Alex

Alex
BAB 52 MASA KULIAH



Seiring waktu Chacha sudah mulai berusaha untuk bisa menerima Mira meski kadang masih sering ribut kalau Bang Nugie kayak lebih mentingin urusannya sama Mira. Kadang dia sampai ngotot, Bang Nugie mau pilih Chacha atau Mira.


Pokonya Mira udah kayak istri kesatu dan Chacha istri keduanya yang gak mau ngalah. Dia sadar itu ngejengkelin, tapi Chacha gak peduli. Biasanya Mira memang lebih sering ngalah dan Bang Nugi cuma maklum, menurutnya mungkin karena kelamaan jomblo makanya Chacha jadi sering rewel.


Sebenarnya kalau di pikir-pikir siapa sih yang lebih ngeselin ?


Si Mira, atau justru abangnya sendiri?


Walaupun Chacha jomblo harusnya si abang, kan, gak sampai ngomong kayak gitu tentang adeknya yang masih baper.


Sejak kenal Bang Harris Chacha memang jadi agak pemilih urusan cowok, standarnya jadi agak ketinggian dan kayak semakin susah untuk di sentuh nilai rata-rata cowok-cowok di sekitar habitatnay, makanya maklum kalau dia jadi keseringan jomblo, walau bilangnya tetap bahagia.


Chacha baru pulang sekolah pas Bi Supi bilang ada paket untukku, padahal dia gak merasa ada belanja online minggu-minggu ini. Pas dia periksa alamat pengirimnya, dia juga tidak terlalu ngerti karena istilahnya aneh, dan setelah di buka ternyata isinya buku, sebuah buku yang pernah banget Chacha pingin tapi belum terbit di Indo.


Masih agak panik karena kejutan itu, buru-buru segera dia periksa siapa tau ada yang terselip di salah satu halamannya. Dan benar saja, sebuah kertas lipat kecil baru aja meluncur jatuh dari sela buku yang dia ketuk-ketuk di atas meja.


"Ini cuma buku bekas, karena sudah Bang Harris baca.


Jadi, gak usah ngerasa ngutang, ya... "


Cuma itu tulis Bang Harris, dan anehnya Chacha terharu ngelihat tulisan tangannya yang indah. Atau Chacha aja yang lagi kelewat baper gara-gara dapat kejutan manis tak terduga di saat dirinya sedang merasa sangat di telantarkan oleh sahabat dan abangnya sendiri. Serius sampai sempat Chacha peluk itu buku sebelum akhirnya dia bawa lari kekamar.


Dia bongkar cepet-cepet isi lacinya yang berantakan untuk nyariin cincin pemberian Bang Harris yang pernah asal dialempar kedalamya karena kesal, dia sempat cemas tidak dapat menemukannya lagi namun Chacha segera lega pas ngendapati benda itu masih setia ngumpet di sana. Dia perhatikan cincin itu sebentar kemudian segera ia pakai lagi di jari jempol seperti dulu. Chacha mulai melompat naik ke atas setempat tidur tanpa melepas kaus kaki untuk segera mulai membuka halaman pertama buku tersebut dan dia kembali terkejut mendapati bubuhan tandatangan asli Author di atas halaman pertama, dan di atas sebuah foto yang sengaja di lekatkan denga selotip.


Itu foto Chacha, pas waktu masih jadi team cheerleader. Chacha gak ingat pernah ambil foto diri sendiri seperti itu, tapi biasanya si Mira yang paling rajin nge-tag account media sosialnya sama foto-foto norak hasil jepretannya, sementara Chacha sendiri paling jarang share foto di media sosia manapun. Apalagi sejak ingat Bang Harris gak pernah ngerespon pesannya.


Dari situ juga Chacha baru ingat, kayaknya dulu dia juga gak pernah ngasih tau Bang Harris soal judul buku yang Chacha pinginin, kecuali, entah Mira yang ember atau Bang Harris yang diam-diam juga kepo hingga sampai dapat foto Chacha segala.


