
Tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiakan Bang Harris ketika akhirnya mengetahui kalau anaknya adalah cewek.
Tidak sia-sia dia sibuk memaksa Alex untuk pergi ke dokter hari ini, walaupun tadi Alex sempat ingin mengelak lagi sama janjinya. Sebenarnya Alex cuma takut aja jika sampai dia mengecewakan Bang Harris. Tapi pas tau anaknya cewek dan bang Haris bahagia, Alex pun ikut merasakan kebahagiaan yang luar bisa. Bang Harris juga tidak berhenti tersenyum dan ingin terus menciumnya dari tadi.
"Jangan jauh-jauh, Alex, kemari.. "
Alex pun mengikuti keinginan Bang Harris agar dia duduk di pangkuannya.
"Terimakasih, " katanya Lagi, sudah untuk kesekian kalinya.
"Abang yang akan memberinya nama, nama yang cantik," pesan Alex.
"Aku akan segera memikirkannya."
Entahlah, sepertinya melihat Bang Harris senang juga membuat Alex bahagia, diapun kembali memeluk pria yang di cintainya itu.
Hari masih terlalu pagi ketika Bi Supi membangunkan mereka. Dia memberitau jika Mira akan melahirkan dan sudah di bawa ke rumahsakit bersalain.
Alex buru-buru menarik Bang Harris agar ikut bangun.
Mereka mandi buru-buru kemudian segera menyusul kerumah sakit. Teryata mama dan papanya sudah pergi dari tadi, mereka melarang bi Supi membangunkan Chacha, tunggu dulu sampai pagi karena dia juga perlu istirahat.
Jadi waktu bang Harris dan Alex sampai di rumah sakit sekitar pukul tujuh bayinya sudah lahir.
Alex langsung memeluk abangnya dan menayakan kondisi Mira.
"Dia baik-baik saja para suster sedang membantu membersihkannya."
"Bagaimana dengan bayinya? "
"Dia sehat, cuma Mira agak cemburu karena dia lebih mirip denganmu. "
Alex masih tetap nganga tidak percaya.
"Lihatlah, " kemudian bang Nugie menunjukkan foto di hpnya.
Dan siapapun yang melihatnya pasti akan bilang jika bayi kecil itu mirip Chacha. Hudung tingginya yang ramping bulu mata lentik dan alis tebalnya semua mirip Chacha bahkan tidak ada Mira sedikitpun.
Sepertinya Bang Nugie juga ikut puas melihatnya. "Kau yang akan memberi nama."
"Namanya, Dany!" kata Alex sempat membuat alis Abangnya berkerut.
"Dany? "
"Ya, Bang ,Dany dari Daenerys, " kedip Chacha pas tersenyum.
"Kau memberi nama putriku dengan nama induk naga!"
"Dia akan menjadi wanita yang kuat. "
"Oh, ya Bang, anak kami juga perempuan, " kata Alex kemudian.
Bang Nugie langsung spontan ngelihatin Bang Harris yang cuma balas tersenyum padanya. Jelas dia sedang menikmati kemenangannya.
Kemarin Bang Nugie memang sempat berharap Keponakannya adalah laki-laki karena dia sendiri sebenarnya juga sangat menginginkan anak laki-laki, tapi karena anaknya sendiri perempuan dan ternyata sangat mirip dengan Alex rasanya di abisa menunda dulu anak laki-lakinya.
"Kapan kita bisa melihat bayinya? "
Alex mulai tidak sabar karena sudah sangat penasaran.
"Mungkin sebentar lagi mereka juga akan memindahkan Mira ke ruang perawatan. "
Mereka sempat menunggu sebentar sampai seorang suster memberitau mereka bahawa ibu dan bayinya sudah di pindahkan ke ruang perawatan dan sedang belajar menyusui.
Alex segera mengikuti Bang Nugie, karena Mira sedang belajar menyusui akhirnya Bang Harris belum boleh di ijinkan masuk dan masih harus menunggu di luar. Begitu Mira melihat Chacha datang bersama abangnya, Mira langsung merasa terharu dan ingin kembali menangis. dia sepertinya masih agak kikuk dan bingung saat tiba -tiba harus menjadi seorang ibu.
