Alex

Alex
Bab 39 kerumah Mira



"Miranya ada tante? "


Tanya Bang Nugie karena kebetulan mamanya Miran yang  bukain pintu.


Mamanya Mira masih sempat bengong bentar, lihat si Abang yang kayaknya juga baru pulang dari kantor, dan tumben banget nongol di rumahnya. Biasanya kalau lagi jemputin Chacha si abang juga cuma nongkrong di mobilnya.


"Bang Nugie nyari Chacha? " tanya si Tante karena biasanya Bang Nugie ke rumah mereka cuma buat jemputin adiknya dan hari itu kebetulan Chacha juga gak lagi di sana, makanya si Tante agak bingung.


"Bukan, Tante, Bang Nugi nyari Mira," ulang si Abang cukup sabar menghadapi kelemotan mamanya Mira, yang kadang gayanya masih suka gokill ngalah-ngalahin anak remajanya. Makanya Mira paling gak mau kalau mamanya jemput kesekolah, mending Mira nebeng atau naik ojol aja.


"Siapa, Ma? " tanya Mira yang baru ikut nongol, mungkin karena mendengar keributan di rumah mereka yang jarang kedatangan tamu. Sebenarnya sudah biasa kalau mamanya itu keganjenan kalu ada abangnya Chacha. Tapi kenapa kali ini kayaknya justru si Mira yang jadi salah tingkah pas tiba-tiba lihat si Abang udah berdiri di pintu rumahnya.


"Mir, dicari Bang Nugi, " kata mamanya yang belum juga nyuruh si abang masuk.


"Masuk, Bang, " baru si Mira yang ngomong karena kasian Bang Nugie cuma dibiarin berdiri.


"Tante bikinin minum, ya? " kebiasaan mamanya Mira yang jadi kelewat bersemangat kalau ada Bang Nugie di rumahnya.


"Ya, Tante terimakasih, " Bang Nugie senyum terus menghampiri Mira yang mengajaknya duduk di sofa.


Mamanya Mira sudah kabur ke belakang dan akhirnya tinggal mereka berdua yang rasanya sangat canggung bagi Mira, meski si Abang sudah berusaha santai ketika mendekatinya.


"Mira, baik-baik saja? " tanya Bang Nugie sambil nyentuh tangannya.


Mira mengangguk, dan Bang Nugie tersenyum.


"Apa Mira mau keluar sama, Abang malam ini? "


Jujur aja Mira masih belum siap jika tiba-tiba harus menghadapi perkembangan hubungan mereka seperti ini. Makanya dia masih kelihatan bingung.


"Abang cuma mau membicarakan yang kemarin, " terang si Abang dan Mira benar-benar belum siap, dan sedikit takut jika ternyata Bang Nugie cuma mau meralat semua kebahagiannya.


"Kita tidak bisa membicarakannya di sini, karena Abang ingin kita membahasnya lebih serius. "


Dan Deg! jantung Mira seperti ikut berhenti sejenak ketika Bang Nugie malah mencium punggung tangannya dan menatapnya seperti memohon.


Apa Bang Nugie pikir Mira gak bisa jantungan, si abang berani berbuat seperti itu di ruang tamu rumahnya.


Mirapun buru-buru mengangguk karena takut kalau sampai ketahuan mamanya, untung Bang Nugie sudah sangat paham situasi dan sudah kembali menjaga jarak pas mamanya Mira udah balik bawain jus buah buat si abang.


Bahkan mamanya Mira tau kalau Bang Nugie suka makanan sehat tanpa gula, dan dengan begitu bangga mempersembahkan hasil kreasinya.


"Terimakasih, Tante. "


"Buat Mira mana, Ma?" iseng Mira


"Oh, sorry sayang, Mama lupa... "


Mira pura-pura mutar bola matanya, karena sudah biasa kalau ada bang nugi semua jadi terabaikan. Mentang-mentang mamanya pingin punya anak cowok dan gak keturutan.


"Kok Chacha gak ikut? " tanya si Tante yang baru ikut duduk di dekat putrinya.


