Alex

Alex
Bab 57 Dony



Chacha kesel karena beberapa minggu ini si Dony bawaannya udah kayak ibu-ibu yang lagi datang bulan di tanggal tua. Dari kemarin marah-marah melulu, gak di kantor, gak di mobil, kayaknya dia lagi seneng betul nyalah-nyalahin Chacha. Mulai dari lama balas Chat sampai, Chacha yang telat bangun juga dikomentari. Pakai nyindirin Chacha ngapain aja semalam sampai gak tidur-tidur, emang dikira dia suka kelayapan malam-malam buat cari masalah yang gak penting, sementara siangnya Chacha sudah di buat capek karena harus mondar-mandir di suruh-suruh orang. Kadang juga sampai ikut ngangkatin ember cat segala macam. Mungkin kalau dari kecil latihannya gak jungkir balik sma kejar-kejaran sama Bang Nugie pasti fisik Chacab juga gak bakalan sebandel ini untuk menghadapi rentetan perintah dari para senior yang kadang kelewat kejam dari kompeni.


Dony juga mulai kepo suka meriksain chat di HP Chacha, dan dia benar-benar gak suka kayak di curigain terus seperti itu. Gak jarang mereka jadi mulai sering bertengkar karena kecemburuan sepelenya si Dony yang makin tidak masuk akal. Intinya dia memang masih cemburu banget sama Bang Harris sejak mereka ketemu di nikahan Bang Nugi waktu itu.


"Bilang aja kamu suka, sama temen abang lo itu! " tuduh Dony pas Chacha lagi berusaha bersikap tenang untuk ngebahas kecemburuannya yang sia-sia. 


Biarpun itu benar tapi kenyataannya memang gak pernah ada hubungan apa-apa di antara Chacha sama Bang Harris, jadi wajar kalau dia merasa sangat tidak adil jika dituduh selingkuh. Lagi pula siapasih yang gak engab di tuduh selingkuh sama pria yang bahkan sama sekali tidak pernah peduli sama perasaannya.


Dony kembali bungkam seribu bahasa pas nganterin Chacha pulang dari kantor sore itu. Kayaknya dia juga sengaja nyetel musik yang sama sekali gak enak di dengar gendang telinga.


"Bisa gak pelanin dikit? " protes Chacha ,  tapi Dony acuh aja.


"Berhentilah bersikap menyebalkan!" Chacha benar-benar mulai tidak tahan,  dan mematikan volume musiknya.


Dony masih acuh, dia hanya meraih botol mineral dari atas dashboard, meneguknya dengan cepat kemudian melempar botol kosongnya lewat jendela.


"Kenapa gak di masukin tempat sapah aja sih! "  protes Chacha yang benar-benar tidak suka.


"Entar juga di pungut pemulung," acuh Dony yang langsung kembali cuek.


Serius Chacha kesal, walaupun Dony masih gak ngerasa sama sekali jika kebisuannya di sisa perjalanan itu benar-benar lebih karena botol plastik yang dia lempar sembarangan tadi.


Mobil Dony kusuruh berhenti di depan rumah, kemudian Chacha buru-buru turun tanpa mempersilahkan dia mampir seperti biasanya.


"Besok gak usah antar atau jemputin aku lagi! "


"Kenapa? " kata Dony bingung pas baru nyadar Chacha benar-benar masih marah.


"Kita putus! "


"Karena teman abang lo itu lagi!" tuduh Dony dengan senyum mengejeknya.


"Bukan! tapi kerena lo buang sampah sembarangan! "


Seringai Dony  terlihat sinis, Chacha tau cowok itu masih kesal dan ngerasa di sepelekan. Tapi dia gak bilang apa-apa dan langsung aja tancap gas buat pergi. Mungkin dia juga masih tak menganggap serius tentang ucapan Chacha tadi.