Terlepas dari keterlibatan sahabatnya yang lemot, tapi Chacha tetap seneng karena tiba-tiba kembali merasa di perhatikan. Walau hanya dengan sebuah buku, dan Bang Haris ternyata juga sudah nandai beberpa bagian yang dia suka pakai stabilo, artinya si abang memang benar-benar sudah ikut ngeluangin waktu untuk baca ini buku. Dan ada yang bikin Chacha senyum-senyum sendiri pas baca beberapa kalimat yang sudah di tebelin pakai stabilo tersebut.


Chacha terus baca halaman berikutnya sambil sesekali ngelirik cincin si abang yang masih melingkar dijari jempol. Biarlah orang lain kira sinting yang penting hanya Chacha yang bisa ngerasain sendiri seperti apa senengnya.


Sampai beberpa lama dia masih suka bolak-balik baca itu buku yang masih selalu berhasil bikin Chacha kembali berbunga-bunga meskipun akhirnya masih tak berlanjut apa-apa setelahnya, karena bang Harris masih tetap gak pernah ada kabarnya. Beberpa bulan berlalu sampai dia mulai lelah berharap sebuah keajaiban. Akhirnya dia tutup lagi buku yang sudah berulang kali katam ia baca itu, dia masukkan lagi ke dalam laci dan ia selipkan di bawahnya cincin perak bang Harris yang sudah lelah dia pandangi setiap malam.


*****


Akhirnya Chacha dan Mira lulus SMU dan beneran kuliah di kampus yang sama biar Bang Nugie enak nganter jemputnya. Udah kayak sopir beneran aja profesi abangnya sekarang, udah gitu yang di supirin suka malak, kadang kami minta ramen, sesekali belanja make-up gratis dan minta makan di resto yang mahalan dikit kalau pas awal bulan. Bang Nugie abis dapat promosi lagi di tempat kejanya makanya dia juga agak royal sama adeknya, sebenarnya Bang Nugie itu juga gak pernah pelit. Dulu saat dia masih kuliah dan masih sama-sama ngandelin uang saku dari Mamanya, pokonya dia selalu ada aja duitnya tiap kali Chacha minta tambahan uang jajan. Sampai pernah Chacha tanya, "Ini uang Halal kan, Bang?"


Trus si abang langsung ngejitak Chacha sambil nyolot, "Emang lo pikir Abang sampai harus jual diri cuma buat nambelin uang jajan lo yang boros! "


Bang Nugi memang selalu ngomelin uang saku Chacha yang boros, tapi sejatinya dia tetap baik aja ngasih tambahan.


Bahkan sekarang pas Bang Nugie sudah kerja dan Chacha masih kuliah si abang pun juga pasti nyisihin gajinya buat uang jajan adiknya. Kadang si Mira yang paling anti minta apa-apa dari bang Nugie sering Chacha jadiin alasan juga jika lagi ada yang sedang Chacha pingin banget, karena pasti nanti si abang akan beli dua, satu buat Mira dan satu buat Chacha, pokonya sejak mereka pacaran Bang Nugi sering dikira sama pemilik toko kalau punya adek kembar yang sama-sama rewelnya.


Begitulah sangking jomblonya Chacha  jadi kesannya kayak ngintilin terus kemana aja acaranya Bang Nugie dan Mira. Untung Mira itu penyabar, dan setengah gak bisa pisah juga dari Chacha, jadi walaupun kadang niatnya Bang Nugie gak bawa Chaca, tapi si Mira yang suka lemot mikirnya malah minta di temenin Chacha. Padahal kan ada kalanya juga si abang pingin juga bisa berduaan aja sama ceweknya.


"Kayaknya kita harus nyariin cowok buat adik gue," kata si abang  pas mereka bertiga liburan akhir pekan di Puncak.


