Alex

Alex
bab 17



Bang nugie dan Mira lagi nginap di rumah karena malas pulang setelah kami ngumpul-ngumpul semalam, makanya rumah sudah jadi berisik pagi-pagi begini. Padahal perasaan Bang Nugie baru pindah beberapa blok aja, tapi kok rasanya mereka kayak benar-benar sudah habis pindah di dekat hutan kalimantan, hobi teriak-teriak si abang sudah persis kayak Tarzan.


Aku sudah siap-siap mau berangkat ke kantor, waktu magangku tinggal beberpa minggu lagi, dan Chacha akan segera selamat dari penderitaan.


Bang Nugie udah teriak lagi dari lantai bawah, pokoknya udah kayak beneran kelamaan tinggal di hutan aja itu si abang.


"Alex, tu ojol lo datang!"


"Chacha gak pesen ojol, Nyokap kali minta anter ke pasar!" balasku, balik teriak.


"Ojolnya ganteng'lo ... , cepet buruan turun! takutnya entar keduluan mbok supi."


Pak Salim pasti salah jadwal lagi, tapi kenapa si abang tetap teriak-teriak, udah dibilang Chacha gak pesan,"Chacha berangkat sama Papa, Bang."


"Kayak anak paud aja Lo minta di antar-antar Bokap segala."


"Ah, biar aja."


"Bilang ojolnya lagi promo, gratis, Lo gak usah bayar! " triak Bang Nugi, lagi.


"Apaan sih, Bang, maksa banget! "


"Nah, tu! akhirnya turun juga si Tuan Putri," tunjuk Bang Nugie pas aku udah berdiri di ujung tangga mau ngelempar sendal berkepala kucing.


"Cepetan lo turun, sebelum beneran mbok supi yang diboncengin."


Bang Nugie emang tengil, ngejekin aku sambil pura-pura nyiulin cowok di sebelahnya.


Sumpah malu banget, cepet-cepet aja ku lempar tu sandal berkumis yang langsung ditangkis sama Bang Nugie entah dengan ilmu silat atau kungfu panda, yang jelas sendal itu langsung terpental.


" Hati-hati entar pecah tu sepatu kaca," kata Bang Nugie pas lihat Bang Harris mungut sendal kucingku yang kebetulan jatuh di samping kakinya.


"Si Alex baru putus, Bang, makanya jadi agak buas gitu."


"Abang yang anter, ya? " tanya Bang Harris masih sambil megang sendal berkepala kucing,"tiap hari juga gakpapa."


Chacha malu setengah mati, tapi Bang Harris serius dan Chacha gak tau lagi bagai mana harus nyembunyiin kebahagiaanku yang tiba-tiba berantakan ini.


"Eh, eh, adik abang nangis," tunjuk bang Nugi pas segera kuhapus benih air mataku dengan kasar.


Chacha balik lari ke kamar dan bang Nugie sepertinya ngebiarin bang Harris gejar naik ke atas.


"Alex, boleh Abang masuk?"


"Ini kamar Chacha, gak ada yang namanya Alex! " tolakku udah kayak anak-anak yang lagi merajuk.


Tapi tiba-tiba Chacha sudah kembali duduk dan menyingkirkan bantal yang sempat basah karena air mata.


"Jangan panggil-panggil Alex lagi! jangan jemput-jemput Chacha lagi! kalu ujung-ujungnya Bang Harris pergi lagi!" Chacha sudah gak peduli karena rasanya sudah sesak. Biar aja Bang Harris tau bertapa tidak bertanggung jawabnya selama ini dia ngasi perhatian sama Chacha sesuka hati.


"Abang gak bisa naik motor, tapi kemarin sudah belajar sampai dapat SIM resmi di Indo, lihat ini. "


Kayak gak tau Chacha lagi marah aja, si abang malah beneran ngeluarin dompetnya trus ngasih lihat SIM yang baru di dapatkannya itu dengan begitu bangga.


"Ternyata tidak mudah untuk lulus dapat benda ini di Indonesia, sejak di UK abang sudah belajar naik motor tapi di sana jalanannya lebih mudah, cuma waktunya saja yang sulit di dapat. Percaya, gak? Abang sampai di suruh nikung-nikungin balok pas ikut ujian kelulusan kemarin."


