
Samar-samar Chacha merasa ada yang bergerak mengusik tidurnya, entah kapan dia mulai tertidur karena saat ia sadar tubuh Bang Harris seperti sudah bergetar mulai bergerak reflek dan mengejang seperti kesulitan bernafas, Chacha yang panik segera memencet tombol darurat dan berteriak-teriak pada Evan yang langsung ikut melompat dari sofa dan segera membantunya menahan tubuh Bang Harris yang sepertinya mengalami komplikasi. Tubuhnya masih mengejang hingga membuat beberpa alat medis yang menempel di tubuhnya ikut terlepas.
"Aku takut!" katanya saat coba menenangkan tubuh Bang Harris yang terus menggelinjang tapi usahanya sia-sia, sampai tim medis datang dan Evan memaksa menarik Chacha keluar meski dia berusaha berontak dan tidak mau meninggalkan Bang Harris.
Dia takut, sangat takut jika itu adalah kali terakhir ia bisa melihatnya.....
Di luar Chacha mulai menangis hingga berjongkok di lantai ketika Evan coba menenangkannya. Entah apa yang coba dia bisikkan di telinganya tapi dia sama sekali tidak bisa menyerap apapaun kecuali ketakutan nya sendiri. Seperti berpegang pada seutas benang tipis yang sewaktu-waktu bisa putus dan kehilangannya, pikiran Chacha sudah mengambang dan masih belum siap jika harus kehilangan Bang Harris dengan cara seperti ini.
Tidak ada siapapun saat itu, dan hanya Evan yang berulang kali coba menenangkannya meski ia tau dia sendiri juga tidak pernah lebih baik darinya. Beberapa saat kemudian saat dia berusaha untuk lebih tenang, Chacha lihat Evan justru masih berdiri menyadarkan punggungnya di dinding sampai kemudian dia mulai menyerah hingga ikut berjongkok di lantai sambil meremas kepalanya. Mungkin mereka memang harus merelakannya, selama ini semua keluarga mencoba untuk bertahan dan menghargai ke gigihan Alex yang belum mau menyerah dengan Bang Harris. Keputusan ini memang sulit tapi mereka tidak bisa membiarkan Bang Harris terus kesakitan seperti itu, di masih bertahan selama ini hanya karena alat penopang kehidupannya. Evan juga belum tau bagaimana harus menyampaikannya kepada Alex jika memang seluruh keluarga sudah merelakan Bang Harris.
Alex juga samasekali tidak bisa bicara. Didalam tim dokter masih coba menangani Bang Harris, beberapa perawat masih berlarian keluar masuk dengan kepanikan mereka masing-masing. Dia menatap Evan yang juga tidak memiliki jawaban.
Alex tidak sanggup berpikir apa-apa lagi, jika akhirnya memang harus pasrah dan mengalah untuk merelakannya pergi. Mungkin rasa sakit itu memang sangat mustahil untuk di tanggung lagi oleh Bang Harris. Dia menyaksikan bagaimana tubuh Bang Harris masih menggelinjang di antara para dokter terbaik yang sedang menanganinya.
Mungkin mereka memang harus merelakannya, karena rasanya chacha sendiri juga tidak bisa menyaksikannya terus kesakitan seperti itu. entah bagai mana tiba-tiba Evan sudah kembali menariknya untuk duduk.
"Janga di lihat," katanya dengan nafasnya sendiri yang masih bergetar ketika menatapnya dengan yakin.
Setelah itu mereka coba menunggu dalam keheningan dan sudah tidak terdengar lagi keributan dari dalam ruangan Bang Harris.
"Dia mengalami komplikasi yang berat saat syarf-syrafa otaknya mulai kembali merespon fungsi organnya," terang dokter yang baru bicara kepada Evan yang masih menggenggam erat tangan Alex berharap untuk bisa saling menguatkan.
"Berdoalah, jika nanti tidak terjadi komplikasi lagi mungkin kondisinya bisa membaik."
