Alex

Alex
bab 85



Alex dan Bang Harris baru saja turu dari kamarnya dan langsung nyamperin Bi Supi yang lagi sibuk sama Mini. Jadi bener Mini mau ikut sama kita ? tanya alex.


"Ya Mba Alex, aku mau ikut, " jawabnya dengan cukup antusias.


Alex bingung trus noleh Bang Harris, "Bang kok kayaknya aneh juga ya, kalau di panggil Mbak Alex!"____"atau panggil mbak Chacha aja, "sambung Alex pas balik ngelihatin Mini yang langsung ngannguk setuju.


Mini itu usianya baru sekitar delapan belas tahun jadi masih sangat muda banget dan baru lulus sekolah tahun ini. Makanya kemarin Evan sempat syok juga karena kayak di suruh nikahin anak di bawah umur. Apalagi si Mini juga kelihatannya lebih imut dari usianya, bahkan alex kemarin juga sempat mikir, kalau buat Evan aja kemudaan apalagi untuk Bang Harris makanya gak salah kalu mereka semua sempat protes sama Tuan Serkan.


Tapi pas Bang Harris nyaranin Rutmini untuk adik ke duanya Brandon, Tuan Serkan pun langsung menolak dengan tegas. Karena dia tau seperti apa sifat putranya yang paling bengal itu, tidak seperti Evan yang lebih namis dan penurut Brandon memang palin berbeda dengan ketiga saudaranya yang lain. Tapi biasanya memang seperti itu, dalam sebuah keluarga pasti akan ada salah satu yang suka menjadi biang masalah. Padahal sebenarnya si Rutmini lebih cocok dengan usianya yang mungkin hanya selisih beberpa tahun, Brandon sendiri masih kuliah di Newyork dan hanya sesekali pulang untuk membuat keluarganya kesal.


Hari itu Mini akhirnya benar-benar ikut Alex ke panti, meski Alex sudah memaksa untuk ikut satu mobil denganya  tapi Mini tetap ngeyel mau satu mobil sama Bi Supi saja.


Mbak Chacha sama Bang Harris itu cocock banget ya, Bi?"


Aku seneng ngelihatinya," kata Mini pas baru ikut masuk kedalam mobil bareng Bi Supi.


Bang Evan juga ganteng, sepertinya kau juga sangat beruntung," kata si bibi pas lihat muka tersipunya si Mini.


"Aku gak tau apa Bang Evan nya mau sama orang kampung kayak aku, Bi. "


"Bukannya Tuan Serkan sudah mengatur pernikahan kalian? "


"Iya, Bi, tapi kalau Bang  Evannya gak mau sama aku, aku juga gak mau, Bi, kasian Bang Evan ganteng gitu harus nikah sama orang kampung kayak aku ini."


"Jadi kalau Bang Evan tidak mau, kamu gak apa-apa?


"Ya enggak lah, Bi, aku sudah berterimakasih banget sama keluarga Tuan Serkan, mereka sudah sangat berjasa pada keluarga kami."


"Lalu apa yang akan kau lakukan jika tidak jadi nikah sama Bang Evan? "


"Ya pulang ke kampung kan kasian juga simbah kalau di tinggalin lama-lama. "


"Tapi Mini cantik,loh ... masa Bang Evan tidak mau."


"Orang seperti Bang Evan itu seharusnya memang menikah dengan wanita yang lebih layak untuknya, bukan malah orang kampung seperti aku ini."


"Tapi kau setuju saat mereka membawamu kesini. "


"Tuan Serkan sangat baik pada kami, Bi, mustahil kami bisa menolak keinginnnaya."


"Jangan-jangan Mini juga sudah punya cowok di kampung."


"Aku gak berani punya cowok, Bi, takut!" dan gadis itu langsung pasang muka ngeri.


*****


Sepulang dari panti asuhan Mini langsu turun di rumah Tuan Serkan, dia buru-buru pingin masuk kekamarnya buat ganti baju karena pakaian yang diberikan istrinya Bang Harris itu rasanya memang kurang pas untuknya. Bilang Bi Supi tambah cantik tapi si Mini malah ngerasa aneh. Dia baru aja masuk dari pintu samping pas di ruang tengah si Mini baru sadar jika ada cowok yang sedang berdiri di tangan bermaksud ngehalangin dia buat naik. Setelah gerak ke kanan dan kekiri gak di kasih jalan barulah si Mini ngedongak buat nanya.


"Bisa minta jalan dikit aja, " kata Mini heran kok kayaknya itu orang tinggi banget.


"Tumben ada cewek di rumah? " cowok itu malah kayak balik nanya tapi sepertinya bukan untuknya.


"Jadi ini yang namanya Mini? " kata Brandon pas memiringin wajahnya untuk lebih merhatiin gadis muda di depannya yang ternyata lumayan manis juga buat di godain. Padahal itu si Brandon belum tau aja kalau pas si Rutmini udah ganti pakai style yang sesuai habitatnya.


