
Sudah beberpa barinini Bang Harris ngerasain duduk tidak tenang berdipun juga tidak nyaman cuma akarena harus ngelihatin foto-foto Alex di Brosur-brosur yang berserakan di mejanya.
Rasanya sudah sangat lama mereka tidak bertemu dan rasa rindu itu semakin tidak masuk akal lagj untim di tanggung tak peduli sudah sekeras apa selama ini Bang Harris berusaha menyibukan diri dengan pekerjaan nya agar tidak telah au memikirkannya, tapi semuanya tiba-tiba kacau habyabkarena foto-foto gadis yang di cintainya itu sedang nempel-nempel sama cowok lain, meski cuma dalam sesi pemotretan tetap aja Bang Harris akhirnya gak tahan juga.
Dia segera menghubungi bang Nugie karena bagaimanapun seharusnya sahabatnya itu juga bisa menghargai isahanya selama ini. Setelah perd batan yang cukup berbelit akhirnya Bang Nugie ngalah juga dan Bang Harris pun tidak kan menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dia diperbolehkan untuk menmui Alex.
Alex, kamu di mana?"(chat dari Bang Nugie)
"Kerja, Bang."
"Bisa pulang cepet?"
"Gak tau, Bang, kepala divisinya
galak!"
"Abang mau ketemuan sama Bang Harris, mau ikut gak?"
"Ah, Abang bohong!"
"Serius, kalau mau bolos Abang samperin, mumpung Abang lagi baik?"
"Jangankan bolos, suruh resign juga Chacha mau kalau beneran ada Bang Harris." Canda bocah itu yang gak berubah juga.
Bang Harris yang juga ikut dengar otomatis ikut ketawa.
"Dia gak percaya!"
"Siapa?" tanya Chacha
"Bang Harris."
"Udah, deh Bang Chacha banyak kerjaan, kalau mau bikin prank tunggu tiga minggu lagi aja pas Chacah ulangtahun." Chacha malah matiin HPnya, dia cuam heran kenapa Bang Nugie bikin becandaan garing kayak gitu, padahal saat itu Bang Harrisnya beneran sedang duduk di depan Abangnya.
Karena Dony dan teman-teman tim ngajak makan bareng setelah jam kerja, jadinya hari itu Chavhs pulang agak malam dan lupa ngidupin HP nya lagi. Jadi pas Chacha baru sampai depan rumah Bang Nugie udah berdiri di depan pintu kayak satpam sekolah.
"Kemana aja sih lo? HP pakai di matiin ! "
"Sorry, Bang, Chacha lupa."
Serius, kayaknya Bang Nugie marahnya beneran. Chacha tau memang salah, sudah pulang telat plus gak ngasih kabar, wajar kalau abangnya khawatir. Cuma dia gakbtau aja kalau Bang Harrislah yang paling Khawatir dan sempat maunlapor polisi segala padahal Chacha ngilangnya belum ada duapuluh empat jam.
Si Mira buru-buru keluar buat narik Bang Nugie yang masih berdiri di depan pintu.
"Udah, yuk, Cha, cepet masuk, " kata Mira sambil nyeret lengan Bang Nugie.
Yang Chacha kaget ternyata di ruang tengah ada Bang Harris yang lagi ngobrol bareng papanya.
Benar-benar Bang Haris! Chacha yakin gak salah lihat.
Padahal saat itu Chacha bener-bener lagi gak bisa nyimak apapun yang mereka semua omongin karena tiba-tiba fokusnya memang hanya pada Bang Harris. Serius, itu Bang Harris beneran? apa Chacha gak lagi mimpi?
Trus kenapa dia gak tambah tua dan jelek aja, ya? kalau cakep gitu,kan Chacha juga jadi susah konsentrasi. Padahal Bang Harris nya kelihatan nyantai aja kayak orang yang sama sekali gak pernah ngerasa sudah Chacha pikirin.
"Mau sampai kapan, lo berdiri di situ?" tegur Bang Nugie.
Apa, iya, Chacha kelihatan bodoh dan gak ngerasa. Buru-buru dia segera ikut duduk di dekat Bang Nugi, gak terlalu jauh juga dari Bang Harris.
