
Walau sudah yakin untuk belajar melupakannya tapi ternyata Chacha masih suka bandel dan iseng-iseng cari informasi dari Bang Nugie, meskipun sama saja seperti biasa, informasi abangnya itu sangat irit jika tentang Bang Harris. Dia tau Bang Nugie pasti tau apa yang sejatinya ia rasakan pada sahabatnya itu, mungkin dia hanya ingin menjaga agar adiknya tidak semakin kecewa. Padahal Chacha sendiri yakin dirinya juga gak selembek itu, tapi Bang Nugie kadang tetap saja berlebihan mencemaskannya.
Chacha memang tidak pernah tau seperti apa kehidupan Bang Harris di luar negri. Mungkin saja dia memang sudah memiliki pasangan, atau bahkan mungkin sudah berkeluarga, semua itu sangat mungkin dan wajar jika Bang Harris memang harus menjaga jarak dengan dirinya. Lagipula selama ini Chacha merasa sebenarnya mereka juga tidak pernah benar-benar dekat, mungkin perasaannya saja yang berlebihan menanggapi perhatiannya.
Belakangan justru Bang Nugie yang sering balik mancing-mancing untuk memperbaiki status jomblonya, mungkin agar tidak terlalu terlihat mengenaskan. Namun setelah semakin dewasa sepertinya Chacha juga sudah tidak bisa lagi seperti dulu yang bisa gonta-ganti cowok tanpa rasa iba dan tanggung jawab.
Karena tidak ingin merasa selalu di kasihani dan selalu diusik dengan pertanyaan yang sama, belakangan ini Chacha dan Dony mulai menjalani hubungan yang lebih serius. Walaupun sepertinya Bang Nugie tidak terlalu suka dengan sifat pencemburu Dony, tapi Chacha merasa cukup nyaman selama mereka dekat beberapa bulan ini, dan sudah memiliki komunikasi yang baik sebagai modal utama menjalin hubungan yang sehat.
Bang Nugi dan Mira sudah mau nikah, dan jangan di tanya bagaiman sedih dan gembiranya Chacha. Karena, entahlah, rasanya Chacha belum siap jika harus kehilangan Bang Nugie. Padahal rencananya mereka cuma akan pindah beberapa blok dari rumah mereka setelah menikah nanti, dan baru tahun depan si abang dan Mira benar-benar akan pindah ke Kalimantan.
Hanya membayangkannya saja Chacha sudah tidak tahan, membayangkan sehari saja tanpa keusilan abangnya hidup ini rasanya sudah membosankan. Sama seperti pas si abang lagi sakit dan malas gerak, biasanya Chacha yang nyusulin ke kamarnya biar ada yang di gangguin. Dulu saat kecil mereka sering bertengkar dan berebut mainan, tapi seiring waktu, semakin bertambah dewasa rasanya mereka juga semakin tidak bisa jauh satu sama lain meski ribut-ributnya tetap aja sama. Mereka suka saling mengganggu bahkan bertengkar dan baikan lagi, terus saja seperti itu gak ada bosan-bosannya. Mama dan Papa mereka juga sudah biasa, jika melihat anak-anak bertengkar mereka tidak akan ikut campur dan membiarkannya saja karena menurutnya saudara akan tetap berbaikan lagi.
Setelah rahim ibu mereka terpaksa di angkat setelah proses kelahiran Chacha yang berat, mereka memang hanya akan memiliki Chacha dan Bang Nugi, walau awalnya dulu si abang sempat marah karena memiliki adik perempuan yang tidak bisa di ajak main bola, tapi seiring waktu si abang mulai mau ngajakin Alex main, dan mengajarinya menendang bola. Maka jangan heran jika sekarang dia lebih bisa permainan anak laki-laki di banding anak perempuan. Papa dan Mama merka memang tidak pernah memisahkannya dan selalu di besarkan bersama di rumah. Karena harus bekerja, dari kecil Bi Supi lah yang sudah menjaga kedua anak itu , dan selalu ikut keluarga mereka saat beberapa kali pindah rumah. Bi Supi orangnya penakut karena itu dia juga tidak pernah mengijinkan Alex dan Bang Nugie main keluar rumah. Sepulang sekolah satu-satunya teman Alex ya cuma Bang Nugie, demikian juga dengan si abang. Baru setelah mereka SMP kadang Chacha bisa main ke rumah Mira dengan di antarkan supir. Setelah dia semakin gede dan Bang Nugie sudah kuliah dia sudah diberi kendaraan sendiri sama Papa, dan tugasnya tambahannya adalah mengantarkan adiknya kemana-mana, mengantar jemput ke sekolah, ngeles, atau bahkan cuma nganterin main sama si Mira. Walau kadang suka ngomel-ngomel dan mengeluh sebenarnya Chacha tau si abang juga gak mau Chacha pulang pergi sendiri naik kendaraan umum, walaupun kadang di masa itu Abangnya juga suka gengsi kalau sampai ketahuan teman-temannya sebagai abang yang sayang banget sama adek perempuannya. Bahkan dia gak pernah mau ngakuin kalau punya adik perempuan Cantik kayak Chacha, kebiasaannya memanggilnya Alex membuat teman-temannya pada otomatis ngira jika adiknya Bang Nugi adalah cowok. Mungkin pada masa itu akan lebih keren untuk memiliki adik laki-laki di banding adik perempuan yang suka rewel dan minta di anter jemputin kemana-mana.
Sekarang, jika ada hal yang ingin Chacah syukuri dalam hidup, itu adalah Bang Nugie....
waktulah yang dengan sendirinya akan membuat mereka semakin jarang bertemu. Karena mereka akan memiliki keluarga sendiri-sendiri dan tidak bisa bertemu setiap hari lagi, saat itu pasti mereka akan sangat merindukan waktu-waktu masih suka ribut seperti ini.
Chacha melihat pintu kamar Bang Nugi masih sedikit terbuka dan ada pendar cahaya redup dari dalam kamarnya, mungkin dia belum tidur dan masih harus menyelesaikan sisa pekerjaannya sebelum mengambil cuti panjang untuk pernikahannya nanti.
Aku turun dari tempat tidur untuk menghampiri kamarnya, "Abang belum selesai? " tanyaku pas si abang membenarkan kacamata yang jarang di pakainya.
"Chacha bantuin, ya? "
Diapun melambai sama adeknya yang lagi baik hati.
Begitulah akhirnya malam itu mereka sampai tidur berserakan di tepi ranjang bang Nugie bareng berkas yang belum selesai dua susun kembali karena sudah ke buruan ketiduran. Sepertinya Bang Nugie juga sudah terlalu lelah untuk membangunkan Chacha agar pindah ke kamarnay sendiri.
Meski saudara adalah teman yang paling sering kita ajak bertengkar, tapi setelah lebih dewasa kita pasti akan bersyukur telah memilikinya.