"Lihat tu!  Ada cewek yang lagi di mainin gitar sama cowoknya, emang lo gak pengen?" tunjuk bang Nugie pada dua orang remaja yang tadi datang bawa motor gede buat boncengin ceweknya.


"Ogah, Bang,  Chacha bisa main gitar sendiri," Chacha memang bisa main gitar biarpun gak bisa nyanyi, biasanyankan si Mira yang dia suruh nyanyi.


"Emang, lo gak pingin di boncengin pakai motor gede? " pancing si abang.


"Emang enak, Mir, di boncengin si Baim pakai motor gede? " trus dia pura-pura nanya si Mira yang langsung nyikut pinggangnya.


Chacha tau si abang emang paling kesel kalu di ingatin lagi sama si Baim, mantanya Mira. Gara-gara waktu itu Bang Nugie pernah ngelihatin si Baim hampir mukul Mira. Ingatkan? pas si Mira nangis di pinggir jalan trus tiba-tiba Bang Nugie datang kayak Superman buat nolongin dia sampai lupa harus jemput adeknya.


Ya Tuhan.... padahal itu sudah lama banget tapi tetap aja si abang masih dongkol sama tu cowok. Karena menurut Bang Nugie dirinya sudah cukup bermurah hati pinjamin Mira buat di boncengin kemana-mana, eh tu cowok malah ngelunjak. Padahal menurut Chacha, yang aneh itu Bang Nugie, pokoknya kayak si Mira itu dari orok juga sudah punya dia. Cuma si Mira kan anaknya gak banyak protes, jadi ya walaupun si Abang suka semau-maunya ngakuin dia, Mira sih cuma iya-iya aja.


Kadang Chacha juga iri kenapa mereka berdua kayaknya memang udah kayak satu paket yang pasti akan cocok-cocok aja. Bang Nugie bengal si Miranya slow aja nanggapinya, pas si Mira lemot, eh si Abang paling mentok ketawa-ketawa aja juga. Andai Chacah juga bisa ketemu pasangan seperti mereka, tapi nyatanya Chacha jomblo-jomblo aja! Sudah hampir tiga tahun, yang jelas sudah menjadi rekor terlama buat Bang Nugie ngejekin kejombloannya.


Kadang Chacah juga iseng mancing-mancing informasi lagi dari bang Nugie tentang Bang Harris, tapi Bang Nugie juga kayaknya semakin irit banget informasinya. Mungkin karena belakangan bang Nugie juga semaki sibuk sama si Mira sampai dia sudah jarang lagi ngikutin obrolan di grup bareng teman-teman kampusnya.


Chacha benar-benar seperti kehilangan jejak, gak tau ada di mana Bang Harris sekarang dan kenapa tidak pernah pulang untuk sekedar mengunjungi keluarganya. Sudah berapa kali libur musim panas Chacha berharap dan masih nihil. Mungkin Bang Harris memang sudah tidak ingin kembali, mungkin dia sudah begitu nyaman dengan hidupnya di negri orang. Bukannya tidak mungkin bang Harris memang sudah memiliki keluarganya sendiri, walau imajinasi itu agak menyakitkan untuk dipikirkan tapi Chacah sadar dirinya tetap berusaha berpikir masuk akal. Bang Harris adalah pria dewasa yang memang sudah sangat pantas jika memang ingin berumahtangga sedangkan did inya hanyalah apa?


Gadis kecil yang dari dulu hanya bisa diam-diam ngotot mengidolakannya.


Belakangan ini hubungan bang Nugie dan Mira juga sudah semakin serius, Chacah sendiri gak pernah nyangka jika sahabatnya yang lemot itu ternyata bisa melangkah jauh lebih maju dari pada dirinya yang hanya berkutat di tempat yang sama.


Setelah beberapa tahun berlalu, penantiannya pun rasanya percuma.


