Alex

Alex
bab 20



Setelah hampir setengah bulan di pindahkan di ruang perawatan, untuk menjalani terapi dan pemulihan akhirnya Bang Harris sudah diijinkan untuk pulang. Aku juga merasa lega bisa kembali pulang ke rumah karena sudah hampir dua bulan ikut hidup di rumah sakit. Mulai kuperhatikan tiap sudut kamarku yang tiba-tiba terasa asing, kulihat Bi Supi juga baru membersihkan kamar Bang Nugi dan pintunya masih di biarkan terbuka.


Entah akan sesepi apa rumah ini nanti tanpa kami. Kembali kuperhatikan cincin di jari manisku, ingat bagaimana aku sudah setuju untuk ikut bersama Bang Harris setelah kami menikah nanti. Pasti aku akan rindu semua ini, abangku akan pindah ke Kalimantan dan aku sendiri entah nanti akan berada di mana, karena Bang Harris sendiri juga belum memutuskan di mana kami nanti akan tinggal. Aku sendiri masih sulit percaya jika akhirnya aku akan menikah, karena ternyata ada pebrdaan besar antara sekedar membayangkan dan saat kita benar-benar dihadapkan pada  kenyataan bahwa kita akan menjadi milik seseorang, akan hidup dan tinggal bersamanya. Meski aku juga sangat menginginkan Bang Harris dan tidak ingin berpisah lagi dengannya, tapi ternyata hari pernikahan kami yang semakin dekat ini juga mulai mempengaruhiku, aku masih belum yakin bagaimana nanti akan bisa menghadapinya meskipun aku tau sudah bersama orang yang tepat.


Akhirnya kedua belah pihak keluarga kami sudah sepakat menentukan penikahan kami dua bulan lagi, meskipun Bang Harris sendiri bersikeras untuk menikah akhir bulan ini, karena menurutnya terlalu bertele-tele untuk nunggu dua bulan lagi sementara dirinya sudah dibuat menunggu bertahun-tahun hanya untuk mendapat ijin abangku.


sampai saat ini kadang aku juga masih sulit percaya jika Bang Harris benar-benar sudah ingin menikahiku pada saat usiaku saat itu. Kedengarannya konyol tapi menurutku pasti Bang Nugi juga tidak akan semurka itu jika bukan karena dia memang sudah sangat mengenal Bang Harris, dan dia pasti yakin jika Bang Harris memang  benar-benar serius ingin mengambil adik perempuannya. Aku bisa memahami perasaan Bang Nugie, karena sampai sekarangpun sepertinya aku juga tidak akan pernah rela hidup jauh darinya. Kembali kuperhatikan kamar abangku yang sudah kosong dan tanpa sadar benih airmata kembali meluncur jatuh dari sudut mataku, entah kenapa belakangan ini aku sepertinya gampang sekali dibuat menangis.


Aku tidak tau sejak kapan Bang Nugie sudah berdiri di ambang pintu, aku baru mendongak dan menghapus airmataku ketika Bang Nugie berjan menghampiriku. Tanpa bicara kubiarkan dia memelukku dan kami hanya diam sampai beberpa saat.


"Maafin Abang," bisiknya di dekat telingaku dan aku hanya menggeleng pelan di pelukannya.


Sejak kecelkaan yang menimpa Bang Harris kami memang belum pernah benar-benar memiliki kesempatan untuk bicara berdua.


"Apa kau tidak ingin memberi nama untuk calon keponakan kecilmu?" bisik bang Nugi sekali lagi dan aku langsung sepontan mendongak.


"Mira hamil!" seruku, si abang pun segera mengangguk dan tersenyum.


"Kau boleh memberi nama," tawar Bang Nugie terdengar sungguh-sungguh.


"Jika dia laki-laki?" tanya Bang Nugie sekedar memastikan apa aku tidak tertarik.


"Beri nama apa saja asal jangan NOAH!" ketusku kemudian dan si abang langsung tertawa.