"Cuma di suruh Alex nyanperin Mira yang bilangnya sakit. "


Sitante langsung ngelihatin putrinya dengan alis berkerut, "Kok, Mama gak tau kalau Mira sakit? "


"Gak, Ma Chacha salah paham aja, " kelit Mira yang tanpa sadar sudah ikut ngedukung kebohongannya Bang Nugie.


"Alex mau ngajak jalan, Tante, kalau Miranya gak sakit nanti kita jemputin. "


"Memangnya mau pada kemana? "


Karena gak biasanya mereka keluar di hari sekolah.


"Ada teman sekelasnya yang lagi ulantahun, makanya mereka minta di antar. "


Nahtu si Mira bingung, karena Bang Nugie bohong nya gak pakai konfirmasi dulu.


"Alex tadi yang sudah nyiapin kadonya,"  sela si Abang dan Mira  kembali merasa terselamatkan. Kayaknya si Abang memang paling ahli bohongnya.


"Jangan bolehin mereka pulang malam-malam, ya Bang, karena besok masih sekolah."


"Ya Tante nanti, Bang Nugi yang tungguin. "


Mamanya Mira langsung terlihat lega, apalagi pas ngelihatin senyumnya si Abang. Dari duluamanyanMira memang kepingin banget punya anak laki-laki yang kayak Bang Nugie, udah ganteng sayang pula sama adiknya.


"Yaudah, Tante, Bang Nugie pulang dulu, " pamit si Abang padahal Mamanya Mira masih kepingin lama-lama ngobrolnya. Tapi hari memang sudah sore dan Bang Nugie pasti capek karena baru pulang dari tempat kerja.


"Abangnya Chacah ganteng, ya," kata Mamanya Mira pas bang Nugie nya baru pergi.


Dari dulu abangnya Chacha emang udah ganteng, cuma Mamanya Mira aja yang tiap kali ketemu herannya kayak yang baru pertama lihat aja.


Kira-kira sekitar jam setengah delapan Bang Nugie balik lagi buat jemputin Mira dia sengaja gak turun dari mobil seperti biasa pas lagi sama Chacha. Mira yang udah siap dan degdegan dari tadi langsung lari dan masuk kedalam mobilnya.


Kembali berada di mobil berdua hanya bersama Bang Nugie, rasanya Mira jadi kurang nyaman, Mira tiba-tiba teringat kembali dengan apa yang kemarin mereka lakukan, dan tidak berani berpikir apa Bang Nugie akan melakukannya lagi malam ini. Kepala Mira rasanya seperti kembali mengambang tiap kali memikirkannya. Selama ini dia memang belum pernah di sentuh pria dan Bang Nugilah yang pertama kali baginya, makanya kesan itu masih begitu terasa buat Mira.  Mungkin beda dengan si Abang yang tentunya sudah jauh lebih berpengalaman dengan wanita, dan tiba-tiba Mira menyesal telah memikirkannya. Karena tiba-tiba dia juga sadar jika mungkin yang kemarin itu cuma hal biasa bagi Bang Nugi, dan mungkin nanti si Abang cuma akan meminta Mira untuk segera melupakannya.


Bang Nugie membawanya kesebuah kafe yang sangat ekslusif sehingga mereka bisa memiliki cukup banyak privasi.


Bang Nugie meminta Mira untuk membuat pesanannya dulu, sebelum mereka mulai bicara.


Jujur selama bersama Baim Mira belum penah pergi ke tempat se private ini, di mana hanya ada mereka berdua di sebuah ruang bersekat dengan pencahayaan remang. Mira sempat cemas jika Bang Nugie memang biasa membawa teman wanitanya ketempat semacam ini, bisa mulai Mira bayangkan apa saja yang mereka bisa lakukan.


"Apa, Mira keberatan dengan apa yang Abang lakukan kemarin? " tanya Bang Nugie ketika sudah kembali menggenggam tangannya dan Mira menggeleng.


Bang Nugie merasa lega hingga menarik Mira dan menhecup keningnya. Mira sendiri juga terkejut, bagaimana bisa begitu mudah dirinya memberi akses kepada Bang Nugie untuk menyentuhnya.