Dari situ mereka tau jika masih belum kehilangannya ...masih belum....
walaupun ia tau selama ini alat pemompa jantung itulah yang menjadi satu-satunya penopang kehidupannya, hanya alat itu yang membuat jantungnya tetap berdetak meskipun respon otaknya sebenarnya kosong. Itulah kenapa Manusia yang sedang koma pasca trauma otak yang berat pun masih bisa bertahan hidup hingga bertahun-tahun asal jantungnya masih berdenyut meski syaraf otaknya sudah dinyatakan mati, yang artinya tinggal kepasrahan keluargalah yang akhirnya bisa melepaskannya.
Chacha segera menghampiri ranjang Bang Harris ketika dokter mengijinkan mereka untuk menjaganya lagi.
"Bangun bang, Chacha gak mau naik motor lagi, Abang bangun dulu karena Chacha mau ngomong." katanya sambil mengusap sisa keringat dingin di wajahnya yang masih terasa hangat. Evan juga tidak sanggup menyaksikan Alex seperti itu.
"Maafin Alex, Bang, Abang boleh manggil Alex lagi kalu bangun nanti... " kemudia dia letakkan lagi kepalanya di samping tubuhnya yang masih tak bergeming tapi dia bisa merasakan nafas Bang Harris yang sudah kembali normal. Kuperhatikan bibirnya yang pucat dan mengecupnya pelan, bahkan dai tak peduli saat Evan ikut menyaksikan keputus asaannya saat berulang kali menciumi punggung tangan Bang Harris yang dingin dan berdoa berulang kali.
"Istirahatlah, akan ku carikan makanan untukmu," kata Evan sebelum berniat untuk keluar, mungkin karena tidak tahan harus ikut menyaksikannya atau dia memang sengaja memberi Chacha kesempatan untuk berdua bersama Bang Haris jika mungkin ini adalah kali terakhir yang bisa diberikan nya untuk mereka, meski Evan tidak akan pernah mengatakanya tapi sepertinya Slex tau dia juga ingin ia bisa merelakannya. Karena mungkin memang hanya tinggal ketidak relawannya lah yang masih menahan Bang Harris di sini. Alex tau bagaimana keluarga besar Bang Harris sudah berusaha untuk menghargainya, dia juga tau bagaimana Bang Haris sudah berjuang keras untuk bisa bersamanya, dan Alex akan memaafkanya jika memang Bang Harris harus pergi. Alex meletakkan kembali kepalanya di sebelah Bang Harris yang masih tak bergeming dia ingin bisa mengenang semua yang kelak bisa dia ingat, irama nafasnya, aroma tubuhnya, dan kehangatan jari-jari tangannya yang sepertinya sudah mulai kembali ikut menghangat di dalam genggamannya.
Alex tidak ingat kapan Evan kembali malam itu karena sepertinya dia justru tertidur dan baru kembali samar-samar terbangun saat sinar matahari sudah mengintip dari selah horden yang sudah sedikit terbuka. Jelas sekali dia merasakan bagaimana sentuhan tangan lembut itu membelai kepalanya dan dia pikir masih bermimpi saat melihatnya sedang tersenyum menyapanya.
"Hay... Alex."
Tidak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan kecuali airmata yang meluncur jatuh dari sudut matanya, dan dia kembali menghapusnya saat Alex hanya bisa menagis dan masih terus menangis saat memeluk tubuh hangatnya dengan nafas yang bergetar.
Setelah cukup lama Alex hanya peduli untuk memeluknya, ternyata dia juga baru sadar jika Bang Harris sudah tidak lagi mengenakan berbagai alat aneh yang menempel ditubuhnya, meskipun masih harus tetap memakai selang oksigen kecil di hidungnya.
"Berapa lama sebenarnya aku tertidur? Tanyanya tiba-tiba, " atau jangan-jangan aku memang belum bangun? " katanya kemudian.
"Apa harus kusuruh Evan untuk mencubitmu. "
Dan saat itu juga Alex baru sadar jika ternyata mereka tidak hanya sendiri.
