
Setelah kembali dari kampung halamannya Mini terlihat lebih sering murung, meski masih suka menyibukkan dirinya tapi Mini biasanya lebih suka melakukan semua pekerjaanya dengan cepat kemudian kembali kekamar. Pagi itu Mini sedang membantu pengurus taman untuk menyiram bunga di halman belakang, dan sepertinya dia terkejut saat ternyata Bang Evan sudah berdiri di belakangnya dan mengambil selang airnya.
Bang Evan cuma tersenyum kemudian melanjutkan menyiram bungan.
"Abang ngapain ?" tanya Mini yang terlihat bingung.
"Nyiram bunga," jawabnya enteng sambil terus ngucurin air dari selang.
"Abang gak bisa nyiram bunga?" tanya Mini, tapi si abang cuek aja.
"Jangan banyak-banyak Bang, nanti bunganya malah mati."
Sepertinya Bang Evan baru nyadar jika tindakannya itu terlihat bodoh bagi Mini. Akhirnya dia berhenti dan Menatap Mini.
"Baiklah, sebenarnya Abang cuma mau pingin ngajak Mini jalan," katanya terus terang.
"Abang kan pernah janji ngajak Mini jalan, kebetulan ini hari Minggu Abang libur."
Mini justru masih menatap Bag Evan kayak gak percaya.
"Apa mungkin kita selesaikan dulu nyiram bunganya baru nanti kita jalan," kat Bang Evan tambah kayak mengada-ngada.
"Sini Bang biar aku aja?"
Mini coba mengambil selangnya tapi Bang Evan menolak.
"Sudah gak papa aku juga bisa, coba lihat!"
"Aduh Bang, jangan jauh-jauh nanti kena orang."
Dan benar saja, karena baru aja Mini selesai ngomong si Efa yang baru nongol langsung teriak.
"Apa-apaan kalian ini," Efa benar-benar kesiram air dari selang Bang Evan.
"Mungkin dia belum mandi, " kata Bang Evan pas noleh Mini, dan gaya ngomongnya kayak si Efa gak ikut denger aja.
"Lagian sejak kapan, Abang suka nyiram bungan segala!" gerutu si Efa sambil ngibas-ngibasin sisa air yang sempat mengenai lengan bajunya.
"Memangnya apa urusanmu?"
"Gak pantes tau, Bang!" kesal Efa.
"Sudah sana mundur, gue mau nyiram rumput di bawah kaki lo!"
Efa buru-buru melompat mundur karena Bang Efan beneran ngarahin airnya ke kaki Efa.
"Ih, Abang serius, ngeselin banget!" Efa juga gak habis pikir bagaimana pria seperti Bang Evan tiba -tiba bisa bertingkah kekanak-kanakan sepeti itu.
Efa benar-benar kesal tapi Mini sepertinya justru tertawa, dan sampai benar-benar tertawa ketika si Efa sampai hampir terpeleset rumput karena Bang Evan juga gak mau ngalah dan bener-bener nyuruh Efa nyingkir pakai air.
"Bang Evan becandanya gak lucu!" protes Efa untuk ke sekian kalinya ketika akhirnya Bang Evan berhenti.
"Siapa yang mau ngajak becanda kamu, mending Abang Main sama kucing!"
Sepertinya mereka berdua gak bakal ada yang ngalah sampai akhirnya Mini yang nyela.
" Mbak Efa nyari Bang Brandon kan?" kata Mini ," dia lagi di ruang Gym." Mini sengaja ngasih tau biar si Efa buru-buru pergi.
Tanpa ngomong terimakasih si Efa pun buru-buru kabur nyariin Brandon, trus bang Evan noleh ke Mini.
"Mini sudah mandi?"
"Belum sih Bang, tapi tapi aku gak mau kalau di guyur pakai selang." Ternyata Mini memang sudah lebih waspada dan segera melompat untuk mengambil jarak.
"Kau mau kemana?"
"Aku gak mau di siram pakai selang, Bang."
"Siapa yang mau nyiram kamu pakai selang," kata Bang Efan yang tiba-tiba malah udah nyambar tubuh Mini dan memasukkannya kekolam renang.
Mini benar-benar kaget dan teriak, "Aku gak bisa renang!"
Untung Bang Evan juga udah gerak cepat buat nyambar pinggangnya, kemudian menahan tubuh Mini ke permukaan sambil membawanya berenang menepi.
"Aku pikir akan mati," katanya setelah berpegang pada tepian kolam renang. Mini masih terbatuk-batuk karena sempat menelan air sebelum Bang Evan meraihnya tadi.
"Sini Abang ajarin," Bang Evan yang sudah sedikit mundur kemudian mengulurkan tangannya pada Mini untuk berpegangan, tapi Mini menggeleng karena takut. Entah takut karena itu Bang Evan atau takut untuk berenang.
Karena kelamaan nungguin si Mini, Bang Evan yang memang gak sabaran kembali menarik pinggang Mini dan membawanya berenang, Mini sempat berteriak-teriak karena takut.
Efa tidak bodoh untuk mengetahui kekesalan Brandon ketika melihat Mini dan Bang Evan tadi, tapi apa pedulinya, bukan kah jika mereka lebih cepat menikah justru akan jauh lebih baik. Lagi pula Efa kenal Bang Evan dia juga bukan tipe pria yang akan tahan dengan wanita.
"Bang aku malu," kata Mini pas Bang evan mengangkatnya untuk naik dan duduk di tepi kolam renang. Terang saja Mini malu, karena dia hanya memakai baby doll dengan bahan tipis, maka jangan di tanya lagi bakal seperti apa pemandangannya saat menjadi basah seperti itu.
Jujur Bang Evan sepertinya juga harus exstra menahan diri, jika tidak ingin menarik gadis itu kembali ke dalam air dan menyelesaikannya di sana. Tapi sepertinya Mini masih belum mengerti jika keinginnan seorang pria bisa begitu kuat untuk di turuti, dan Bang Efan tidak ingin mengejutkan gadis muda itu dengan tindakan sembrono seperti itu.
"Tunggu di sini aku akan mengambil handuk untukmu."
Dengan cepat Bang Evan naik dari dalam air dan meninggalkan Mini yang masih mendekap tubuhnya sendiri diterpi kolam renang.
Tak lama si Abang sudah kembali dengan membawa handuk yang lumayan besar untuk membungkus tubuh Mini yang masih basah kuyup. Dan liciknya Bang Evan sepertinya juga tidak kehabisan akal, karena dia masih sempat mengecup kulit leher Mini ketika merapatkan handuknya, kemudian berbisik,"Mungkin sebentar lagi kita juga bisa mandi bersama."
Dukung author dengan like... like... ya
baca juga karyaku ADA ORANG LAIN DI KEPALAKU dijamin gak kalah seru....