinya tidak akan bakal sanggup menanggungnya. Apalagi dengan tubuh Bang Nugie yang yang jelas dua kali lebih besar dari dirinya.
"Bang Nugie habis mandi? " tanya Mirra gugup luar biasa, dan Bang Nugie hanya mengangguk.
Bahkan abis itu bodohnya Mira masih ingin nanya kenpa si Abang gak buru-buru pakai bajunya. Bagaimanapun Mira juga norma dan pasti akan tergangu jika di hadapkan pada mahluk seperti itu di depan mata.
Bang Nugie ternyata hanya memang hanya membelai kening Mira dan mengecupnya, "jangan takut dengan Bang Nugie," katanya kemudian ketika menatap Mirra dengan sungguh-sungguh.
"Jika aku menginginkan mu, pasti aku akan mendpatkannu dengan cara yang benar, " kata Bang Nugie kemudian, "tapi terimakasih Mira sudah bisa percaya sama Bang Nugie."
Mira berusaha tersenyum meski jujur saja jaraknmereka yang se dekat itu tetap saja mengganggu. Dengan Bang Nugie yang masih setengah menaungi tubuhnya Mira jadi tidak punya pilihan kecuali menatap wajah si Abang.
Mirapun memberanikan diri untuk menyentuh rambut basahnya.
"Kau membuatku ingin menikahimu segera, " kaya Bang Nugie ketika meraih tangan Mira dan mengecupnya.
"Apa Bang Nugie masih belum bisa memaafkan Bang Harris jika memiliki perasaan yang sama kepada Chacha?" akhirnya Mira memberanikan diri untuk bertanya tapi Bang Nugie tiba-tiba justru mengambil jarak dan mengabaikan pertanyaan nya.
"Ayo, pulang sudah malam," kata Bang Nugie setengah menarik tubuh Mira untuk ikut segera berdiri. Mira sadar mungkin dirinya sudah salah bicara dan memilih diam setelahnya.
"Abang, antar Mira pulang dulu, nanti mamanya nyariin."
Mira cuma ngangguk sambil masih benahin bajunya.
"Pakai aja jaket Abang, " saran bang Nugie yang sudah jalan buat ngambil jaketnya dari sandara sofa.