Alex

Alex
bab 109



"Di mana Brandon?" tanya Bang Evan pada si Bibi yang cuma heran bagaimana orang dua itu bisa basah kuyuh seperti itu pagi-pagi begini.


"Baru aja tadi keluar sama Non Efa," kata si Bibi yang  sepertinya juga baru mau nyiapin sarapan.


"Abang mau Bibi buatin sarapan?"


"Nanti aja Bi, biar Mini mandi dulu," kemudian Bang Evan pergi duluan ke kamarnya sendiri buat mandi juga.


"Aduh Mini cepat mandi sana nanti kamu masuk angin," si Bibi masih geleng-geleng, "ada -ada aja kalian ini," tambah si Bibi yang stok herannya kayak gak habis-habis.


Mini juga buru-buru pergi ke kamarnya, berharap bisa berendam sebentar pakai air hangat karena tiba-tiba badannya memang gak enak. trus  mulai bersin-bersin.


Pas sudah nyiapin air hangat dan mau berendam ternyata dia malah mulai meriang dan menggigil lagi jadianya dia cuma mandi cepat-cepat trus buru-buru pakai baju lagi , naik keatas kasur dan ngumpet di bawah selimut sambil bersin-bersi.


Sementara Bang Evan yang sudah dari tadi nungguin Mini di bawah buat sarapan mulai curiga kenapa dia gak turun -turun, padahal sarapan mereka sudah siap dari tadi.


"Kok Mini, lama ya, Bi?" keluh Bang Evan yang udah kelihatan banget gak sabar.


"Biar Bibi panggilin, Bang," si Bibi udah mau pergi pas Bang Evan buru-buru ngelarang dia.


"Gak usah, Bi,"___" biar aku aja," si abang udah langsung pergi naik lagi ke lantai dua untuk mastiin ke kamar Mini.


Bang Evan sempat mengetuk pintu dua kali pas akhirnya Mini bersuara, tapi lirih. Karena curiga si Abang langsung masuk begitu aja.


"Mini kamu ngapai ?" tanya Bang Evan pas ngelihat Mini bergelung di kasur trus bersin-bersin lagi.


"Kayaknya aku tadi minum air kolam, Bang."


"Aduh," Bang Evan langsung nyamperin Mini yang masih meringkuk di bawah selimut.


Sebenarnya Mini bukan tipe anak yang gampang sakit tapi mungkin karena beberapa minggu ini dia melalui hari yang berat dan kurang istirahat jadilah daya tahan tubuhnya menjadi lemah.


"Kayaknya Mini flu," Bang Evan mastiin badan Mini memang agak panas meski gak sampai panas banget, "Abang ambilin obat, atau di buatkan munuman panas aja?" tanya si Abang.


Mini malah gak nyangka Bang Evan malah masih ingat kalu Mini cuma mau minum teh panas pas lagi flu.


"Trus Mini ngangguk, minuman panas aja, Bang."


"Baiklah, tunggu bentar, ya."


Bang Evan buru-buru pergi dan gak lama udah balik lagi bawa minuman panas. Trus bantuin Mini bangun buat minum, walau sebenarnya Mini bisa aja bangun sendiri cuma dia masih agak malas jadi geraknya lambat dan Bang Evan pinginnya Mini cepet-cepert minum tehnya mumpung masih panas-panas.


Mini baru minum satu teguk dan berhenti.


"Kenapa?" tanya Bang Evan.


"Kok asin, Bang?"


"Ah!" kaget Bang Evan kayak gak percaya, trus dia coba sendiri baru langsung kabur ke kamar mandi buat di muntahin lagi.


"Sebentar, biar ku suruh si Bibi aja yang bikin," Bang Evan udah buru-buru pergi dan Mini cuma ngebayangin bagai mana tadi orang kayak Bang Evan sampai nyasar kedapur.


"Apa itu, Bang ?" tanya si Bibi yang heran ngelihat Bang Evan buru-buru buang minumanya ke tempat cuci piring.


"Bibi buatkan lemon tea panas-panas ya?"


"Ya Bang, buat siapa?"


"Si Mini kayaknya flu."


"Nahkan! kenapa kalian pagi-pagi sudah main air?" gerutu si


Bibi pas ngelihatin Bang Evan sambil nunjujk si Abang pakai sendok gulanya. "Abang apain aja?" curiga si bibi. 


"Gak ada Bi, Mini aja gak bisa renang  makanya Abang ajari," kelitnya dan si Bibi cuma ngelirik si Abang sambil ngaduk teh di gelasnya, tapi gak percaya sama sekali kalau Bang Evan gak ngapa-ngapain.


"Perhatiin, seperti ini Bang, caranya bikin teh yang bener," saran si Bibi tapi kedengarannya malah kayak nyindir," siapa tau nanti Abang pingin bikini teh sendiri biar makin di sayang istri."


Bang Evan coba lebih sabar buat nahan diri dari sindirian si Bibi.


"Sudah sini Bi,  kalau udah selesai cepetan!"


