
Chacha kesel karena beberapa minggu ini si Dony bawaannya udah kayak ibu-ibu yang lagi datang bulan di tanggal tua. Dari kemarin marah-marah melulu, gak di kantor, gak di mobil, kayaknya dia lagi seneng betul nyalah-nyalahin Chacha. Mulai dari lama balas Chat sampai, Chacha yang telat bangun juga dikomentari. Pakai nyindirin Chacha ngapain aja semalam sampai gak tidur-tidur, emang dikira aku suka kelayapan malam-malam buat cari masalah yang gak penting, sementara siangnya aku sudah harus mondar-mandir di suruh-suruh orang, kadang juga sampai ikut ngangkatin ember cat segala macam. Mungkin kalau dari kecil latihanku gak kejar-kejaran sama Bang Nugie pasti fisikku juga gak bakalan sebandel ini untuk menghadapi rentetan perintah dari para senior.
Dony juga mulai kepo suka meriksain chat di HP Chacha, dan aku benar-benar gak suka kayak di curigain terus seperti itu. Gak jarang kami jadi mulai sering tengkar karena kecemburuan sepelenya yang makin tidak masuk akal. Intinya dia memang masih cemburu banget sama Bang Harris sejak kami ketemu di nikahan Bang Nugi waktu itu.
"Bilang aja kamu suka, sama temen abang lo itu! " tuduh Dony pas aku lagi berusaha bersikap tenang untuk ngebahas kecemburuannya yang sia-sia.
Biarpun itu benar tapi kenyataannya memang gak pernah ada hubungan apa-apa di antara Chacha sama Bang Harris, jadi wajar kalau aku merasa sangat tidak adil jika dituduh selingkuh. Lagi pula siapasih yang gak engab di tuduh selingkuh sama pria yang bahkan sama sekali tidak pernah peduli sama perasaannya.
Dony kembali bungkam seribu bahasa pas nganterin Chacha pulang dari kantor sore itu. Kayaknya dia juga sengaja nyetel musik yang sama sekali gak enak di dengar gendang telinga.
"Bisa gak pelanin dikit? " protesku, tapi Dony acuh aja.
"Berhentilah bersikap menyebalkan!" aku benar-benar mulai tidak tahan, dan mematikan volume musiknya.
Dony masih acuh, dia hanya meraih botol mineral dari atas dashboard, meneguknya dengan cepat kemudian melempar botol kosongnya lewat jendela.
"Kenpa gak di masukin tempat sapah aja sih! protesku benar-benar tidak suka.
"Entar juga di pungut pemulung," acuhnya yang langsung kembali cuek.
Serius aku kesal, walaupun dia masih gak ngerasa sama sekali jika kebisuanku di sisa perjalanan itu benar-benar lebih karena botol plastik yang dia lempar sembarangan tadi.
Mobil Dony kusuruh berhenti di depan rumah, kemudian aku buru-buru turun tanpa mempersilahkan dia mampir seperti biasanya.
"Besok gak usah antar atau jemputin aku lagi!"
"Kenapa?" kata Dony bingung pas baru nyadar aku benar-benar masih marah.
"Kita putus! "
"Karena teman abang lo itu lagi!" tuduh Dony dengan senyum mengejeknya.
"Bukan! tapi kerena lo buang sampah sembarangan! "
Seringai Dony terlihat sinis, Chacha tau cowok itu masih kesal dan ngerasa di sepelekan. Tapi dia gak bilang apa-apa dan langsung aja tancap gas buat pergi. Mungkin dia juga masih tak menganggap serius tentang ucapanku tadi.
Chacha memang tidak suka di atur-atur atau di cemburuin, karena menurutku sebuah kepercayaan adalah inti dari dewasanya sebuah hubungan. Tapi dari semua itu Chacha tetap paling tidak suka dengan cowok yang buang sampah sembarangan, karena menurutku ada ideoligi paling dasar yang ikut tertanam di sana. Saat sebuah tanggung jawab yang mudah saja tidak bisa dia terapkan dalam dirinya maka dari mana dia bisa berharap untuk layak mendapatkan kepercayaan. Dan aku tidak akan menghabiskan waktuku dengan orang yang bahkan tidak bisa menangani limbahnya sendiri seperti itu.
