
"Kenapa kau ada di sini? " tanya Alex heran karena ketika dia dan Bang Haris baru memasuki rumah mereka justru mendapati Evan sedang berebah di sofa ruang keluarga mereka seperti sedang berusaha keras untuk mejamkan mata.
"Ijinkan aku tidur di rumah kalian. " katanya masih sambil memejamkan mata.
"Kupikir adik laki-lakimu sedang tidak sehat, Bang," bisik Alex meski dia tau gejala flu Evan tak separah itu, hingga dia hilang ingatan untuk pulang ke rumahnya sendiri.
"Sebaiknya kau pulang saja!" tegas Bang Harris pura-pura acuh.
"Aku hanya sedang tidak ingin pulang."
"Kau bisa pergi ke hotel bukannya malah kemari untuk mengganggu kami. "
"Aku tidak suka tinggal sendiri, " kelit Evan.
"Kau bisa menyewa teman wanita untuk menemanimu," tambah Bang Harris.
"Kau benar-benar kakak yang menyesatkan! " tegur Alex meskipun dia tau Bang Harris tidak sungguh-sungguh.
Alex berjalan mendekati Evan yang sudah bangkit untuk duduk.
"Ada kamar bayi jika kau ingin menginap, " kata Alex sambil mengedikkan alisnya jahil.
"Begitu banyak kamar di rumah kalian, aku tidak percaya kau menawarkan kamar bayi perempuan untukku."
"Apa kau lebih memilih pulang untuk menemui Rutmini? " goda Alex tak kalah usilnya ketika sepontan membuat mata Evan melebar.
"Oh, bahkan mendengar namanya saja aku sudah merasa aneh, " keluh Evan seolah ingin meremas perutnya yang tiba-tiba mual.
"Tidak ada yang buruk dari nama Rutmini," kilah Alex saat memiringkan senyumnya, "kau bisa memangilnya Rut atau jika dia imut kau juga bisa memanggilnya Mini."
"Kau memang luar biasa jenius, tapi aku tetap tidak mau pulang!" tegas Evan.
Lagi pula siapa yang menyangka jika Evan bakal sebegitu paranoidnya dengan gadis desa bernama Rutmini itu, padahal mereka sama sekali belum pernah ketemu.
"Pulanglah Evan, kau buka orang jahat yang akan ngabaikan orang lain seperti itu." tambah Alex ketika menatap Evan dengan lebih yakin. "Temui dia, karena bagaimanapun dia juga sudah menunggumu, dan mencemaskanmu. Nanti jika kau tetap tidak menyukainya kami janji akan membantumu. " Alex juga menatap Bang Harris untuk meminta dukungannya.
"Kau tau, akan sangat aneh jika kau hanya kabur kerumah kami hanya kareana takut dengan gadis kampung bernama Rutmini. " ejek Bang Harris dengan nada dinginnya yang mengesalkan.
Mungkin karena kesal dan tidak mau terus di ejek, akhirnya Evan segera bangkit berdiri dan pergi tanpa bicara apa-apa lagi.
"Kira-kira dia mau kemana? " tanya Alex masih Khawatir.
"Pulang! " jawab bang Harris singkat, tapi sepertinya dia cukup yakin dan Alex pun ikut merasa lega.
"Menurutmu apa dia tidak akan menyukai Rutmini. "
"Entahlah, sebenarnya Rutmini tidak buruk, mungkin dia hanya masih terlalu polos dan tidak akan sesuai dengan selera Evan."
"Rutmini cantik, Bang," bela Alex, "sepertinya dia juga sangat baik, Abang sendiri lihatkan ,bagaimana tadi dia sangat mencemaskan adik laki-laki Abang."
Sepertinya Bang Harris setuju, dan Alex yakin pasti Tuan Serkan juga tidak akan sembarangan memilih gadis untuk putranya.
Sementara itu Evan yang dipaksa pulang sebenarnya juga masih malas untuk menemui Rutmini. Dia malah cuma bilang mau mandi dulu dan istirahat sebentar karena kurang enak badan. Tapi nyatanya dia tidak turun lagi, bahkan untuk makan malampun juga tidak.
"Sepertinya Bang Evan ketiduran, " kata salah seorang pelayan yang baru saja Tante Marrisa suruh untuk mengecek ke kamar putranya.
Ternyata Evan memang ketiduran sampai pagi. Saat kembali terbangun oleh alaram di HPnya, Evan pun segera terjaga karena ingat dia harus segera pergi ke kantor dan dia tidak boleh terlambat karena sudah janji untuk menenani Alex dalam pertemuan hari ini.
Tapi siapa yang menduga jika ternyata kepalanya terasa berdenyut-denyut, seperti sedang di pukuli palu berduri. Evan kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur untuk memejamkan mata dan mencengkram kepalanya yang rasanya seperti retak.
