
Pagi itu Chacha sedang bersiap untuk pergi ke kantor, dan baru selesai memakai sebelah kaus kakinya ketika dia mendapatkan telfon dari nomor tak di kenal yang ternyata dalah Evan, adiknya Bang Haris. Evan berusaha bicara pelan-pelan ketika memberitaunya bahwa Bang Harris baru saja mengalami kecelakaan motor dan baru di larikan kerumah sakit. Otak Chacha tiba-tiba kosong seperti bergerak dalam mode lambat dengan telinganya yang berdengung ..... Dia belumbnisa menyerap dengan benar kejadiannya
Dua masih linglung dan berjalan seperti mayat hidup ketika Bang Nugi menariknya di lorong rumah sakit, pemandangan itu sulit dia cerna karena otaknya sepertinya masih bergerak dalam mode yang sangat sangat begitu lambat dan masih setengah berharap jika ini semua hanyalah mimpi dan dia akan segera bangun. Chacha melihat Evan yang sedang berusaha menenangkan ibunya yang masih belum berhenti menangis, dia juga melihat nya tapi tidak bisa mengatakan apa-apa kecuali hanya menggeleng. Chacha berbalik untuk memeluk Bang Nugie, mungkin akhirnya dia juga hanya bisa ikut menangis sampai lemas dan Bang Nugie menyandarkannya di bahunya.
"Harris pria yang kuat, Abang percaya dia pasti bertahan," bisik Bang Nugie di dekat telinganya, bahkan chacha belum berani membuka mata karena masih sangat takut melihat dunianya tanpa Bang Harris.
Menurut dokter kondisinya memang sangat kritis, karena Bang Harris mengalami benturan yang sangat keras di kepalanya. Sudah hampir dua jam tim dokter melakukan oprasi karena selain benturan di kepala Bang Harris juga mengalami patah tulang rusuk yang cukup parah. Seperti hanya meng harab keajaiban, itulah yang bisa mereka lakukan sekarang. Mungkin jika saat itu tidak ada Bang Nugie untuknya berpegangan mungkin Chacha juga ingin ikut hilang.
Kenapa setelah sekian lama dan baru kembali, dia sudah ingin pergi lagi. Chacha tidak mau di tinggal sendiri,Chacha tidak mau lagi....nafasnya masih bergetar dan tersengal ketika Mira yang baru tiba bersama Papa dan Mamanya menghampirinya.
Chacha melihat Mama menghapiri ibu Bang Haris dan memeluknya. Sungguh dia tidak ingin lagi merekam semua potret kesedihan itu di otaknya, dia mulai linglung ketika Bang Nugie menepuk ringan pipinya dan membiarkan Mira memberikan air mineral dengan sedotan yang sudah dia lipat di dekat bibirnau yang masih kebas.
"Percayalah dia akan berjuang untukmu, karena kita semua juga akan mendoakannya," kali ini Mira yang bicara untuk membujuk Chacha agar mau minum untuk lebih memperbaiki fokusnya karena anak itu masih terlihat linglung.
Dia minum beberapa teguk kemudian berusaha duduk dengan tegar meskipun Bang Nugie masih belum mau meninggalkannya barang sejengkalpun. Dia kembali melihat Evan yang juga sedang menatapnya, wajahnya sembam meskipun tidak terlihat menangis untuk menegarkan ibunya. Papa Bang Harris masih berada di luar negri untuk pengobatan jantung dan belum mereka beri tau tentang kecelakaan yang menimpa putra kebanggaannya. Karena pemasangan ring jantungnya beberapa minggu lalu itu masih sangat beresiko untuk menerima berita yang akan sangat mengejutkan.
Setelah hampir tiga jam akhirnya salah satu dari tim dokter memberitau kepada mereka bahwa kemungkinanya memang sangat tipis, tapi Bang Harris masih memiliki harapan karena jantungnya mamasih berdetak meski respon otaknya masih sangat lemah. Mereka semua hanya bisa mulai berdoa dan berharap akan sebuaah keajaiban.
