
Kenapa Chacha ingin menjadi arsitek?
Suatu hari aku ingin merancang sebuah gedung pintar ramah lingkungan yang bisa mengolah limbahnya sendiri, dan bermimpi besar untuk bisa menciptakan sebuah kota yang sehat dan bebas polusi.
Begitulah mimpi sering kali tak seindah kenyataan.
Karena saat akhirnya mendapatkan kesempatan bisa magang di sebuah cabang perushaan pengembang besar, aku malah dapat penempatan di bagian disain interior. Sebagai staf pembantu di kantor cabang pengadaan, yang tiap hari kerjaannya cuma bantuin para kru buat milih warna cat. Dan dari situlah kisah tentang kaleng cat mulai kembali populer sebagai bahan ejekan di antara Bang Nugie dan Mira buat bikin Chacha kesal.
"Abang gak bisa, kah, kemarin ngelobiin posisi yang bagusan dikit buat Chacha?" protesku pas baru pertama kali pulang di hari pertama.
"Udah beruntung lo bisa diterima magang di perusahaan sebesar itu. "
"Ya, Bang tapi kalau kerjaannya cuma buat belanja cat kayaknya samasekali gak bisa bikin Chacha berkembang. "
"Ayolah Bang coba lobiin lagi, Abang kan kenal baik sama papanya Bang Harris, " rengektu tiap kali ingin menyerah sama posisi yang kudapat.
Perusahaan pengembang tersebut adalah milik keluarga besar Bang Harris, karena itu kemarin Bang Nugie yang minta ke papanya Bang Harris untuk nitipin Chacha magang di sana selama enam bulan. Kalau bukan karena Bang Nugie, mungkin Chacha juga gak bakal bisa di terima magang di perusahaan sebesar itu. Makanya Bang Nugie cuma selalu bilang seharusnya Chacha banyak-banyak bersyukur aja dari pada mengeluh.
Si abang gak tau aja kalau kepala divisinya super cerewet. Salah warna dikit aja, pernah tim Chacha di suruh ngecat ulang, sampai-sampai saat itu chacha ikut turun tangan bantuin ngecat, sampai pulang kemalaman dengan rambut penuh percikan cat dan bau tiner. Kadang aku juga sampai mikir, orang-orang tak berperasaan seperti itulah yang udah bikin kluarga Bang Harris tambah kaya.
Rasanya juga sudah lama sekali Chacha gak dengar kabarnya Bang Harris, entah seperti apa si abang sekarang. Tapi jujur aja, sejak magang di perusahaan ini kadang aku jadi teringat lagi sama Bang Harris, dan sempat ngebayangin apa muka gantengnya bakal tambah ganteng. Buka buat maksud apa-apa, cuma kalau gak sengaja ketemu lagi dan masih ganteng, kan, tetap enak buta dipandang, hehe.... Memang dulu aku sempat ngefans berat sama si abang, tapi seiring waktu Chacha juga sudah sangat sadar diri jika bukan waktunya lagi buat mimpi-mimpi ala cinderella, lagi pula mana ada, pria sempurna seperti itu tiba-tiba suka sama tukang cat kayak Chacha.
Sadar betapa predikat baruku ini hanya semakin mempertegas kesenjangan di antara kami yang semakin mengenaskan.
Belakangan ini aku mulai dekat dengan seorang manager marketing di tempatku magang, namanya Dony. Aku mulai dekat sejak Dony sering bantuin aku pas lagi dapat tugas buat ngecek stok cat di gudang. Lokasi gudang yang agak jauh dari kantor cabang tempatku bekerja membuatku harus selalu di temani, tiap kali memang hanya si Dony yang selalu memiliki waktu luang lebih untuk kumintai pertolongan.
Kadang aku juga membantu tim perencanaan marketing sebagai model dadakan mereka untuk pemotretan bersama unit yang sedang mereka pasarkan. Jadi selain sebagai tukang cat kadang kala aku juga bisa jadi seorang model, kombinasi profesi yang kurang singkron menurutku. Tapi, layaknya model profesional mereka juga memberiku upah yang lumayan untuk pekerjaan yang menurutku aneh untuk kutekuni, walaupun pekerjaan itu sebenarnya tidak sulit. Kadang aku hanya melakukan pemotretan di dapur, ruang keluarga atau berpura-pura sebagai keluarga muda yang sedang bahagia, dan bareng Dony tentunya.
Dony memang memiliki muka fotogenik yang enak di pandang mata, basicnya yang pernah jadi model remaja membuatnya tidak kesulitan untuk bantu membimbingku. Menurut mereka aku juga punya fisik yang sempurna dan bakat bergaya di depan kamera, tapi tetap saja mustahil bagiku untuk benar-benar ingin hidup dari profesi seperti itu. Aku mau melakukannya itu juga karena ajakan Dony yang dulunya suka iseng diam-diam ambil fotoku pas kebetulan lagi bantu para kru yang lagi ngecat unit yang buru-buru mau segera di gunakan untuk pemotretan. Menurutnya unik dan baru nemu cewek yang gak risi ikut kotor-kotor kayak aku, walaupun kata mereka Chacha tetap cantik walaupun di campur sama adukan cat, beneran-benar pujian yang aneh juga untukku dengar.
