
Ternyata Bang Harris itu baik banget, meskipun sudah ketemu siang dan malam dia tetap aja baik sama Chacha. Padahal sebelumnya Alex sempat khawatir, karena bagaimanapun mereka adalah dua orang yang sebenarnya belum terlalu mengerti dengan kebiasaan satu-sama lain. Walapun Alex yakin mencintai Bang Harris dengan sepenuh hati, tapi kenyataannya selama ini mereka memang jarang bersama.
Kalau di rangkum dari awal, mereka sebenarnya memang hanya bertemu beberapa kali di tiap kepulangannya yang singkat dan langka. Bahkan saat tiba-tiba mereka memutuskan utuk menikah, sebenarnya Alex sudah mempersiapkan diri, jikapun nanti akan ada beberapa hal dari sifat mereka masing-masing yang mungkin tidak sesuai. Karena dia pikir hal seperti itu juga sangat wajar terjadi di setiap hubungan. Kadang kita memang baru akan mengetahui sifat asli pasangan kita setelah hidup bersama, tapi sekali lagi dia yakin, Bang Harris sangat baik, dan nampaknya dia juga sudah sangat tenang untuk bisa menghadapi ke tidak dewasaan Chacha yang kadang masih sering bandel dan semaunya sendiri.
Walau bang Harris tidak pernah membernya bunga atau kado yang di bungkus pita, tapi dia seolah sudah memberikan seluruh energinya untuk membuat Alex bahagia. Kadang hanya dengan kesederhanaan, saat mereka menikmati secangkir kopi berdua di balkon, dan Bang Harris mulai menceritakan kegiatan dan pekerjaannya sepanjang hari ini. Kadang dia juga suka sedikit membual saat mengatakan ingin membawanya ikut serta kekantor agar dia tidak terus merasa ingin cepat pulang.
"Abang akan bosan? "
"Kenapa? "
"Kata Mira, Chacha cerewet."
Bang Harris hanya menggeleng kemudian menarik Alex ke pangkuannya.
"Aku akan gendut dan pinggangku membesar sampai Abang gak akan tahan membiarkanku duduk seperti ini lagi."
"Aku, akan jelek dan lebih dulu beruban darimu, " balas Bang Harris, kemudian dan Alex jistri menyentuh garis wajahnya yang indah.
"Abang akan tetap setampan Richard Gere, " katanya kemudian dan dia tertawa sampai dadanya bergetar.
"Boleh, gak Chacha nanya? " kata Alex ketika meraba bekas luka melintang di balik kemeja flanel Bang Harris.
Alex menunggu beberapa saat sampai akhirnya Bang Harris mengangguk dan menarik pinggangnya untuk lebih dekat pada dirinya.
"Kenapa, Abang mau nungguin Chacha? "
"Karena adiknya Bang Nugie cantik."
"Telat, Bang, kalau Abang ngegombalnya lima tahun lalu mungkin Chacha percaya, " kata Alex kemudian pas nempelin dahinya di dahi Bang Harris yang kembali tertawa pelan.
"Aku serius, Bang,"___"beneran, aku juga penasaran sejak kapan Abang peduli sama Chacha? "
Alex mengakui Bang Harris cukup pintar untuk mengalihkan perhatiannya dengan segala keahlian terkutuknya. Sayangnya dia sedang tidak ingin tergoda untuk mengikuti keinginannya, walaupun jujur dalam hati Alex sedang ingin mengumpat, karena entah bagaimana dia bisa berbuat seperti itu. Sambil menahan bibirnya yang bergetar Alex hanya bisa menggelar pelan, tapi cukup tegas untuk meyakinkannya bahwa dia belum mau mengalah dan membiarkan bang Harris menjelajahi apa yang sudah menjadimiliknya sesuka hati.
"Apa kau benar-benar ingin aku mengakui bahwa aku sudah ingin menculikmu dari Bang Nugi saat itu juga."
"Dan apa kau bisa terima jika aku ingin melakukan semua ini padamu saat itu?"
Alex diam untuk menatap Bang Harris yang kali ini benar-benar terlihat serius dengan ucapannya, dan sepertinya memang ada sebuah kepedihan yang coba di akuinya.
"Kuterima saat Nugie memukulku, sungguh aku sediri juga merasa sangat buruk karena tidak bisa berhenti menginginkanmu."
Tiba-tiba Alex menyentuh bibir Bang Harris agar pria itu berhenti bicara, kemudian dia memeluknya, dan hanya bisa memeluknya, dengan perasaan harunya yang luar biasa.
"Tahun-tahun itu terasa berat, ketika aku sama sekali tidak bisa melihatmu."
Alex mengangguk dalam isakan lirih, karena dia juga masih ingat seperti apa rasanya waktu itu. Saat dia sama sekali tidak mendengar kabarnya, bahkan berpikir sudah terlupakan begitu saja, sementara hati Alex tetap tidak bisa berhenti menginginkannya. Alex merasa kali ini Bang Harris yang menariknya lebih erat kedalam pelukannya dan berbisik, "Sekarang, Alex, milik Bang Harris"____"Lantas, bagaimana kau bisa berpikir hal sepele seperti berat badan bisa mengubah semua itu."
Alex menggunakan salah satu tangannya untuk menyisir gelombang ikal di rambut Bang Harris yang terasa ringan di sela-sela jemarinya, sementara tanganbta yang lain masih menelusuri bekas luka melintang di dada suamjnua dan berulangkali bersyukur. "Terimakasih, " katanya kemudian ketika menempelkan kembali dahinya dan kubiarkan Bang Harris mulai menciumnya.
Bahkan sampai saat ini rasanya masih seperti keajaiban, sama halnya dengan Cinta, dan Alex mulai percaya jika hanya orang-orang beruntung saja yang bisa menemukan nya.
Alex mencintai jiwanya yang sederhana, dan sama sekali bukan karena apapun yang ada di sekitarnya. Orang bisa saja menganggapnya sangat beruntung, meski sebenarnya mereka tidak pernah tau seberat apa perjuangannya, tapi Alex tetap akan bersyukur dan tidak akan pernah berhenti berterima kasih karena telah memilikinya. Mencintai itu sebenarnya bisa lebih mudah jika kita masing-masing hanya ingin saling membuat pasangan kita bahagia.
Alex ingat dengan kutipan dari sebuah buku yang sudah di tebalkan oleh Bang Harris untuknya. Sayangnya saat itu dia masih belum sepenuhnya paham jika ada sesuatu yang coba disampaikan Bang Hartis padanua melalui kutipan tersebut.
I used to think that when people fell in love, they just landed where they landed, and they had no choice in the matter afterward. And maybe that's tru of beginnings, but it's not true of this, now.
I fell in love with him. But I don't just stay with him by default as if there's no one else available to me. I stay with him because I choose to, every day that I wake up, every day that we fight or lie to each other or disappointed each other. I choose him over and over again, and he chooses me.
(DIVERGENT by VERONICA ROTH)