
Efa cuma terkejut pas di suruh jemputin mereka di Monas.
"Emang ngapai kalian di monas? " ____" norak banget panas-panas gini ke monas!"
"Mini belum pernah lihat Monas, " terang Brandon dari ujung telfon.
"Astaga...!" heran Efa ikut ngeri, apa lagi dia juga kayaknya agak malas kalau disuruh ikut nyameperi Monas, pokoknya kalau bukan karena Brandon cewek model kayak Efa itu gak bakal mau panas-panasan, di tempat umum pula. Bagaimanapun Skincarenya mahal dan pakai dolar semua, kayaknya gak mungkin dia mau ikut di tempelin debunya monas.
"Itu Efa sudah datang," tunjuk Brandon yang langsung ngenalin mobil Efa yang serba pink sampai bikin Mini silaunpas lagi panas-panas gini.
Brandon nganterin Mini nyamperin Efa sambil setengah narik tangannya, pokoknya kayak khawatir banget gadis itu bakal kabur kalau gak terus di pegangin trus dia dorong masuk ke dalam mobil. Brandon juga langsung Nutup pintu Mobil Efa biar dia gak rewel minta keluar lagi.
"Udah, sebainya kalian berdua kenalan dulu, gue mau cabut." Udah gitu aja trus si Brandon langsung nyelonong pergi.
"Nanti kita ketemuan di resto pas jam makan siang." Triak Efa yang cuma dapat lambaian tangan dari belakang punggungnya tanpa noleh mereka sama sekali.
"Maaf ya, Mbak Efa ,aku jadi ngerepotin," kata Mini pas Brandon udah masuk kedalam mobilnya sendiri.
"Gak papa," cuma Efa ngerasa aneh aja karena tiba-tiba dipanggil Mbak. Trus dia langsung merhatiin si mini, sambil mikir, darimana sebenarnya asalnya cewek cupu ini? sambil masih geleng-geleng heran. "Jadi beneran kamu mau nikah sama bang Evan?" tanya Efa kayak masih gak yakin.
"Itu maunya Tuan Serkan aja, Mbak, kalau aku gak mau juga maksa Bang Evan."
"Trus ?" Efa kayaknya bingung.
"Bang Brandon yang maksa aku buat ikut Mbak Efa."
"Oh.... "Efa sampai hampir lupa jika itu tugasnya hari ini, trus dia balik lagi merhatiin Rutmini lebih teliti buat ngoreksi apa aja kekurangnnya yang perlu di pergi baiki. Seperti pemindai otomatis kayaknya sensor fashion Efa memang luar biasa canggih.
"Oke ... kita akan buat Bang Evan sampai gak bisa kedip buat merhatiin kamu. " Kayaknya Efa tiba-tiba juga jadi bersemangat dengan projecnya kali ini.
Mini cuma tersenyum malu, tapi dia lega kayaknya Mbak Efa sebenarnya orangnya baik kayak yang dikatakan Bang Brandon.
"Kita belanja dulu untuk membeli beberapa pakain untukmu, baru setelah itu kita kesalon."
"Aduh, tapi mbak! aku gak bawa uang," cemas Mini. Dia memang gak bawa apa-apa karena tadi dia kan lagi di rumahnya Bang Harris pas Barandon tiba-tiba jemputin dia.
"Aku yang bayarin," acuh Efa.
"Aduh Mbak, jangan, aku gak enak,"___" nati jadi punya utang sama Mbak Efa."
"Gak papa nanti aku bisa minta ganti lebih banyak sama Brandon," canda Efa.
"Aduh mbak," beneran mini masih gak enak dan serba salah bagaimanapun dia gak biasa membiarkan orang lain membelikan barang -barang untuknya meskipun bagi Efa sepertinya hal kayak gitu memang sudah biasa. Si Efa itu memang gak pelit tapi bukan lantaran dia dermawan, tapi lebih karena anaknya memang kurang menghargai uang. Mungkin karena dia memang gak pernah ngerasain susahnya nyari duit atau sampai kekurangan.
Jadinya pas mereka belanja Mini cuma ngikut aja apa yang di suruh Efa. Mini sampai bolak-balik keruang ganti buat nyobain semua pakaian yang juga dipilih sama Efa. Sebenarnya mini capek tapi dia juga gak berani ngeluh, apa lagi si Efa itu orangnya agak cerewet dan perfectionis kalau urusan fashion. Bahkan mini sampai kasian sama mbak-mbak penjaga toko yang sempat kena omelan efa beberapa kali karena dia anggap lelet. Karena biarpun kayak gitu sejatinya Efa tipe orang yang maunya cepat kalau ngerjain apa-apa, dia bukan pemalas cuma manja dan cerewet aja penyakitnya.
"Gak usah banyak-banyak Mbak, di rumah juga udah banyak baju yang di beliin Tante Marrisa sama Mbak Chacha.
"Jadi istrinya Bang Harris juga sering beliin kamu pakaian?" tanya Efa agak sewot, dan kayaknya Mini gak tau kalau Efa memangbsuka sirik sama istrinya Bang Harris.
"Kadang Mbak Chacha bawain pakaian dan aksesoris tapi belum pernah juga ada yang kupakai."