Jelas sekali dia masih kerepotan ketika suster beberapa kali membenahi caranya memegang bayinya sendiri, di sisi lain Alex coba mempelajari hal itu sebagai pembelajaran bagi dirinya nanti, meski dirinya sendiri tidak yakin seberapa banya dia bisa menyerapnya.
"Putri kita bernama Dany," kata bang Nugie ketika mendekati Mira dan menyentuh bayinya.
"Dany!" kutip Mira, sepertinya dia sama terkejutnya dengan bang Nugie tadi.
"Daenerysh," lanjutnya.
"Oh, Cha! lo bener-bener ngasih nama anak kami induk naga!"
Sebenarnya tidak ada yang buruk dari nama tersebut hanya saja mereka masih terkejut.
"Oh, terimakasih Tuhan Kau sudah memberi putri Bang Nugie yang mirip denganku" kata Chacah sekedar untuk kembali menggoda Mira.
"Untung lo cantik! " sewot Mira yang udah merasa ngandung sembilan bulan tapi seperti tidak di akui apa-apa
"Jangan -jangan mira benci chacha ya pas hamil kemarin?" goda Chacha Lagi, "sampai mirip banget kayak gini. " Chacha coba menggendong keponakan kecilnya sambil di jagain sma Bang Nugie karena sepertinya dia juga masih belum becus pegang bayi.
"Bagaimana mungkin kau sudah mau menjadi ibu sedangkan memegang bayi saja belum bisa," keluh Bang Nugie.
"Rasanya Abang nyesel sudah ngijinin kamu nikah dulu!"
"Jangan kenceng-kenceng bang nanti Bang Harris dengar," gak tau kenapa kayaknya bawaanya bnag Nugie mau ngajakin bang Harris musuhan aja.
Saat itu Bang Haris memang masih menunggu di luar bareng ayahnya Chacha dan Mira yang juga baru datang dari luar kota.
"Kapan bayinya bisa di bawa pulang ?" tanya Chacha.
"Mungkin besok atau lusa nunggu pemulihan Mira."
"Apa Mira akan pulang ke rumah mama?"
"Sepertinya kami akan pulang ke rumah Mira dulu, kasian kalau Mira gak ada yang jagain sementara bang Nugie kerja.
Sebenarnya rumah mereka juga tidak terlalu jauh, jadi tidak terlalu masalah mereka bisa saling berkunjung kapanpu saja.
Setelah mereka semua pulang dari rumah sakit Bang Harris coba kembali mengajak Alex bicara perihal rencana kepergiannya.
Sepertinya Alex juga merasa berat, tapi jika memang dia ingin melahirkan di sisni berarti Alex memang harus tinggal. Masalahnya sejak menikah mereka memang belum pernah saling berjauhan karena itu sepertinya akan sedikit berat ketika bang Harris harus meninggalkan Alex yang sedang hamil. Meski pun dia tau Alex bersama semua orang yang kan memperhatikannya tetap saja Bang Harris merasa serba salah ketika harus pergi.
"Tidak akan lama mungkin satu bulan, dan bang Harris akan segera kembali."
Alex sepertinya juga tidak punya pilihan dia ingat bagaimana jika dia sampai harus melahirkan di tempat yang jauh dari keluarganya, dia juga sudah mempertimbangkan hal itu. Bang Nugie juga setuju dengan keputusan bang Harris untuk pergi sendiri, bahakan dia berjaji akan menjaga Alex lebih baik dari dirinya.
Kadang bang Nugie memang masih sering ngeselin karena selalu merasa lebih baik dari Bang Harris dalam mengurus Alex, anehnya lagi Bang Harris juga masih sering kesal hanya karena hal sepele seperti itu.
Besok Bang Harris sudah harus pergi dan malam itu rasanya dia tidak bisa tidur tiap kali melihat Alex.
"Benarkah Alex tidak apa-apoa?" tanya bang Harris ketika tak sengaja kembali membangunkannya.
Alex akan baik-baik saja Bang jangan khawatir ada Bi supi yang bakalan ngasih Alex makan, canda Alex sekedar ingin mengusir kekeruhan di wajah bang Harris.
"Mungkin Alex tetap akan kangen bang Harris, " katanya kemudian.
Sebenarnya bang Harris juga tidak tau bagai mana mengatasinya nanti, mungkin jika dulu sebelum menikah mereka masih tahan jika harus berjauhan tapi sekarang rasanya memang agak mustahil. Kadang bang Harris sering heran bagai mana seorang suami bisa berjauhan hingga berbulan-bulan dengan istrinya sedangkan utuk seminggu saja dia sulit membayangkannya.