"Mini, perkenalkan putra  ketiga Tante, namanya Brandon, " jelas Tante Marrisa.


"Hay Mini, " sapa Brandon.


"Rutmini, Bang, " koreksinya.


"Mini aja," kata Brandon.


Brandon terlihat beberapa tahun lebih tua dari Rutmini, karena itu walupun dia adiknya Bang Evan si Rutmini tetap ngerasa harus lebih menghormatinya. Bagaimanapun Rutmini adalah anak yang tumbuh besar di kampung dan selalu di ajari oleh nenek dan kakeknya untuk menghormati yang lebih tua.


"Bang, aku mau lewat."


Kayaknya si Barandon juga baru nyadar kalau dari tadi dianya masih aja berdiri di tengah tangga, dia merhatiin si Mini sekali lagi dan tersenyum entah untuk apa karena dia gak ngomong lagi pas pergi lebih dulu.


Setelah Brandonya pergi kayaknya malah si Mini yang gantian ngelihatin putra ke tiga Tuan Serkan itu sampai beneran ngilang di balik pintu.


"Brandon suka usil, jangan di masukin hati kalau dia nanti suka gangguin kamu," kata Tante Marrisa pas menghampiri Mini dan ikut mengoreksi penampilannya.


"Kamu cantik."


Tante Marrisa jadi tesenyum sendiri pas ngelihatin gadis muda itu. Karena dia memang kelihatan berbeda banget dan sama sekali tidak terlihat baru datang dari kampung beberpa minggu lalu. Rutmini memang memiliki wajah yang cantik dan kulitnya pun putih bersih agak kemerahan di rona pipinya yang merah alami. Kali ini sepertinya dia juga memakai lipstik tipis yang hampir sewarna dengan warna bibir aslinya.


"Mini dandan, ya? " tanya si Tante.


"Mbak Chacah yang maksa untuk pakai pakaian seperti ini, Tante, " kilah Mini masih merasa risi dan aneh apalagi harus diperhatikan seperti itu. Rasanya lebih malu dari pas Mbak Chacha tadi nyuruh Bang Harris buat ikut ngoreksi penampilannya. Jadi wajar kalau sekarang si Rutmini rasanya pingin buru-buru pergi trus ngumpet di kolong tempat tidurnya.


"Besok ikut Tante belanja, ya, nanti kita pilih pakaian yang lebih pas buatmu."


"Tidak usah Tante, aku lebih nyaman pakai pakaian seperti biasa saja."


"Sudah gakpapa, pasti Bang Evan juga suka kalau ngelihat kamu kayak gini."


"Tidak, Tante, aku masih ngerasa gak nyaman seperti ini, " jujur si Mini ketika menatap Tante Marrisa dengan prihatin.


Sepertinya memang tidak bisa dipaksakan, mungkin dia juga perlu waktu untuk beradaptasi. Tante Marrisa terpaksa mengalah dan membiarkan Rutmini pergi untuk kembali memakai rok lipit dan mungkin menguncir rambutnya lagi.


Buru-buru si Rutmini menaiki tangga untuk lari kekamarnya. Sebenarnya pakaian yang di berikan Mbak Chacha tidak buruk hanya saja si Mini aja yang ngerasa kikuk jika harus berpenampilan seperti itu, padahal tadi istri Bang Harris yang baik hati  itu sampai manggil tukang salon profesional buat ngedandanin dia, eh gak taunya si Mini malah kayak ngerasa gatel-gatel cuma karena pakai bedak sama lipstik.


Padahal dia gak papa cuma sugestinya aja yang agak berlebihan. Mungkin itu yang dimaksud Tante Marrisa jika gadis desa itu tetap butuh waktu buat adap tasi. Dan sepertinya putranya Evan juga harus lebih  bersabar jika ingin melihat berliannya bisa bersinar, karena semua butuh di asah dulu untuk  tetlihat sempurna,dan sepertinya Tante Marrisa punya cukup waktu untuk melakukannya.


Tante Marrisa tau Rutmini tidak bodoh, bahkan dia sangat berpendidikan hanya cara berpakaian dan kepolosannya saja yang kadang bikin orang jaman sekarang melih bengong pas ngelihatin dia.  Padahal aslinya Mini itu gadis yang cantik, bahkan sangat cantik, cuma sayang dia belum terbiasa dengan lingkungan barunya.


Rutmini memang jarang bergaul tapi cara pandangnya tidak kuno meski tatatkramanya agak berlebihan tapi dia tetap gadis yang polos dan menyenangkan. Tante Marrisa yakin siapapun yang mengenal Rutmini pasti akan langsung menyukainya.  Walau sekarang putranya belum bisa memiliki simpati yang spesial pada gadis itu tapi Tante Marrisa juga yakin jika Bang Evan pasti akan segera menyadarinya. Tidak mungkin dia tidak peduli dengan gadis semanis dan sepolos Rutmini yang kadang juga bisa menggemaskan.


Jangan lupa like... like... like...