Efa tau jika Mini memiliki cukup potensi utuk menjadi cantik dan dia sudah sangat yakin bakal bikin semua orang terkejut. Pasti selama ini baik Tante Marrisa atau pun istrinya Nang Harris belum pernah ada yang berhasil melakukannya. Dan sepertinya Efa juga punya ide sedikit jahil untuk mengerjai Bang Evan. Yang diam-diam juga suka sama istrinya Bang Harris, Efa tidak bodoh untuk mengetahui hal itu bahkan sejak Bang Harris belum menikah pun Efa tau kalau Bang Evan juga suka sama cewek abangnya. Gak heran kalau Bang Evan jadi kesal banget sama Efa yang kadang juga sering nyindir-nyidir perkara itu buat ngejekin dia.
Setelah merasa cukup dengan belanjaaannya Efa segera membawa mini ke salon langgananya, sepertinya Mini tidak terlalu membutuhkan perawatan kulit karena dia sudah punya kulit yang bersih dan terlihat sehat. Mungkin dia hanya perlu sedikit di benahi dengan makeup yang tepat, dan merombak seluruh gaya rambutnya yang kuno.
Efa mengambil semua paket perawatan untuk Mini mulai dari ujung kuku sampai ujung rambut, dan Mini hanya menolak pas mereka mau mengecat kukunya.
"Mbak aku gak boleh pakai itu," tolak Mini hati-hati karena bagaimanapun dia tidak ingin menyinggung Mbak Efa yang udah baik banget padanya.
"Kenapa?"
"Nanti Mini susah wudunya.'
"Oh,"Efa baru mengerti dengan keengganan si Mini.
"Kalau begitu bersihkan dan gunting rapi aja ya Mbak!" suruh Efa pada kedua petugas salon yang lagi nanganin Mini.
Satu petugas salon sedang merapika kukunya dan satu lagi masih mengoleskan pewarna di rambutnya. Mini agak pusing karena bau amoniak yang menyengat, tapi dia juga tetap harus memperhatikan Mbak Efa yang masih belum mau berhenti bicara.
Efa seperti sedang mengguruinya agar nanti bisa menentukan sendiri pilihan baju dan makeup yang tepat untuk dirinya sendiri. Karena Efa paham akan percuma dia mendandani Mini seharian jika dia sendiri tidak di beri pengetahuan cara yang benar untuk menangani dirinya sendiri, dan untuk urusan seperti itu sepertinya memang Efa ahlinya. Sepertinya Brandon memang gak salah pili. Wajar aja kalau selama ini baik Alex ataupun Tante Marrisa gak pernah berhasil karena mereka tidak secanggih Efa dalam urusan seperti ini.
Sambil para petugas salon menangani Mini, Efa tak berhenti untuk terus memberi pengetahuan pad gadis cupu itu, bahakancara berjalanpun sampai dia peragakan di dean mereka. Efa memang tipe orang yang sangat luar biasa percaya diri, dia gak pernah ambil pusing dengan beberapa pengunjung salaon lainnya yang jadi ikut memper hatikannya. Menurut pandangan Efa, jikapun ada yang tidak suka dengannya itu pasti hanya karena mereka iri dengan kecantikannya yang jelas gak murah dan gak setiap orang bisa memilikinya.
Efa kembali menjelaskan beberapa produk kecantikan yang tadi juga sempat mereka beli, dia juga menjelaskan cara memakai makeup yang benar, hanya sekedar cara simple yang bisa dia jelaskan karena tidak mungkin dia mengajarka teralu banyak materi pada Mini sekali gus. Walu dia tau jika ternyata Mini gadis yang cerdas dan cepat belajar, tapi Efa juga tau jkja Mini sebenarnya tidak membutuhkan keahlian makeup yang hebat, dia sudah punya basic kulit yang sehat dan wajah yang cantik dia hanya perlu makeup natural yang ringan untuk terlihat alami tapi terawat dan catik.
setelah hampir dua jam proses perawatan dan pewarnaan sekarang rambut Mini mulai di keringkan dan di blow untuk di rapikan. Mereka juga memotong di beberapa bagian dan membuatnya sedikit ikal. Mini sendir masih terbengong-bengong melihat rambutnya sendiri yang berubah seperti rambut jagung. Tapi sekali lagi, dia gak berani protes asal menurut mbak Efa benar. Karena sepertinya Efa juga cukup puas dengan hasil akhir yang di dapatkannya. Mini juga sudah mengganti pakaiannya dengan baju yang tadi sudah mereka beli.
"Mbak boleh gak aku pakai sweter?"
"Memangnya kenapa?" tanya Efa masih sambil ngoreksi pakaian Mini.
Kok kayaknya Mini agak malu kelihatan seperti ni," kata Mini sambil ngelihatin dadanya sendiri.
Efa hanya tersenyum, "Gak papa itu masih sopan, kok." jangan tanya seperti apa otak licik Efa sedang bekerja....
Memang masih tertutup tapi Mini tetap risi karena selama ini dia memang gak pernah cukup percaya diri untuk menunjukkan kelebihan anggota tubuhnya yang itu.
Menurut Efa meskipun bertubuh agak mungil, tapi Mini memang memiliki kelebihan ekstra di bagian itu, dan dia yakin orang sedisiplun Evanpun tidak akan bisa mengabaikannya.
"Tapi rasanya masih gak enak."
"Sudah pakai sekali ini aja , buat bikin gue seneng, nanti kalau tidak mau gak usah di pakai lagi," kata Efa.
Kayaknya Mini memang tidak memiliki pilihan dan akhirnya dia terpaksa nurut aja. Efa juga mulai senang dengan anak itu karena gak banyak protes dan gampang di atur.
Yuk kita temuin Brandon dulu di resto, dia udah gak sabar karena udah nungguin kita dari tadi.
*****