Dia kembali menatap Alex dan senyum polosnya.
"Kau tau aku tidak akan tahan berjauhan denganmu. "
"Kembalilah, Bang ,cepat kembali, Alex juga tidak mau berpisah lagi."
Setelah Bang Harris pergi Alex masih tinggal di rumah mamamnya dan ada Bi Supi yang setiap hari menemaninya. Sesekali bang Nugie membawanya kerumah Mira kadang dia juga minta di antar kerumah tante Marisa .
Hari ini Alex berkunjung kerumah ibunya bang Harris, sekalian menjenguk ayah mertuanya yang sedang sakit.
Jika melihat kondisi sang ayah sepertinya mereka semua juga berharap agar bang Harris segera kembali, meskipun sudah da Evan tapi anak itu sepertinya belum bisa mengambil alih semua tanggung jawab ayahnya tanpa bang Harris.
"Menginaplah di sini," pinta ibu mertuanya.
Sepertinya Alex juga tidak enak jika terus menolak, bagaimanapun dia tidak ingin di anggap kurang adil dan hanya mau tinggal di rumahnya saja. Apalagi sejak menikah dengan bang Harris, Alex memang belum pernah menginap di rumah orang tuanya. Malam itu Alex setuju untuk enginap dan sudah memeberitau bang Nugie untuk tidak perlu menjemputnya. Dia juga memberi tau bang Harris jika malam ini dia tidur kamarnya. Kamar bang Harris yang sebenarnya juga jarang di tempati oleh pemiliknya.
Alex memperhatikan poster ilmuan besar di salah satu sudut dinding kamar Bang Harris, dan tak heran jika si abang mengidolakannya. tapi sepertinya poster tersebut sudah cukup lama tergantung di sana mungkin saat Bang Harris masih SMA karena sejak umur tujuh belas tahun bang Harris memang sudah tinggal di apartemennya sendiri dan mungkin hanya sesekali waktu saja menginap di rumahnya.
Alex mengambil beberapa album yang masih tertata rapi di rak buku, bebrapa koleksi buku bersampul tebal juga nampak berjejer rapi disana. Mungkin itu sebagian buku yang sering bang Harris baca saja karena Alex tau ada perpustakaan juga di salah satu bagian rumah ini.
Alex tertarik mengambil album karena penasaran seperti apa bang Harris yang belum dia kenaal dulu. Di jaman sekarang album seperti itu memang sudah jarang digunakan lagi, tapi spertinya dulu mamanya bang Harris yang suka mengumpulkan foto-foto putranya dari masa-ke masa.
Ada banyak foto saat bang Harris masih anak-anak bahkan bayi, sampai Alex beberapa kali tersenyum melihatnya. Bang Harris tidak pernah terlihat jelek dalam setiap fotonya sepertinya dia memanng sudah cakep sejak kecil dan tidak banyak berubah. Tante Marissa yang setengah berdarah Turki sepertinya memang lebih banyak mewariskan gen padanya. Ketiga adik laki-lakinya pun tak jauh berbeda. Sama halnya Evan dia juga sangat mirip dengan bang Harris hanya saja dia tak setinggi abangnya.
Alex coba mengambil album yang lainya, dan sama semuanya tertata rapi seperti sengaja di urutkan berdasarkan tahun. Nampak bang Harris yang beberapakali mendapatkan penghargaan di bidang aka demik, sedikit mirip dengan bang nugie yang selalu berprestasi dalam berbagai hal sejak keci. Kadang Alex sering kembali berpikir jika dirinya ananti di beri kepercayaan untuk memiliki anak laki-laki akankah dia seperti bang Harris. karena sepertinya Alex memang sangat menginginkannya.
Sudah hampir tengah malam dan Alex belum juga tertidur saat mendengar nada pesannya berbunyi yang ternyata dari bang Harris yang sekedar ingin memastikannya sudah tidur apa belum.
[Kenpa belum tidur!] tulisnya.
Kemudian Alex malah mulai bercerita tentang apa yang baru dia temukan di albumnya.
[Tidurlah, jangan bikin abang cemas.]
[Ya] balas Alex padahal dia belum tidur juga setelah itu. sepertinya dia juga mengalami kesulitan saat harus tidur di tempat asing.