"Maaf, Bang, tadi Chacha kira Bang Nugie cuma bercanda," katanay buat Bang Harris.
Beneran Chacha nyesel dan malu, udah bikin semua orang khawatir juga.
"Gimana, magangnya?"
"Lumayan, Bang, walau sebenarnya basic Chacha bukan di inteior."
"Apa kerjanya berat? "
"Gak, Bang, paling Chacha di suruh belanja cat. "
"Asal jangan bikin puisi kaleng cat lagi aja, lo ya!" sela bang Nugie dan Mira sampai ikut tersedak kue kering sangking gak tahan lagi kepingin ketawa tiap kali ingat kisah itu.
"Ada apa dengan kaleng cat? " tanya Bang Harris penasaran.
"Nanti Mira share, Bang, masih Mirra simpan di insta story. "
Sumpah Chacha makin ilfil aja sama calon kakak iparnya itu, mungkin mereka kira Chacha udah gak punya urat malu, sampai Bang Harris juga di tawarin untuk lihat video penuh aib itu. Si Chacha aja yang gak tau kalau simira diam-diam suka ngirim rekaman percakapan mereka yang lebih parah malu-maluinnya.
Dari semua obrolan mereka malam itu, Chacah bisa melihat jelas perubahan yang dia rasakan terhadap sikap Bang Harris yang sudah tidak lagi seperti dulu. Jujur malam itu sebenarnya banyak sekali yang pingin Chacha tanyain, tapi jika melihat bagaimana dia sangat menjaga sikap malam itu, rasanya sangat tidak tepat jika dia masih terlalu banyak ingin tau. Padahal Chacha memang sangat ingin menanyakannya, keman saja dia selama ini? kenapa tidak pernah pulang? kenapa tidak pernah memberi kabar?
Bahkan Kenapa dia harus ninggalin cincin dan mau ngasih buku buat Chacha, yang hanya membuat hatinya berbunga-bunga sebentar kemudian kecewa.
Namun semua pertanyaan itu seolah menguap di otaknya, seperti sesuatu yang sangat tidak layak lagi untuk ditanyakan, dengan sikapnya yang sudah begitu jelas, jika semua itu memang sama sekali tak berarti baginya.
Padahal adai Chacha tau seperti apa Bang Harris sudah menahan diri untuknya, dia boleh bertemu tapi tidak lebih dari itu.
Bang Harris memang hanya pulang untuk beberapa hari, dan Chacha juga sudah tidak bertemu dengannya lagi setelah malam itu. Meskipun tidak ada yang spesial, tapi Chacha tetap seneng bisa bertemu lagi dengan si abang yang tetap sesempurna, dan seharusnya mereka semakin waras setelah pertemuan itu tapi ternyata tidak sama sekali. Bang Harris justru semakin b tidak tahan dengan kesepakatan yang sudah terlanjur dia sepakati dengan Bang Nugie. Sekarang Alex sudah dewasa dan sebenarnya tak masalah baginya jika ingin membawa Alex saat itu juga tapi
Sebuah pernikahan tetaplahnbukan perkara sederhana, Alex punya keluarga dan baru akan menikah setelah Abangnya untuk menghormati tradisi yang mereka jaga. Bang Harris juga sudah menerima persyaratan itu dari orang tua Alex ketika dia meminta Putri mereka malam itu juga.
Di sini memang Chacha lah yang selalu memjadinpihak yang tidak tau apa-apa.
Malam itu dia sudah berusaha untuk tidak berpikir macam-macam tapi nyatanya dia tetap tidak bisa menghentikan pikiranya untuk Bang Harris.
Kembali dia perhatikan cincin perak yang sampai saat ini pun cuma pas di jari jempolnya. Kenapa kemarin tidak dian kembalikan saja kepada pemiliknya, karena mungkin hatinya bisa lega. Tapi bodohnya Chacha tetap ingin memiliki bagian dari Bang Harris yang mungkin sudah melupakannya sejak lama. Menyimpan sesuatu yang sadar tidak akan dia miliki rasanya juga bukan gayanya tapi kenapa sepertinya dia juga mulai tidak peduli.