
Rutmini sudah mandi dan ikut berkumpul di meja makan bersama Tuan Serkan dan istrinya, ada juga putra termuda mereka Leon yang umurnya mungkin dua atau tiga tahun lebih muda dari Rutmini, dia masih duduk di bangku kelas dua SMU dan sepertinya dari kemarin sama sekali tidak peduli dengan keberadaan si Rutmini. Kadang si Rutmini masih sering heran bagaiman Tuan Serkan bisa punya putra yang pada ganteng-ganteng semua kayak gitu. Kalau si Leon kayaknya memang agak beda dari pada kedua saudara lainya, tapi secara garis besar mereka semua memang lebih mirip ibunya.
Tante Marrisa sempat kembali bertanya pada salah seorang pengurus rumahnya, karena putranya Evan belum nampak keluar dari kamarnya dari kemarin. Tapi sepertinya mereka semua sama-sama terkejut karena justru si Rutmini yang menjawab.
"Bang Evan sudah sarapan, sepertinya masih ingin istirahat setelah tadi minum obat. "
"Jadi kalian sudah bertemu?" tanya Tante Marrisa yang tiba-tiba merasa seperti baru kecolongan oleh putranya sendiri.
"Tadi Bang Evan minta di bikinkan roti," polos Rutmini ketika mengulang ceritanya.
"Jadi, Evan menyuruhmu membuatkan sarapan di pagi-pagi buta tadi? "
"Mungkin bang Evan kelaparan karena tadi malam tidak makan dan kebetulan hanya menemukan aku di dapur. "
"Seharusnya dia tetap bertanya tidak asal suruh seperti itu, " tante Marrisa masih agak terkejut dengan tindakan kurang sopan putranya, tapi Tuan Serkan sepertinya justru sedang tersenyum kemudian melanjutkan kembali sarapannya. Dan, tidak adalagi yang bicara setelah itu bahkan sampai sarapan mereka selesai.
Leon pergi ke sekolah, Tante Marrisa berpamitan untuk mengunjungi cucunya, dan Rutmini menemani Tuan Serkan berjalan-jalan di taman belakang. Tuan Serkan memang harus rutin berjalan kaki untuk terapi kesehatan jantungnya yang semakin menurun belakangan ini. Rutmini sepertinya anak yang telaten dan sudah biasa mengurus orang tua. Tuan Serkan sebenarnya belum terlalu tuan seperti kakek dan nenenknya cuma kondisi jantung Tuan Serkan yang bermasalah membuatnya harus mengambil cuti dini dengan semua rutinitas pekerjaannya. Sejak Bang Harris mau nggantikan semua tanggung jawabnya di kantor sekarang Tuan Serkan memang di anjurkan untuk istirahat total di rumah, dan kehadiran Rutmini sepertinya juga cukup menjadi penghibur baginya.
"Jadi kau sudah bertemu putraku? " tanya Tuan Serkan ketika mereka beristirahat di gazebo dan Rutmini membuatkan teh herbal untuknya.
Tadinya Mini hanya tersenyum baru kemudian dia mengangguk.
"Aku senang karena kulihat kau juga menyukainya. "
Rutmini sangat malu karena dia tidak tau jika ternyata ekspresinya bisa di tebak semudah itu oleh Tuan Serkan, walaupun dia tau jika semua orang pasti akan menyukai putranya itu.
"Bang Evan sangat baik, " kata Rutmini, kemudian.
"Apa yang kau pikirkan? " tabah Tuan Serkan ketika melihat keraguan di senyum Rutmini kali ini.
"Jika bang Evan tidak menyukaiku, tolong Tuan Serkan jangan memaksanya. "
"Dia akan menyukaimu. "
Mini menggeleng, "Bang Evan sangat baik, aku tidak mau membuatnya sedih. "
Mungkin memang hanya wanita seperti Rutmini yang memikirkan hal sesepele itu untuk seorang pria, bahkan dia hanya takut Evan sedih.
"Percayalah dia akan menyukaimu, dia adalah putra terbaikku karena itu aku yakin dia bisa melihat kebaikan dalam dirimu. "
Berulang kali Tuan Serkan berusaha meyakinkan gadis muda yang masih sangat lugu itu agar kembali mendapatkan kepercayaan dirinya, Tuan Serkan yakin jika putra keduanya itu pasti akan segera menyadari keberuntungannya, walau Rutmini merasa Tuan Serkan agak berlebihan menilainya.
Sementara itu dari jendela besar di lantai dua kamarnya, Evan yang baru bangun dan sudah merasa lebih baik dari gejala flunya coba meyibak tirai jendela agar sinar matahari pagi yang sudah agak kesiangan itu masuk kedalam kamarnya.
Dia baru ingin meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku ketika tidak sengaja melihat wanita muda yang sedang duduk bersama papanya di gazebo belakang. Tuan Serkan tersenyum padanya dan sempat melambai dari tempat duduknya ketika melihat putranya yang baru bangun tersebut melihat ke arah mereka. Mini sendiri hanya mengikuti untuk tersenyum, dan baru saat itu Evan sadar jika gadis muda itu adalah Rutmini, yang tadi pagi membuatkannya roti bakar. Evan segera kembali kedalam kamarnya dan duduk di ujung ranjang untuk kembali memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pening lagi. Dia sedang tidak ingin memikirkan Rutmini atau siapa pun yang hanya akan membuat kepalanya berdenyut-denyut.
Evan pikir lebih baik dia mandi dulu untuk memperbaiki moodnya yang tiba hilang gara-gara melihat si Rutmini tadi.
Rasanya Evan masih sulit percaya jika Rutmini ternyata gadis mungil yang bahkan masih terlalu muda untuknya, pantas kalau Alex sampai ngotot menamainya Mini.
Jangan lupa Like ya
***-**