Alex

Alex
bab 69 manfaat



Alex sedang duduk di meja makan menunggu Bi Supi yang sedang membuatkan sarapan untuknya. Mama, papanya sudah pada berangkat ke kantor seperti biasa dirumah hanya tinggal mereka berdua.


"Non Chacha mau omletnya pakai paprika apa tidak?"


"Kasih sedikit aja, Bi. "


"Aku mau lebih banyak paprikanya!" sela suara lain yang tiba -tiba sudah berdiri di ambang pintu.


Alex langsung melompat ke pelukan Bang Harris yang entah dari mana datangnya. Sepertinya dia sengaja ingin membuat kejutan atau karena sama-sama tidak sabarnya, rencanaya dia memang baru akan pulang satu minggu lagi.


Sepertinya Alex tiba-tiba juga lupa dengan menu sarapannya.


"Kita tetap harus sarapan dulu," kata Bang Harris kemudian dan Bi Supi sepetrtinya sampai ikut tersipu malu melihat tingkah mereka berdua.


"Apa kalian ingin bibi tiba-tiba menghilang?"


"Jangan, Bi, nanti sarapanya tidak jadi," sahut Bang Harris di sela kesibukannya menciumi Alex.


"Ya, Tuhan.... rasanya Bibi jadi ingin kembali muda."_____"Sudah habiskan dulu sarapan kalian, baru lanjutkandi tempat lain. "


"Kami akan membawa kekamar saja sarapannya, Bi." kata Bang Harris.


"Oh yang benar saja."


Belum ada yang tau kalu bang Harris sudah pulang, termasuk bang Nugie yang pagi itu langsung kedapur buat nyari mbok Supi.


"Mbok, Alex mana?" tanya si Abang yang lagi bawakan buah pesanan adiknya kemarin.


"Eh, Bang...!" Bi Supi nya kembali terkejut, "Non chacha masih di kamarnya. "


Bang Nugie sudah mau naik ketika Bi Supi buru-buru melarangnya, "Eh, bang!  tunggu, ada bang Harris baru datang juga."


"Harris sudah pulang!" bang Nugie heran.


"Ya, Bang baru aja dan langsung bawa Non Chacha ke kamarnya."


Bang Nugie kayaknya masih bengong dan gak tau harus ngomong apa. Trus dia minta di buatin sarapan aja sama Mbok Supi sambil nongkrong di dapur nungguin itu orang dua yang gak tau kapan bakal turunnya.


Kenapa kayaknya Bang Nugie yang jadi khawatir gini ya, mungkin perasaanya aja yang berlebihan. Karean seharusnya bang Harris juga tau kira-kira kalau Alex  sedang hamil besar. Tapi ini sudah lewat dua jam dan mereka belum turun-turun juga.


Bang Nugie akhirnya memilih pulang dan pura-pura gak tau aja.


Pas nyapek rumah kayaknya malah Si Mira yang ikut ke bagian efek sampingnya.


Mira dan bang Nugie sudah kembali kerumahnya sendiri sejak bayinya umur sebulan kemarin. Kali ini Bang Nugie masih ambil cuti satu minggu buat bantuin Mira adaptasi ngurusin bayinya sendiri.


Sejak balik dari nganterin buah pesanan Chacha kayaknya Bang Nugie jadi males ngomong dan cuma mondar-mandir keluar masuk rumah gak jelas sampai Mira yang ngerasa risi akhirnya nanya.


"Kenapa sih Abang bolak-balik kayak setrikaan? "


"Harris sudah balik, " katanya masih sambil jalan.


"Kok, Abang gak jemputin? "


"Dia sudah di rumah. "


"Mira kira masih satu minggu lagi."


"Trus, kenapa kayaknya Abang yang pusing? "


"Masalahnya Alex lagi hamil gede! "


"Trus..! " bingung Mira yang beberapa detik kemudian baru paham.


"Ya,  Tuhan Bang mereka kan suami-istri dan sudah pada gede masak gak ngerti. "


"Entahlah, aku kurang percaya sama Haris !"


Mira tau dari dulu Bang Nugie memang sangat keras sama bang Harris pasti dia punya alasan sendiri tentang hal itu bagaimanapun pasti bang Nugie juga sudah sangat mengenal sahabatnya itu.  Mira tiba-tiba juga gak mau ikut mikir.


"Trus Abang mau ngapai?"___" mau ngetok pintu kamarnya trus nyuruh mereka biar gak deket-deket ,gitu? "


Mira sampai ingin mukul jidatnya sendiri gara-gara Bang Nugie yang kayaknya masih belum bisa percaya sama suami adiknya sendiri.


Alex dan Bang Harris baru kembali turun pas lewat tengah hari dan langsung nyariin Bi Supi karena pada laper.


Bang Harris lega karena kayaknya Bi Supi memang sangat telaten mengurusi Alex. Bahkan Bang Harris sempat terpikir untuk membawa Bi Supi untuk tinggal bersamanya.


Mungkin Bang Harris belum tau kalau Bang Nugie yang mungkin akan murka jika dia juga mau nyuri Emboknya.


