
Apakah ada anggota keluarga yang laki-laki? tanya perawat yang baru akan memasang cateter untuk kakek Mini.
Mini dan Brandon sempat saling menoleh bingung.
"Saya juga cucunya," kata Brandon kemudian dan perawat itu terlihat lega plus setengah gak nyangka kalau cucunya si kakek tenyata bisa ganteng banget kayak gitu.
"Mungkin Anda bisa membantuku sebentar?" kata perawat itu.
"Ya, " jawab Brandon yang sudah berjalan mendekati perawat tersebut.
Tadinya Mini tidak yakin Brandon akan mau melakukannya, tapi ternyata dia justru melakukannya dengan sangat baik bahkan tidak terlihat jijik sama sekali ketika harus ikut melepas popok untuk kakeknya.
"Terimakasih, Bang," kata Mini setelah mereka selesai.
"Bukankah kau juga mengurus ayahku," kata Brandon, dia memang akan selalu ingat bagaimana Mini bisa begitu telaten mengurus papanya selama ini.
"Tuan Serkan sudah seperti orang tuaku sendiri."
"Mereka juga bisa menjadi orang tuaku, Mini,"____"kau tidak perlu cemas."
Mini hanya tersenyum ketika ikut memperhatikan kakek dan neneknya.
Dia juga berpikir, mungkin jika bukan Bang Brandon yang bersikeras untuk mebawa simbahnya kerumah sakit pasti, Simbah sekarang juga masih kesulitan untuk bernafas.
Sekarang Kakeknya Mini sudah mendapat bantuan selang oksigen dan lendir di paru-parunya juga sudah sempat di sedot, jadi sekarang kakeknya bisa bernafas dengan lega, tidak seperti di rumah kemarin yang sampai harus tersengal-sengal dan terbatuk-batuk. Brandon juga sudah banyak membantunya mengurus kakeknya selama dua hari ini, bahkan dia sendiri sampai tidak bisa beristirahat dan hampir tidak tidur sama sekali sejak kemarin.
"Istirahatlah Mini sepertinya kakekmu sudah jauh lebih baik,"____"aku akan coba keluar untuk mencari makanan untuk kalian."
"Sudah, jangan tinggalkan kakek dan nenenkmu, lagi pula aku juga gak mungkin hilang karena nyasar," canda Brandon dan kemudian Mini mengangguk.
"Janganlama-lama " katanya seolah-olah akan segera rindu saja, karena memang secara gak sadar sepertinya Mini memang juga sudah mulai merasa ketergantungan dengannya.
Bagaimana seandainya tidak ada Bang Brandon yang baik hati itu dalam hidupnya, Mini memang merasa sangat beruntung dengan semua kebaikan pemuda itu, meskipun semua orang bilang dia usil tapi bang Brandon memang selalu baik padanya. Dan tidak pernah sekalipun meremehkannya atau pun proters tentang apapun karena dirinya anak kampung. Bahkan Bang Brandon tidak keberatan ikut begadang dan sampai duduk di lantai teras rumah sakit untuk ikut menjaga kakeknya.
Rumah sakit di kampung Mini tidak seperti di kota yang fasilitasnya serba ada, di ruang perawatan VIPnya pun juga cuma ada satu buah sofa. Jadilah Brandon Mengalah untuk duduk di luar semalaman. Tapi sepertinya dia juga nyaman-nyaman aja karena tak sedikit juga keluarga pasien lainnya yang juga sampai harus tidur di lantai demi untuk menjaga keluarganya yang sedang sakit. Tentu pemandangan seperti itu awalnya agak aneh menurut Brandon tapi Mini bilang kalau di kampungnya memang seperti itu dan akhirnya Brandon pun tidak segan untuk bergabung bersama mereka.
Beberapa orang yang mengajaknya ngobrol bahkan sempat heran jika ternyata pemuda kota yang kelihatannya anak orang kaya itu juga sangat ramah. Brandon juga ikut prihatin ketika mendengar cerita-cerita mereka tentang kondisi keluarganya yang sedang sakit. Apalagi Brandon tau jika tidak sedikit dari mereka yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, bahkan perawatan alakadarnyapun sudah sangat mereka syukuri.
Ada seorang ibu-ibu menawari Brandon makanan dari bekalnya. Makanannya aneh, karena Brandon memang belum pernah melihat makanan seperti itu dan hanya di bungkus daun pisang. Tapi Brandon tetap memakannya meskipun Mini sempat khawatir jika brandon tidak akan bisa makan makanan seperti itu, tapi Mini lega karena ternyata Brandon justru memuji keunikan makanan tersebut dan si Ibu sampai ikut girang sangking senengnya dapat pujian dari anak muda tampan yang menurutnya mirip sama salah seorang Bintang film Bolowood idolanya.
Brandon memang memiliki wajah identik orang-orang Eropa timur, karena Tante Marrisa sendiri juga berdarah Turki patas aja kalau putra-putranya pada ganteng-ganteng semua. Selain itu Tuan Serkan juga masih keturunan Arab dan sedikit India, Orang Tuanya dulu membuka usaha di kota mereka ini sebagai pedagang Karpet Turki yang sangat kaya, sampai bisa menyekolahkan anak-anaknya keluar negeri dan jadi orang-orang sukses seperti Tuan Serkan.
Sebab dulu juga di besarkan di kota kecil, karena itu Tuan Serkan mendidik anak-anaknya untuk tetap menjadi orang-orang yang tidak sombong. Dia mengajarkan jika setiap orang berhak untuk sama-sama di hargai, tanpa membedakan mereka miskin ataupun kaya.
"Tidak ada kekayaan yang bisa menjadiakan orang sombong, karena yang menjadikan orang itu sombong adalah kebodohannya. "
Begitu pesan yang selalu di ajarkan Tuan Serkan kepada putra-putranya.
Jika sejatinya hidup itu tentang manfaat seharunya kita tau jika makan nasi sepiring saja sebenarnya kita sudah kenyang, lalu untuk apa piring-piring yang lain kita sombongkan jika tidak bermanfaat untuk kita atau yang lainnya.
*******