Alex

Alex
BAB 101



"Abang pernah naik bus?" tanya Mini agak khawair pas mereka baru mau masuk pintu bus.


"Pernah lah, Mini, kamu kira aku kemana-mana harus mengendarai helly copter."


Mini dengar Bang Brandon memang lebih banyak besar di America dulu dia tinggal sama ibunya Tate Marrisa di Boston. itu kemarin si Bibi yang cerita pas Mini masih sering heran kenapa Bang brandon kadang gak begitu ngerti bahasa Indonesia.


Brandon gak nyangka jika Bus yang menuju kapungnya si Mini ternyata lebih mirip gerobak pengangkut sapi,yang jalannya super lelet, dan bikin tubuh mantul-mantul.


"Trus kapan kita bakal nyampe?" tanya Brandon yang udah berulang kali menengok arloji di tangannya.


"Bentar lagi Bang , sabarya ?" Mini terpaksa harus senyumin muka bosan Brandon yang kelihatan banget udah menahan diri untuk tidak membawanya turun dan berjalan kaki saja, sangkin susahnya jalanan yang mereka lewati. Bus yang mereka tumpangi hanya seperti merayap ketika harus melalui jalanan yang penuh lubang.


"Mini pernah naik roller coaster?' tanya Brandon tiba-tiba


"belum ,Bang ,memangnya kenapa?


"Sebaiknya tidak usah ,karena rasanya kurang lebih juga sama seperti ini."


Mini tertawa,karena si Brandon masi mau pura-pura sok asik, padahal jujur saja perut mereka yang tadi pagi hanya di isi sarapan senwich rasanya mulai sakit karena di pental-pentalin di dalam bus.


"Tu, Bang rumahku udah kelihatan." tunjuk Mini langsung sumringah pas Brandonnya masih tengak-tengok bingung karena belum ngelihat rumah.


Mini langsung ngasih kondektur untuk berhenti,dan mereka buru-buru lekas turun.


Sungguh pengalaman luar biasa bagi Brandon masuk kedalam kendaraan seperti tadi ,walau wajanya masam tapi dia memang tetap sama sekali tidak mengeluh kecuali perkara waktu.


"Maaf ya Bang , rumahku kecil," kata Mini pas narik Brandon ke teras rumahnya.


Brando sepertinya tidak masalah,dan tetap terlihat antusias untuk ikut bertemu kakek dan nenenknya Mini.


"Asalamualaikum," kata Mini meskipun dia tau pintu rumahnya sudah terbuka dan dia langsung masuk.


"si Mbok..."cari Mini di dapur bahkan dia juga sempat ngintip ke pintu belakan tapi gak ada orang. Baru dia dengar suara batuk-batuk dari dalam kamar simbahnya.


"Loh, apa itu Rutminy?" simbok kayaknya masih terkejut pas ngelihat Mini.


"Iya, Mbok, ini aku "


"Kok jadi cantik. " komentar si simbok pas ngelihatin cucunya.


"Sama aja Mbok, cuma rambutnya aja kayak abis kalamaan kena panas. "


Simbok masih geleng-geleng heran pas ngoreksi penampilan cucunya.


"Apa simbah sakit?' tanya Mini kaget pas baru nyadar kalau simbahnya cuma baring di ranjang sambil di suapin.


"Simbah sering sesak akhir-akhir ini, dan cuma bisa makan bubur."


"Kenapa gak ada yang ngabarin aku kalau simbah sakit."


Panik Mini pasburu-buru ngedekati tempat tidur simbahnya sampai dia lupa kalau tadi juga ngajak Bang Brandon dan masih dia biarin   nunggu di luar.


"Simbah gak papa ,namanya sudah tua ya seperti ini."


Mini tetap sedih pas ngelihatin pria tua itu hanya terbaring di tempat tidurnya, padahal pas terakhir dia pergi kemarin sibahnya itu masih cukup sehat meski memang sudah jompo.


"Apa sudah berobat ?"


"Kemarin sudah di bawa ke puskesmas dan dikasih obat buat diminum sampai habis dulu," terang simboknya.


"Kamu tadi pulang sama siapa?'tanya simbok kemudian dan baru saat itu Mini langsung ingat bang Brandon trus dia buru-buru balik keluar buat ngelihatin Brandon.


Mini terkejut karena Brandon nampak aneh ketika duduk di kursi ruang tamu mereka yang jadi kayak kekecilan karena kaki panjangnya.


"Maaf Bang aku sampai lupa, ternyata simbah lagi sakit," sedih Mini dan Brandon langsung sepontan berdiri buat ikut lihat kedalam kamar.


"Ini simbahku, Bang," Mini memperkenalkan Brandon kepada mereka.


"Apa ini Bang Evan?' tanya simbok langsung kayak sumringah pas ngelihatin Brandon yang gantengnya kayak artis-artis di TV.


"Bukan,Mbok ,ini Bang Brandon, adiknya Bang Evan."


"Oh, simbok kirain Bang Evan. "


"Simbahnya sakit apa?" tanya Brandon.


"Penyakit tua, Den," jawab simbah.


"Bilang simbok kemarin sudah di bawa ke puskesmas" terang Mini.


"Kita harus membawanya kerumah sakit,Mini!"


Mini bungung tapi kayaknya Bang Brandon ngomongnya serius.


"Di mana rumah sakit terdekat dari sini?"


"Agak jauh sih, Bang."


"Abang akan hubungi ambulan buat jemputin simbah."_____"apa nama rumah sakitnya," Brandon udah mulai buka pencarian di smartphonenya, dan segera menemukan alamat rumah sakit yang di beritahukan Mini.