Keisengan itu berlanjut saat Dony mulai rajin share foto-fotoku di acount media sosialnya dengan hastang tukang cat cantik yang ternyata dapat banyak like dari sobat-sobatnya dan tambah populerlah namaku sebagai gadis tukang cat.
Anehnya hal menggelikan itu malah justru membuat mereka makin suka menggunakan jasaku, di banding harus mencari model lain yang sering rewel dan banyak maunya. Aku sih seneng-seneng aja karena kayak dapat uang jajan yang lumayan, tapi Efek sampingnya kadang aku juga masih merasa aneh ketika harus menyaksikan diriku sendiri ada di tiap brosur yang mereka cetak masal dan berserakan di meja kantor. Sampai-sampai Bang Nugie dan Mira ikut menjulukiku Model kaleng cat akibat pekerjaan srabutanku yang semaki melenceng belakangan ini.
"Itu kan cuma di depan kamera aja, Bang. "
"Abang kira, lo masih suka sama yang lebih maco kayak Bang Harris."
"Ih, apaan sih, Abang , bawa-bawa Bang Harris segala!" tepisku pura-pura cuek padahal hatiku sempat ikut berdenyut juga pas Bang Nugie cuma nyebutin namanya doang.
Bang Nugie balik ngelempar brosur-brosur itu ke atas meja trus ngelihatin Chacha, sampai gak enak rasanya Chacha di lihatin dari kiri, dari kanan seperti itu.
"Kenapa, sih, Bang, ngelihatin Chacha kayak gitu? " protesku ngerasa risi.
"Kayaknya, adek abang udah gede, " katanya sambil kayak pura-pura mikir.
"Ingat, Bang! Chacha udah dua puluh dua tahun, jangan pura-pura amnesia bulan depan Chacha ulangtahun!"
"Trus? "
"Ya abangnya, lah, yang harus ngerayain, dan kasih kado."
Si abang langsung pura-pura tepuk jidat.
"Jangan keras-keras, entar Amnesia beneran kasian si Mira gak jadi nikah," dan spontan Chacha menghindar dari lemparan bantalnya sambil nyungirin si abang.
Biar kami sudah segede ini kadang kami masih sering ribut dan becandaan seperti anak kecil kalau pas lagi ngumpul di rumah. Karena memang seperti itulah Bang Nugi dia usil, tapi adeknya gak kalah usil. Sampai-sampai jika ada Mira di rumah, dia itu udah ibarat kayak guci keramik antik yang takut kesenggol pas di letakkan di antara dua bocah tuju tahun yang suka ribut jungkir balik plus lari-larian ngitarin meja.
Makanya kadang Chacha masih suka sedih karena Bang Nugie yang mendapatkan promosi jabatan akan di pindah tugaskan ke luar Jawa. Meskipun rencana itu masih tahun depan tetap aja Chacha sedihnya sudah mulai dari sekarang. Karena itu juga kayaknya pernikahan Bang Nugie dan Mira juga akan di majukan. Mira akan ikut pindah bersama bang Nugie, yang artinya, Chacha akan kehilangan Abang dan Sahabat sekaligus. Bayangkan akan semenderita apa hidup Chacha nantinya tanpa mereka berdua yang usil.
Bang Nugie akan segera dipindah tugaskan setelah perluasan kilang Pertamina di pulau Kalimantan itu selesai di kerjakan. Kata Bang Nugie mungkin nanti kalau Chacha sudah kelar kuliahnya juga bisa ikut nyusul. Bang Nugie janji akan nyariin kerjaan buat Chacha di sana jika Chacha mau. Karena kabarnya perusahaan keluarga Bang Harris juga akan mengerjakan banyak proyek besar di calon Ibukota baru yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal Bang Nugie nanti. Chacha sendiri belum berani berpikir sejauh itu, karena yang paling Chacha takutkan sekarang ini hanyalah ngebayangin hidup jauh dari abangku yang tengil itu.
Dari kecil kami selalu bersama, setiap hari bertemu, dan bermain bersama, bahkan kamar kamipun tidak pernah berjauhan meskipun sempat beberapa kali pindah rumah, sampai akhirnya Mama dan Papa menetap selama sepuluhtahun terakhir ini dan kami juga menempati kamar berhadapan yang hanya dipisahkan oleh lorong. Dulu saat Bang Nugi libur sekolah dan menginap di rumah nenek di Sukabumi, kadang Chacha sampai demam cuma karena gak ketemu Abang selama satu minggu, Bang Nugie itu ibarat zona nyaman bagi Chacha di mana aku merasa bisa menjadi diri sendiri tanpa harus menghawatirkan apapun.