
Mini masih mandi pas ada ibu-ibu ngantarin sayur dan yang nerima Bang Brandon.
"Mini, kenapa mereka memberi kita ini?"
Mini kaget pas baru keluar dari kamar dan sudah melihat si Abang kerepotkan menenteng sayuran dan sembako.
"Masyarakat di sini biasanya suka mengantarkan bahan makanan untuk keluarga yang baru di tinggal keluarganya meninggal." Terang Mini dan sepertinya Brandon masih agak bingung karena selama ini yang dia tau biasanya orang-orang hanya akan mengirim bungan bukannya telur, minyak goren, gula, dan bahkan sayuran.
"Trus mau kita apakan semua ini?" sementara sore nanti mereka sudah akan pergi.
"Mungkin nanti bisa kita kasih ke Bibi sebelah, karena kita tidak mungkin memakannya semua. "
"Maukah, Abang mengantarkanku ke makam Simbah dulu siang ini? "____"Aku ingin berpamitan. "
"Ya, " Brandon langsung setuju dan segera meletakkan semua bawaanya yang merepotkan itu di atas meja.
"Sini, Mini buatkan makanan dulu buat Abang."
Mini menghampiri meja tempat Brandon meletakkan semua bahan makanannya tadi.
"Bisa abang batu mengeluarkan ayam beku dari freezer kemudia rendam air dulu sebentar. "
Brandon langsung menuju kulkas sementara Mini mulai memetik sayur bayam yang tadi di bopong Brandon seperti buket bunga.
Sebenarnya ibu-ibu yang mengantarkan sayuran tadi juga sempat terkejut pas yang ngebukaian pintunya Bang Brandon. Secara putra ke tiga Tuan Serkan itu pasti juga bakal jadi idolanya emak-emak, apa lagi pas di kasih seikat sayuran malah langsung di bopong begitu aja udah kayak dapat hadiah seikat bunga. Padahal waktu itu Brandonnya masih belum sepenuhnya ngerti maksudnya sayuran itu suruh di apain, karena semua tetangga Mini yang datang kerumah tadi selalu bicara menggunakan bahasa daerah dan Brandon sama sekali tidak mengerti kecuali manggut-manggut.
Karena semua itu Mini semakin yakin jika sebaiknya mereka segera kembali ke kota saja, bukan hanya karena Mini khawatir dengan dirinya sendiri yang harus tinggal berdua dalam satu rumah dengan Bang Brandon, tapi sepertinya Mini lebih khawatir karena sepertinya Bang Brandon gak bakal bisa menyesuaikan diri dengan habitat di tempat ini. Bahkan Mini sampai parno jika sampai Putra Tuan Serkan itu keracunan makanan, karena pasti dia gak bakal bisa nolak kalau ada siapapun nawarin makanan untuk dia icipi. Apalagi ibu-ibu tetangga Mini juga jadi pada seneng ngantar-ngantar makanan buat si Abang.
****
Jelas tidak ada mobil dan hanya ada motor matic di teras rumah Mini.
"Apa Abang gak bisa naik motor? " tanya Mini karena ngelihat Bang Brandon masih bingung, "kalau gak bisa biar aku aja yang boncengin."
"Kan Abang yang nganter, masak Abang yang di boncengin, " protes Brandon tapi masih kayak mikir pas sambil ngelihatin Motor matic Mini. "Aku bisa naik motor tapi belum pernah yang sekecil ini."
Menurut Mini pasti juga akan sangat aneh jika melihat pria sebesar Bang Brandon tiba-tiba harus naik motor matic yang mungil kayak gini, tapi, " Hanya ada benda ini yang bisa kita naiaki. " ___"Kecuali kita akan jalan kaki," lirik Mini, dan si Brandon hanya mendengus pasrah.
"Baiklah.... "
Dan akhirnya mereka beneran pergi dengan menggunakan motor tersebut.
"Jangan pernah cerita pada siapaun jika aku pernah menaiki benda seperti ini! " kata Brandon pas baru menghentikan motornya di tepi jalan menuju makam.
Sementara Mini tidak tau apa seharusnya dia merasa tersinggung karena hal itu, tapi nyatanya dia malah kayak ikut merasa geli juga, pas Bang Brandon kayak alergi baget sama motor maticnya. Sebenarnya motor itu dulu yang beliin juga Tuan Serkan, untuk Mini berangkat sekolah karena kebetulan tempat sekolahnya memang agak jauh.
Setelah pulang dari Makam, mereka segera berkemas karena Mini memang ingin membawa beberapa benda berharganya termasuk album tuanya kemarin. Tidak banyak sebenarnya yang bisa dia bawa karena memang kenyataannya tidak banyak yang dia miliki di gubuk kecil tersebut. Tapi seandainya saja gubuk kecilnya itu bisa dia kemas untuk dia masukkan koper pasti dia juga mau membawanya. Karena sampai kapanpun sepertinya Mini tetap tidak akan rela meninggalkan rumah yang sudah menyimpan begitu banyak kenangan indah dalam hidupnya itu. Walau di besarka dengan sangat sederhana tapi Mini tetap akan selalu bersyukur dan merasa beruntung dengan semua kenangan yang telah dia miliki.
"Mini, berdirilah di situ! " printah Bang Brandon sebelum Mini masuk kedalam mobil carter mereka yang akan mengantar ke bandara.
"Kenapa Bang? " tanya Mini bingung tapi sepertinya dia tetap kembali mundur pas kemudian Bang Brandon menggunakan kamera dari ponselnya untuk mengambil foto Mini dan gubuk kecilnya.
"Agar kau selalu ingat tempatmu di besarkan, " kata Bang Brandon dan Mini benar-benar merasa terharu karena dia sendiri bahkan tidak pernah terpikir untuk mengambil foto gubuk kecilnya.
"Terima kasih, Bang, " Mini hampir ingin menangis tapi dia berhasil menahannya karena tidak ingin di kira cengeng.
Like... Like dan bantu promosisin di media sosialmu ya....