Alex

Alex
bab 32 Chacha usil



Pagi-pagi banget Bang Harris sudah telfon sobatnya, karena Bang Nugi-nya masih lari ngelilingin komplek, akhirnya si Chacha yang ngerasa terganggu sama suaranya Dan Reynolds yang udah teriak-teriak dari HP abangnya.


Kayaknya si Dan Reynolds  gak tau kalau ini hari minggu, harinya Chacha berhibernasi.


Sekali bunyi, masih sempat Chacha cuekin.


Dua kali bunyi, dia mulai narik bantal buat nutup kuping.


Tiga kali bunyi, Chacha mulai guling-guling karena pening nutup telinganya pakai bantal kanan kiri!


Empat kali bunyi, dia lempar beneran itu bantal karena sudah gak tahan dan kepingin lompat buat ngelempar hp-nya bang Nugie lewat jendela.


Suara telfon udah kayak ayam berkokok, pagi-pagi gak ada jedanya sama sekali. Pas Chacha intip di layar ternyata cowok, dan Chacha gak kenal. Semisal itu Bang Nolan bakal Chacha kutuk seumur hidup biar gak jadi-jadi nikahnya. Semisal itu tadi cewek bakal langsung Cahcha omelin "Jangan ganggu-ganggu suami gue pagi-pagi!" begitu pikir Chacha, biar abangnya juga kapok.


Tapi karena yang telfon cowok, dan Chacha gak kenal dia malah gak mau angkat, Chacha pilih langsung matin power hp abangnya, tapi sebelum itu Chacha ganti dulu nada dering pangilannya.


Pas pulang joging sebenarnya Bang Nugie sempat curiga, karena si Chacha udah mandi plus makan  keripik sambil nungguin mamanya masak, padahal biasanya jam segini adiknya itu masih asik meluk guling di kamarnya. Si Chacha juga gak nyapa karena gak lama juga si Abang udah  turun lagi dari kamarnya, kayaknya buru-buru banget. Paling tadi dia cuma mandi cepet-cepet trus langsung kabur, tanpa sempat ngeringin rambut di kepalanya yang cuma dia acak-acak doang sambil lari ke mobil.


"Si Abang mau kemana? " tanya Mama pas noleh dari  penggorengannya .


"Gak tau, Ma, mungkin ada kebakaran," acuh Chacha sambil ngelanjutin makan kripik karena menu sarapannya belum juga jadi-jadi.


Bang Nugie benar-benar lupa kalau kemarin udah janji buat nganterin Bang Harris ke bandara, jadi pas ngecek pesan dan panggilan masuknya, Bang Nugie udah kayak di kejar setan aja tingkahnya.


Pas sampai di gedung apartemennya Bang Haris, untung Bang Harisnya udah nunggu dia di lobi.


"Sory gue lupa? "


Bang Haris cuma langsung ngelempar kunci mobilnya, "Sudah pakai mobil Gue aja, kopernya udah terlanjur masuk bagasi, tapi tetap lo yang supiri."


Tadinya memang Bang Nugie yang ngotot mau nganter Bang Harris ke bandara, sekalinya ditungguin dianya malah gak datang-datang udah gitu hp pakai direject plus di matiin pula, sampai-sampai Bang Harris sudah niat mau nyetir sendiri trus ninggalin mobilnya di bandara.


"Oh, sial! " umpat Bang Haris, " ada barang gue yang ketinggalan. "


Akhirnya Bang Harris balik naik lagi ke apartemennya di lantai dua puluh dua yang artinya lumayan juga bang Nugie nunggunya. Sambil nganggur ngetuk-ngetuk dasbor gak sengaja Bang Nugi lihat brosur yang sepertinya memang gak asing, trus dia langsung ingat sama acara amal di sekolah adiknya kemarin. Buru-buru dia buka brosur tersebut dan sekilas merhatiin deretan nomor rekening yang tertera di baliknya.


Sepertinya kecurigaan bang Nugie sangat beralasan, dan pas Bang Harris baru aja ikut masuk ke dalam mobilnya, langsung aja dia tanya.


Tapi Bang Harrisnya malah cuma senyum dikit plus ngedikin bahu santai. Bang Nugi tau jika jumlah segitu bukan apa-apa buat sahabatnya itu, tapi apa dia gak nyadar sudah bikin semua orang kaget.


"Lo tau, adik gue sampai beneran pingin lo nikahin! "


"Alex," kutip Bang Harris.


"Sangking dia itu benar-benar ngira lo itu adalah orang yang sangatlah mulia."