"Abang akan merindukanmu ALEX," jujur Bang Nugie tiba-tiba terdengar haru bahkan setelah ledakan tawanya, "meskipun aku senang Harris yang akan menjagamu, tapi sebenarnya Abang masih tidak rela dia mengambimu dariku."


"Akan kusampaikan itu padanya nanti," sekali lagi kupeluk Bang Nugie dan pingin sekali rasanya bisa merenegek seperti dulu, sepertinya masa-masa itu memang sudah sangat lama berlalu, dan kami sama-sama sudah tidak bisa kembali lagi. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan jika ternyata hari ini akan benar-benar tiba, saat kami akan memiliki kehidupan masing. Selama ini meskipun Bang Nugie sudah menikah tapi sebenarnya kami belum pernah benar-benar jauh, sementara nanti aku masih belum tau kemana Bang Harris akan membawaku. Aku sudah berjanji padanya untuk memberikan seluruh sisa hidupku untuknya, aku akan pergi kemanapun dia pergi, dan aku akan tinggal di manapun dia ingin tinggal. Aku tidak hanya mengucapkan janji itu pada Bang Harris, tapi aku juga mengucapkan janji itu di tiap doaku saat memintanya untuk bangun lagi untkku.


Walaupun Bang Harris sempat menggerutu tentang penentuan hari pernikahan kami yang menurutnya berbelit-belit, tapi akhirnya hari itu datang juga. Jujur walaupun aku juga sangat menginginkan nya tapi aku seperti masih belum bisa percaya jika akhirnya Bang Harris akan benar-benar menikahiku. Aku masih cemas dan yakin Bang haris juga tau dengan apa yang kurasakan.


Sama seperti keinginku, telah nyata Bang Harris juga menginginkan pesta pernikahan yang sederhana, hanya ada keluarga dan teman dekat saja. Bang Harris sepertinya memang ingin aku merasa nyaman berada di tengah-tengah orang-orang yang mencintaiku tanpa pelu mencemaskan apapun lagi.


Aku duduk di antara Mama dan Tante Marisa yang masing-masing menggenggam tanganku. Kulihat Bang Harris sudah mempersiapkan diri untuk ikrar pernikahan kami. Kupikir aku sudah tidak akan cemas lagi tapi ternyata justru telapak tangan ku mulai terasa dingin dan kebas, jujur aku sangat cemas walaupun tidak berani menunjukkan nya. Bang Harris sempat menatapku dan mengangguk pelan, cukup untuk memberi taukan dukungannya untuk ku. Aku tau akan segera menjadi miliknya setelah ini, seperti janjinya beberapa hari lalu sebelum semua keluarga akhirnya melarang kami untuk saling bertemu. Bang Harris berjanji akan segera menjadi kanku miliknya dan tidak akan ada lagi yang bisa menghalangi kami untuk bersama, tapi ternyata aku tetap saja cemas di detik-detik seperti ini. Kulihat Bang Nugie duduk di samping Bang Harris sebagai saksi, Bang Nugi juga sedang menatapku dengan sedikit senyum kecilnya untuk ikut meyakinkan ku.


Aku sudah tidak berani lagi untuk benar-benar menatap Bang Harris yang sudah mulai mengucapkan ikrar pernikahannya untukku. Rasanya jantungku ikut berhenti dan nafasku pun terputus dalam jeda beberapa lama sampai para keluarga kemudian mengucapkan selamat dengan tangis haru. Aku sempat ikut menangis di pelukan Mama dan Bang Nugie yang buru-buru menghampiriku, menarikku dalam pelukannya sebentar sebelum kemudian Bang Harris datang mengambilku dari mereka.


Sering sekali aku melihat dan mendengar ikrar pernikahan di ucapkan, tapi aku tidak pernah tau jika rasanya akan seperti ini saat akhirnya Bang Harris benar-benar menjadikanku miliknya, dan aku juga sudah berjanji untuk bersamanya, kemanapun dia membawaku nanti.