Alex

Alex
bab 87



Rutmini masih nunggu di lantai bawah sambil ngasih makan kucing peliharaannya Tante Marrisa yang beberapa hari ini udah jadi temannya ngobrol kalau lagi pad gak ada orang yang bisa dia ribetin sama pekerjaannya.


Gak lama Brandon sudah kembali turun, dia nampak lebih segar dengan Tshirt putih dan jaket bomber biru gelap. Dia langsung menghampiri si Mini yang udah berdiri setelah kembali naruh kucing ke dalam kandang trus nitip pesan sama mbak-mbak di dapur buat gantiin susunya satu jam lagi.


"Kok tempat duduknya gak enak ya, Bang, " keluh Mini pas ikut masuk kedalam mobil aneh yang isinya cuma cukup untuk dua orang. Dan tiba-tiba dia ngerasa  seperti pembantu norak yang lagi di ajak jalan-jalan tuannya pakai mobil mahal.


"Pasang sabuk pengamannya. "


"Dimana lagi ini pencetnya, Bang, aduh banyak bentuk aku bingung. " keluh Mini yang kerepotan karena harus sambil ngelurusin kakinya yang cuma pakai rok selutut dan agak longgar jadi sempat beberapa kali tersibak jika tidak sambil dia pegangin.


Akhirnya Brandon yang harus masangin sabuk pengamannya sangking noraknya si Mini, tapi kelihatannya Brandon nyatai aja dan sama sekali tidak terganggu dengan kenorakan Rutmini. Dan pas mesin baru nyala dan itu mobil langsung lari si Mini sempat nyebut nama kakek dan neneknya beberapa kali, sambil baca-baca doa dan dia baru bisa diem pas akhirnya ngerasa ternyata mereka  melaju dengan sangat halus. Barulah Mini noleh si Brandon yang balas senyum jahil sambil mengedikkan alis tebalnya .


"Mini Suka? "


"Bingung Bang, " trus dia cuma geleng-geleng gak jelas.


Bukan Brandon jika gak iseng dan malah tiba-tiba nambah kecepatan mobilnya.


Tapi kali ini si Mini gak lagi nyebutin nama kakek dan neneknya, kecuali cuma ngulang-ngulang nama Brandon beberapa kali sambil nutup mata. Dan sepertinya Brandon suka ketika Mini menyebut-nyebut namanya sambil mencengkram erat kedua sisi jok mahalnya.


"Memang biasanya Bang Evan  ngajakin Mini naik mobil yang mana?" tanya Brandon pas udah balik dengan kecepatan normal.


"Belum pernah Bang, aku belum pernah diajak Bang Evan keluar kemana-mana. "


"Jadi?" brandon terlihat heran.


"Mungkin Bang Evan nya sibuk. "


"Jadi Mini juga belum penah keliling Jakarta" kayaknya semakin kesini si Brandon juga semakin heran.


"Belum, " jawab Mini malu-malu.


Sepertinya Brandon benar-benar merasa ikut prihatin pas ngelihatin si Rutmini.


Bagaiman kalo kita jalan-jalan dulu, Mini mau kenama kuanteri ?


Mini mikir bentar,"Sebenarnya aku pingin lihat monas, Bang."


"Ini sudah agak kesiangan kalau mau lihat monas, nanti aja hari minggu pagi kita kesana," dan tiba-tiba mereka berdua malah kayak udah bikin jadwal.


"Trus sekarang Mini mau kemana?"


"Kita langsung beli hadiah aja buat mamanya Bang Brandon, kan jalan-jalannya hari minggu aja."


Sepertinya Brandon setuju, trus nyalain musik di mobilnya. Belakangan ini Brandon lagi suka dengerin Heathens nya Twenty One Pilots, dan diem-diem si Mini kayaknya juga ikut nyimak itu lagu, trus ngelihating si Brandon trus bilang.


"Liriknya Bagus bang."


Lagu itu kayak memberitau kita untuk berhati-hati dalam berkawan karena bahkan kita kadang tidak tau siapa sejatinya orang yang duduk di sampingkita. Mini hanya tidak menyangka jika pria seperti Brandon ternyata memiliki kepedulian akan kemanusiaan seperti itu, karena Mini yakin dia mendengarkan lagu tidak hanya untuk sekedar di dengarkan.


"Mini suaka? " tanya Brandon dan Mini mengangguk.


"Aku baru dengar, Bang. "


"Aku hanya mendengarkan beberapa lagunya saja."


Baru setelah itu mereka sama-sama dengerin Blurryface, dan sampai Mini senyum-senyum sendiri pas nyimak liriknya.


"Kenapa? " tanya Brandon.