Dan Bang Harris pun ketawa.


"Gue datang malam itu, cuma rame banget jadi malas buat nyariin kalian."


Gak lama terdengar  musik dangdut yang gak tau-tau ngeganggu obrolan mereka. Tadinya mereka berdua cuma celingukan bingung nyari dari mana asal itu suara.


"Sepertinya hp lo," tunjuk Bang Harris karena kayaknya sobatnya itu tetap gak nyadar sama nada deringnya sendiri.


"Mustahil!" buru-buru bang Nugi nepiin mobil trus ngecek hp di kantong celananya, bagaimana ceritanya nada dering Radioaktif nya Imagine dragons tiba-tiba bisa jadi berubah dangdutan kayak gini? batin si Abang masih heran trus dia cuma bolak-balik aja casing hp-nya siapa tau karena tadi buru-buru sampai gak nyadar bawa Hp-nya Mbok Supi.


Parahnya tadi Chacha juga asal nyomot aja itu lagu dari aplikasi gratisan yang dia sendiri juga gak tau kayak mana isi lagunya, dia cuma baca judulnya sekilas dan udah kelihatan dangdut banget,  udah gitu volumenya dia maksimalin pula. Jadilah pas ada panggilan masuk rasanya udah kayak acara hajatan di kampung nenenknya di suka bumi.


Bang Harisnya cuma ketawa ngelihatin ekspresinya Bang Nugi, yang kayaknya beneran geli banget sama nada deringnya.


"Pasti ulah si Alex! "


"Pantes tadi dia reject terus telfon gue, " ingat Bang Harris karena menurutnya gak mungkin kalau Bang Nugie yang matiin telfonnya. Tapi menurut Bang Haris rasanya masih lucu, karena biar Evan atau adik-adiknya yang lain gak pernah ada yang mau ngisengin abangnya. Dan sekali lagi kayaknya Bang Harris cemburu sama Bang Nugie yang sepertinya bisa deket banget sama adiknya seperti itu.


"Bilangin Ke Alex, entar Bang Harris main kerumah pas udah pulang."


Di antara semua sahabat Bang Nugie, memang cuma Bang Harris yang belum pernah datang kerumah mereka, mungkin karena kesibukannya yang luar biasa itu, jadinya si Abang kayaknya sampai  gak punya cukup waktu luang untuk dirinya sendiri. Rasanya memang begitu besar tanggung jawab yang harus ditanggungnya selama ini, karena itu Bang Haris ingin lepas sejenak dan agar bisa hidup menjadi dirinya sendiri. Dia suka berkumpul bersama teman-temannya seperti Bang Nugie, karena rasanya Bang Harris bisa kembali ingat tertawa dan menemukan hal-hal-hal sepele yang membuatnya merasa seperti orang normal.


Selama ini Bang Harris memang sangat disiplin dengan hidupnya, dan menginginkan kesempurnaan dalam setiap pekerjaanya. Walau dengan sifat kerasnya yang sering menciptakan konflik dengan orang tuanya sendiri, sejatinya Bang Harris adalah anak yang sangat menyayangi keluarga.  Hanya saja dia tidak pernah membiarkan dirinya untuk dimanja, dia selalu ingin mandiri, karena dia juga merasa mampu menentukan hidupnya sendiri.


Terlepas dari sifat keras dan disiplinnya, Bang Harris sejatinya adalah pemuda sangat supel, karena itulah  pertemanan nya dengan  Bang Nugie bisa begitu kompak sampai sekarang. Bang Harris sudah mengenal Bang Nugie sejak semester pertama ketika mereka bergabung dalam salah satu organisasi mahasiswa, meski pun mereka beda jurusan tapi spertinya mereka memiliki kesamaan pandangan dalam bidang akademik. Bang Nugie adalah salah satu mahasiswa yang cerdas dan pandai bergaul karena itu sepertinya dia juga sangat mudah menemukan pertemanan di manapun.


Menurut Bang Harris ada perbedaan antara orang cerdas dan orang pintar,  ada terlalu banyak orang pintar tapi jika dia tidak cerdas maka dia tidak akan tau dimana harus menempatkan kepintarannya. Dia sudah sangat sering berurusan dengan orang-orang pintar seperti itu, yang sama sekali tidak memiliki etitut namun selalu ingin dihargai, dan dia sudah muak dengan jenis orang seperti itu yang berkeliaran di sekitar keluarganya. Karena itu Bang Harris lebih suka bergaul dengan sahabat-sahabatnya seperti Bang Nugie karena dirinya bisa merasa kembali waras seperti orang normal.