
Brandon berpamitan untuk pergi, kepada ibunya.
"Kenapa kau tidak menunggu pernikahan kakakmu? " tanya Tante Marrisa heran sekaligus kaget karena Brandon yang mendadak ingin pergi karena rencananya memang baru bulan depan dia kembali.
"Maaf, aku tidak membenci pernikahan Bang Evan, "____"aku hanya tidak sepakat dengan semua ini. " jujur Brandon saat menatap ibunya dengan yakin.
"Apa maksudmu? " tanya Tante Marrisa bingung.
Tante Marrisa tau jika Brandon adalah orang yang akan tetap mengatakan pendapatnya jika dia memang tidak setuju.
"Kalian yang membawa Mini kemari, mengambilnya dari keluarga yang dia miliki." Bahkan sampai sekarangpun Brandon masih sakit hati tiap kali mengingat kakek dan nenenk Mini. "Salah apa dia sampai harus berada di posisi seperti ini! " kesal Brandon.
"Apa kalian pernah bertanya apa yang dia inginkan?"
"Karena jika kalian menyayanginya sebagai putri kalian seharusnya kalian lebih terbuka untuk memberinya kebebasan. Tanya apa yang dia inginkannya, bukannya malah cuma membawanya kemari dan hanya menawarinya pernikahan! "
"Mini masih sangat muda, apa kalian yakin dia sudah ingin menikah?" tegas Brandon untuk kesekian kalinya.
Meski lebih banyak diam, bukan berarti Tante Marisa tidak mendengarkan apa yang dikatakan putranya. Mungkin Brandon memang benar, mereka selama ini lalai dan selalu merasa sudah melakukan yang terbaik untuk gadis itu tanpa pernah bertanya apa sejatinya yang dia inginkan.
"Maafkan kami, " ungkap Tante Marrisa saat menatap Putranya yang ternyata justru lebih peduli.
"Jangan minta maaf padaku, katakan saja semua itu pada Mini. "
Brandon juga sempat mebaca buku-buku sekolah Mini ketika mereka tinggal untuk beberapa hari di kampung halamannya waktu itu, diam-diam Brandon memang suka membaca buku-buku catatan Mini. Dari situ Brandon tau betapa gadis itu memiliki harapan besar untuk bisa terus melanjutkan pendidikannya. Namun jika melihat kenyataan yang harus diterima gadis itu, sering kali hanya membuat Brandon sedih. Mungkin secara tidak sadar simpati sepeti itulah yang akhirnya membuatnya tidak bisa mengabaikan gadis seperti Mini, hinga perasaan terlarang itupun ikut tumbuh tanpa dia sadari.
"Aku tidak mengatakan ini untuk diriku sendiri, walau kuakui aku mencintainya dan karena itu peduli padanya."
"Aku akan pergi dan tidak ingin ada di sini bukan karena aku tidak mencintai kalian, aku hanya tidak sepakat dengan semua ini. Aku akan pergi besok pagi, aku menemui Mama malam ini karena aku tidak ingin Mama cemas karena aku baik-baik saja, dan sampaikan salamku untuk Bang Evan karena mungkin besok pagi aku tidak akan sempat menemuinya.
Mereka hanya tidak tau jika sebenarnya dari tadi Bang Evan juga sudah ikut menyimak pembicaraan mereka.
Tadinya Bang Evan berniat untuk menemui ibunya sampai dia terhenti di pintu begitu mengetahui Brandon juga ada di sana dan begitulah akhirnya dia ikut menyimak pembicaraan panjang itu. Bang Evan segera pegi sebelum Brandon Brandon keluar.
Entah apa yang dipikirkannya karena tiba-tiba dia hanya ingin mencari Mini meski dia tau malam sudah larut dan mungkin gadis itu sudah tidur.
Padahal di kamarnya Mini tidak pernah lagi bisa tidur dengan benar, dia hanya gelisah tapi tidak juga mengerti apa yang harus dia lakukan. Dia masih tidak menyangka jika dirinya benar-benar akan menikah akhir pekan ini. Karena walaupun sudah berulang kali berpikir bahwa keputusannya sudah benar tapi kenyataannya Mini tetap saja tidak mengerti kenapa rasanya justru seperti ini. Perutnya terasa panas dan mual tiap kali mulai membayangkan dirinya akan segera menikah dengan Bang Evan.
Mini menyukai Bang Evan, dia baik, dan juga tampan. Dan Mini yakin jika Bang Evan akan menjadi suami yang baik untuknya, dirinya pasti sudah sangat beruntung jika pria seperti itu memilih menikahinya, tapi kenapa rasanya tetap saja seperti ada yang tidak benar.
Berulang kali Mini berguling ke kanan dan kekiri tapi tetap saja dia tidak bisa memejamkan mata, sampai tiba-tiba dia mendengar pintu kamarnya diketuk.
"Kuharap aku tidak mengganggumu. "
Mini tau itu suara Bang Evan, diapun segera melompat dari tempat tidur untuk membukakan pintu.