Alex

Alex
BAB 103



Sudah hampir empat hari Brandon ikut hidup di rumah sakit dengan jam tidur yang sangat tidak sehat, tapi dia coba tetap sigap karena memang hanya dia satu-satunya laki-laki yang bisa di andalkan di sini. Neneknya Mini juga sudah renta sebenarnya kalau bisa Brandon ingin menyuruhnya beristirahat di rumah saja tapi si Nenek kayaknya gak bakal mau berjauhan dengan suaminya. Kadang Brandon iri jika melihat pasangan yang hinga di usia senjanya seperti ini tapi masih terlihat saling menyayangi.


Kesederhanaan memang bukan penghalang utuk bisa saling membahagiakan, mungkin karena itu juga sepertinya Mini tidak pernah cemas atau sekalipun bersedih meski telah di besarkan di keluarga sederhana.


Brandon kembali memperhatikan Mini dan tubuh kecilnya yang harus bergantian mengurus kakek dan nenenknya. Tapi dia selalu terlihat bahagia bersama mereka dan sama sekali tidak pernah menggerutu ataupun mengeluh sejak kemarin meskipun Brandon juga tau jika gadis itu juga sama-sama belum beristirahat seperti dirinya.


Pasti Mini sangat berharga bagi kakek dan nenenknya, dan bagaimana bisa mama dan papanya malah mengambilnya. Padahal jelas gadis itu lebih bahagia ada di sini bukan di rumah mewah mereka.


"Mini kemarilah, " Brandon memanggilnya untuk ikut duduk di sofa.


Tanpa bicara dia menarik Mini dan membawa gadis itu untuk berbaring di pangkuannya, "Tidurlah, " bisiknya ketika menyapu rambut di kepala Mini yang akhirnya memang menurut, karena juga lelah dan senang ketika Brandon Mulai bercerita tentang kebiasaan nenenknya saat menyuruhnya tidur seperti itu.


Mini pernah mendengar jika sejak kecil Brandon memang lebih sering tinggal bersama neneknya.


Ibu tante Marrisa adalah singgel parent, Tante Marisa sendiri adalah anak tunggal dan ibunya tidak penah menikah lagi sejak suaminya meninggal. Ibunya adalah seorang Rektor di sebuah universitas di Boston, dia membesarkan Brandon di masa pensiunya karena tidak ingin merasa kesepian. Hanya sesekali saja Brandon tinggal bersama orangtuanya dan itupun sudah cukup untuk menciptakan masalah.


Mini akhirnya tidur meringkuk di sofa, jelas rasa lelahlah yang bisa membuatnya tertidur seperti itu, bahkan Brandon akhirnya juga ikut tertidur dengan masih terduduk menyandarkan kepalanya di dinding dan menggenggam tangan Mini. Pemandangan itu sedikit mengharukan bagi Simbok.


"Lihatlah Simbah, cucumu sepertinya sudah bersama orang yang menyayanginya. "


Simbahnya Mini yang masih terbaring ikut melihat ke arah cucunya dan pemuda yang telah ikut mengurus mereka beberapa hari ini.


"Den Brandon adalaah pemuda yang baik,dia pasti akan menjaga cucu kita," bisik simbah di telinga suaminya. "Kita tidak perlu mencemaskannya lagi."


Simbah hanya tersenyum dan mengangguk ketika meraih tangan istrinya yang juga sudah sama-sama renta untuk bisa menjaga anak gadis itu lagi.


Sejak kecil Mini hanya hidup bersama mereka tanpa ayah,tanpa ibu atau pun saudara yang bisa memperhatikannya. Tapi jika melihat perhatian putra Tuan Serkan itu kepada cucunya selama beberapa hari ini sepertinya kakek dan nenek Mini pantas jika merasa lega. Mereka tidak cemas lagi cucunya itu akan hidup di mana dan tidak akan sendiri lagi meskipun mereka berdua sudah tiada. Mereka memang sudah tidak memiliki sanak saudara lagi karena itu selama ini mereka sering cemas bagaimana nanti nasib cucu semata wayangnya itu sementara mereka semakin renta.


***** like ya