"Abang ingin kita lebih serius membicarakannya, " Bang Nugie masih menatap Mira dan tidak mau melepaskannya. Mira memang masih begitu polos dan memiliki segalanya yang laki-laki inginkan, karena itu bang Nugie juga merasa harus sangat berhati-hati agar mereka tidak terlalu terbawa suasana.


"Bang Nugie akan serius dengan Mira jika Mira mengijinkannya? "


Mira sendiri tidak tau bagai mana harus menjawab pertanyaan seperti itu. Bagaimana pun dia sangat tidak berpengalaman atau malah memang belum pernah sama sekali menghadapi pertanyaan seserius itu, jujur Mira agak takut dengan konsekuensinya.


"Mira takut dengan Chacha, " dan ternyata cuma itu yang bisa di ucapkan Mira.


"Kita bisa merahasiakannya dulu,"


Bang Nugie memang sudah memikirkan semua itu dengan masak-masak, dan bagaimanapun selama ini Mira juga sudah seperti adik perempuannya sendiri, tentu Bang Nugi tidak sedang main -main kali ini. Dia sudah sangat dewasa dan layak untuk hubungan yang lebih serius, tapi masalahnya Mira masih terlalu muda dan dia agak khawatir tentang hal itu.


"Kita bisa coba menjalaninya dulu, tapi Bang Nugi janji.  Abang ingin serius dengan Mira jika Mira sudah siap untuk Abang."


Berulang kali Mira hanya bisa mengannguk, dan rasanya itu sudah cukup bagi Bang Bugi merasa lega dan membawa gadis itu kedalan pelukannya.


Mereka diam untuk beberapa saat, Mira membiarkan Bang Nugie memeluknya. Mungkin mereka memang perlu ketenangan untuk bisa menemukan frekuensi yang sama. Kadang Mira sendiri juga masih sulit percaya mereka bisa sedekat itu, bahkan Mira bisa merasakan tekstur-tekstur keras dari otot Bang Nugie yang terbentuk di balik kemeja tipisnya. Ingat saat dulu Mira pernah sulit melupakannya ketika tidak sengaja melihat Bang Nugie setelah belolahraga, saat itu memang tidak pernah terpikirkan jika mereka akan menjadi sedekat ini bahkan sekarang Mira bisa menyentuhnya dan Bang Nugi juga mengijinkannya.


Bang Nugie mengambil jarak untuk menatap Mira,  "Percayalah aku akan menjagamu, " kata Bang Nugie sebelum kembali menciumnya seperti  kemarin.


Mira tau Bang Nugie sudah sangat berpengalaman melakukannya, tapi Mira percaya Bang Nugi akan menjaganya seperti janjinya tadi, dan Mira yakin Bang Nugie tau sampai di mana batasnya.


"Aku harus mengantarkanmu pulang," Bang Nugie masih menyapu bibir Mira dengan ibu jarinya. Baginya Mira dan seluruh kepolosannya benar-benar  masih seperti hadiah luarbiasa yang sulit di percaya, dan Bang Nugie merasa sangat beruntung mendapatkannya. Mira memiliki kelembutan yang manis, sesuatu yang sepertinya kurang masuk akal untuk bisa di berikan seorang gadis muda kepada dirinya bahkan dengan segala kepolosannya yang mengejutkan.


"Katakan, Apa nanti Mira mau menikah dengan Bang Nugie? " meski pertanyaan itu terkesan tergesa-gesa tapi sebenarnya sudah cukup layak untuk dia ucapkan sekarang. "karena hanya dengan cara itu aku bisa melakukan semuanya untukmu?


"Menikahlah denganku?"


"Agar aku bisa menjagamu, menyenangkanmu, dan memilikimu untuk diriku. "


Entah apa yang sedang di pikirkan Mira karena sepertinya dia memang meng iya kan nya begitu saja, dan membiarkan Bang Nugie menciumnya sekali lagi sebelum terlalu malam untuk mengantarkannya pulang. Mira yakin malam ini dirinya tidak akan bisa tidur lagi.