
"Bang Evan, kan? " tanya Mamanya dan masih kelihatan banget girangnya karena ngelihatin pemuda menawan di depan mereka yang baru saja mengangguk.
"Maaf, Tante sudah lama gak lihat kalian. "_____" kemarilah." Mamanya Efa langsung mempersilahkan mereka duduk.
Bang Evan menjabat tangan Om Hardy yang juga sudah berdiri kemudian mempersilahkan nya untuk bergabung di meja. Tentu papanya Efa juga senang jika putrinya itu beneran bersama salah satu putra sahabatnya.
"Kudengar bisnis kalian semakin maju pesat, " puji Om Hardy saat memperhatikan pemuda menawan di depan mereka itu dari tempat duduknya.
"Sebenarnya Bang Harris yang lebih berjasa, " jujur Evan untuk tetap telihat merendahkan diri, dan benar-benar trik yang lihai untuk menarik simpati.
"Kalian semua memang Luar biasa,"puji Om Hardy dengan bangganya, "karena itu aku sering iri dengan keberuntungan papa kalian karena memiliki empat putra. "
Efa segera berdehem karena merasa di abaikan bahkan oleh orang tuanya sendiri.
"Aku juga bisa jika Papa mengijinkan," sela Efa sambil melirik Mama dan papapnya bergantian.
"Untuk apa kau melakukan semua itu, aku hanya punya satu putri, kau hanya perlu bertemu pria yang tepat untukmu. " balas papanya yang tentunya sambil melirik Bang Evan yang pura-pura ikut tersenyum sambil sedikit mengangkat gelasnya untuk si Efa.
Efa tau jika Bang Evan sedang coba mengejeknya dengan cara seperti itu.
Selama ini Efa memang tidak pernah di ijinkan untuk mengerjakan apapaun, bahkan seluruh hidupnya juga serba di layani seperti seorang tuan Putri. Bahkan orang tuanya pun membangunkan rumah sebesar istana ini hanya untuk dia tinggali sendiri dengan para pelayan, karena orang tua Efa memang lebih sering bepergian dan tinggal di luar negri. Karena itu image gadis kaya manja sepertinya sudah melekat kuat pada dirinya, apa lagi bagi putra-putra Tuan Serkan yang memang pada suka mengejeknya dengan jahil.
Bang Evan sempat melirik Efa dari tempat duduknya dan gadis itu sepertinya acuh dan lebih suka memotong-motong salad di piringnya karena merasa di abaikan. Menurut Bang Evan, agak aneh jika Efa jadi kesal karena cemburu padanya padahal dia sendiri yang membawanya kemari.
Jujur aja Bang Evan tadi juga agak terkejut pas baru datang dan ngelihat si Efa dengan rambut hitamnya, sebenarnya agak anek tapi lama-lama lucu juga untuk di lihat. Pas itu juga si Efa gak sengaja ngelihat Bang Evan yang lagi ngelihatin dia dari tempat duduknya di sebrang meja. Si Efa pun langsung mengedikkan alis kayak malah nantangin si Abang, yang kemudian trus pura-pura membuang muka buat kembali ngobrol sama papanya.
Efa gak heran klo Bang Evan bisa sok manis seperti itu di depan orang tua. Efa mengakui, Bang Evan memang aktor yang luar bisa. Gak aneh jika si abang bisa sampai dobel-dobel ceweknya.
Sebenarnya amit-amit kalau sampai Efa dapat suami model kayak Bang Evan. Tampan, sih tampan, cuma dia gak bakal sanggup ngurusin penyakit mata keranjangnya. Makanya Efa sempat merasa geli aja pas papanya mulai menyinggung-nyinggung masalah hubungan yang lebih serius untuk mereka berdua. Tapi untungnya Bang Evan juga lihai banget mengatasi pertanyaan-pertanyaan jebakan dari orang tuanya.
Sudah bisa dipastika jika Bang Evan bakal lulus jadi calon memantu idaman. Sangking ahlinya dia bohong bahkan sampai gak berkedut sama sekali bibirnya pas harus berdusta. Tiap kali Efa hanya bisa meriding jika membayangkan, bisa ada mahluk seperti itu di muka bumi ini. Karena meskipun banyak ngomong dan cerewet sepertinya Efa paling gak bisa bohong makanya dia selalu ketahuan kalau lagi di ajakin Brandon buat bohong.
Saat itu juga si Efa malah kepikiran Brandon lagi, dan sempat ngebayangin seperti apa jika malam ini yang duduk di sana adalah Brandon bukannya Bang Evan. Pasti rasanya akan sangat berbeda, dan Efa akan sangat bahagia, meski mungkin Brandon masih akan membuat masalah yang tidak terduga.
Tapai rasanya ini pun juga sudah seperti bencana, karena bagaimana bisa dirinya tiba-tiba malah membawa Bang Evan untuk duduk di tengah keluarganya.
Kayaknya kali ini gantian Bang Evan yang nangkap basah si Efa yang lagi merhatiin dirinya. Eva pun langsung mengerjab dan berpaling. Mungkin dia tadi kebanyakan melamun sampai gak sadar udah bengong ngelihatin Bang Evan.
Menurut Bang Evan, sebenarnya jika di rangkum dari awal, si Efa memang lebih pendiam dari pada biasanya,dan lebih manis untuk dilihat. Kecuali tentang dia yang ingin mengambil senapan untuk menembak kepalanya tadi.
like...