Chacha memang tidak suka di atur-atur atau di cemburuin, karena menurutnya sebuah kepercayaan adalah inti dari dewasanya sebuah hubungan. Tapi dari semua itu Chacha tetap paling tidak suka dengan cowok yang buang sampah sembarangan, karena menurutnya ada ideoligi paling dasar yang ikut tertanam di sana. Saat sebuah tanggung jawab yang mudah saja tidak bisa dia terapkan dalam dirinya maka dari mana dia bisa berharap untuk layak mendapatkan kepercayaan. Dan gadis seperti Chacha tidak akan menghabiskan waktunya dengan orang yang bahkan tidak bisa menangani limbahnya sendiri seperti itu.


Saat kita menginginkan hidup yang nyaman, bukan berarti kita harus menjadi pengecut dengan memaksa bumi ini menanggung beban yang sangat tidak layak kita berikan padanya yang sudah memberi tempat untuk bernafas dan berpijak. Sampah adalah salah satu bagian yang sepele dan sebenarnya kita semua bisa menanganinya, jika kita masing-masing mau peduli. Tidak harus kita menyelesaikan masalah semua orang, tapi paling tidak mulailah dari diri sendiri, seperti kalimat yang sudah Bang Harris tebalkan dengan stabilo di buku pemberiannya.


"Walau sepele, hal baik tetap layak untuk dilakukan"


Sayangnya tidak banyak yang bisa mengerti alasan Chacha dengan benar, selain Bang Nugie tentunya, dia sangat menghargai prinsipnya bahkan dia tidak merasa perlu bertanya lagin ketika adiknya sering putus dengan cowok yang suka buang sampah sembaranganjuga atau saat dia mulai tidak mau makan daging lagi. Chacha tidak menjadikan hal itu keharusan tapi memang hanya sekedar aku pribadi yang tidak menginginkannya. Sama halnya saat seseorang memilih tidak  makan cabai atau berhenti mengkonsumsi gula demi kesehatan. Fia juga bisa memilih untuk tidak makan apa yang ia sayangi, bukan hanya untuk yang dia benci saja seperti petai atau jengkol karena Chacha memang tidak suka baunya saat Bi Supi merebusnya di dapur mereka, dan biasanya Bang Nugie juga ikut teriak-teriak sambil nutup hidungnya.


Jadi kalau Chacha sudah sering mutusin banyak cowok hanya gara-gara dia buang sampah sembarangan, itu juga pilihannya pribadi. Mungkin yang lain suka cowok yang tampan, yang tajir, yang tinggi atau yang putih, semua terserah mereka, itu lah pilihan mereka.


Karena hidup adalah pilihan sudah selayaknya kita sadar dengan pilihan kita!


*****


Kayaknya beneran tu anak gak nyimak kata-kata Chacha. Karena keesokan harinya Dony masih datang buat jemputin Chacha.


Chacha baru turun beberpa saat kemudian.


"Chacha bilang gak usah jemput! " kataku sambil buka gerbang.


"Kamu masih ngambek? "


"Bukan, kita sudah putus!"


"Yang bener aja? "


Dony jelas tidak terima karena masih merasa dipermainka. Tapi Chacha cuek aja trus nyamperin Pak Salim,  Ojol langganan Chacha yang udah nunggu dari tadi.


"Cha, Gue serius! " triak Dony


"Gue juga!" balasnya sambil naik di boncengan Pak Salim.


Biar aja klo dia juga mau cemburu dan marah-marah sama bapak-bapak tua yang ngeboncengin Chacha.


Serius, Dony ngebuntutin Chacha sampai ke kantor, udah kayak ekor cicak yang gak mau putus.


"Maafin gue, Cha."


"Chacha udah maafin."


"Trus."


"Trus, ya udah!"


"Ya udah gimana? "


"Yaudah kita udahan."


"Aku gak mau!"


Dia tetap jalan ninggalin Dony yang masih  berusaha gejar.


"Ini gak adil, Cha, masak lo mutusin gue tanpa alasan kayak gini?"


"Aku benar-benar gak suka lo buang sampai sembarangan itu sudah cukup jadi alasan! "


"Omong kosong! "


"Pasti karena lo masih suka sama teman abang lo itu kan! " tuduh Dony.


Mulai lagi dia ngungkit-ngungkit hal itu, "Sudah Don, Chacha capek! "


Acuhnya terus pergi dari pada harus buang waktu ngejelasin sesuatu yang gak bakal nyangkut di otaknya.