Alex melihat Evan yang hanya mengedikkan alisnya dan masih duduk di sofa, Bang Nugie juga sedang duduk di bantalan sofa di sebelahnya, ada Mira yang sedang menggenggam tangan abangnya dan tersenyum menatap chacha. Bahkan Ibu Bang Harris sepertinya juga sudah ikut menjadi penonton saat dia hanya peduli untuk menangisi putranya. Tante Marisa hanya tersenyum dan berjalan menghampirinya.
"Harris melarang kami membangunkanmu."
Dan sungguh Alex merasa malu.
"Keajaiban ini adalah milikmu, Nak, karena gadismu yang tidak pernah menyerah bahkan di saat kami semua sudah tidak berani untuk berharap."
Bang Harris meraih tangan ibunya dan mengecupnya cukup lama," Doakan aku Ibu, doakan agar gadis ini masih mau menerimaku," kata Bang Harris saat kembali menatap Alex. Sementara Tante Marisa yang masih terharu hanya bisa menghapus air matanya dan tersenyum kemudian mengangguk berulangkali dengan masih menahan keharuannya sebagai seorang Ibu.
Entah kenapa justru Alex yang merasa sangat tidak layak, karena bagaimanapun Bang Harris sampai jadi seperti ini juga karena dirinya. Dia tidak tau apa yang harus ia ucapkan di depan semua orang seperti ini, merasa bingung dia hanya bisa menatap Bang Nugie yang kemudian juga mengangguk.
Alex kembali menatap Bang Harris yang masih menunggunya, sampai akhirnya dia pun hanya bisa mengangguk pelan tanpa bisa mengucapkan apapun lagi.
Tante Marisa melepas cincin di jari manisnya dan menyerahkan nya pada Bang Harris, "Berikan ini padanya. "
Sepertinya Bang Harris juga sempat terkejut saat Ibunya menyerahkan cincin pernikahan berharganya itu, tapi Tante Marisa kembali meyakinkannya.
"Gadismun layak mendapatkannya."
Bang Harris meraih tangan Alex dan mengenakan cincin pernikahan ibunya itu di jari manisnya, kemudian mengecup punggung tangan gadis itu untuk beberapa saat.
"Terima kasih, Alex," katanyan kemudian saat menatap gadisnya dengan senyum yang tenang, sementara itu Alex sudah tidak peduli lagi jikapun harus menjadi tontonan semua orang.
Dia kembali memeluk Bang Harris yang memang hanya bisa berbaring.
Bang Harris mendapat banyak jahitan
Akibat oprasi tulang rusuknya, karena itu sepertinya dia masih tidak bisa leluasa untuk bergerak, selebihnya dia telah lihat baik-baik saja. Dari awal memang Bang Harris mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya karena tubuhnya yang sempat terplanting dari motor ketika Dony sengaja menabraknya dari belakang. Mungkin dadanya juga sempat ter bentur stang motor besarnya sebelum kemudian akhirnya terhempas cukup keras keaspal. Jika mengingat pendarahan hebat yang sempat di alaminya Alex juga perlnah merasa seperti kehilangan harapan, mungkin benar kata Tante Marisa, ini adalah keajaiban. Bang Harris sepertinya juga mengalami pemulihan yang cukup cepat jika mengingat bagaimana kemarin dia sempat mengalami komplikasi yang cukup hebat, tim dokter juga mengatakan jika gumpalan darah di otaknya sudah mulai kembali diserap oleh metabolisme tubuhnya sehingga mereka tidak perlu khawatir lagi. Bagaimanapun Alex sempat kembali khawatir saat tim dokter sempat menyarankan untuk melakukan oprasi pengangkatan gumpalan darah di bekas benturan dikepalanya. Tapi sekali lagi, hanya Tuhan yang bisa membuat keajaiban, dan tidak ada hentinya dia bersyukur untuk semua itu.
Tiap kali Alex melihat bekas luka melintang di dada Bang Harris maka dia akan selalu ingat betapa bersyukurnya dirinya.