Sampai lewat tengah malam Alex belum juga bisa mememjamkan mata, sebenarnya dia agak takut jika besok akan bangun kesiangan. berulang kali Alex memaksa dirinya untuk memejamkan mata tapi belum berhasil juga.
Sepetinya bang Harris tau jika Alex tidak akan bisa tidur malam itu, karena itu dia kembali menelfon meskipun sudah lewat tengah malam dan langsung di angkat oleh Chacha.
"Alex belum bisa tidur bang. "
"Ambil selimut bang Harris di dalam lemari di bawah gantungan baju."
Alex segera mencari benda tersebut dan menemukannya terlipat rapi dan masih wangi meski kelihatan jarang di pakai.
Pagi harrinya Alex benr-benar hampir bangun kesiangan jika bukan karena alaram di hpnya yang berdengung-dengung di atas meja. Alex buru-buru kembali merapikan selimut bang Harris dan melipatnya. sebelum kemudian menulis pesan kepada pemiliknya
[Bang, boleh alex bawa pulang selimutnya.]
Belakang ini Alex memang sering susah tidur karena teringat bang Harris tapi dia sepertinya suka aroma selimut itu karena mengingatkannya pada pemiliknya. Alex buru-buru keluar setelah mandi tanpa mengganti bajunya karena dia memang tidak membawa baju ganti.
Semalam dia memakai baju tidur milik mamanya bang Harris karena memang hanya tante Marisa saatu-satunya perempuan di rumah ini kecuali para pembantu mereka.
Saat Alex turun sepertinya tante Marisa sudah menunggunya untuk sarapan.
"Apa Alex sudah bisa makan?" tanya ibu mertuanya ragu karean takut salah lagi seperti waktu itu.
"Alex sudah bisa makan nasi, Ma. "
sepetinya tante mtarisa suka dengan cara Alex memangilnya sepetrti itu, karean rasanya seperti memiliki anak perempuan sendiri.
"Kemari, boleh Mama pegang calon cucunya. "
"Tentu, "senyum Alex mengijinkan dan mendekati mertuanya.
Putra Mama pasti sangat senang akan memiliki anak perempuan.
"Ya, bang Harris yang akan memberinya nama nanti. "
"Pasti dia akan cantik sepertimu. "
"Atau seperti nenenknya, sambung Alex. "
Dan merekapun mulai membicarakan banyak hal menyenangkan tentang calon bayinya nanti, Alex juga senang membicarakan hal-hal menyenangkan yang bisa mengalihkan perhatiannya dari merindukan bang Harris yang semakin menjenuhkan belakangan ini.
"Tinggalah beberpa hari lagi, temani Mama memilih warna untuk perlengkapan bayi kalian nanti. Mama ingin membuat kamar bayi di rumah ini untuk cucu Mama nanti."
Kehamilam Alex sudah mulai memasuki awal bullan ketuju, dia harrap bang Harris juga kan segera kembali.
Akhirnya Alex kembali tinggal untuk dua malam sebelum bang Nugie menjemputnya untuk pulang kerumah. Alex tidak lupa membawa pulang selimut bang Harris untuk menemaninya tidur karena benda itu sepertinya memang berhasil membuatnya lebih nyaman. Satu minggu lagi rencananya bang Harris akan kembali dan Alex sudah sangat tidak tahan tiap kali memikirkan bertapa dia sudah sangat merindukannya.
Demikian juga dengan bang Harris karena rencana satu bulannya terpaksa harus di mundurka dua minggu lagi dan dia sendiri sudah tidak tahan ingin segera melihat istrinya. bagaimana Alex dengan perut besarnya yang pasti kan semakin menyusahkan. Kehamilannya sudah akan memasuki bulan ketuju saat bang harris pulang nanti dan dia sudah sangat tidak sabar. Siapa yang percaya jika suami isri kadang susah untuk dipisahankan, mungkin jika tidak pernah mengalaminya mereka tidak akan percaya bukan hanya untuk mereka yang baru setahun dua tahu menikah bahkan mereka yng sudah puluhan tahun menikahpun kadang juga masih merasa sulit terpisah karena sudah biasa bersama. Seminggu sudah sangat berat papalagi sebulan, Alex rasanya juga tidak mau jika harus dipisahkan lagi sepeti ini.