Gimana Chacha gak kesel dan justru kepingin ketawa pas Bang Harris malah lebih antusias buat nyeritain pengalaman sepelenya itu sama Chacha.


"Jadi Abang baru bisa naik motor? "


"Dan udah mau boncengin Chaca?"


Kayaknya bang Harris niat banget saat mengangguk yakin.


"Chacha takut bang," bukan cuma takut jatoh, sebenarnya ketakutan Chacha kali ini lebih karena berbagai macam kombinasi perasaan yang sulit di ungkapkan lagi.


Jadi beneran Bang Haris belajar naik motor bertahun-tahun cuma buat boncengin Cahcha. Bang Harris yang gak pernah peduli sama perasan Chacha itu sampai rela meluangkan begitu banyak waktu dan tenang hanya untuk hal sesepele itu. Tiba-tiba aku mulai tidak yakin apa pria ganteng di depan ku itu masih waras?


Dan semua pertanyaan itu tiba-tiba juga membuatku lupa jika tadi baru aja nangis.


Chacha sudah kembali tersenyum ketika menatap Bang Harris.


"Alex, masih simpan cincinnya Bang Harris?"


Aku hanya mengangguk dan segera mengambil cincin tersebut dari dalam laci, kemudian menunjukkannya pada si abang.


"Maaf, Bang, cincinnya Chacha pakek," ingat dulu Bang Harris memang pernah pesan, jangan di pakai dan gak boleh sampai ketahuan bang Nugie.


"Bagaimana?"


Tanya si abang penasaran karena cincin itu memang kegedean, tapi "Lumayan pas di jempol Chacha," tunjukku dan Bang Harris langsung ketawa.


"Hustt!" jangan kenceng-kenceng, Bang, nanti ketahuan Bang Nugie.


"Jika dia berani melarangku, aku akan menculikmu."


"Pakai motor?" tanyaku sambil senyum.


"Ya, biar Bang Nugie gak bisa ngejar."


Karena Bang Nugie memang gak bisa naik motor, dan kamipun kembali tertawa.


Hari itu beneran Chacha di antar ke kantor naik motor sama Bang Harris dan membuat semua orang kantor ikut heboh sama Abang Ojol ganteng yang Chacha bawa. Karena sebagian dari mereka yang sudah bekerja cukup lama pasti sudah tau siapa Bang Harris.


Cuma Dony yang tiba-tiba nyamperin Chacha dan bilang, " Kalian, norak!"


Kami memang norak tapi apa peduliku.....setelah semua yang telah ku lalui bersama Bang Haris tidak akan kubiarkan sindiran Dony mengusik kebahagiaan kami. Kulihat Bang Harris juga mendapat sambutan hangat dari beberapa staf senior yang sedang memberinya ucapan selamat, tapi entah untuk hal apa.


Setelah Bang Harris pergi beberapa teman kantorku pada sibuk nanya, "Pakai pelet apaan, Neng, sampai dapat cowok begituan? "


"Serius, itu anak bos kita lo ajak main ojol-ojolan! " ceplos Bang Hotman si supervisor botak yang sering ngelucu.


"Aduh, Bang mainan apa lagi itu? " triak bang Rudi dari sebrang meja, "boleh gak, Cha, kita ikutan? " tanyanya masih sambil ngetik.


"Sudah jangan di godain terus, entar Chacha gak nafsu makan gara-gara lihat muka-muka mupeng  kalian," sela mbak Heny yang memang udah kayak induk paling subur di kantor ini. Tapi semua suka sama dia karena paling rajin bawa cemilan.


"Hay, Mbak, " sapaku buat terimakasih buat yang udah kasih dukungan.


"Jangan lo kira, aku gak tau kalian juga pada suka ngelihatin tu cowok! " kata Mbak Heny sambil ber kacak pinggang didepan para tim kreatif yang lagi pada bengong ngelihatin induknya.


Serius Chacha ikut geli ngelihatin tu para cowok sampai kompak gitu stress mukanya. Memang ada sebagian dari anak-anak tim kreatif yang suka keganjenan juga kalau lihat  cowok ganteng tapi kan enggak juga semuanya.