"Bang Harris mau apa?  Sini Bibi bikinin, " tawar bi supi setelah selesai membuatkan makanan untuk Alex.


"Sisanya Alex itu aja, Bi, " kata Bang Harris yang kayaknya kok seleranya sederhana banget.


Bi Supi memang belum terbiasa dengan Bang Harris karena kemarin kan Bang Harris baru beberapa hari aja tinggal sama mereka. Cuma Bi Supi sempat ngira jika anak orang kaya maunya bakal aneh-aneh dan selau ingin di layani. Tapi tadi Bang Harris malah mau bikin kopinya sendiri pas Bi Supi disuruh buat bikinin makanan untuk Alex dulu.


"Beneran Abang mau makan yang seperti ini? " ulang Bi Supi kurang yakin pasnaruh sisa makanan yang tadi juga di taruh di piring Alex.


Alex memang cuma makan sayuran dan jamur yang kadang cuma di tumis dengan sedikit bawang. Agak hambar rasanya untuk orang normal, tapi sepertinya Bang Harris asik aja ikut ngunyahnya. Bahkan dia habis duluan dari pada Chacha.


Sampai sekarangpun kadang Bi Supi masih sering heran bagaimana non Chacahnya bisa nemu anak orang seperti Bang Harris. Bahkan dia kadang terlihat sangat tidak cocok untuk ikut duduk di dapur mereka tapi sepertinya Bang Harris memang mudah membaur meski konon keluarganya adalah salah satu orang terkaya di asia tenggara.


"Gimana kalau Bi Supi tinggal sama kami saja? " tanya Bang Harris yang baru balikin piringnya.


"Kayaknya Bang Nugie yang bakal ngamuk kalau Abang bawa emboknya! " sahut Alex.


"Bang Nugie itu walaupun sudah pindah rumah, dia masih suka nyariin Mbok Supi kalau lagi lapar."


Bang Harris memang sudah berencana membeli rumah sendiri yang tidak terlalu jauh dari keluarganya, untuk sementara waktu. Bang Harris juga akan mulai mengambil alih perusahaan keluarganya, karena itu sepertinya dia juga harus tinggal untuk beberapa tahun dulu, sembari bisa ikut memantau kesehatan Ayahnya.


Kesehatan Tuan Serkan yang semakin menurun belakangan ini tak urung membuat putra-putranya khawatir. Apalagi bagi bang Harris sebagai putra tertuanya yang seharusnya memang memegang tanggung jawabnya. Untuk itu juga Bang Haris akhirnya harus mengalah dan kembali menangani perusahaan keluarganya, meski sejatinya dia lebih suka mengurus perusahaan yang sudah dia rintis sendiri. Mungkin itu hanya bagian dari ego tapi tanggung jawab memang tetap harus dia pegang.


Dari kecil Bang Harris adalah anak yang dibesarkan dengan disiplin tinggi, saat anak rata-rata seusianya masih asik bermain game dan bercanda dia sudah dijelaskan mengenai semua tanggungjawabnya kelak. Sebagai putra tertua Bang Harris juga sudah sangat paham dengan posisisnya. Dia terlahir di keluarga yang sudah sangat berada tapi dia di tempa dengan pendidikan mental yang kuat, dia sangat paham tentang perjuangan dan kerja keras. Dia sangat disiplin dan tidak pernah membiarkan dirinya bermanja-manja. Meski orang tuanya sudah sangat sukses bukan berarti anaknya tidak bisa bangkrut jika dia tidak mau bekerja keras.


Berulang kali juga Bang Harris menjelaskan ke pada Alex, jika dirinya memiliki tanggung jawab yang tidak bisa dilepaskan. Karena bukan hanya untuk kejayaan keluarganya tapi juga ribuan orang yang ikut bergantung hidup dari mereka.


Sepertinya Alex juga cukup mengerti dengan hal itu, bagaimanapun Bang Harris tidak bodoh. Dia bisa menilai seperti apa wanita yang layak untuknya, meski masih sangat muda Alex sudah bisa memegang keyakinannya dengan begitu kuat meskipun nampaknya sederhana. Yang jelas bukan hanya sekedar karena kecantikan seperti yang sering dia katakan selama ini. Alex memiliki jiwa sosial dan kepedulian yang tinggi dia juga berani mengutarakan pendapatnya dengan lantang dan mendisiplinkan dirinya untuk perubahan yang dia yakini.


Jadi kalau masih ada yang heran kenapa orang sepertinya Bang Harris sampai rela bersikeras untuk gadis seperti Alex mungkin mereka belum sepenuhnya paham jika hidup itu tentang manfaat agar tidak sia-sia.


Tak peduli masih di titik manapun dirimu berada tetaplah jadi bermanfaat agar hidupmu tidak sia-sia.


"Sebagian besar kehidupan tidak dibedakan oleh prestasi besar, mereka diukur dengan jumlah tak terbatas yang kecil tiap kali kita melakukan kebaikan dengan tulus."