
Sementara itu Bang Evan masih berdiri kaku di lorong setelah melihat adik laki-lakinya yang baru saja masuk ke kamar Mini. Dadanya masih seperti terbakar dan kepalanya nyaris meledak karena amarah yang luar biasa. Dia masih menunggu dan berharap Brandon akan segera keluar tapi ternyata tidak bahkan setelah dirinya menunggu cukup lama, Bang Evan pun segera berpaling pergi.
Sebenarnya dia bisa saja mendobrak pintu tersebut saat itu juga, tapi dia tau jika penghianatan-tetaplah penghianatan, jika Mini sendiri mengijinkannya masuk, maka tak akan ada gunanya peng halang pintu baja sekalipun.
Dia hanya mulai berpikir, sudah seberapa sering sebenarnya mereka berbuat seperti itu di belakangnya selama ini. Mungkin dia masih bisa memaafkan kepolosan Mini, tapi tidak dengan Brandon. Bang Evan memilih pergi keluar malam itu dan baru pulang kembali setelah pagi. Dia pulang bukan karena ingat rumahnya, tapi dia ingat untuk mencari Brandon dan dia tau dimana bisa menemukan anak itu.
Bang Evan masuk rumah tanpa menyapa siapapun, meskipun si Bibi yang segera membukan pitu tadi juga masih sangat khawatir, bahkan masih mengekor di belakangnya.
"Abang dari Mana saja, semalan Nyonya sangat Khawatir?
"Aku baik-baik saja, Bi, " acuhnya masih sambil berjalan menuju halaman samping.
"Abang mau ke mana? " triak si bibi yang berhenti di pintu dan heran ngelihat Bang Evan pulang-pulang masak mau nge Gym.
Semalaman Tante Marrisa memang sangat panik karena putranya tidak pulang dan bahkan ponselnyapun tidak bisa di hubungi. Tidak biasanya Bang Evan seperti itu, pasti dia akan pamit jika pergi tengah malam apalagi jika sampai gak pulang.
Brandon sedang memukuli samsak tanpa sarung tinju ketika Bang Evan datang menghampirinya dan langsung menghantamkan pukulan keras ke rahangnya.
Brandon masih tak bergeming ataupun ingin membalas ketika Bang Evan kembali menghantam rahannya. Pemuda itu hanya berdiri kaku dan membiarkan sudut bibirnya yang mulai berdarah.
"Kau memang berengs*k! " Triak Bang Evan dengan bibir berdesis dan kepalan tangannya yang bergetar karena masih tidak ingin berhenti memukul adik laki-lakinya sendiri.
"Katakan berapa kali kau sudah menidurinya! " triak Bang Evan ketika kembali melayangkan tinjunya, meski Brandon tetap tak bergeming atau mengucapkan apapun yang sepertinya justru membuat Bang Evan semakin murka.
"Jangan harap kau bisa mengambilnya dengan cara kotor seperti itu! "
"Dia akan tetap memilihmu kau tidak perlu khawatir," kata Brandon yang baru saja mengusap kasar darah segar si sudut bibirnya dengan punggung tangan.
"Kau memang berengs*k !"
Bang Evan kembali memukul Brandon.
"Oh.. Tuhan apa yang kalian lakukan!" triak Alex.
Alex yang Baru Tiba jelas sangat terkejut melihat Bang Evan berulang kali memukul Brandon yang sama sekali tidak mau membalas. Bahkan pemuda itu hanya berdiri kaku tak bergeming bahkan menolehnya pun juga tidak.
Alex segera mendorong Bang Evan, dan kemudian menghampiri Brandon untuk sekedar memastikan apa dia baik-baik saja.
"Kupikir hanya anak-anak yang bertengkar seperti ini! " Alex menatap mereka berdua bergantian. Kemudian menatap Bang Evan.
"Pergilah Bang Evan! " tegas Alex yang sepertinya tidak ingin tau masalah mereka berdua. Dia hanya ingin Bang Evan pergi untuk menghentikan kebodohan ini.
Walau masih murka tapi akhirnya Bang Evan berpaling pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
"Kuharap, segera selesaikan masalah yang kalian buat ini! " kata Alex saat menatap Brandon yang masih berdiri kaku di depannya. Bocah besar itu kadang-kadang memang menjengkelkan.
Alex segera pergi untuk mengambil handuk dari loker ruang ganti kemudian segera kembali dan menghampiri Brandon lagi.
"Kemarilah,"___"Biar ku lihat lukamu," Alex menarik Brandon untuk duduk dan mulai menekan bekas lebam tersebut dengan handuk basahnya.
Alex hanya melirik waktu Brandon mengernyit.
"Semoga saja kau tidak kehilangan wajah tampanmu karena ini, " karena agak kesal jadinya Alex menekannya agak keras sampai Brandon kembali meringis.
"Kenapa kau membelaku? "
"Aku tidak membelamu bodoh! "____" jangan pikir aku tidak sedang ingin mencekik lehermu, karena kau tega berbuat seperti itu pada gadis seperti Mini! "
Brandon tau pasti kakak iparnya itu tadi juga sudah ikut mendengar pertengkarannya dengan bang Evan.
"Maafkan aku. "
"Kau tidak perlu minta maaf padaku, " tolak Alex karena tau, "itu sama sekali tak berguna! "
"Kau sudah menghancurkan kepercayaanku. " jujur Alex ketika kembali memperhatikan Brandon.
"Bagaimanapun aku sempat mendukungmu, bahkan memohon pada Bang Harris untuk membantu kalian. "
"Apa kalian pernah bertanya apa yang di inginkan gadis seperti mini? " tanya Alex.
Dari situ Brandon tau jika kakak iparnya itu memang wanita yang luar biasa dan benar-benar peduli pada gadis itu. Sepertinya pikiran Brandon juga baru terbuka oleh pertanyaan sederhana itu. Apa yang diinginkan Mini?
Karena jika memang benar mereka peduli seharusnya, mereka semua sudah memikirkan hal itu sejak dulu bukannya malah membawa anak itu kemari dan hanya menawarinya pernikahan.
"Tolong selesaikan masalahmu, dan jangan mengecewakanku."____" kau tau Bang Harris pasti juga akan selalu membantumu. " karena Alex tau jika suaminya itu sangat menyayangi adik laki-lakinya yang satu ini, walaupun Brandon agak bandel tapi memang Bang Harris agak pilih kasih padanya.
"Aku ingin menemuinya, " kata Brandon tiba-tiba.
like dulu ya.....