Alex

Alex
Bab 30 problem



Pesawat Bang Harris baru saja landing pas dia buru-buru menghidupkan kembali HP-nya buat hubungin Bang Nugie. Bang Harris cuma mau minta tolong buat ketemuan sore ini. tapi Bang Nuginya gak bisa karena terlanjur janji mau bantuin Alex mempersiapkan acara penggalangan dana buat kegiatan sosial sekolahnya nanti malam.


Si Chacha itu memang suka jadi yang paling sibuk, sampai se Abang-abangnya juga harus ikutan sibuk kalau dia udah ada kegiatan sosial.


"Kalau si Nolan, gimana, kira-kira dia bisa gak? "


"Kayaknya si Nolan malah udah berangkat duluan sama adik gue. "


"Ya udah, nanti gue aja yang samperin kesana, kasih aja alamatnya! "


Bang Harris langsung aja nutup telfonya, mungkin agak kesal karena pas lagi di butuhin mereka pada gak ada semua.


Sebenarnya malam itu Bang Harris udah datang tapi karena ngelihat acaranya rame banget dia jadi mengurungkan niatnya buat masuk, karena sepertinya percuma nyariin Nolan di tengah keramaian seperti itu. Bang Harris buru-buru balik setelah di beri brosur oleh salah satu panitia, dia cuma lihat sekilas kemudian dia taruh begitu aja di atas dasbor mobilnya.


****


Setelah ketegangan di kantor tadi siang rasanya Bang Harris masih ingin marah dengan dirinya sendiri.


Itulah kenapa Bang Harris masih merasa bersalah jika harus meningalkan papanya berada di antara orang-orang seperti itu, yang dia tau jumlahnya tidak hanya satu di sekitar mereka. Meski dia juga tau papanya bukan orang yang baru kemarin berada di bisnis ini tapi tetap saja Bang Harris merasa cemas. Dia masih bisa terima saat disebut pengecut karena di tuduh kabur dari tanggung jawabnya. Tapi, dia tetap tidak akan terima jika ada yang berusaha memanfaatkan kebaikan orangtuanya, meskipun itu dari keluarganya sendiri sekalipun.


Mungkin kali ini Bang Harris masih kesal dan tetap tidak ingin dibantu oleh siapapun. Dia menghentikan mobilnya di tepi trotoar karean sedang tidak tau harus kemana, keputusan yang di ambilnya ini memang sulit dan dia hanya punya sedikit waktu untuk segera menyelesaikannya. Dia tidak penah ingin lari dari tanggung jawab, tapi rasanya memang mustahil jika satu kepala harus menangani itu semua. Gak sengaja Bang Harris ngelihat brosur yang masih ada di atas dasbor mobilnya, karena iseng penasaran dia coba meraihnya.


Dari situ dia baru tau jika acara nggalangan dana semalam di peruntukkan bagi para penyandang cacat yang terlantar dan tidak mendapat pendidikan.


Sepertinya dia juga tidak bisa menyalahkan sahabatnya yang mungkin memang lebih baik memilih kegiatan yang lebih mulia dari pada melibatkan mereka dalam permainan kotor pamannya. Bang Harris masih memperhatikan beberpa nomor rekening yang tertera di sana kemudian menyimpan salah satunya dengan nama admin Alex beserta asal sekolahnya, karena sepertinya acara itu merupakan acara amal gabungan yang di ikuti oleh beberpa sekolah dan kampus.


Tidak biasanya Bang Harris pulang kerumah, karena biasanya dia lebih suka memanfaatkan waktu istirahat nya yang singkat di Apartemennya sendiri yang lebih tenang tanpa harus terganggu oleh keributan adik-adiknya. Sepertinya Mama Bang Harris juga baru tau jika putranya  pulang, dia pun segera menyusul naik kekamar putra tertuanya yang belakangan sudah jarang sekali di tempati. Tapi kamar tersebut memang selalu terjaga dengan bersih dan rapi jika sewaktu-waktu si Abang tiba-tiba mau pulang seperti ini. Pas mamaya sampai ke atas, ternyata Bang Harrisnya malah sudah langsung tidur, seperti orang yang sangat kelelahan, dia cuma melepas kaus kaki dan melongarkan kancing  kemejanya, bahkan pintu kamarnya masih di biarkan setengah terbuka begitu saja. Selain karena pengaruh jetlag setelah penerbangan panjang, semalam ternyata Bang Harris juga tidak bisa benar-benar tidur, karena dia berusaha menyelesaikan perekapan data yang harus segera di selesaikannya alhir minggu ini.


Melihat putranya seperti itu, tentu tidak ada seorang ibu yang tidak merasa sedih, Bang Harris adalah seorang pekerja keras tak peduli sebanyak apa sebenarnya fasilitas yang bisa dia dapat tapi di memang lebih suka menangani tanggungjawabnya sendiri. Sifat kerasnya itu sepertinya memang diwarisinya dengan utuh dari sang Ayah. Bukan hal buruk sebenarnya, karna di akui atau tidak memang disiplin dan sifat pantang menyerah mereka itulah yang telah mengantarnya pada kesuksesan. Walaupun sering kali perdebatan menjadi sesuatu yang sulit dihindari untuk dua orang yang saling keras kepala. Tapi paling tidak mereka sudah saling tau jika perdebatan itu adalah bagian dari penyatuan fisi untuk bisa menemukan titik temu.


Entah sudah berapa lama Bang Harris tertidur sampai dia melewatkan makan malam dan tidak ada yang berani membangunkannya. Dia bangun dengan tirai kamarnya yang sudah sedikit terbuka namu masih dengan pakaian yang sama dengan yang dia pakai sejak kemarin. Bahkan Bang Harris tidak ingat untuk mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan dia baru sadar saat ada yang terasa mengganjal ketika menggeliat bangun tadi.


Dia membuka beberpa pesan tanpa ingin benar-benar membacanya, sampai dia kembali tidak sengaja membaca nama Alex dari hasil camera hp-nya yang ternyata juga belum tutup sejak kemarin. Entah kenapa hal itu membuatnya sedikit tersenyum, dia masih memperhatikan  nama Alex dan segera terpikir untuk melakukan sesuatu yang mungkin akan membuatnya sedikit lega.