Saat kita menginginkan hidup yang nyaman, bukan berarti kita harus menjadi pengecut dengan memaksa bumi ini menanggung beban yang sangat tidak layak kita berikan padanya yang sudah memberi tempat untuk bernafas dan berpijak. Sampah adalah salah satu bagian yang sepele dan sebenarnya kita semua bisa menanganinya, jika kita masing-masing mau peduli. Tidak harus kita menyelesaikan masalah semua orang, tapi paling tidak mulailah dari diri sendiri, seperti kalimat yang sudah Bang Harris tebalkan dengan stabilo di buku pemberiannya.
"Walau sepele, hal baik tetap layak untuk dilakukan"
Sayangnya tidak banyak yang bisa mengerti alasanku dengan benar, selain Bang Nugie tentunya, dia sangat menghargai prinsipku bahkan dia tidak merasa perlu bertanya lagin ketika aku juga mulai tidak mau makan daging lagi. Aku tidak menjadikan hal itu keharusan tapi memang hanya sekedar aku pribadi yang tidak menginginkannya. Sama halnya saat seseorang memilih tidak makan cabai atau berhenti mengkonsumsi gula demi kesehatan. Kurasa aku juga bisa memilih untuk tidak makan apa yang ku sayangi, bukan hanya untuk yang ku benci saja seperti petai atau jengkol karena aku memang tidak suka baunya saat Bi Supi merebusnya di dapur kami, dan biasanya Bang Nugie juga ikut teriak-teriak sambil nutup hidungnya.
Jadi kalau aku sudah sering mutusin banyak cowok hanya gara-gara dia buang sampah sembarangan, itu juga pilihanku pribadi. Mungkin yang lain suka cowok yang tampan, yang tajir, yang tinggi atau yang putih, semua terserah mereka, itu lah pilihan mereka.
Karena hidup adalah pilihan sudah selayaknya kita sadar dengan pilihan kita!
*****
Kayaknya beneran tu anak gak nyimak kata-kata Chacha. Karena keesokan harinya Dony masih datang buat jemputin Chacha.
Chacha baru turun beberpa saat kemudian.
"Chacha bilang gak usah jemput! " kataku sambil buka gerbang.
"Kamu masih ngambek? "
"Bukan, kita sudah putus!"
"Yang bener aja? "
Dony jelas tidak terima karena masih merasa dipermainka. Tapi Chacha cuek aja trus nyamperin Pak Salim, Ojol langgananku yang udah nunggu dari tadi.
"Cha, Gue serius! " triak Dony
"Gue juga!" balasku sambil naik di boncengan Pak Salim.
Biar aja klo dia juga mau cemburu dan marah-marah sama bapak-bapak tua yang ngeboncengin Chacha.
Serius, Dony ngebuntutin Chacha sampai ke kantor, udah kayak ekor cicak yang gak mau putus.
"Maafin gue, Cha."
"Chacha udah maafin."
"Trus."
"Trus, ya udah!"
"Ya udah gimana? "
"Yaudah kita udahan."
"Aku gak mau!"
Aku tetap jalan ninggalin Dony yang masih berusaha gejar.
"Ini gak adil, Cha, masak lo mutusin gue tanpa alasan kayak gini?"
"Aku benar-benar gak suka lo buang sampai sembarangan itu sudah cukup jadi alasan! "
"Omong kosong! "
"Pasti karena lo masih suka sama teman abang lo itu kan! " tuduh Dony.
Mulai lagi dia ngungkit-ngungkit hal itu, "Sudah Don, Chacha capek! "
Acuhku terus pergi dari pada harus buang waktu ngejelasin sesuatu yang gak bakal nyangkut di otaknya.