Brandon hanya agak heran bagaimana keluarga tega mengambil anak gadis dari sepasang orng tua ini, pasti Mini adalah satu-satunya harta yang mereka miliki. Bagaimanapun Mini pasti sangat berarti buat menemani mereka yang sudah jompo bukannya malah disuruh meninggalkan kakek dan nenenknya sendiri di hari tuanya. Pantas saja si Mini kayanknya gak pernah krasan tinggal di rumah mereka. Dalam hal seperti ini tiba-tiba Brandon merasa jika keluarganya sangat egois, jika hanya ingin mengambil gadis itu buat bang Evan yang bahkan tidak mau peduli.


Bahkan Brandon tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan simbahnya si Mini andai saja mereka tadi tidak datang, apa pasangan suami istri yang sudah sama-sama renta itu harus mengurus dirnya sendiri seperti tadi.


Para dokter sudah melakukan pemeriksaan utuk simbah dan sebentar lagi sudah akan di bawa ke ruang perawatan. Mini sepertinya juga terlihat lega saat simbahnya mendapatkanperawatan yang layak, gadis itu masih duduk di tepi ranjang untuk membantu menyuapkan bubur untuk simbahnya.


Melihat pemandangan seperti itu rasanya tiba-tiba Brandon jadi ingin marah kepada keluarganya, dan baru saat itu dia ingat, hari sudah malam mungkin dia harus menghubungi ibunya karena jelas mereka tidak bisa pulang sekarang.


Setelah kepanikan semua orang rumah yang cemas menunggu kabar Brandon sampai malam, tentu Tante Marris sangat antusias saat tiba-tiba putranya itu akhirnya menelfon.


"Brandon, kemana saja kau ini!" ibunya terdengar agak kesal.


"Brandon lagi nemenin Mini pulang kampung?" jawab brandon masih santai meski  mamanya mulai bereriak


"Apa-apaan kau ini!"


"Aku hanya ingin memberitau jika sepertinya kami belun bisa pulang hari ini atau besok, karena kakek Mini ternyata sakit."


"Apa?"


"Iya ,kakek Mini sakit dan hanya di rawat sama neneknya seorang diri karena kalian mengambil anak gadisnya!" ketus Brandon terdengar marah.


Tante Marrisa tau jika putranya itu sepertinya memang agak kesal.


"Kami tidak tau kalu mereka sakit."


"Seharusnya Mama ta kalo mereka sudah tua!"


"Dini biar mama bicara sama Mini."


"Gak usah, Ma, dia masih mengurus simbanya," tolak Brandon sengaja tidak ingin mengijinkan mamanya untuk bicara dengan Mini, karena jujur saja dia masih agak kesal.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Yante Marisa pada putranya.


"Kami sudah membawanya kerumah sakait."____"dan aku juga akan tinggal mungkin untuk bebrapa hari lagi."


"Sampaikan saja sama yang lainnya Mini baik-baik saja dan dia bersamaku."


Setelah Brandon menutup telfonnya Tante Marisa langsung memberitau Bang Evan dan yang lain yang sedari tadi memang sudah tidak sabar menunggu kabar dari Brandon termasuk Efa yang tetap ngotot gak mau pulang.


Sebenarnya dia juga agak kesal dengan tindakan Brandon tapi dia juga gak bisa ngomong apa-apa kecuali kemudian melihat bang Evan dan hanya ingin menyalahkannya. Karena seharusnya dia yang menemani tunangnya bukannya malah si Brandon. Efa kesal trus buru-buru pulang karena percuma juga dia ada di sini.


Alex dan Bang Harris yang baru datang sepertinya juga ikut terkejut ketika mendengar kabar tersebut, karena Bang Harris sendiri dari tadi juga belum berhasil menghubungi Brandon.


"Kenapa tidak kita bawa saja kakek dan neneknya Mini kemarin?" saran Alex.


" Tapi apa mereka mau?" kata Bang Harris yang tau jika orang tua kadang agak kolot kalau di ajak pergi dari rumahnya sendiri.


"Kita bisa membicarakannya" ___"tidak mungkin kita membiarkan mereka hanya tinggal berdua di usia tuanya sperti ini dan kita malah mengambil Mini dari mereka." Sepertinya memang cuma Alex yang bisa menangkap kecemasan Brandon.


"Istrimu benar," dukung Tante Marrisa.


Sementara Bang Evan lebih banyak diam karena sepertinya dia sendiri juga masih tidak mengerti kenapa bukan dirinya yang bersama gadis itu dan justru lagi-lagi malah Brandon, adik laki-lakinya yang sembrono.


"Sebaiknya kita tunggu dulu kabar perkembangan kesehatannya baru kemudian nanti kita bicarakan rencana ini," saran Bang Harris cukup bijak untuk mengatasi situasi saat ini. Karena mereka juga tidak bisa tergesa-gesa dengan menboyong orang tua yang fisiknya sedang tidak sehat untuk melalui perjalanan, "Paling tidak pastikan dulu kakek dan nenek Mini cukup sehat untuk perjalanankemari."


Bang Haris sengaja hanya menatap Evan sekilas karena dia pasti juga tau seperti apa perasaan adik laki-lakinya itu kali ini. Bang Harris tau persis sifat adik laki-lakinya itu, meskipun sering terlihat acuh tapi sejatinya dia juga peduli dengan Mini. Walaupun gadis itu sama sekali tidak seperti tipe-tipe wanitanya selama ini tapi gadis seperti Mini pasti tidak akan sulit untuk bisa menyentuh hatinya.


****


Like dan share ya.... Bantuin promo biar tambah banyak yang baca.