Alex

Alex
bab 58 malas



Chacha semakin malas pergi ke kantor karena Dony yang masih tidak terima masih belum mau berhenti ngekorin Chacha, seolah aku ini seorang pendosa yang harus menebus semua kesalahanku padanya seumur hidup. Kenapa dia sulit sekali untuk di ajak berpikir dewasa jika kenyataannya hubungan kami sudah berakhir. Diluar itu, dia juga masih ingin terus menyalah kanku dan kembali mengungkit-ngungkit tentang Bang Harris yang akhirnya hanya akan membuatku merasa semakin menderita dan mengenaskan.


 Kadang aku sampai harus kabur naik ojol lewat pintu belakang biar gak ketemu sama si Dony yang  masih sering maksa mau nganter jemput Chacha, karena dia masih sering ngayal  seolah hubungan kami masih baik-baik saja. Menderita banget kayaknya jadi Chacha belakangan ini. Aku gak bisa naik motor, sudah di ajarin Bang Nugie nyetir mobil sendiri, tapi Chacha kan  belum mampu beli mobil. Mau suruh bang Nugie antar jemput terus juga gak enak, apalagi sekarang si abang sudah tinggal di rumah sendiri sama Mirra. Jadilah aku langganan bapak-bapak ojol tetangga, kupikir  itung-itung sekalian  bantuin Pak Salim buat nafkahin keluarga, karena kasian juga sama tetanggaku yang kerjanya cuma serabutan itu. Kalu Chacha pas dapat bonus bisa ku bagi juga buat si bapak yang biasanya sudah seneng banget walau tak seberapa, maklum Chacha juga baru magang mereka kasih gaji juga seadanya kayak uang bensin sama uang makan saja. Untung Chacha masih punya sedikit tabungan dari kerja serabutan jadi model dadakan waktu itu, kupikir masih cukup buat jajan dan keperluan pribadi paling tidak sampai Chacha kelar kuliah dan bisa bener-bener kerja. Sering juga mereka masih nawarin buat ikut foto lagi, tapi aku jelas tidak mau dengan resiko harus bertemu Dony, sementara aku sudah berusaha keras untuk bisa lepas darinya yang masih belum mau ikhlas ngelepasin Chacha. Masih suka kepo dan usil sama kehidupan Chacha meskipun sudah hampir dua bulan kami bubaran. Selalu mau tau Chacha pergi di anter siapa, dan pulang di jemput siapa, mungkin jika tetangga depan rumah buka lowongan baru buat satpam rumahnya pasti si Dony mau juga, biar bisa terus nongkrongin Chacha dan tau ngapain aja sepanjang hari.


Biasanya Pak Salim sudah tau kapan harus jemput Chacha biar gak sampai ketemu sama Dony, kadang aku sampai harus mengendap-ngendap dari pintu belakang kantor seperti pencuri, karena Dony juga mulai keterlaluan. Seharusnya jika Dony memang benar-benara ingin berbaikan denganku, untuk kembali berteman seperti yang sering dia katakan, seharusnya dia berhenti membicarakan semua yang seolah menjadi kesalahanku di depan semua orang. Itulah kenapa aku sering menyesal karena sudah salah mengenali sifat pengecutnya itu, aku sering tidak tau bagaimana seorang pria bisa jadi sangat merepotkan seperti itu. Begitulah hidupku mulai jadi seperti buronan, yang selalu sembunyi-sembunyi dan harus selalu waspada sepanjang waktu. Aku tidak takut dengan Dony semisal kami harus berkelahipun aku mau, dari pada aku harus melayani mulut pria yang tidak bisa dinpegang. Kadang Bang Nugi kulihat juga  prihatin sama penderitaan satu-satunya adik perempuannya ini, tapi entahlah sepertinya aku juga sudah tidak bisa lagi selalu merengek padanya lagi seperti dulu. Mungkin memang sudah saatnya juga aku belajar untuk mengatasi semua masalahku sendiri, karena pada akhirnya aku memang harus mandiri tanpa si abang.


"Beneran, gak mau di antar Bang Nugi?" tanya si abang yang kebetulan mampir kerumah sebelum berangkat ke kantor.


"Chacha sudah di tungguin Pak Salim, Bang."


"Apa mantan lo masih sering bikin masalah?"


"Biar aja, entar dia juga capek sendiri," acuhku karena tidak ingin Bang Nugie ikut khawatir.


"Beneran gak mau Abang bantuin?" tanya si abang kayak dia beneran bisa terbang trus ngelempar si Dony ke pelanet lain, karena cuma itu yang sedang Chacha inginkan sekarang.


Karena menurutku hanya psycho gila yang tidak bisa memberi kebebasan bagi orang lain seperti itu. Kata Mira seharusnya aku justru sudah sadar sejak dulu saat si Dony sering diam-diam ambil fotoku tanpa permisi untuk dia koleksi, cuma kupikir saat itu dia hanya iseng dan buat lucu-lucuan aja. Chacha benar-benar tidak pernah berpikir orang dewasa bisa bersikap seperti itu.


"Coba, lo itu nyadar dikit, kalau jadi  cewek cantik itu bisa bikin pria gak waras!" kata si Mira setelah balas nyebut aku Lemot, kayaknya dia juga sudah mulai kena pengaruhnya Bang Nugie sejak mereka tidurnya mulai barengan.


"Trus mau lo apai, tu cowok?"


"Yang jelas gak mau gue nikahin!" ketusku, asal.


"Emang Chacha sudah mau nikah?" tanya Mira pakai pasang ekspresi sok heran.


"Kadang Chacha iri sama kalian ...." jujurku pas natap Mira yang tiba-tiba diam.


"Aku mencemaskanmu,Cha."


"Jangan berlebihan," tepisku sekedar  untuk membuat  obrolan kami lebih ringan.


"Andai kami tetap bisa tinggal disini," sesalnya, kemudian ikut duduk di sebelahku, "karena aku tau, Bang Nugie juga masih berat ninggali Chacha sendiri."


"Percayalah, aku akan hidup jauh lebih baik tanpa keusilan kalian berdua."


Entahlah aku tidak ingin terus membahas masalah ini, karena aku tau hanya akan sedih tiap kali ingat mereka berdua akan segera pergi ninggali Chacha sendiri.


"Jangan pernah marah sama, Mira,ya?" katanya tiba-tiba.


"Untuk apa?" tanyaku dan si Mira sempat terlihat ragu untuk mengatakan, ya apa tidak.


"Sungguh, Cha, aku rela melakukan apa saja asal kamu juga bisa ikut bahagia."


"Bikin aja Bang Nugie seneng, aku sudah bahagia," kataku kemudian ketika menatap Mira yang entah kenapa dia sepertinya masih merasa sangat bersalah sama Chacha.


 Mira hanya mengangguk, kemudian menyapu benih air matanya.


"Sudah jangan nangis, lo jelek banget kalu lagi nangis."


Mira itu cantik, meski agak lemot dan suka gugub kalu tengkar sama cowok. Karena itu biasanya Chacha lah  yang lebih galak sama cowok-cowoknya di banding Mira sendiri. Meskipun sampai sekarang aku masih sering merasa aneh untuk menjadikan Mira kakak iparku, tapi  aku  senang sahabatku itu akhirnya mendapatkan pria seperti Bang Nugie.