Seharian itu kayaknya mereka lagi seneng banget ngejadiin Chacha bahan becandaan, dan sepertinya Chacha memang harus lebih tahan banting buat tebal-tebalin telinga kalau harus ngumpul sama orang-orang yang sudah pada mulai ikut gak waras semua.


*****


Sore harinya Bang Harris jemputin Chacha lagi pakai motornya. Anak-anak pada sempet heboh lagi, tapi Chacha buru-buru kabur nyamperin Bang Harris duluan, biar si abang gak sampai ikut denger kalau Chacha sudah kenyang jadi bahan bullyan mereka seharian.


"Mau langsung pulang atau makan ramen? " tanya Bang Harris pas Chacha baru naik  ke atas boncengannya. Chacha cuma  gangguk-ngangguk sampai kaca helmku sempat ikut naik turun pas Bang Harris ikut benahin pengaitnya karena aku masih kerepotan mengatur posisi duduk yang nyaman.


Jujur chacha agak susah naik motor gede karena biasanya cuma di bincengin Pak Salim pakai motor matic nya.


Tiba-tiba Bang Harris malah narik lengan Chacha untuk berpegangan padanya.


"Abang baru tau kalau naik motor ternyata lebih banyak untungnya," kata Bang Harris pas Chacha udah meluk pinggang kerasnya.


Aduh..., mana si abang cuma pakai kemeja flanel, Chacha kan jadi gak enak ikut pegang-pegang itu tekstur balok-balok padat yang rasanya juga bikin dada chacha ikuta berdebar hangat. Tolong Chacha jangan ikut berpikiran kotor.....


Seumur-umur aku memang belum pernah meluk-meluk pinggang pria dewasa kecuali Bang Nugie tentunya. Tapi, Bang Nugie kan, gak pernah boncengin Chacha pakai motor, makanya aku benar-benar baru tau jika di bonceng pakai motor gede pegangannya harus sampai seperti ini. Beberapa kali aku sudah coba mendorong tubuhku untuk lebih bergeser mundur tapi tetap aja merosot lagi ke depan sampai kesannya kayak maunya nempel terus sama Bang Harris trus gak mau dipisahin.


"Maaf, Bang, Chacha gak bisa mundur lagi, " kataku pas Bang Harris sudah mulai mau jalan. Trus Bang Haris malah narik lenganku lagi untuk memeluknya lebih erat, Chacha yakin si abang juga nikmatin banget kekikukanku dengan senang hati pas dia ngomong.


"Udah kayak gini aja, " sambil sedikit noleh Chacha trus senyum jahil.


Kalau sampai ketahuan Bang Nugie Chacha nempel-nempel kayak dobeltip gini, pasti ngamuk dia. Karena biar Chacha sudah segede ini si abang masih aja cerewet sama aturan-aturannya, pokoknya dia itu gak bakal rela kalau ada cowok yang ngambil untung dari adek perempuannya, padahal dianya sendiri kadang masih ada juga tengil-tengilnya sama cewek.


Bang Harris sudah mulai jalan dan Chacha sudah tidak berani nanya-nanya lagi  karena takut mengganggu konsentrasi, tapi beberapa kali Justru Bang Harris kembali megangin tangan Chacha dan menggenggamnya.


Aduh Bang ati-ati, ingat si abang tuh baru bisa naik motor, yang ada tuh hati Chacha kayak berasa ikut di iris dikit-dikit pas tiap kali ngelewatin tikungan, bisa-bisa habis beneran ini hati pas nyampek parkiran. Tapi si abang malah kayaknya ngetawain ketegangan Chacha, sumpah aku sampai bisa ikut ngerasain pas otot perutnya ikut bergetar karena menahan tawa. Pingin rasanya Chacha cubit sangking gemesnya karena dia kayak gak tau aja kalau stok adrenalin Chacha hampir habis beneran gara-gara kebanyakan di ajak nikung.


Rasanya baru lega saat akhirnya kami sampai juga di halaman parkir restoran ramen dan aku masih hidup. Walaupun mungkin agak pucat, karena Bang Haris langsung ngoreksi dan sempat narik pinggang Chacha buat meluk dikit, sebentar. Beneran cuma sebentar aja, gak pakai lama karena kita kan masih diparkiran, cukup sadar juga kita gak lagi hidup di sinetronnya cabe-cabean.