"Apa Abang juga pernah merasa seperti itu? "


"Mungkin dulu iya, pas aku masih iri banget sama Bang Harris. "


Menurut kebanyakan orang Brandon memang paling mirip sama Bang Haris tapi gak jarang jugabdia merasa kecil hati sama prestasi abangnya.


Semua orang pasti pernah melalui masa yang berantakan meskipun sampai sekarangpun si Brandon ya tetap aja yang paling berantakan. Tapi dari semua itu Mini jadi tau jika Brandon sangat menyayangi Mamanya.


"Belum tau, makanya aku ngajak kamu biar bisa kasih ide," jawabnya masih sambil asik ngikutin ketukan music pakai jari telunjuknya sambil masih megang stir.


"Aku gak tau, Bang, " cemas Mini kemudian.


"Biasanya kalau wanita ulang tahun dia pingin hadi apa? "


"Aku gak pernah ulang tahun, Bang apa lagi dapat kado, jadi aku gak ngerti. "


Memang biasanya Abang beliin apa?" si Mini balik nanya.


"Biasanya tas dan selalu tas, sampai mama bosan ngelihatinnya karena aku malas mikir, bilangnya."


"Mungkin Tante Arrisa ingin Abang cari yang berbeda."


"Aku tidak punya ide, karena sepertinya Mama sudah beli semua yang dia suka."


"Mungkin ada hobi yang Tante Marisa suka?


"Kulihat Mama lagi gak punya hobi lain kecuali menggendong cucuntya, dan gak mungkinkan aku ngasih dia cucu."


Mini malah ketawa.


"Tapi mamanya Abang juga suka kucing, " kata Mini kemudian.


"Ya," Brandon mengakui dari dulu mamanya memang menyukai hewan berbulu itu sebagai peliharaan.


"Bagaiman jika kita beli kucing satu lagi karena yang di rumah sepertinya sangat kesepian. "


"Agak aneh," pikir Brandon sebentar "tapi bisa kita coba."


Brandon setuju dan mereka segera mencari pets shop terdekat yang ternyata menjual cukup banyak jenis kucing.


Mereka berdua ternyata malah bingung, Brandon yang sama sekali tidak tau tetang kucing dan si Mini yang  selama ini taunya cuma kucing kampung. Tadinya Mini menganggap semua kucing ras berbulu lebat itu sama, tapi pas penjaga toko menjelaskan masing-masing jenisnya mereka berdua langsung sama-sama pening.


"Menurutmu yang laki-laki atau perempuan? " singkat Brandon.


Setelah mereka sibuk berdebat tentang jenis ras dan pilihan warna  sekarang mereka juga masih gak ngerti harus mengadopsi yang laki-laki atau perempuan.


Mereka sempat berdebat lagi karena Mini bersikeras mengambil anak kucing perempuan berbulu kuning yang menurutnya manis dan lucu karena matanya bulat dan lebar.


"Kau pasti memilih itu karena mirip denganmu, " protes Bradon yang sebenarnya ingin kucing laki-laki berwarna abu-abu atau hitam.


"Bagaimana jika sepasang saja," saran pemilik toko agar mereka berhenti berdebat.


"Kenapa tidak terpikir dari tadi! " kesal Brandon pas buru-buru berdiri


karena jujur saja dia juga kurang suka ber lama-lama di kandang kucing. Makannya dia langsung setuju aja tanpa berpikir panjang lagi.


Dan begitulah akhirnya mereka membeli dua anak kucing untuk hadiah ulang tahun Tante Marrisa


"Sepertinya kita harus langsung memberikan hadiah ini karena tidak mungkin kita menyimpannya sampai besok di dalam kotak, " saran Brandon ketika mereka berhenti di garasi.


"Aku bisa menyimpannya dulu di kamarku, "ide Mini cukup bersemangat.


Dan Brandon juga kembali setuju karena dasarnya memang dia tidak suka ribet. Jadi dia setuju saja dan membiarkan Mini menyinpan dua anak kucing itu di kamarnya.


"Jangan sampai siapapun melihatnya, atau ide kejutanmu ini  tidak akan berhasil." Brandon coba mengingatkan sebelum si Mini mengendap-endap membawa kotak yang bergerak-gerak itu kedalam kamarnya.


Mini meletakkan box kucing  tersebut di samping lemari, tempat yang cukup aman karena memang tidak pernah ada yang masuk ke kamarnya. Biasanya si Mini memang membersihkan dan merapikan kamarnya sendiri jadi jarang sekali pengurus rumah mengunjungi kamar itu lagi sejak Mini menempatinya.


Untung anak-anak kucing tersebut juga tidak rewel dan lebih banyak tidur asal perutnya kenyang. Jadi malam itu Mini juga bisa istirahat dengan tenang.


****


Jangan lupa like ya....