
Chacha juga baru bangun pas dapat suara pemberitahuan di layar hp-nya yang berkedip. meskipun masih malas bangun Chacha berusaha meraih benda itu dari atas meja, dan segera memeriksa kotak pesan masuknya. Dia pikir masih bermimpi pas lihat deretan angka nol yang begitu panjangnya, Chacha sampai bolak-balik ngucek matanya karena masih gak percaya sampai tiba-tiba dia triak trus lari ke kamar Bang Nugie yang ternyata baru balik dari joging pagi.
"Bang coba hitungin apa mata Chacha gak salah lihat !" seru Chacha pas ngasih itu layar hp kedepan muka abangnya. "Itu dua ratus ribu atau dua ratus juta sih bang? " tanya Chacha masih sambil ngucek-ngucek matanya.
Bang Nugie sepertinya juga sempat bingung trus syok untuk beberapa saat, kemudian segera sadar buat ngecek lebih serius pesan perbankan tersebut.
"Jumlah sebesar ini cuma bisa dikirim dari account bisnis, emangnya lo ngasih nomor rekening ke siapa aja? " tanya Bang Nugie masih sama herannya dan Chacha juga cuma geleng.
"Setau Cahcah nomor rekeningnya memang ada di brosur semua. "
Yang berarti bisa siapa aja, tapi rasanya untuk ukuran anak-anak SMU yang pada ngumpul malam itu sepertinya mustahil jika ada yang sampai punya duit sebanyak itu.
"Trus, kayak apa bang? "
"Ya berarti itu, rejeki mereka," tambah si Abang, " tapi coba nanti kamu cek langsung aja ke bank siapa tau ada kesalahan. "
Saran Bang Nugi cukup masuk akal, dan sementara Chacha belum berani terlau seneng dulu, tapi uang duaratus juta itu tidak sedikit dan tetap aja ngagetin. Chacha masih ngelihatin layar hp-nya sambil ngomong sendiri
"Jika benar ada orang sebaik itu di muka bumi ini, rasanya Chacha juga mau Tuhan ciptakan satu buat Chacha."
Si Abang malah ketawa dengerin hayalan adiknya, "Dengerya," kata Bang Nugie pelan, " biasanya orang yang sudah gak butuh banget duit kayak gitu, itu orangnya sudah keriput dan tua, trus kamu mau kalau besok tiba-tiba dia datang beneran buat ngajakin lo nikah? Karena ternyata Tuhan ngabulin doa lo hari ini? "
"Sudah, mandi sana, entar lo telat lagi sekolahnya! "
"Yang bikin telat itu Abang, mana pernah Chacha telat. "
Seperti bukan hanya Chacha aja yang kaget hari itu, semua guru dan tim relawan Chacha juga masih kaget dengan uang dua ratus juta yang tiba-tiba nyasar ke rekening mereka. Karena sudah beberapa kali di cek, dan memang tidak ada kesalahan dari pihak bank meski mereka tidak mau memberi informasi sumber dananya, dan hanya mau disebutkan sebagai no name. Memang sangat wajar jika ada orang yang ingin melindungi privasi dalam kegiatan amal, tapi bagaimanapun uang duaratus juta itu tetap tidak sedikit. Kadang Chacha juga gak tau kenapa sampai nomor rekeningnya yang terpilih dari begitu banyak daftar nama, padahal pas dia cek lagi di brosur namanya juga cuma asal nyenpil aja, gak di atas, juga gak di bawah.
Mira malah sempat ngomong, "Mungkin itu lah namanya jodoh,Cha! dan siapa tau jangan-jangan dia jodoh lo juga. "
"Lo aja yang kebanyakan nonton drama! " tepis Chacha malah jadi jengkel sama lemotnya si Mira.
"Buktinya dia tetap milih nama lo yang jelek itukan? " kelitnya gak mau kalah.
Memang sih Chacha gak pernah suka dengan namanya itu, tapi bukan berarti jelek juga, bagaimanapun itu tetap nama yang di kasih oleh abangnya walau dengan cara agak maksa.
"Emangnya Chacha gak mau kalau beneran dapat jodoh yang tajir plus dermawan kayak gitu? "
Bukan apa-apa, karena diam-diam Chacha masih ke ingat sama perkataan Bang Nugi tentang kakek-kakek keriput yang mereka bahas tadi pagi. Trus bagaimana kalau Tuhan beneran ngabulin doanya ya????
Makanya dari tadi Chacha udah merinding sendiri ngebayanginnya.