Evan segera meraih HPnya dan mengetik pesan kepada Alex bahwa dirinya tidak bisa pergi ke kantor hari ini.
Evan coba kembali memejamkan matanya agar merasa lebih baik, sampai beberapa saat dan sama sekali belum ada perubahan. Dia ingat semalam langsung tidur tanpa meminum obat, dan kali ini dia agak menyesal. Bahkan dia tidak makan malam, karena itu dia juga tidak berani langsung munim obat tanpa mengisi perutnya dulu.
Evan langsung turun dari kamarnya dan menuju dapur untuk mencari pengurus rumahnya, walaupun dia tau jam segini biasanya mereka juga belum ada yang menyiapkan sarapan. Tapi mungkin dia bisa membuat sereal atau dua lembar roti juga sudah cukup.
Tapi untungnya udah ada mbak-mbak sedang membersihkan dapur dan Evan langsung menghampiri pantry untuk minta di buatkan roti karena dia ingin segera minum obat setelah itu.
Si Rutmini juga tidak menyangka jika pria yang baru saja menegurnya itu adalah Bang Evan. Dia nampak lesu dan malas, mungkin karena itu juga dia sampai tidak memperhatikan jika mbak-mbak yang di suruhnya itu adalah si Rutmini.
Tentu Rutmini tau jika itu adalah Bang Evan karena dia juga sudah pernah melihat fotonya kemarin di ruang keluarga, hanya saja si Rutmini tidak perna menyangka jika aslinya jauh lebih tampan, bahkan saat sedang baru bangun tidur sekalipun.
Wajar saja kalau Rutmini tiba-tiba merasa sanagat cocok jika di jadikan pembantunya saja.
"Abang mau selai apa? " tanya si Rutmini ketika mengangkat dua lembar roti panasnya dari panggangan.
"Nutella saja, " jawab bang Evan yang ternyata juga sangat ramah sebagai tuan muda.
"Sekalian ambilkan air mineral karena aku harus minum obat."
"Baik, Bang, " Rutmini segera mengambil gelas dari rak yang kebetulan agak tinggi jadi dia sampai harus berjinjit-jinjit dan tetap tidak sampai. Jujur Evan sempat prihatin dengan wanita bertubuh mungil itu, karena itu akhirnya Evan berjalan sendiri untuk mengambil gelas dan sepertinya Rutmini benar-benar tekejut ketika mendapati Pria itu sudah berada tepat di belakangnya dan meraih gelas kaca yang sudah nyaris di sentuhnya itu lebih dulu.
"Maaf, Bang, " Rutmini merasa tidak enak, tapi sepertinya Bang Evannya nyantai aja dan segera duduk kembali dimeja pantry setelah mengambil airnya sendiri dari dispenser.
"Apa Bang Evan mau sesuatu lagi? " tawar Rutmini hati-hati karena takut salah meskipun dia tau bang Evan adalah orang yang baik.
"Tidak, terimakasih, " tolaknya bahkan tanpa melihat si Rutmini, karena Evan sepertinya lebih konsentrasi untuk cepat-cepat menghabiskan rotinya dan segera menelan obat untuk meredakan rasa berdenyut dikepalanya.
"Bilang ke yang lain, jangan membangunkan ku karena aku sudah sarapan dan hanya ingin beristirahat. " Pesan Evan sebelum bangkit untuk pergin ninggalin pantry.
Sementara itu sepertinya si Rutmini lebih senang bengong buat ngelihatin punggung bang Evan sampai benar-benar pergi.
Hari masih sangat pagi bahkan belum satupun pengurus rumah yang sudah bangun, si Rutmini buru-buru kembali mengelap alat pemanggang roti dan mencuci gelas dan piring bekas Evan tadi. Sebentar lagi para pengurus rumah akan segera bangun dan mereka pasti akan melarangnya mengerjakan apapun padahal si Rutmini bakal merasa badanyan pegel-pegel jika tidak dipakai untuk beraktivitas pagi-pagi.
Mungkin dia bisa mengelap meja dapur itu sekali lagi, meskipun sebenarnya juga tidak kotor. Tapi itulah Rutmini yang suak mencari-cari pekerjaan untuk merepotkan dirinya sendiri. Rencananya nanti jika para pengurus rumah sudah bangun dia bakal minta sedikit jatah pekerjaan untuk mengusir rasa bosannya di rumah besar ini.
Rumah Tuan Serkan memang sangat besar bahkan Rutmini masih agak bingung untuk mencari letak kamarnya sendiri. Maklum karena di rumahnya dulu juga hanya ada dua kamar dan satu bilik kamar mandi kecil yang mereka pakai beramai-ramai, makanya Rutmini juga merasa aneh jika sekarang tiba-tiba harus mandi diruangan yang hampir sama luasnya dengan rumahnya di kampung.
Jangan lupa like ya.....