Alex

Alex
bab 13



Walau sudah yakin untuk belajar melupakannya tapi ternyata aku masih suka bandel dan iseng-iseng cari informasi dari Bang Nugie, meskipun sama saja seperti biasa, informasi abangku itu sangat irit jika tentang Bang Harris. Aku tau Bang Nugie pasti tau apa yang sejatinya kurasakan pada sahabatnya itu, mungkin dia hanya ingin menjaga agar adiknya tidak semakin kecewa. Padahal aku sendiri yakin diriku juga gak selembek itu, tapi Bang Nugie  kadang tetap saja berlebihan mencemaskanku.


Aku memang tidak pernah tau seperti apa kehidupan Bang Harris di luar negri. Mungkin saja dia  memang sudah memiliki pasangan, atau bahkan mungkin sudah berkeluarga, semua itu sangat mungkin dan wajar jika Bang Harris memang harus menjaga jarak dengan Chacha. Lagipula selama ini sebenarnya kami juga tidak pernah benar-benar dekat, mungkin perasaanku saja yang berlebihan menanggapi perhatiannya. 


Belakangan justru Bang Nugie yang sering balik mancing-mancing untuk memperbaiki status jombloku, mungkin  agar tidak terlalu terlihat mengenaskan. Namun setelah semakin dewasa sepertinya aku juga  sudah tidak bisa  lagi seperti dulu yang bisa gonta-ganti cowok tanpa rasa iba dan tanggung jawab.


Karena tidak ingin merasa selalu di kasihani dan selalu diusik dengan pertanyaan yang sama, belakangan ini aku dan Dony mulai menjalani hubungan yang lebih serius. Walaupun sepertinya Bang Nugie tidak terlalu suka dengan sifat pencemburu Dony, tapi aku merasa cukup nyaman selama kami dekat beberapa bulan ini, dan kami memiliki komunikasi yang baik sebagai modal utama menjalin hubungan yang sehat.


Bang Nugi dan Mira sudah mau nikah, dan jangan di tanya bagaiman sedih dan gembiranya Chacha. Karena,  entahlah, rasanya Chacha belum siap jika harus kehilangan Bang Nugie. Padahal rencananya mereka cuma akan pindah beberapa blok dari rumah kami setelah menikah nanti, dan baru tahun depan si abang dan Mira  benar-benar akan pindah ke Kalimantan.


Hanya membayangkannya saja Chacha sudah tidak tahan, membayangkan sehari saja tanpa keusilan abangku hidup ini rasanya sudah membosankan. Sama seperti pas si abang lagi sakit dan malas gerak, biasanya Chacha yang nyusulin ke kamarnya biar ada yang di gangguin. Dulu saat kecil kami sering bertengkar dan berebut mainan, tapi seiring waktu, semakin kami bertambah dewasa rasanya kami juga semakin tidak bisa jauh satu sama lain meski ribut-ributnya tetap aja sama. Kami suka saling mengganggu bahkan bertengkar dan baikan lagi, terus saja seperti itu gak ada bosan-bosannya. Mama dan Papa juga sudah biasa, jika kami bertengkar mereka tidak akan ikut campur dan membiarkannya saja karena menurutnya saudara akan tetap berbaikan lagi.


Setelah rahim Mama terpaksa di angkat setelah proses kelahiranku yang berat, mereka memang hanya akan memilikiku dan Bang Nugi, walau awalnya dulu si abang sempat marah karena memiliki adik perempuan yang tidak bisa di ajak main bola, tapi seiring waktu si abang mulai mau ngajakin aku main, dan mengajariku menendang bola. Maka jangan heran jika sekarang aku lebih bisa permainan anak laki-laki di banding anak perempuan. Papa dan Mama memang tidak pernah memisahkan kami dan selalu di besarkan bersama di rumah. Karena Papa dan Mama harus bekerja,  dari kecil Bi Supi lah yang sudah menjaga kami, dan selalu ikut keluargaku saat beberapa kali pindah rumah. Bi Supi orangnya penakut karena itu dia juga tidak pernah mengijinkan kami main keluar rumah. Sepulang sekolah satu-satunya temanku ya cuma Bang Nugie, demikian juga dengan si abang. Baru setelah kami SMP kadang aku bisa main ke rumah Mira dengan di antarkan supir. Setelah aku semakin gede dan Bang Nugie sudah kuliah dia sudah diberi kendaraan sendiri sama Papa,  dan tugasnya tambahannya adalah mengantarkanku kemana-mana, mengantar jemputku ke sekolah, ngeles, atau bahkan cuma nganterin main sama si Mira. Walau kadang suka ngomel-ngomel dan mengeluh sebenarnya Chacha tau si abang juga gak mau Chacha pulang pergi sendiri naik kendaraan umum, walaupun kadang di masa itu Abang juga suka gengsi kalau sampai ketahuan teman-temannya sebagai abang yang sayang banget sama adek perempuannya. Bahkan dia gak pernah mau ngakuin kalau punya adik perempuan Cantik kayak Chacha, kebiasaannya memanggilku Alex membuat teman-temannya pada otomatis ngira jika adiknya Bang Nugi adalah cowok. Mungkin pada masa itu akan lebih keren untuk memiliki adik laki-laki di banding adik perempuan yang suka rewel dan minta di anter jemputin kemana-mana.


Sekarang, jika ada hal yang ingin aku syukuri dalam hidup, itu adalah Bang Nugie....


waktulah yang dengan sendirinya akan membuat kami semakin jarang bertemu. Karena kami akan memiliki keluarga sendiri-sendiri dan tidak bisa bertemu setiap hari, saat itu pasti kami akan sangat merindukan waktu-waktu kami masih suka ribut seperti ini.


Kulihat pintu kamar Bang Nugi masih sedikit terbuka dan ada pendar cahaya redup dari dalam kamarnya, mungkin dia belum tidur dan masih harus menyelesaikan sisa pekerjaannya sebelum mengambil cuti panjang untuk pernikahannya nanti.


Aku turun dari tempat tidur untuk menghampiri kamarnya, "Abang belum selesai? " tanyaku pas si abang membenarkan kacamata yang jarang di pakainya.


"Chacha bantuin? " kataku.


Diapun melambai sama adeknya yang lagi baik hati.


Begitulah akhirnya malam itu aku sampai tidur berserakan di tepi ranjang bang Nugie bareng berkas yang belum selesai ku susun kembali karena sudah ke buruan ketiduran. Sepertinya Bang Nugie juga sudah terlalu lelah untuk membangunkanku agar pindah ke kamarku sendiri.


Meski saudara adalah teman yang paling sering kita ajak bertengkar, tapi setelah lebih dewasa kita pasti akan bersyukur telah memilikinya.