"Tunggu bentar biar larut, Abang ini gak sabaran!" si Bibi  lebih dulu narik gelas yang udah mau di raih Bang Evan, trus senyum lagi kayak belum nyerah buat ngegodain si Abang.


"Udah nih, cepet bawa ke Mini!" kata si Bibi setelah yakin gulanya arut semua.


Pas sampai di kamar Mini, gadis itu sudah kembali meringkuk di dalam selimut trus buru-buru keluar begitu dengar suara Bang Evan sudah balik lagi.


"Ayo minum yang ini bukan garam lagi."


Sebenarnya Mini merasa agak lucu tapi mau ketawa takut dosa, bagaimanapun Bang Efan sudah berusaha baik sama dia, bahkan mau mengurusinya.


"Makasih ya, Bang," kata Mini kemudian.


"Maafin Abang udah bikin kamu kayak gini."


Mini menggeleng, enggak Bang, Mini aja yang belakangan ini kurang istirahat makanya jadi gampang sakit.


"Ya, sehrusnya Abang tau dan bukannya malah nyeburin Mini ke kolam renang."


"Mini gak papa Bang, ini cuma flu bukan kangker yang gak bisa di obati."


"Hus, jangan bilang sepeti itu!" 


Mini hanya tersenyum.


"Sini Bang, aku bisikin."


Bang Evan gak tau Mini mau ngomong apaan sampai harus bisik-bisik, karena sebenarnya mereka juga sudah ada di kamar dan gak bakal ada yang ikut dengar, tapi Bang Evan sepertinya tetap mendekat juga.


Ternyata Mini memang gak ngomong apa-apa, justru dia malah tiba-tiba nyium pipi Bang Evan. 


Hanya kecupan singkat dipipi, tapi malah bikin Bang Evan jadi bengong dan ikut megangi pipinya sendiri, setengah gak percaya.


"Terimakasih, Bang," kata Mini kemudian.


"Untuk apa?"


"Untuk semuanya," lanjut Mini "untuk Bang Evan, untuk Tuan Serkan, Tante Marisa dan semua orang di keluarga ini yang sudah menyayangiku."


"Kenapa kita tidak segera menikah saja dan membuat mereka semua ikut bahagia?"  kaya Bang Evan tiba-tiba.


"Ya," dan jawab Mini begitu aja.


"Benarkah kau tidak keberatan?" bahkan Bang Evan sendiri seperti tidak percaya ketika mendengar jawaban Mini barusan.


Bang evan memang sudah banyak berpikir beberapa minggu ini, terutama sejak mengetahui Mini pergi bersama Brandon. Awalnya Bang Evan juga tidak tau kenapa dirinya bisa jadi segelisah itu tapi belakangan dia baru sadar jika ternyat di sangat takut kehilangan gadis kampung seperti Mini. Saat menyusul Mini ke kampung kemarin dan malah melihat kedekatan gadis itu dengan adik laki-lakinya sendiri, tentu Bang Evan jadi mulai berpikir  serius menhenai hubungan mereka. Karena itu begitu ada kesempatan untuk mendekati gadis itu lagi sepulang dia dari kampung halamamnya, Bang Evan pun bertekat untuk tidak menyia-yiakan kesempatan itu, toh dia tau jika gadis itu memang miliknya dan untuknya, bukan Brandon!


Tapi meski demikian Bang Evan masih tidak menyangka jika Mini justru akan menyetujuinya begitu saja.


"Kita akan segera membicarakannya lagi, dan sekarang yang terpenting Mini sehat dulu."


Mini mengangguk kemudian kembali menghabiskan sisa teh panas di gelasnya.


"Apa masih dingin?" tanya Bang Evan sambil merentangkan lengannya untuk menawarkan pelukan.


"Jangan Bang nanti di lihatin orang."


"Tidak ada siapa-siapa dan kita juga akan menikah, memangnya siapa yang berani protes jika aku juga ingin memelukmu. "


Mini mengangguk kemudian membiarkan Bang Evan benar-benar memeluknya. Bang Evan menarik selimut untuk Mini dan membungkus tubuhnya agar merasa hangat.


Mini sangat bersyukur bisa berada di tengah keluarga Tuan Serkan, jika dirinya dibawa kemari intuk menjadi milik Bang Evan maka dia memang harus menjadi miliknya. Bagaimanapun Bang Evan sudah sangat baik padanya dan Mini yakin dia juga bisa jadi suami yang baik dan dapat mengurusnya. Kadang Mini juga merasa jika Bang Evan juga seperti sosok kakak laki-lakai yang memang tidak pernah Mini miliki selama ini. Bahkan Mini tidak pernah menyangkan jika Bang Evan akhirnya aka setuju menikah dengannya. Mini memang beruntung dan merasa sudah sangat beruntung dengan semua ini tanpa berani berharap yang lebih lagi.


Memang agak keterlaluan  jika  membiarkan dirinya sempat berharap berlebihan. Bang Brandon memang sangat baik padanya selama ini, tapi Mini tetap merasa tidak berhak untuk memikirkannya.


Jangan lupa like...