Sepertinya Cha-cha memang harus mulai mendengarkan saran Mira untuk sedikit menurunkan standar bodohnya. Tidak akan ada orang sesempurna apa yang ia inginkan, bahkan yang dia anggap sempurnapaun tetap bisa mengecewakannya dengan caranya yang lain.


Sebentar lagi Chacah harus mulai magang untuk semester terakhir, dia berharap akan ada kesibukan baru yang bisa memecah fokusku. Karena selama ini biasanya ia hanya berkutat di kampus bergaul dengan teman-teman yang sama dan kembali bertemu Bang Nugie dan Mira di lingkungan rumah. Sepertinya kemesraan mereka juga tidak sehat untuk dia serap, kecuali ia hanya akan semakin menderita dan cemburu sama keberuntungan mereka berdua.


Bang Nugie dan Mira bahkan sudah berencana untuk menikah sebelum Mira wisuda, gimana Chacha gak baper ngelihat dua pasangan yang sedang tergila-gila itu mondar-mandir di depan mata tanpa perasaan berdosa sama sekali.


Kadang Chacha juga kepingin banget nanya ke Bang Nugie, apa Bang Harris juga sudah nikah entah di manapun dia sekarang tinggal bersama keluarganya. Tapi rasanya Chacha gak tega ngasih lihat ke abangnya jika adik semata wayangnya itu diam-diam sedang menderita, dia selalu merasa jika berpura-pura ikut bahagia juga merupakan wujud cinta Chacha buat Bang Nugie yang selalu senang hatinya akhir-akhir ini. Kareana Chacha akan ikut senang jika akhirnya abangnya akan berjodoh dengan sahabatnya sendiri, meski sepertinya dia tetap tidak akan bisa membiasakan diri memanggil Mira dengan sebutan kakak, karena rasanya pasti akan tetap aneh di lidahnya.


Kulihat tadi Bang Nugi sudah pulang dari kantor, Chacha berniat untuk mendatangi kamarnya karena biasanya si abang memang akan langsung tiduran bentar sebelum mandi sore.


Chacha melihat pintu kamar Bang Nugie yang sudah setengah terbuka tapi orangnya sepertinya tidak ada, dia pun langsung masuk aja untuk menunggu mungkin abang masih di toilet atau ambil cemilan di dapur. Seperti biasa kamar bang Nugie akan jadi berantakan kalau Bik Supi sedang pulang kampung, dia pungut beberapa bantal yang jatuh ke lantai, kemudian ia rapikan sepreinya. Biasanya memang Chacha yang ngeberesin kamar si abang kalau gak ada Mama atau Bi Supi, karena Bang Nugie itu gak bakal mau ngelipet selimutnya sendiri. Biasanya dia akan bangun pagi-pagi dan langsung lari ngelilingi komplek, istirahat bentar, mandi sarapan langsung lanjut kerja dan hanya seperti itu kegiatannya setiap hari kalau lagi tidak ngisengin Chacha.


Chacha baru mau merapikan meja tulis pas gak sengaja ngelihat beberapa tumpuk undangan yang berserak, dia perhatikan satu-satu sambil ia rapikan, siapa tau ada yang dia kenal. Saat Chacha lihat ada nama Kak Siska di tulis besar di halaman utamanya dia sempat langsung deg-degan, tapi segera kembali lega karena bukan nama Bang Harris di sampingnya.


Jujur tiba-tiba Chacha merasa bodoh, karena pria seperti Bang Harris pasti sangat leluasa untuk bisa menemukan wanita manapun untuk di nikahinya.


Lama dia tunggu Bang Nugie gak muncul-muncul juga, baru kemudian Mama bilang si abang tadi buru-buru balik buat jemputin Kak Mira, serius mamanya benar-benar udah kayak mau nyuruh Chacha buat ngebiasaain nyebut sahabat lemotku itu kakak.


Bang Nugie dan Mira memang sudah menyelenggarakan lamaran dua bulan lalu, tapi bukan berarti Chacha harus jadiin dia kakak instan juga kan?