Chacha sudah tidak ingin menangis lagi karena yang Bang Haris butuhkan kali ini adalah dukungan. Dia berjalan mendekati kaca di mana tirainya sudah boleh di buka sehingga mereka bisa melihatnya dari luar kaca. Chacha coba menegarkan dirinya sendiri saat harus melihat bagaimana seluruh luka itu sudah menyakiti tubuhnya. Dari banyaknya perban dan alat penopang kehidupan yang menempel di tubuh tak bergerak itu, Chacha tau seberat apa luka yang harus dia tanggung untuk tetap bertahan hidup. Tidak banyak yang sanggup untuk cukup lama berdiri di sana, bahkan Ibu Bang Harris pun tidak sanggup untuk melihat kondisi putranya.
Hanya Chacha yang masih berdiri di sana, dan tetap akan berada di sana, karena Chacha ingin Bang Harris tau dia ingin Bang Jartis bertahan, dan Chacha juga tidak akan lelah mengharap keajaiban.
Beberapa hari berlalu dan Bang Haris sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman meski mereka sudah memiliki sedikit harapan dari keterangan dokternya pagi ini yang mengatakan bahwa respon syaraf otaknya yang sudah berangsur membaik. Chacha memang belum pernah meninggalkannya sejak hari itu, karena itu kemajuan sekecil apapun rasanya sangat luar biasa baginay. Walaupun Bang Harris masih belum mengerti saat dia sentuh, tapi ia yakin Bang Jartis akan bisa merasakan dukungannya. Tiap hari Bang Nugie datang untuk mengantarkan pakaian dan makanan untuk adiknya meskipun dia jarang juag menyentuhnya.
Hari ini ada Ibu Bang Harris yang menemaninay menjaganya. Tiap kali melihat Ibu Bang Haris Chacha selalu merasa bersalah, karena bagaimanapun karena dialah Bang Harris sampai harus mengalami kecelakaan motor.
"Maafin, Chacha, Tante," ucapnya pas mendekati Tante Marisa yang sedari tadi hanya duduk di sova untuk memandangi putranya.
Tante Marisa hanya menggeleng kemudian menyentuh pipi Chacha dengan kedua telapak tangannya yang lembut.
"Tante boleh panggil Alex atau Chacha?"
"Chacha saja, Tante."
"Saat bang Harris mulai sering nyeritain Chacha, Tante kira putra Tante hanya ingin punya adek cewek kayak Bang Nugie. Tapi pas Tante ketemu Chacha, Tante yakin putra tante memang sudah suka sama Chacha sejak saat itu. Sebelum kepulangannya kembali ke UK dia juga sudah sempat ngomongin niat seriusnya sama Chacha, tapi dia bilang Bang Nugi belum ngijinin."
Chacha sudah berusaha untuk tegar dan tidak menangis lagi, tapi nyatanya saat itu Chacha nangis lagi.
"Maaf, Tante , sepertinya Chacha harus keluar sebentar."
Entah dia akan kemana karena rasanya, Chacha tidak sanggup jika harus menunjukkan air mata lagi di depan seorang ibu yang pasti juga sedang sangat berduka untuk putranya.
Chacha berjalan keluar mendatangi Bang Nugie yang kebetulan juga baru datang untuk mengantaraka baju ganti buat Chacha.
"Bang, Chacha mau bicara."
"Bang Nugie juga merasa sangat bersalah, karena kejadian ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika sejak awal Abang merestui hubungan kalian. Tapi Abang egois karena tidak ingin kehilangan adik kecil Abang."
Chacha bisa ngerti perasaan Bang Nugi karena Chacha juga pernah ngerasain hal yang sama ketika Bang Nugie diam-diam jadian sama sahabatnya sendiri.
Bang Nugie mulai bercerita sebelum pergi ke UK Bang Harris sudah mengatakan niatnya terhadap Chacah tapi Bang Nugie jelas seketika murka dan menolaknya. Bahkan sempat memukul Bang Harris karena sudah memiliki pikiran seperti itu terhadap adik perempuannya yang masih begitu muda. Bang Harris yang masih berkeras akhirnya memang berhasil membuat Bang Nugie mengalah, tentunya dengan sebuah syarat. Jangan sekali-kali berani mendekati Chacha sampai kelak dia sudah cukup dewasa, dan jika sampai Bang Harris berani melanggarnya atau diam-diam menghubungi Chacha maka seumur hidup Bang Nugie tidak akan merestuinya.
