Alex

Alex
BAB 104



Malam itu sepertinya mereka semua beristirahat dengan tenang, simbah juga sudah tidak terdengar batuk-batuk lagi. Brandon yang bangun paling dulu kemudian membangunkan Mini pelan-pelan sampai gadis itu sadar jika dirinya sudah tidur meringkuk di pangkuannya semalaman. Mini tau ini sudah pagi dan matahari sudah mulai mengintip dari tirai jendela yang belum dibuka.


"Maaf ya, Bang," Mini merasa tidak enak karena pasti kaki Brandon kesemutan setelah tidak bergerak semalaman.


"Sepertinya Simbah juga belum bangun," kata Brandon dan Mini pun segera ikut memperhatikan kakek dan neneknya yang masih begitu tenang dalam tidurnya bahkan dengan tangan yang masih saling berpegangan.


 Mini mendekati simbok yang tidur sambil duduk di tepi ranjang dengan meletakkan kepalanya di samping simbahnya yang juga masih sama-sama tertidur. Jelas mereka berdua sedang tidur dan tersenyum, awalnya Mini merasa lega sampai kemudian dia sadar ada yang aneh karena sepertinya mereka tidak bernafas. Mini segera menggoyang tubuh simbahnya yang tak bergeming kemudian dia berteriak karena merasakan tubuh itu sudah dingin.


Brandon yang juga terkejut segera meraih tubuh Mini yang sudah jatuh kelantai, Mini masih menangis bersujud di kaki simboknya, berulang kali meminta maaf entah untuk apa saja, karena lama-lama dia terdengar seperti orang yang sedang meracau. Brandon sendiri juga tidak tau dengan apa yang harus di lakukannya dia masih ingat seperti apa rasanya saat dirinya kehilangan neneknya beberapa tahun lalu, dan dia sangat mengerti perasaan Mini kali ini.


Sepertinya tangisan Mini membuat para perawat berdatangan dan Brandon hanya bisa membawa gadis itu kedalam pelukannya ketika para perawat mengurus kakek -dan neneknya .


Mini masih menangis dan mulai lemas ketika Brandon menariknya kesofa. Gadis itu masih mengguman tidak jelas ketika Brandon terus berusaha menenangkannya.


"Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Bang," ucap Mini berulang kali dan ikut membuat dada Brandon terasa sesak meski dia tidak bisa ikut menangis seperti perempuan untuk bersimpati.


"Kau memilikiku dan semua keluagaku juga menyayangimu," bisik Brandon meski Mini masih berusaha menggeleng di pelukannya.


"Aku tidak akan kemana-mana Mini, kau tidak akan sendiri."


Beberapa perawat menghampiri mereka dan menjelaskan beberapa tindakan pihak rumah sakit dan Brandonpun menandatangani semua prosedur administrasinya.


Mini memang sudah tidak memiliki keluarga dekat lagi di kampungnya selama ini yang dia punya hanya kakek dan neneknya yang hari ini sudah pergi meninggalkannya bersama-sama.


Para tetangga ramai berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa dan Mini masih tidak tahan untuk tidak menangis tiap kali mendapatkan ucapan duka cita dari mereka semua. Semua tetanganya tau jika Mini memang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi dan wajar jikak mereka semua juga ikut sangat sedih dengan kepulangan bersama kakek neneknya yang selama ini juga di kenal sangat baik oleh para tetangga.


Meski keluarga mereka miskin dan sederhanna tapi mereka adalah orang-orang baik yang sudah begitu gigih berjuang membesarkan cucunya sampai bisa menjadi anak gadis yang sangat berbakti pada orang tua dan selalu santun pada semua orang. Mini adalah gadis yang baik dan tidak semua orang tua beruntung bisa memiliki anak seperti itu.


Brandon pun sepertinya juga tidak bisa meninggalkannya lagi barang sedetikpun, entah sekarang atau besok sepertinya dia tidak bisa. Brandon hanya membiarkan Mini duduk dan bersandar dibahunya tiap kali gadis itu ingin kembali menangis.


Brandon sudah mengabari keluarganya sejak di rumah sakit tadi, meski sepertinya mamanya gak bisa datang karena kondisi ayah mereka yang juga tidak bisa di tinggal-tinggal lagi, tapi sepertinya tadi bang Evan akan menyusul. 


*******


like... like... ya