
Ternyata Bang Harris itu baik banget, meskipun sudah ketemu siang dan malam dia tetap aja baiknya gak berkurang. Padahal sebelumnya aku sempat khawatir, karena bagaimanapun kami adalah dua orang yang sebenarnya belum terlalu mengerti dengan kebiasaan satu-sama lain. Walapun aku yakin mencintai Bang Harris dengan sepenuh hati, tapi kenyataannya selama ini kami memang jarang bersama.
Kalau di rangkum dari awal, kami sebenarnya memang hanya bertemu beberapa kali di tiap kepulangannya yang singkat dan langka. Bahkan saat tiba-tiba kami memutuskan utuk menikah, sebenarnya aku sudah mempersiapkan diri, jikapun nanti akan ada beberapa hal dari sifat kami masing-masing yang mungkin tidak sesuai. Karena kupikir hal seperti itu juga sangat wajar terjadi di setiap hubungan. Kadang kita memang baru akan mengetahui sifat asli pasangan kita setelah hidup bersama, tapi sekali lagi kukatakan, Bang Harris sangat baik, dan nampaknya dia juga sudah sangat tenang untuk bisa menghadapi ketidak dewasaanku.
Walau dia tidak pernah memberiku bunga atau kado yang dibungkus pita, tapi dia seolah sudah memberikan seluruh energinya untuk membuatku bahagia. Kadang hanya dengan kesederhanaan, saat kami menikmati secangkir kopi berdua di balkon, dan Bang Harris mulai menceritakan kegiatan dan pekerjaannya sepanjang hari. Kadang dia juga suka sedikit membual saat mengatakan ingin membawaku serta kekantor agar dia tidak terus merasa ingin cepat pulang.
"Abang akan bosan? "
"Kenapa? "
"Kata Mira, Chacha cerewet."
Bang Harris hanya menggeleng kemudian menarikku ke pangkuannya.
"Aku akan gendut dan pinggangku membesar sampai Abang gak akan tahan membiarkanku duduk seperti ini lagi."
"Aku, akan jelek dan lebih dulu beruban darimu, " balas Bang Harris, kemudian aku menyentuh garis wajahnya yang indah dan aku tau itu adalah milikku.
"Abang akan tetap setampan Richard Gere, " kataku kemudian dan dia tertawa sampai dadanya bergetar.
"Boleh, gak Chacha nanya? " kataku ketika meraba bekas luka melintang di balik kemeja flanelnya.
Kutunggu beberapa saat sampai akhirnya Bang Harris mengangguk dan menarik pinggangku untuk lebih dekat pada dirinya.
"Kenapa, Abang mau nungguin Chacha? "
"Karena adiknya Bang Nugie cantik."
"Telat, Bang, kalau Abang ngegombalnya lima tahun lalu mungkin Chacha percaya, " kataku kemudian pas nempelin dahiku di dahi Bang Harris yang kembali tertawa pelan.
"Aku serius, Bang,"___"beneran, aku juga penasaran sejak kapan Abang peduli sama Chacha? "
Ku akui Bang Harris cukup pintar untuk mengalihkan perhatianku dengan segala keahlian terkutuknya. Sayangnya aku sedang tidak ingin tergoda untuk mengikuti keinginannya, walaupun jujur dalam hati aku sedang ingin mengumpat, karena entah bagaimana dia bisa berbuat seperti itu. Sambil menahan bibirku yang bergetar aku hanya bisa menggeleng pelan, tapi cukup tegas untuk meyakinkannya bahwa aku belum mau mengalah dan membiarkannya menjelajahiku sesuka hati.
"Apa kau benar-benar ingin aku mengakui bahwa aku sudah ingin menculikmu dari Bang Nugi saat itu juga."
"Dan apa kau bisa terima jika aku ingin melakukan semua ini padamu saat itu?"
Aku diam untuk menatap Bang HarrisĀ yang kali ini benar-benar terlihat serius dengan ucapannya, dan sepertinya memang ada sebuah kepedihan yang coba di akuinya.
"Kuterima saat Nugie memukulku, sungguh aku sediri juga merasa sangat buruk karena tidak bisa berhenti menginginkanmu."
Kusentuh bibirnya agar berhenti bicara, kemudian aku memeluknya, dan hanya bisa memeluknya, dengan perasaan haruku yang luar biasa.
"Tahun-tahun itu terasa berat, ketika aku sama sekali tidak bisa melihatmu."
Aku mengangguk dalam isakan lirih, karena aku juga masih ingat seperti apa rasanya waktu itu. Saat aku sama sekali tidak mendengar kabarnya, bahkan berpikir sudah terlupakan begitu saja, sementara hatiku tetap tidak bisa berhenti menginginkannya. Kurasakan kali ini Bang Harris menarikku lebih erat kedalam pelukannya dan berbisik, "Sekarang, Alex hanya milik Bang Harris"____"Lantas, bagaimana kau bisa berpikir hal sepele seperti berat badan bisa mengubah semua itu."
Kugunakan salah satu tanganku untuk menyisir gelombang ikal di rambutnya yang terasa ringan di sela-sela jemariku, sementara tangan ku yang lain masih menelusuri bekas luka melintang di dadanya dan berulangkali bersyukur. "Terimakasih, " kataku kemudian ketika menempelkan kembali dahiku padanya dan kubiarkan Bang Harris mulai menciumku.
Bahkan sampai saat ini setiap sentuhannya masih terasa seperti keajaiban, sama halnya dengan Cinta, dan aku mulai percaya jika hanya orang-orang beruntung saja yang bisa menemukan nya. Seperti tumpukan hadiah yang menyenangkan, seperti itulah yang kurasakan tentang dirinya.
Aku mencintai jiwanya yang sederhana, dan sama sekali bukan karena apapun yang ada di sekitarnya. Orang bisa saja menganggap aku sangat beruntung, meski sebenarnya mereka tidak pernah tau seberat apa perjuangannya, tapi aku tetap akan bersyukur dan tidak akan pernah berhenti berterima kasih karena telah memilikinya. Mencintai itu sebenarnya bisa lebih mudah jika kita masing-masing hanya ingin saling membuat pasangan kita bahagia.
Aku ingat dengan kutipan dari sebuah buku yang sudah di tebalkan oleh Bang Harris untukku. Sayangnya saat itu aku masih belum sepenuhnya paham jika ada sesuatu yang coba disampaikan nya padaku melalui kutipan tersebut.
I used to think that when people fell in love, they just landed where they landed, and they had no choice in the matter afterward. And maybe that's tru of beginnings, but it's not true of this, now.
I fell in love with him. But I don't just stay with him by default as if there's no one else available to me. I stay with him because I choose to, every day that I wake up, every day that we fight or lie to each other or disappointed each other. I choose him over and over again, and he chooses me.
(DIVERGENT by VERONICA ROTH)