Ini adalah restoran tempat kami dulu pernah makan bareng beberapa  tahun lalu, akusih masing sering ke sini tapi dengan Mira dan bang Nugie tidak pernah terpikir bakalan kemarin lagi bareng Bang Harris. Rasanya memang masih seperti mimpi sejak si abang datang pagi tadi ke rumah dan menawarkan jasanya sebagai ojol ganteng Chacha. Rasanya dengan begitu mudahnya seperti tahun yang panjang itu gak pernah ada, seperti baru kemarin juga pas Chacha ngajak makan siang Bang Harris yang udah kesorean di tempat ini. Kali ini kami juga duduk di meja yang sama tapi dengan kulit sofanya yang sudah berganti warna, lampu-lampu di jembatan juga belum menyala tapi Chacha sudah kelewat bahagia. Meski jujur Chacha masih kurang suka bagian naik motornya.


"Boleh, gak Chacha tanya? "


Bang Harris cuma tersenyum tapi sepertinya mempersilahkan.


Buru-buru aku nyaring pertanyaan paling populer di kepalaku yang rasanya memang sudah mengendap bertahun-tahun kayak ganjal pintu yang gak bisa benar-benar ku tutup atau ku buka. Makanya aku gak pernah bisa benar-benar megusirnya pergi atau menolaknya saat bolak-balik sesuka hati dia.


"Kenapa Abang gak pernah pulang? "


"Ini, Abang sudah pulang, " candanya, agak ngejengkelin padahal serius Cahcaha sudah hampir ganti nama dia jadi Bang Toyib beneran.


"Chacha, serius, Bang... "


"Emang, Alex nungguin, Abang? "


Eh, dia malah balik nanya, biar apa coba?


Biar Chacha sampai ngakuin kalau bener-bener rindu banget, trus bikin dia seneng. Kayaknya kok gak adil banget ya?


Chacha pura-pura aja diam, gak mau nanya lagi.


"Kan, yang penting sekarang Abang cuma buat, Alex."


Ah serius Bang itu gak berlebihan... Aku pura-pura putar bola mata opsi gak percaya.


Eh, Bang Harisnya malah meraih tangan Chacha trus ngomongnya itu, ya. Kayak gak lihat kondisi banget, kalau Cahacah bisa jantungan.


"Alex, mau, gak? " lanjutnya, "jadi punya Abang?"


Trus pelayang yang nganterin ramen pesanan kami sampai ikut bengong nungguin jawaban Chacha.


"Mas, nanti kalau cewek ini bilang iya, aku kasih bonus gaji sebulan, ya!"


Kata Bang Harris buat si Mas pelayan yang masih bengong megangin nampannya trus serius nganggu-ngangguk seneng.


"Ayo, mbak cepetan! " katanya kemudian, kayak beneran ikut maksa Chacha buat bilang ...


"Ya! " kataku kemudian.


Dan Bang Harris langsung nabok bahu si Mas pelayan yang kegirangan.


"Bonusnya beneran kan, Bang? " tanya si mas-mas.


Bang Harris langsung ngedip plus ngasih isyarat jempolnya buat dia.


Serius sampai malam aku gak bisa tidur cuma gara-gara mikirin permintaan Bang Harris di restoran ramen tadi. Apa iya, si Abang beneran serius sama Chacha? atau cuma becandain aja kayak biasanya. Tapi kok rasanya Chacha seneng banget gini, ya ?


Sampai rasanya susah tidur dan kadang pinginnya cuma senyum-senyum sendiri tiap keinget tiap tingkah si Abang yang kadang juga ngeselin. Karena abis itu kita pulang dan ngasih bonus beneran buat si mas-mas pelayan, dia juga minta mbak-mbak di restoran itu buat ngucapin selamat buat Chacha. Serius, Bang Haris itu kadang noraknya gak ketulungan, tapi kenapa kayaknya dia gak ada syaraf malunya sama sekali ya?


Mungkin karena muka gantengnya itu udah bikin dia biasa ke PD-an sampai si mbak-mbaknya juga mau aja di suruh-suruh sama dia dengan suka rela.


BANG HARRIS!