Dari situ Chacha semakin sadar jika semua yang menimpa Bang Harris adalah karena dirinya juga.
Saat dua balik lagi ke kamar Bang Harris dia lihat tinggal ada Evan di sana. Dia bilang sama Chacha jika pelaku tabrak lari abangnya sudah ditangkap, dan ternyata dia adalah Dony. Tidak tau lagi apa yang harus chacha ucapkan untuk mewakili perasaan bersalahnya yang sudah bertumpuk-tumpuk. Karena dia yakin Dony sengaja melakukanya, dia sengaja melukai Bang Harris hanya karena dirinya. Rasanya Chacha tak sanggup lagi saat harus menyaksikan pria yang dicintainya itu sampai harus menanggung begitu banyak luka. Chacha hanya bisa menatap Evan sambil menggeleng pelan sampai akhirnya dia terduduk dan menangis.
"Bang Harris tidak harus menanggung semua ini jika bukan karena aku. "
"Dia mencintaimu."
Chacha mengangguk,"Kenapa harus menjadi begitu berat untuknya?"
"Istirahatlah aku akan menjaganya. "
Evan tau chacha sedang tidak setabil tapi dia tetap bersikeras menggeleng.
"Sudah sangat lama aku ingin melihatnya, hanya untuk sekedar melihatnya walau sudah bertahun-tahun tanpa kabar, dan jika sekarang aku masih harus menunggunya seumur hidupku pun aku akan melakukannya."
Sungguh Evan merasa prihatin dengan kondisi gadis itu.
"Apa kau mau mendengarkan aku bercerita?"
Chacha mengangguk.
kemudian evan pun memulai ceritanya...
"Bang Harris selalu ingin mendengar kabarmu, karena bang Nugie selalu menolak untuk memberitaunya. Menurutnya kau juga tidak pernah aktif di berbagai media sosial, kadang Bang Harris hanya ingin sekedar melihat Chacha. Kadang dia menyuruh ku untuk sekedar mencari tau bagaimana kabarmu. Bang Nugie benar-benar melarang keras abangku untuk menemuimu. Sampai suatu hari Bang Harris benar-benar tidak tahan ketika melihatmu ada di berbagai brosur produk properti kami yang berserakan di meja kerjanya. Bang Harris bersikeras untuk pulang dan menemui Bang Nugie, memohon agar kalian bisa bertemu. Hari itu Bang Harris sangat panik karena ponselmu tidak bisa di hubungi selama seharian dan kau belum juga pulang sampai malam. Dari siang dia sudah sibuk menyuruhku untuk mencari tau ke kantor cabang tempatmu magang dan mencari informasi keberadaanmu tapi nihil. Baru kali itu aku melihat kakak laki-lakiku bisa begitu hampir gila mencarimu. Dan saat itu aku sadar jika dia benar-benar mencintaimu, karena itu aku yakin dia pasti akan bertahan untuk kembali padamu!
"Terima kasih, Evan..... "
"Kau ingat saat hari pertama kau berkunjung ke rumah kami, semua orang di rumah heboh mengatakan bahwa adik bang Nugie ternyata cantik."
"Tersenyumlah, dan jangan buat abangku salah mengenali mun saat bangun nanti, hanya karena wajah murung jelekmu itu. "
Entah kenapa semua cerita Evan membuatnya damai, dan sama sekali tidak keberatan lagi jika memang harus menghabiskan seumur hidupnya untuk menjaga Bang Harris seperti ini.
Dia kembali membenahi lagi selimut Bang Haris, yang masih tidur begitu tenang, dia masih sangat tampan meskipun dengan bibir pucatnya yang tak bergeming.
Ikut dia letakkan kepalanya di dekat bantal Bang Harris, dia hanya ingin sekedar mendengar hembusan nafasnya yang teratur dan menenangkan. Malam itu Evan juga menemaninya, dia tidur di sova sementara Chacha masih terjaga sampai lewat tengah malam seperti biasa.