
Karena pulang kemalaman, akhirnya aku bangun kesiangan dengan jendela balkon yang sudah terbuka seperti biasa, samar-samar aku memperhatikan siluet dari pendar sinar matari yang terpantul kelantai di mana sebelah lenganku ternyata sudah jatuh tersampir si sisi ranjang. Rasa kesemutan masih menyerangku tapi aku segera terkesiap begitu menyadari cincin di jari jempolku yang sudah lenyap, aku ingat jelas saat memakainya semalam, atau jangan-jangan aku cuma bermimpi?
Yang artinya, Bang Harris ngasih cincinnya itu juga hanya mimmpi?
Aku segera bagun untuk memeriksa sekitar ranjangku, di bawah seprei, bantal bahkan kolong tempat tidurku, tapi tidak juga kutemukan apa-apa sampai aku merasa bodoh dan menyerah saat masih terduduk di lantai dengan sisa rambut mencuat seperti ular medusa.
"Non, Chacha ngapain? " tanya Bi Supi yang lagi melintas sambil bawa alat pel sama sapu.
Bukannya jawab pertanyaan Bi Supi aku malah udah kembali menempelkan pipiku kelantai untuk ngintip ke dalam kolong.
"Bi Supi, lihat Cincin Chacha? " tanyaku kemudian pas sudah duduk lagi.
"Bibi kira Cincinnya Bang Nugie, jatuh, tadi Bibi taruh di meja Abang."
"Ih, itu punya Cahacah, Bi."
Chacha buru-buru melesat ke kamar Bang Nugie, semoga belum ketahuan, kan, Bang Nugie gak boleh tau.
Seperti biasa si abang yang rajin bangun pagi sudah gak ada di kamarnya. Chacha segera cari di atas meja dan segera lega begitu melihat cincin perak bermata persegi tersebut benar-benar ada disana. Artinya bukan mimpi, Bang Harris benaran ngasih cincinya buat Cahca. Langsung aja kusambar itu cincin kemudian buru-buru kembali kekamarku sendiri, karena takut ketahuan Bang Nugie. Walau sebenarnya Chacha juga gak ngerti kenapa Bang Harris benar-benar gak mau sampai Bang Nugie tau, tapi karena aku malas mikir yang aneh-aneh dan belum tentu benar mending cepat-cepat kusembunyikan saja cincin tesebut di tempat yang menurutku paling aman. Biasanya aku akan pakai lagi cincin tersebut di jari jempolku pas mau tidur aja, kedengarannya agak sinting dan norak tapi Chacha seneng, karena kayak ngerasa masih memiliki sebagian dari Bang Harris meskipun orangnya sudah jauh dari Chacha.
Apa memang itu tujuan Bang Harris pas ngasih cincin ke Chacha, biar Chacha ingat dia terus dan gak akan lupa...hal sederhana yang manis untuk di ingat. Karena tiap kali ingat yang punya berada di tempat yang jauh disana, Chacha kembali senyum-senyum sendiri cuma dengan ngelihatin cincin kegedeannya yang cuma pas di jari jempol Chacha.
Sudah hampir satu bulan sejak Bang Harris balik ke UK.
Ingat! hanya di UK, bukan pelanet lain!
Tapi kenapa rasanya seperti si abang benar-benar kayak ngilang ke galaksi lain aja ya?
Dari semua akun media sosialnya pun seperti mati suri gak ada aktivitas, tapi pas Chacha cek lagi jauh ke postingan-postingan tahun sebelumnya. Sepertinya Bang Harris memang tipe orang yang kurang aktif di media sosial, bahkan foto profilnya pun sudah hampir sepuluh tahun gak pernah di ganti. Trus apa gunanya Chacha di suruh berteman tapi tetap gak ada kabar beritanya, DM Chacha pun juga gak pernah sama kali. beberapa kali Chacha coba post foto kenangan pas bareng-bareng kemarin sama Bang Nugie, Chacha hashtag juga gak pernah di respon. Sampai lama-lama Chacha males ngerasa kayak di PHP-in tapi mau mulai chat duluan gengsi.
Akhirnya Chacha simpen kembali itu cincinnya Bang Harris karena Chacha males ngelihatin lagi takut keingat-ingat terus sama muka gantengnya yang lama-lama nyebelin.
Iseng kutanya Bang Nugie pas kita lagi duduk-duduk di teras. Si abang kebetulan baru balik dari kegiatanya ngelilingin komplek di hari minggu.
"Bang Harris kok gak pernah respon, sih, tiap kali Chacha tandai?"
"Nah, itu buktinya Abang aja masih punya waktu buat ngechat cewek, biarpun sambil lari pagi."
"Sok tau, lo! "
"Bang, beneran apa Bang Harris gak pernah Chat Abang juga? " tanyaku sambil sedikit merengek kayak biasa kalau lagi ada maunya sama si Abang.
Trus bang Nugi cuma diam buat ngelihatin Chacha sebentar, "Jangan bilang, lo suka sama Bang Harris!"
"Cuma ngefans, Bang, beda sama Cinta," candaku sambil nyungir biar Bang Nugie gak curiga, kalau adeknya lagi kepo.
"Emang apa bedanya? " si abang mulai kedengeran jutek, biasanya Bang Nugie emang gitu, biar gak mau ngaku tapi sebenarnya dia itu suka jealous kalau Chaca lebih ngidolain orang lain dari pada abang sendiri yang lebih rajin nganter jemput Chacha ke mana-mana.
"Begini, ya, Bang," terangku pelan-pelan udah kayak ini perkara penting aja buat di bahas, padahal enggak, "kalau Chacha cuma ngefans sama cowok, Chacha bakal ikut seneng kalu temen-temen Chacha ikut ngefans juga sama dia kayak semacam ngefans sama artis gitu, tapi kalau Chacha Cinta sama cowok, gak bakal Chacha rela kalau ada yang lain suka juga sama dia."
"Ih, emang adek abang udah pernah jatuh Cinta? "
Respon Bang Nugie malah kayak hampir setengah jijik gitu ngebayangin Chacha beneran jatuh cinta sama cowok.
"Belum pernah sih Bang, tapi menurut Mira seperti itu."
"Jadi, Mira lagi yang ngajarin? "
"Ya, Bang, emangnya dari mana lagi Chacha bisa dapat kalimat dahsyat sepanjang itu kalau bukan dari si Mirra."
"Asal jangan baca puisi lagi! "
"Ih, Abang ngeselin !" Karena Chacha juga geli kalau di ajak ngebahas peristiwa itu lagi.
"Jangan suka Bang Harris dulu, Chacha masih kecil," kata si abang tiba-tiba terdengar serius pas sambil ngelihatin Chacha.
Memang, sih, Chacha udah tujuh belas tahun, tapi tetap aja bagi mereka aku ini masih anak-anak. Beda sama Kak Siska yang pastinya jauh lebih menarik di mata mereka.
Nah, kan, Chacha jadi sebel lagi kalau kepikiran ceweknya Bang Harris itu. Lagian kenapa sih Bang Harris kalau sudah punya cewek masih suka bikin Chacha baper, gak adil banget rasanya dia bisa seenaknya sendiri seperti itu.